Arjuna atau yang biasa dipanggil Juna karena kegemarannya bermain dan mendaki gunung membuat ARJ Adventure.
Juna tidak mau bekerja di Dewa Corp Company atau DCC perusahaan milik sang kakek. Dia lebih suka menekuni hobinya, karena hal itu dia dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Namun berbeda dengan sang ayah, Dharma membebaskan apa saja yang akan Juna lakukan selama itu positif. Mendapat dukungan ayah dan ibunya membuat Juna bersemangat walau selalu diremehkan oleh sepupunya Dante Dewantara yang begitu obesi menjadi pemilik DCC.
Gendis seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di negeri ini DIS Dewantara International School yang mempunyai cita cita keliling Indonesia selalu mendapat perlakuan buruk dari Maylin, teman SMA nya yang sekarang menjadi kepala HRD di DIS.
Bagaimana Juna dan Gendis menghadapi masalah mereka, dan bagaimana mereka saling berhubungan?
Ikutin terus kisah Juna dan Gendis ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTMGT 23
Happy reading readers
*
*
*
Gendis siap kembali ke sekolah. Ia melangkah mantap memasuki gedung DIS. Beberapa anak murid yang ia ajar mendekati Gendis dan menyalaminya. Gendis begitu senang, ia merindukan keriuhan anak murid nya. Ia melenggang memasuki ruang guru. Beberapa gury menghampirinya dan mengucapkan selamat datang kepada Gendis serta menanyakan kondisi Gendis. Ada yang minta maaf karena tidak bisa ikut serta menjenguk, ada yang merasa bahagia karena Gendis baik-baik saja. Sungguh membuat Gendis haru, ia sudah menganggap rekan kerja di DIS ini keluarga kedua.
Ting…. Tong…..
Bel sekolah berbunyi waktunya masuk kelas. Pagi ini Gendis masuk ke kelas 9.1. Sebenarnya sudah tidak ada pelajaran karena mereka tinggal menunggu terima rapot lusa namun Gendis ingin menyapa anak muridnya itu.
"Selamat pagi semua." Sapa Gendis saat memasuki ruang kelas.
"Bu Gendis….." Semua murid berhambur. Murid perempuan memeluk Gendis satu persatu dan murid laki-laki menyalami Gendis.
"Sudah sudah… mari duduk. Bagaimana ujian kemarin. Apakah ada yang kesulitan?"
"Tidak bu. Saat ibu di rumah sakit kita memang digantikan guru lain tapi kita diberikan latihan soal yang ibu buat." Jawab seorang murid.
"Iya dan syukurnya soal-soal itu sejenis dengan sola ujiannya." Tambah murid yang lain.
"Bagus kalau begitu. Ibu senang mendengarnya. Semoga kalian dapat hasil yang memuaskan ya."
"Iya bu…." Jawab anak-anak serempak.
Mereka pun melanjutkan belajar mengajar dengan sesi tanya jawab apa saja. Mulai dari menanyakan beberapa pelajaran yang masih membuat mereka bingung hingga main tebak-tebakan. Mereka sungguh senang dan sangat menikmatinya. Hingga tidak terasa jam pelajaran sudah habis. Gendis pun keluar dari kelas 9.1.
Di depan ruang kelas ternyata sudah ada Maylin yang menunggunya. Tidak mau berburuk sangka Gendis pun tersenyum melihat Maylin.
"Selamat pagi bu Maylin. Apa kabar. Lama sekali tidak bertemu."
"Sudah sehat kamu. Baguslah jadi bisa kembali kerja dan tidak makan gaji buta."
Gendis menghela nafasnya dalam-dalam. Ia tidak mau terpancing dengan omongan Maylin.
"Terimakasih bu Maylin akan perhatiannya. Saya akan bekerja dengan sangat baik."
Mendengar jawaban Gendis, Maylin sangat kesal. Ia berharap Gendis akan marah tapi tidak, Gendis malah bersikap sangat tenang. Maylin pun mendekatkan tubuhnya ke tubuh gendis dan mendekatkan bibirnya ke telinga Gendis membisikkan sesuatu.
"Sekarang kau masih bisa tersenyum, tapi kita lihat saja nanti apakah senyummu masih bisa menghiasi bibirmu itu. Dan satu lagi Kak Juna hanya milikku, jadi jangan terlalu banyak berharap. Jangan seperti pungguk merindukan bulan." Maylin menarik tubuhnya menjauh, seringai jahat muncul di bibirnya. Ia pun meninggalkan Gendis yang masih membatu.
"Kak Juna siapa. Apakah kak Juna yang Maylin maksud adalah mas Juna yang aku kenal. Apa hubungan Maylin dengan mas Juna. Pungguk merindukan bulan? Apa maksudnya." Berbagai pemikiran dan pertanyaan memenuhi otak Gendis. Ia menggeleng pelan dan melanjutkan langkahnya menuju ruang Guru. Gendis tidak mau berspekulasi sendiri, dia akan menanyakan hal tersebut kepada Juna nanti.
🍀🍀🍀
Sore menjelang malam, ruang pertemuan Pandawa Resort telah siap menerima para tamu undangan. Ulang tahun DCC grub menjadi pembicaraan seluruh negeri. Para awak media pun telah siap, hanya yang memiliki undangan yang boleh masuk untuk meliput acara tersebut.
Di apartemen nya Dante mematut dirinya di depan cermin. Ia tersenyum misterius.
