NovelToon NovelToon
Sisa Rasa

Sisa Rasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Patahhati / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.7
Nama Author: Devi21

Deva dan Dave mengakhiri ikatan cinta sebagai sepasang kekasih karena bakti pada orangtua. Namun, cinta tidak pernah benar-benar pergi dari hati keduanya. Ketika logika mengatakan harus berpisah, namun perasaan bersikeras menahan diri untuk tidak beranjak kemana-kemana.

"Berhenti berharap pada suami orang, Dev. Jangan merendahkan dirimu seolah kamu tidak layak mendapatkan cinta yang utuh dari orang lain. Dave jelas bukan jodohmu."

Sederat kata itu diucapkan oleh sosok pria yang mengagumi dan mencintai Deva dengan cara yang berbeda. Siapakah dia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pamit

Deva menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya ke arah atas. Lalu menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.

"Selamat sore, Pak Dewa." Deva menyapa dengan formal.

Suara pria dengan nada tegas, dan seolah-olah sedang kesal itu langsung terdengar. Dewa memberikan pertanyaan pada Deva mengenai data yang sedang dicarinya.

"Sebentar lagi akan saya kirim melalui email,pak." Deva membalas ucapan atasannya itu dengan tenang.

"Cepetan, gak pakai lama!"

Sambungan telepon itu terputus sepihak. Tanpa salam atau pun ucapan terimakasih basa basi. Deva mengelus dada seolah ingin mengucap kata sabar untuk dirinya sendiri. Pikiran negatif tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Dewa sepertinya mulai ingin membuat dirinya ribet. Padahal data yang diminta bisa di dapat dengan mudah, dan ada Sashi yang sebenarnya bisa membantu dengan bonus rangkulan atau apalah. Nyatanya, Dewa malah memilih untuk menghubungi Deva yang jelas-jelas sudah izin meninggalkan kantor.

Setelah mengirim pesan email pada Dewa, Deva baru menyadari jika sudah cukup lama Dave meninggalkannya. Pria itu belum juga kembali menunjukkan batang hidungnya. Deva mulai resah. Dia beranjak berdiri, berjalan mondar mandir sembari menggigit kuku ibu jarinya.

"Ya Allah..." Deva bergumam sembari menghempaskan kembali bokongnya ke atas bangku.

Beberapa saat kemudian, Dave keluar dari sebuah ruangan. Deva sama sekali tidak bisa menebak apa yang terjadi dari raut wajah pria tersebut.

"Bagaimana, Bang." Tidak sabar, Deva juga berjalan menghampiri Dave. Hingga posisi keduanya kini saling berhadapan dengan jarak satu langkah.

"Alhamdulillah papa sudah siuman. Kamu boleh menemui nanti. Tapi hanya sebentar. Harusnya sekarang sudah bisa, tapi papa menginginkan kamu datang setelah maghrib. Papa masih ingin istirahat. Begitu kata petugas yang berjaga. Hanya lima belas menit."

Deva menarik napas lega. "Syukurlah... lima belas menit itu sangat berharga, Bang. Apa barusan Abang juga sempat bertemu dengan Papa?"

Dave menggeleng, "Tentu saja tidak. Kalau aku bertemu dengan papa, jelas kamu yang akan kehilangan kesempatan. Mereka hanya memberi waktu sekali, dan hanya untuk satu orang."

Deva tersenyum tipis. Masih menyisakan waktu dua jam lagi untuk menuju maghrib. Tapi pulang juga akan memakan waktu. Belum lagi nanti saat kembali, bisa-bisa dia terjebak macet karena bersamaan dengan jam pulang kerja.

"Ya sudah, terimakasih, Bang. Saya nunggu di sini saja. Saya mau sholat Ashar, sekalian makan dulu." Deva berbalik badan, berniat meninggalkan Dave yang masih setia berdiri di depannya.

"Aku temenin." Tanpa ragu, Dave menggenggam jemari Deva dengan posesif. Tarikan tangan Deva, tidak sedikit pun bisa membuat jemarinya terlepas dari genggaman tersebut.

Dave dan Deva berjalan menuju arah mushola yang berada di luar bangunan rumah sakit. Tanpa disadari oleh keduanya, ada sepasang mata yang mengawasi dengan tatapan penuh luka.

Duduk berdua sampai keduanya melakukan ibadah tiga rakaat bersama, tidak sedikit pun meluruhkan kecanggungan yang sudah terlanjur tercipta. Bahkan hingga mereka kembali menuju ruangan di mana Amar berada, baik Deva dan Dave, masih kompak mati gaya.

