Menjadi duda di usia muda membuat hati sang CEO menjadi dingin, apalagi trauma masa lalu mengenai rumah tangga membuatnya menutup diri untuk yang namanya Cinta.
Simak kelanjutan kisahnya, tapi disarankan sebelum membaca ini agar terlebih dahulu membaca karya Lepaskan Aku, agar bisa semakin faham jalan ceritanya, karena karya ini adalah lanjutan dari kisah penuh lika liku rumah tangga dari cerita tersebut.
Jadi, tunggu apalagi. Yuk cap cus, baca dan nikmati kisah nano nano yang ada di cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luna dan Dira
Clara terburu- buru karena sudah telat, sudah jadi kebiasaan nya bangun kesiangan.
" Bunda, Cla berangkat dulu ya. " Ia berpamitan sambil berlari keluar.
Dira yang sedang menata sarapan di atas meja langsung mengejar Putri nya.
" Ya ampun anak ini, kebiasaan kabur mulu. Sarapan dulu napa sebelum berangkat Nak. "
Clara tidak mengindahkan ucapan Dira, Ia terus berlari keluar.
" Maaf Bunda, tapi Cla sudah telat. Dosennya serem Bun. "
Clara langsung menginjak gas, melaju dengan kecepatan penuh.
" Duh, ayo dong jangan macet, aku sudah telat nih. " Gumam Clara gusar.
Setelah berhasil melewati pengemudi yang lain akhirnya Clara tiba di kampus nya, Ia langsung turun dan berlari.
Meskipun Ia sampai tepat waktu namun beberapa mahasiswi lain menertawakannya.
" Bisa diam nggak kalian, tidak ada yang lucu. "Bentak Cla.
Luna yang melihat penampilan Clara yang acak adul pun bingung memberitahu, tapi kalau tidak di beritahu sekarang sebentar lagi semua pasti akan semakin kacau.
Luna menulis sesuatu pada sebuah kertas dan menyerahkannya pada Clara. Clara bingung, namun karena Luna meminta nya membacanya melalui kode akhirnya Clara pun membaca tulisan yang ada di kertas itu.
Clara melihat apa yang di katakan Luna dan ternyata benar, pantas saja Ia jadi bahan tertawaan.
Sebuah ketukan di meja membuat semua yang ada diruangan itu seketika diam.
" Ada apa pagi- pagi sudah ribut, silahkan keluar bagi siapa saja yang tidak mau ikut mata kuliah saya. Pintunya masih disana dan selalu terbuka bagi yang malas belajar. "
Tidak ada sesiapa pun yang berani membuka suara, meskipun mereka tidak suka namun tidak ada satupun yang berani berbicara atau protes.
Dira menggeleng pelan, Ia sudah menduga kalau ini pasti akan terjadi.
" Nih anak, beginilah kalau terburu-buru. Apa aku antar saja, siapa tau ada yang penting. " Gumam Dira dengan tangan menggenggam ponsel milik Putri nya.
Dira melangkah keluar dengan pakaian yang lebih rapi, Ia berpamitan pada asisten rumah tangganya.
" Bibi, aku keluar sebentar. Kalau Bapak telpon atau nyariin, bilang saja aku ke supermarket berbelanja bulanan. "
Dira mengemudikan mobilnya pelan menuju kampus, setelah tiba Ia memarkirkan mobilnya pada tempatnya.
" Sepertinya Cla masih ada kelas, gimana caranya aku memberikan ponselnya ini. Ah apa aku tinggal di pos satpam saja. " Gumam Dira.
Dari jauh Ia melihat seseorang, perlahan Ia mendekat.
" Assalamu'alaikum, maaf. Bisa minta tolong nggak. " Tanya Dira.
" Waalaikum salam, Iya Bu. Bisa, mau minta tolong apa. "
Dira terkejut memandang gadis cantik di depannya. Matanya, suaranya dan juga senyumnya mampu menggetarkan hatinya.
" Ibu, hallo. "
Gadis yang tak lain adalah Luna, melambai- lambaikan tangannya di depan wajah Dira.
" Ibu, ada apa. Katanya tadi mau minta tolong, mau minta tolong apa. "
Luna di ijinkan keluar setelah lebih dulu menyelesaikan tugas yang di berikan dosen kiler.
" Ahh I, iya maaf. Boleh tau namamu siapa. " Tanya Dira.
Meskipun bingung namun Luna tetap menyebutkan namanya.
" Luna Bu. " Jawab Luna sembari mengulurkan tangannya.
Jantung Dira kembali berdetak ketika Luna menyebutkan namanya.
" Maaf, apa namamu Luna Anggraini. " Tanya Dira pelan dengan suara bergetar.
Luna mengangguk pelan dengan mimik bingung, dari mana wanita itu mengetahui nama panjangnya.
" Iya Bu, kok Ibu bisa tau nama panjang saya.
Dira ingin menangis dan juga ingin bertanya lebih lanjut namun Ia khawatir gadis itu akan bertambah bingung dan menuduhnya macam- macam.
" Ah nggak kok Nak, teman Ibu. Ya, teman Ibu anaknya namanya sama seperti kamu. Cantiknya juga seperti kamu. "
Ada yang ingin ditanyakan Dira namun Ia urungkan, wanita itu memutuskan akan menyelidikinya diam- diam.
" Oh begitu ya Bu. "
Dira mengangguk berulang kali sambil tersenyum menutupi kegelisahan hatinya.
" Oh ya Nak Luna, apa Nak Luna kenal dengan Nak Clara. "
Luna mengingat ingat dan menebak siapa yang wanita itu maksud. Ia menyebutkan nama panjang Clara dan Dira pun mengangguk membenarkan.
. " Iya Nak, itu Putri nya Ibu. Ibu boleh minta tolong nggak, eh bentar. Tolong berikan ini padanya, tadi tertinggal dirumah. "
Dira menyerahkan ponselnya pada Luna, Luna pun mengangguk. Sebelum berpisah, Dira meminta ijin memeluk Luna walau sebentar.
" Ah terima kasih ya Nak. "
" Sama- sama Bu. " Jawab Luna.
" Ah Nak, bolehkah Ibu memelukmu. "
Luna yang masih nampak bingung hanya mengangguk, pertanda bahwa Ia mengijinkan wanita di depannya memeluknya.
Ada rasa aneh yang di rasakan Dira ketika memeluk Luna, di usap nya belakang gadis itu pelan.
" Apa kamu bayi Luna Mama dulu Nak, atau hanya namamu saja yang sama. Tapi kok Mama merasa kalau itu adalah kamu Nak, kamu benar-benar mirip Dia. " Batin Dira.
Ia melepaskan pelukannya dan langsung berlari meninggalkan Luna yang masih di selimuti kebingungan.
Dira menatap Luna dari dalam mobil yang kacanya sudah Ia tutup rapat- rapat.
" Ya Allah, kenapa hatiku sangat yakin kalau Dia adalah Putriku yang hilang delapan belas tahun yang lalu. " Batin Dira.
Ia mengusap air matanya yang jatuh di pipi, serta mengelus dadanya pelan.
" Untuk memastikan yang sebenarnya, Satu-satunya jalan ya aku harus menyelidiki siapa gadis itu sebenarnya. Aku berharap Dia adalah Luna Putriku. "
Dira kembali melajukan mobilnya ke supermarket, masih dengan pikiran yang tertuju pada pertemuan nya dengan Luna.
Setelah usai berbelanja, Dira memutuskan untuk pulang kerumah.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu