Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis yatim piatu bernama Ayla Khairani Putri berusia 19 tahun, ia dibesarkan oleh pamannya Emir Rahman dan isterinya Mira Rahman.
Emir dan Mira sendiri memiliki dua orang anak yaitu Laura Rahman seusia Ayla dan Luky Rahman 3 tahun lebih tua darinya.
Ayla adalah gadis yang periang dan mudah bergaul tapi satu kelemahannya dia terlalu polos dan ceroboh.
Di hari pertama Ayla magang di sebuah perusahaan yang cukup ternama, ia hampir datang terlambat karena taksi online yang dipesannya tidak juga kunjung datang.
Tanpa bertanya lagi Ayla yang sudah sangat cemas masuk ke dalam sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Siapa kamu?"tanya sang pengemudi dengan datar
" Sudahlah pak supir jangan banyak tanya jalankan aja mobilnya, aku sudah hampir telat"sahut Ayla santai seraya merapihkan rambutnya yang berantakan
Siapakah pria dibalik kemudi tersebut?sebuah keberuntungan atau kesialan setelah Ayla bertemu dengan Alveer Erlangga Kusuma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha menjelaskan
Alveer masuk ke dalam ruangan Arlan dengan tergesa, setelah berada di dalam ruangan tersebut tujuannya hanya satu yaitu menemui Ayla
" Ayla!" panggil Alveer ketika sudah berada di depan meja kerja Ayla
Ayla yang memang sudah mengetahui kedatangan Alveer saat pria itu membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar Ayla sempat menoleh sekilas lalu berpura-pura fokus dengan pekerjaannya.
" Ayla aku_" ucap Alveer yang langsung terpotong dengan ucapan Ayla
" Maaf pak Alveer apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ayla yang langsung beranjak dari duduknya lalu sedikit membungkuk seraya memberi hormat
" Saat ini pak Arlan sedang tidak berada di tempat, jika ada hal penting nanti akan saya sampaikan jika bapak mencarinya" lanjutnya
" Ayla" panggil Alveer untuk kedua kalinya namun Ayla bersikap biasa saja
Ceklek
Pintu terbuka dari luar dan Arlan masuk begitu saja tanpa menyadari keberadaan Alveer
" Maaf pak Alveer itu pak Arlan nya sudah datang" ucap Ayla lalu sengaja berjalan kearah Arlan meninggalkan Alveer yang masih berdiri mematung
" Pak Arlan maaf ada pak Alveer yang tengah mencari anda" ucap Ayla sedikit membungkuk
" Alveer" ucap Arlan lalu menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Ayla
Alveer menoleh kepada Arlan lalu menyuruhnya pergi dengan gerakan ekor matanya.
Arlan yang mengerti kalau situasi yang ada di ruangannya saat ini sedang tidak baik-baik saja akhirnya beranjak dari tempatnya dan pergi keluar sesuai dengan perintah atasannya tersebut
" Saya masih ada urusan, tolong kamu bantu pak Alveer ya ada hal penting yang harus segera ia selesaikan" ucap Arlan sebelum pergi meninggalkan Ayla dan Alveer berdua di ruangannya
" Tapi pak saya_" ucap Ayla terpotong
" Jangan bikin masalah kalau masih mau magang di perusahaan ini" ucap Arlan lalu pergi
Ayla mendengus kesal menatap pintu yang sudah kembali tertutup
Ayla diam ditempatnya berdiri tanpa berniat untuk kembali kemeja kerjanya
" Apa kau akan berdiri terus disitu?" tanya Alveer
" Saya tidak bisa bekerja jika bapak masih berada di ruangan ini" jawab Ayla datar
" Apa kau mengusir ku?" tanya Alveer yang berjalan perlahan mendekati Ayla
" Maaf pak bukan maksud saya seperti itu, saya hanya tidak terbiasa jika bekerja di awasi pak" jawab Ayla tanpa menoleh
" Apa begitu caramu berbicara dengan seorang atasan?" tanya Alveer dengan suara yang dibuat serius
" Maaf pak" Ayla hanya mampu menundukkan kepalanya
" Tatap aku jika sedang bicara" tegas Alveer
" Maaf pak bukannya saya lancang, tapi bukan bapak sendiri yang melarang para karyawan bapak menatap bapak ketika berbicara dengan bapak!"
Deg
Alveer tercekat, Ayla terlalu pintar untuk membalikkan kata-katanya.
" Terkecuali kamu saya izinkan untuk menatap ku ketika bicara" sahut Alveer
" Apa bedanya saya dengan karyawan lainnya pak, apalagi saya hanyalah karyawan magang di perusahaan ini, sungguh lancang jika saya berani menatap bapak" balas Ayla
" Maaf pak jika tidak ada urusan yang penting saya mau melanjutkan pekerjaan saya" Ayla kembali meninggalkan Alveer dan melangkah menuju meja kerjanya
Alveer mengusap wajahnya kasar lalu dengan gerakan cepat Alveer menarik tangan Ayla yang baru saja hendak duduk di kursinya
Brukk
Ayla tertarik hingga membentur dada bidang Alveer, Ayla yang terkejut langsung mendorong dada Alveer hingga mundur dua langkah.