"Halo.. Apakah sudah siap. Hmmm. Aku harap kamu tidak mengecewakan." Ia menutup teleponnya dan memasukkan ponselnya ke kantong celana. Dante berjalan menuju tempat parkir. Ia tampak gagah dengan menggunakan tuxedo warna hitam sangat serasi dengan mobil mewah yang ia kendarai.
Dharma, Anjeli, dan Alina juga sudah siap. Dharma tampak gagah dengan setelan jas warna navy, Anjeli dan Alina pun tampak cantik mengenakan gaun warna senada.
"Ayah, apakah mom and dad akan datang juga?" Tanya Alina ia menggandeng tangan Anjeli.
"Sepertinya tidak nak. Mommy dan Daddy mu harus belajar bertanggung jawab " Jawab Darma dengan senyum.
"Oh iya kemana anakmu itu bund" Ucap Darma kembali mencari Juna.
"Dia juga anakmu yah. Entah dari tadi aku tidak melihatnya." Jawab Anjeli.
"Ya sudah biarkan. Nanti dia biar dia menyusul." Ucap Darma kembali.
Mereka bertiga pun menaiki mobil, Suryo sudah siap di kursi kemudi. Mereka melesat menuju Pandawa Resort tempat diadakannya acara.
Di kantor AA, Juna masih duduk santai di kasurnya. Namun ia sudah rapi, menggunakan setelan jas warna hitam dipadukan dengan dasi kupu-kupu warna senada rambutnya pun disisir rapi ke belakang, ia menambahkan jam di tangan kanannya. Penampilannya semakin sempurna dengan sepatu kulit yang mengkilap. Juna sangat enggan datang, Teo yang sedari tadi menghubungi Juna tidak dihiraukan pun akhirnya mendatangi Juna.
"Bos. Mau berangkat atau tidak" Tanya Teo yang sudah berdiri di depan kamar ruko itu.
"Hmmm entahlah Te. Aku sangat malas. Tapi aku tidak boleh mengecewakan beberapa orang bukan?" Jawab Juna tersenyum simpul.
"Bos, apa sebaiknya bos tidak…."
"Aku akan berangkat Te, kita pakai mobil terpisah saja. Aku tetap pakai mobil ku, kamu pakai mobil yang satunya." Ucap Juna memotong ucapan Teo yang belum selesai.
"Tapi Bos…."
"Sudah tidak ada tapi-tapi an."
Juna pun bangkit dari duduknya berjalan keluar, Teo mengikuti dari belakang. Sampai di tempat parkir Juna langsung menaiki mobilnya. Teo masih sempat melarang tapi Juna kukuh akan naik mobilnya sendiri. Teo hanya bisa pasrah, namun ia tetap akan mengikuti mobil Juna.
Juna keluar dari komplek melaju ke arah Pandawa Resort, Teo mengikuti mobil Juna.
"Apa yang akan kamu lakukan Bos. Kenapa juga harus seperti ini." Ucap Teo sambil mengeratkan tangannya di stir mobil.
Juna mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Ia begitu tenang, bahkan ia masih sempat menyetel radio di mobilnya. Lampu merah, ia pun menghentikan mobilnya. Setelah satu menit berlalu akhirnya lampu rambu lalu lintas berubah hijau, saat ia sedang melajukan mobilnya pelan dari arah kanan ada sebuah mobil box melaju dengan kencang.
Brak… brak….braaak… klontang...bruk....duaaaar…. daaar....daaar.....
Juna tidak bisa menghindari hantaman mobil box itu. Ia terpelanting mobilnya berguling sejauh sepuluh meter dan meledak, beruntung Juna bisa melompat sebelum mobilnya meledak. Teo yang melihat kejadian kecelakaan Bos nya di depan matanya histeris dia langsung keluar dari mobilnya dan memanggil Bosnya.
"Bos… bos….dimana bos…" Dia berharap bosnya tidak berada dalam mobil tersebut
"Bos……..!!! " Teo berteriak kencang.
"Te… Aku disini." Ucap Juna lemah tapi masih bisa tersenyum.
"Syukurlah bos selamat," ucap Teo yang kemudian menghampiri Juna. Beruntung Juna selamat namun ia terlihat sangat parah. Kaki dan tangan kanannya sepertinya terluka parah. keluar darah segar dari pelipisnya. Ambulan datang dan segera membawa Juna ke rumah sakit, Teo ikut masuk di mobil menemani Juna.
"Te… jangan kabari ayah dan bunda dulu." Ucap Juna lemah dan akhirnya dia tak sadarkan diri.
Teo mendengus. Dia masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bos nya itu. Tapi dia memilih patuh mengikuti perkataan bosnya. Teo tahu pasti Bos nya sudah memepertimbangkan semuanya.
Di tempat lain si supir mobil box itu sudah melarikan diri. Ia kabur setelah berhasil menghantam mobil Juna. Ia pun menghubungi seseorang.
"Bos… sudah beres. Saya yakin dia tidak akan bisa datang ke sana. Ia bos. Iya baik." Sopir itu langsung menghancurkan ponsel yang ia pakai untuk menghilangkan jejak dan barang bukti. Ia pun berjalan dengan tenang seakan-akan dia adalah seorang pejalan kaki biasa.
Seseorang pun tersenyum puas, ia mengangkat gelas yang berisi wine ke udara layaknya orang bersulang.
"Selamat menikmati abang ku sayang, baik-baik istirahatnya."
TBC