NovelToon NovelToon
HERE I AM "GHOST"

HERE I AM "GHOST"

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.

Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.

Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas yang Berat

Seusai jam pelajaran selesai, Min-woo dipanggil ke ruangan khusus di gedung belakang sekolah. Di sana sudah menunggu Pak Kim—guru sekaligus ketua kelompok pemburu hantu sekolah ini.

“Silakan duduk, Min-woo,” ucap Pak Kim dengan nada serius.

“Ada apa Bapak memanggil saya?” tanya Min-woo sopan.

“Kau pasti sudah tahu tentang kejadian mengerikan di ruang musik hari ini, bukan?”

Min-woo mengangguk pelan, rahangnya mengeras menahan perasaan.

“Bapak tahu tempat itu menyimpan luka mendalam bagimu,” lanjut Pak Kim dengan nada lembut namun tegas. “Bapak juga tahu kau masih trauma dengan apa yang terjadi pada kakakmu dulu. Tapi sampai kapan kita menghindar? Lihatlah, siswi lain kini menjadi korban di tempat yang sama. Kita tidak bisa membiarkan murid lain menderita atau mengalami hal yang sama.”

“Saya mengerti beban tugas ini,” jawab Min-woo pelan. “Saya akan memikirkannya baik-baik.”

“Bisakah kau menyelesaikannya malam ini juga?” tanya Pak Kim menekan.

Min-woo menarik napas panjang, dadanya naik turun. Ia terdiam cukup lama, seolah berperang dengan dirinya sendiri.

Pak Kim kemudian berdiri dan meletakkan tangan di bahu Min-woo. “Min-woo, jangan biarkan dirimu terlarut dalam trauma masa lalu. Pikirkanlah masa depanmu, juga keselamatan teman-temanmu dan orang lain. Dan percayalah… hanya dengan menghadapinya, arwah kakakmu pun akhirnya bisa benar-benar tenang.”

“Baik Pak, akan kupikirkan lagi. Terima kasih atas nasihat Bapak,” jawab Min-woo dengan suara pelan, lalu ia berbalik dan melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.

Baru saja ia membuka pintu, terlihat Seung-hyun sudah berdiri menunggu di sana. Ternyata ia tidak sengaja mendengar sebagian percakapan mereka, dan sudah paham betul apa yang sedang dipikirkan serta dirasakan oleh sahabatnya itu.

Min-woo hanya melirik sekilas, lalu terus berjalan menyusuri lorong tanpa menoleh atau menyapa sama sekali. Ia masih membiarkan beban dan keraguan itu memenuhi kepalanya.

Seung-hyun segera mengikuti dari belakang, lalu mempercepat langkah hingga bisa berjalan berdampingan. Ia menepuk bahu Min-woo dengan lembut namun erat.

“Ayo kita pulang saja dulu,” ucapnya tenang.

Min-woo berhenti sejenak, lalu menundukkan wajahnya dan mengukir senyum tipis yang penuh kelelahan. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, tapi senyum itu sudah cukup memberi tahu bahwa ia menghargai kehadiran temannya.

Mereka pun berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah, dengan langkah yang perlahan namun pasti.

Sepanjang jalan pulang, tidak banyak kata yang terucap. Min-woo berjalan menunduk, pikirannya terus berputar pada kata-kata Pak Kim, pada wajah kakaknya, dan pada ketakutan yang selama ini ia coba sembunyikan. Seung-hyun berjalan di sampingnya, diam saja—ia tahu sahabatnya butuh waktu untuk berbicara dengan hatinya sendiri.

Sesampainya di kontrakan, Min-woo langsung duduk di tepi tempat tidur, menatap lurus ke depan. Lama ia terperangkap dalam keheningan itu, hingga akhirnya ia menghela napas panjang dan menoleh ke arah Seung-hyun yang sedang duduk di meja belajar.

“Aku takut,” ucap Min-woo tiba-tiba dengan suara lirih, seolah mengakui hal yang paling berat sekalipun. “Aku takut jika masuk ke ruangan itu lagi… aku tidak akan kuat menghadapi kenangannya. Tapi aku juga tahu, jika aku lari, akan ada korban lain lagi.”