Masing-masing jelas terlihat salah tingkah dan malu-malu. Saling mencuri pandang seperti remaja yang baru saja melakukan pendekatan.

"Astaga... kalau seperti ini, bagaimana bisa lupa," keluh Deva dalam hati.

"Tuhan... bukannya menghilang, kenapa aku malah seperti jatuh cinta lagi pada Deva?" Dave pun bergumam dalam hati.

Akhirnya, sampailah mereka di depan pintu ruangan di mana Amar berada. Situasi yang menyelamatkan Deva dan Dave dari perasaan carut marut yang semakin bergejolak.

"Salam sama, papa." Dave mengusap lengan Deva dengan lembut. Membuat dada sang mantan yang masih meratui hatinya, berdesir luar biasa.

Deva mengetuk daun pintu tiga kali. Sesaat kemudian, pintu tersebut terbuka lebar. Petugas membawa Deva masuk masuk ke area yang lebih dalam, menunjukkan letak brankar tempat Amar berbaring.

Menyadari kedatangan sang putri kesayangan, Amar menyunggingkan sebuah senyuman. Wajahnya masih pucat. Matanya mengeriyip---tidak terbuka dengan maksimal seperti biasa. Di tubuhnya, juga masih terpasang beberapa alat yang terhubung dengan layar monitor.

"Alhamdulillhah, Papa sudah pulih. Terimakasih, karena Papa sudah semangat untuk sembuh," Deva membungkukkan badannya. Mengecup kening sang papa dengan lembut.

Amar seperti sedang menghemat energi. Pria itu hanya mengangguk lemah. tangannya bergeser perlahan dengan maksud ingin meraih tangan Deva.

"Papa mau begini." Deva menggenggam jemari papanya di bagian tangan yang tidak terdapat jarum inpus atau peralatan dokter yang lain.

"Apa yang papa rasakan sekarang? Apa lebih baik?" tanya Deva, dia membungkukkan badannya agar lebih dekat dengan wajah Amar.

"Papa baik. Bicara yang banyak, Dev. Ceritakan apa pun pada Papa... Papa hanya ingin mendengar suara dan melihat wajahmu sepanjang waktu yang kita punya." kata-kata lirih namun jelas, terlontar dari mulut Amar.

Deva menarik napas dalam, matanya menatap lekat pada sosok sang papa. Dia tahu papanya belum sehat benar. Namun, Deva cukup meyakini keadaan papanya lebih baik dari kemarin-kemarin. Perempuan itu kembali menegakkan badannya. Di ruangan tersebut, memang tidak disediakan bangku. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu, sudah cukup sesak dengan brankar, meja monitor yang terhubung dengan alat-alat di tubuh Amar, dan sebuah Nakas.

"Deva kangen sekali sama papa. Begitu banyak hal yang ingin Deva ceritakan. Tapi tidak mungkin sekarang. Papa tidak pernah mengajarkan Deva untuk pintar berbohong dan berpura-pura. Deva tidak mau, mengisi waktu lima belas menit habis hanya dengan keluhan dan sakit hati."

Sebuah senyuman tulus menyungging dari bibir Amar. Senyum yang sebenarnya hanya menutupi rasa sakit dan kemirisan hati. Serangkaian kata andai mulai kembali bermunculan di pikirannya. Vonis bersalah, merubah kehidupan keluarganya luar biasa. Dan korban yang paling nyata adalah Deva. Hubungan dengan Dave yang seharusnya sudah sampai di ikatan pernikahan, selalu ditunda karena Deva ingin melangsungkan pernikahan disaat Amar sudah bebas. Namun takdir berkata lain, hubungan itu kini sudah kandas.

"Pa, besok Deva ke Bali. Ada urusan kerjaan sampai hari minggu. Jadi, besok dan lusa Deva tidak bisa datang. Papa nggak kenapa-kenapa, kan?"

Amar mengangguk. "Hati-hati, saat kamu pulang nanti, pasti Papa sudah sehat. Tidak akan ada lagi rasa sakit. Kamu tidak perlu membuang uang dan jerih payahmu untuk pengobatan papa. Jaga dirimu baik-baik. Selalu andalkan Allah dalam setiap perkara. Semua yang sudah terjadi, sepenuhnya adalah kesalahan papa. Maafkan papa ya, Dev."

Deva mengusap pipi tirus penuh garis keriput sang papa dengan lembut. "Jangan ucapkan maaf terus menerus, Pa. Seolah Papa benar-benar bersalah. Cukup Deva tahu, uang itu tidak sepeser pun Papa nikmati. Sudahi maafnya. Membalikkan keadaan tidak cukup dengan kata itu, Pa. tidak cukup!"