" Maaf pak jangan bersikap tidak sopan, meskipun saya hanya gadis miskin dan tidak punya orang tua tapi tolong hargai saya dan hormati saya disini sebagai mahasiswa magang yang sedang belajar mencari ilmu" ucap Ayla dengan mata yang sudah berkaca-kaca
Alveer tersentak kaget dengan kata-kata yang Ayla ucapkan, bukan maksudnya untuk melecehkan bahkan merendahkan harga diri Ayla, dia hanya sedang berusaha untuk menjelaskan pada Ayla yang ia yakini sedang salah paham padanya
" Ayla, maafkan aku tapi aku tidak bermaksud untuk_"
" Sudahlah pak, sebaiknya pak Alveer kembali ke ruangan bapak saya tidak mau karyawan lain salah paham pada saya terutama dengan calon isteri bapak, hargailah perasaan wanita pak, jangan pernah mempermainkan perasaannya" ucap Ayla
" Tapi Ayla saya_"
" Maaf pak saya mau melanjutkan pekerjaan saya" ucap Ayla yang langsung menyibukkan dirinya di depan layar laptopnya tanpa menghiraukan Alveer yang masih berdiri di tempatnya seraya menatap lekat kearahnya
Sudah hampir 3 jam Alveer masih setia berdiri di tempatnya menatap lekat ke arah Alya, sedangkan Ayla sendiri menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya walau sesekali ia sempat melirik Alveer.
Arlan yang tiba-tiba masuk dikejutkan dengan Alveer yang ternyata masih berada di ruangannya, karena kerjaannya yang terlantar akibat ulah atasannya tersebut mau tidak mau Arlan pun masuk ke dalam ruangannya tanpa menghiraukan bosnya yang masih berdiri menatap Ayla yang sibuk dengan pekerjaannya
" Al mau sampai kapan loe berdiri di situ terus?" tanya Arlan tapi tidak digubris oleh Alveer
" Al sebaiknya loe balik gih ke ruangan loe dan kalau perlu loe bawa aja tuh si Ayla dari sini!' ucap Arlan yang langsung membuat Ayla melotot tajam ke arahnya.
" Ide yang bagus" sahut Alveer
Alya menatap malas pada Alveer lalu beranjak dari duduknya " Maaf pak Arlan saya izin ke ruangan bu Nia dulu, ada berkas yang harus saya serahkan" ucap Ayla yang sedari tadi merutuki kebodohannya sendiri yang tidak menyadari kalau selama ini nama Alveer Erlangga Kusuma hampir setiap hari diketiknya nama tersebut.
" Tidak perlu, kau bisa langsung menyerahkannya pada Arlan karena dia yang bertanggung jawab sepenuhnya atas pekerjaan mu sekarang" sahut Alveer
" Tapi pak saya_!" kata-kata Ayla terpotong
" Apa kau sengaja ingin menghindar dari ku?" potong Alveer
" Menghindar?" Alveer mengangguk
" Untuk apa saya menghindari bapak, saya hanya seorang bawahan tidak mungkin bisa menghindar dari orang yang memiliki kekuasaan tapi jika bisa mungkin ya saya akan memilih menghindar dari pada saya nantinya dicap sebagai pelakor" sahut Ayla dengan tatapan sinis
" Tidak akan ada yang berani mengecap mu sebagai pelakor" timpal Alveer
" Apa bapak bisa menjaminnya? mulut netizen begitu tajam mungkin bapak bisa membungkam satu, tiga atau sepuluh orang tapi untuk membungkam mulut semua karyawan di perusahaan ini apa bapak bisa? belum lagi jika sampai terdengar ke masyarakat luar saya tidak yakin bapak bisa membungkam mulut mereka satu persatu" jawab Ayla
" Saya ini sepupu dari wanita yang akan menjadi calon isteri bapak, alangkah baiknya jika bapak menjaga jarak dengan saya, dan bersikap profesional dalam bekerja pak" tambahnya
" Saya disini hanyalah mahasiswa magang pak jadi saya mohon jangan mempersulit saya dalam menjalankan tugas kuliah saya pak" Ayla berusaha untuk memberanikan diri menatap wajah Alveer yang juga tengah menatapnya sehingga pandangan mereka pun bertemu dan terkunci satu sama lain
Deg
Jantung Ayla berdegup begitu kencang tapi sedetik kemudian Ayla berusaha untuk bersikap tenang dan biasa saja.
Tapi lain halnya dengan Alveer tatapannya menyorot tajam, kata-kata Ayla sungguh sulit untuk ia terima. sudah berkali-kali dia mengatakan kalau calon isterinya hanyalah Ayla tapi rupanya Ayla masih belum yakin atas kata-katanya itu.
" Aku mencintaimu Ayla!" tegas Alveer
Ayla membola menyorot tajam pada Alveer, gadis itu benar-benar tidak menyangka bagaimana bisa Alveer mengatakan hal seperti itu dengan begitu mudahnya apalagi ditempat tersebut masih ada Arlan
" Kata-kata mana yang bisa saya percaya dari seseorang yang sangat menikmati kebohongannya" sindir Ayla
Deg
Alveer tersentil dengan kata-kata yang Ayla lontarkan, selama ini memang dia tidak jujur tentang siapa dirinya yang sebenarnya tapi untuk masalah cinta Alveer benar-benar tulus mencintai Ayla
" Jangan mempersulit saya pak" lanjut Ayla lalu kembali duduk dan membuka laptopnya mengalihkan rasa groginya dengan bekerja.
Alveer yang merasa kesal karena tidak tahu harus bagaimana lagi caranya bicara dengan Ayla memilih untuk mengalah, jika diteruskan yang ada Ayla akan semakin membencinya.
Dengan amarah yang tertahan Alveer keluar dari ruangan Arlan dan menutup pintu tersebut dengan kasar hingga membuat Arlan dan Ayla terjingkrak kaget.
dan laura selamat ya terima karmamu sendiri 😂😂😂
banyak yg iri lagi sabar ayla jodoh gak akan ke mn