Seung-hyun berdiri dan duduk di sebelahnya. “Kau tidak akan menghadapinya sendirian. Aku ada di sini, Soo-jin juga ada di sini. Kita akan melangkah bersama. Bahkan jika kau berhenti di tengah jalan, kami tidak akan memaksamu dan akan tetap menjagamu.”

Mendengar itu, keraguan di mata Min-woo perlahan mulai berganti dengan keteguhan. Ia mengangguk pelan, lalu berdiri dan mulai menyiapkan perlengkapan tugasnya.

“Baiklah,” katanya mantap. “Malam ini kita pergi ke ruang musik. Aku akan menghadapinya sekali dan untuk selamanya—bukan untuk melawan masa lalu, tapi untuk membiarkannya pergi.”

Mereka pun segera menghubungi Soo-jin. Gadis itu menyambut berita itu dengan tenang, menyatakan kesiapannya dan berjanji akan mendukung Min-woo sepenuhnya.

Malam itu, tepat saat seluruh lampu sekolah sudah padam, tiga sosok berjalan perlahan menuju gedung ruang musik. Langkah Min-woo tidak lagi ragu seperti dulu, meski jantungnya berdegup kencang. Di belakangnya, Seung-hyun dan Soo-jin berjalan berdampingan, siap menemaninya menghadapi rahasia kelam yang tersimpan di sana.

Begitu melangkah masuk, ruang musik itu sunyi senyap dan gelap gulita. Hanya cahaya senter yang bergerak perlahan menembus kegelapan, menyoroti sudut-sudut ruangan yang berdebu. Mereka berkeliling dengan langkah hati-hati, belum menemukan apa pun—sampai Soo-jin tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Di depan sorotan senternya, sosok siswi yang meninggal siang itu berdiri diam. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca penuh ketakutan, dan tangannya terulur lemah ke arah Soo-jin—seolah benar-benar meminta pertolongan.

Soo-jin menutup mulutnya rapat dengan kedua tangan, menahan teriakan agar tidak mengagetkan teman-temannya. Ia mengangguk pelan, matanya menatap tulus ke arah sosok itu.

“Aku akan menolongmu,” bisiknya dengan suara setenang mungkin.

Belum selesai kata itu terucap, tiba-tiba suara dentuman piano meledak memecah keheningan. Bunyinya sangat keras, melengking dan menusuk hingga ke lubuk telinga, membuat mereka bertiga langsung menekup telinga dengan kuat.

Suara itu semakin lama semakin menyakitkan, seolah bergetar di dalam kepala mereka sendiri. Kaki mereka melemas, dan satu per satu mereka jatuh tersungkur ke lantai.

“Aaaahhhh! Telingaku!” rintih Soo-jin sambil memeluk kepalanya.

“Hentikan! Kumohon hentikan!” teriak Seung-hyun di tengah suara yang memekakkan telinga itu.

Min-woo yang berusaha menahan sakit, tiba-tiba merasakan ada cairan hangat dan basah mengalir keluar dari telinganya. Ia menyentuhnya dengan jari, dan saat melihatnya—darah segar menempel di kulitnya.

“Telingaku…” bisiknya lemah, rasa sakit yang tajam menyergap kepalanya.

Melihat darah mengalir dari telinga Min-woo, Seung-hyun dan Soo-jin langsung panik. Mereka berusaha bangkit meski kepala masih berputar hebat.

“Min-woo, sebaiknya kita keluar dulu!” desak Seung-hyun sambil menopang bahu temannya. “Ini sangat berbahaya! Kita bisa saja mati di sini kalau bertahan lebih lama!”

“Tidak! Aku tidak bisa lari! Aku harus melawannya sekarang!” teriak Soo-jin berusaha menahan teman-temannya, matanya tetap terpaku pada ruangan itu.

Di tengah kegelapan, sosok siswi itu duduk tegak di depan piano. Jari-jarinya bergerak cepat menekan tuts dengan kekuatan yang menyakitkan, lalu tiba-tiba ia berhenti seketika. Matanya menatap lurus ke arah Soo-jin dengan tatapan tajam yang menusuk dan seketika itu juga, Soo-jin merasa seolah ada yang menarik kesadarannya masuk ke dalam ingatan orang lain. Ia terhipnotis, tak bisa bergerak, dan melihat masa lalu yang tersembunyi itu dengan jelas.

1
chie_bapeer
❤️❤️❤️
chie_bapeer
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!