Amar kembali tersenyum, Deva membalas senyuman itu. Wajah Amar tidak sepucat tadi, semburat merah sudah mewarnai pipi dan seluruh tubuhnya. Deva benar-benar merasa lega. Besok dia bisa pergi tanpa terbebani kondisi sang papa.

Keduanya lalu membicarakan hal yang lebih santai. Beberapa kali bahkan Amar tersenyum lepas saat mendengar princess kesayangan menceritakan tentang atasan barunya. Sampai mereka tidak sadar, waktu kebersamaan mereka telah usai.

"Deva pulang dulu ya, Pa." Deva kembali mengecup kening sang papa.

"Princess Papa harus kuat, Papa akan sembuh. Ingat pesan Papa, saat tidak ada lagi manusia yang bisa diandalkan, masih ada Allah. Jangan pernah pertanyakan keadilan Allah. Jaga diri baik-baik, Dev. Maafkan papa yang tidak bisa menjagamu dengan baik."

Ucapan Amar itu mengakhiri pertemuan mereka kali ini. Deva meninggalkan ruangan dengan ucapan syukur yang bertubi-tubi, sama sekali tidak menyadari, sang papa kembali merasakan sesak di dadanya.

"Sudah?" Dave langsung menyambut Deva dengan senyuman. "Aku antar kamu pulang. Tapi sebelum itu, kita makan dulu sekalian di kafe biasa." tambahnya.

Tanpa menunggu jawaban Deva, Dave langsung berjalan lebih dulu ke arah parkiran mobilnya. Deva tidak sampai menolak. Setelah Dave mengusahakannya bisa bertatap muka dengan sang papa, makan bersama mungkin tidak ada salahnya.

Keduanya masuk ke dalam mobil sport milik Dave. Mobil pun langsung melaju dengan kecepatan sedang. Mengarah ke arah kafe yang menjadi tempat favorite Dave dan Deva.

Tidak terlalu menempuh waktu yang lama, mobil Dave berhenti tepat di area parkir sebuah kafe. Bersebelahan dengan mobil yang juga baru saja datang. Kendaraan roda empat tersebut, setipe dengan yang dikemudikan oleh Dave.

Bersamaan saat Deva membuka pintu mobil tersebut, pengendara mobil tadi juga melakukan hal yang sama.

"Kamu?" suara orang yang baru saja turun dari mobil itu, seketika membuat Deva menelan ludahnya dengan susah payah.

1
Bowo Ariwbowo
Menegangkan ya devaaa
tria ulandari
bang Dave udh brpa kali juga baca nya ttep aja mewek aku tuhhh 😭😭
tria ulandari
dari 2022 ,,2023 ,,2024 sampe 2025 aku masihh sering ngintip disini berharap ada kabar baik kak Dev 😭😭
Diana
Mana part selanjutnya author??
Alur cerita memberikan pelajaran yg sangat berharga bagi setiap hari.
yuiwnye
emaknya selingkuh dg hafiz laki² yg nipu Dira,,,,weleh²
yuiwnye
terjadi split hati rupanya
yuiwnye
nasib mu Dave, menghibur orang stress jd gila beneran
yuiwnye
ada rampok hati yg ngetok pintu 🤪🤪😁😁
tria ulandari
kak Dev untuk sisa Rasa blm ada bentuk cetak nya????
btw aku msh nungguin part selanjutnya loh kak
Supriatun Khoirunnisa
Luar biasa
Reni
Nama mereka mirip ya, Deva dan Dave tp sayang sekali gk jodoh.
St.rkyyh
selamat author.. anda telah mampu membuat ku menangis 😭😭
St.rkyyh
masya allah authorr... ini bener2 cerita yang sangat menarik dan mengesan kan. tetap semangat yaa, semoga berkah, selamat dunia akhirat. aku mendukung mu
Vie ardila
Luar biasa
Ifanda Rian
sangat bagus
Sondang Viona
Luar biasa
Susi Yanti
cerita yg cukup penuh dgn pelajaran yg diwarnai dgn trik emosi yg cantik, semangat Thor...
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: Terimakasih sudah berkenan membaca, kak
total 1 replies
Rustin Zunan
dave deva agak.membingungkan karna mirip 🤣🤣
Eka Puji Lestari
kapan up atau sequel sisa rasa ini kak
St.rkyyh
wahh keren sih ini gaya bahasanya.. semangat author
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: Terimakasih, kak. Masya Allah... masih belajar, kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!