WARNING!
NO BOOM LIKE & LOMPAT BAB. HARGAI PENULIS!
“Aku sudah putuskan. Aku ingin mengakhiri hubungan kita,” Tegas Danu, tunangan Zivanya sang janda yang beranak dua.
“Apa maksudmu, Bang?” tanya Zivanya, berharap semua yang ia dengar salah.
“Ku rasa, aku tidak perlu mengulang kata-kataku. Semua yang aku katakan sudah cukup jelas, aku ingin kita mengakhiri semuanya,” Lagi, Danu mengulang perkataannya.
“Tapi kenapa, Bang?” Air mata Zivanya luruh. Ia tidak dapat menahan tangisnya.
Zivanya, Janda muda yang memiliki dua anak, di putuskan begitu saja oleh tunangannya. Ternyata, alasan yang ada dibalik putusnya hubungan meraka sungguh menyakitkan. Membuat Zivanya berubah menjadi pribadi yang lain.
~Pesona Janda Anak Dua~
"Zivanya Anatasya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Sepulang sekolah, Rendi bersama ketiga temannya. Benar-benar mendatangi kediaman Zivanya.
“Permisi! Permisi!” panggil Rendi di depan pintu rumah yang tertutup itu.
“Ya! Sebentar!” teriak suara dari dalam.
Orang yang ada di dalam rumah itu, segera membuka pintu. Saat pintu telah terbuka, matanya mendelik lebar.
“Kamu lagi! Ngapain sih datang terus?” omel Mei setelah melihat siapa yang datang.
“Apaan sih! Cerewet banget,” ucap Rendi pada Mei.
“Mau ngapain?” tanya Mei dengan ketus.
“Udah tau niat orang, masih nanya juga nih, cewek!” Rendi melihat Mei dengan tatapan malas.
“Mbak Vanya lagi sibuk!” Mei hendak menutup lagi pintu rumah itu, tetapi, Rendi menahannya dengan kaki.
“Jangan bohong, jam segini, Mbak Vanya pasti ada di dalem,” kata Rendi.
“Nyebelin banget sih!” gerutu Mei. “Tunggu sini. Jangan masuk, aku panggil Mbak Vanya dulu.” Mei segera meninggalkan Rendi dan ketiga temannya di teras rumah itu.
“Mana, Ren. Tante-tantenya?” tanya salah satu teman Rendi.
“Cewek yang tadi, cantik juga,” ucap teman Rendi.
“Mata keranjang!” Rendi mengusap wajah temannya dengan dua tangan.
“Kurang ajar, lu, Ren!” maki teman Rendi, yang wajahnya baru saja di usap oleh Rendi.
Tak lama kemudian, Zivanya keluar dari dalam rumah. Seperti biasanya, ia mengenakan celana pendek selutut dan baju tanpa lengan, rambutnya tergerai indah.
“Ada apa, Ren? Kata Mei, kamu nyari, Mbak?” tanya Zivanya dari ambang pintu rumah itu.
“Ehh.. Busyet, bidadari!” celetuk Adi, salah satu teman Rendi.
“Ini mah, bukan tante-tante, Ren. Tapi, cewek glowing glowing glowing jernih,” kata Nanang. Teman Rendi yang satunya lagi.
“Nenek, lu. Lagian siapa juga yang bilang tante-tante!” Rendi menyikut Nanang yang ada di sampingnya.
“Lah! Lu kata, ceweknya tante-tante janda anak dua,” kata Nanang dengan wajah polosnya.
Zivanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ABG labil yang ada di hadapannya saat ini.
“Eh, Mbak. Kenalin, saya Tono temannya Rendi.” Teman Rendi yang terakhir, mengulurkan tangannya pada Zivanya, dan mengenalkan dirinya lebih dulu.
“Zivanya.” Balas Zivanya sembari membalas uluran tangan Tono.
Di saat teman-temannya sedang berdebat, Tono bergerak lebih dulu untuk mendekati Zivanya.
“Mbak, boleh gak, Tono minta minum, haus banget ini,” ucap Tono sembari menyentuh lehernya.
“Boleh, mari masuk,” ajak Zivanya.
“Yes!” Tono segera berjalan mengikuti Zivanya. Meninggalkan ketiga temannya yang sedang ribut di teras rumah Zivanya.
“Tunggu di sini, ya. Mbak ambilkan minum nya dulu,” kata Zivanya sambil berjalan menuju dapur.
Di saat Tono sedang menikmati segelas jus mangga. Rendi, Adi dan Nanang baru menyadari, bahwa Tono tidak ada di antara mereka. Mereka bertigapun menyusul masuk ke dalam rumah Zivanya.
“Ambil kesempatan di dalam kegabutan, lu!” Rendi menatap tidak suka pada Tono.
“Lagian lu bertiga, di rumah orang gak punya malu,” ucap Tono dengan cuek pada tiga temannya itu.
Beberapa saat kemudian, Zivanya yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Segera berjalan keluar. Ia melihat Arya yang datang dengan membawa setangkai bunga mawar.
Zivanya tersenyum manis pada Arya. Arya pun begitu, ia segera menghampiri Zivanya yang menunggunya di ambang pintu, lalu, memberikan mawar yang ia bawa pada Zivanya serta memeluk pinggang Zivanya dan mencium pipinya. Arya belum menyadari jika, ada ABG labil di dalam rumah itu.
“Aku kangen,” ucap Arya.
“Too!” balas Zivanya.
“Busyettt.. Main sosor-sosor aja, ternoda kan mataku!” celetuk Nanang yang paling gesrek di antara ke empat ABG itu.
Arya menatap tajam pada empat pemuda yang ada di sofa ruang tamu rumah itu. Setelah itu, ia melirik Zivanya yang masih memeluknya.
Zivanya hanya memelototkan matanya pada Arya, Arya pun langsung menangkap sinyal yang di berikan oleh janda itu.
“Ehemm.. Ngapain kok rame-rame kesini?” tanya Arya sembari berjalan mendekati sofa ruang tamu. Di mana Rendi dan teman-temannya duduk.
“Eh, Om. Ini, kami kesini nemenin Rendi,” ucap Tono. “Iya kan, Bray!”
“Iya, Om.” Adi dan Nanang ikut menimpali.
“Siapa yang, Om kalian?” tanya Arya dengan garang.
“Ehh, bukan om ya,” kata Tono.
Adi, Nanang dan Tono saling sikut, dan akhirnya mereka pamit pulang.
“Om, ehh Bang. Kami pamit pulang dulu, makasih minumannya,” pamit Tono, lalu ia, Nanang dan Adi segera melesat secepat mungkin. Meninggalkan Rendi yang duduk di sebelah Arya.
“Bang, Rendi pamit pulang dulu, ya,” kata Rendi dengan tangan bergetar.
“Nanti, kenapa buru-buru. Kita minum dulu, lagian tuh jus kamu belum abis,” ujar Arya sambil menahan bahu Rendi.
“Bang, Rendi udah gak haus kok!”
Zivanya yang berdiri di belakang mereka, menahan tawa dengan kedua tangannya. Ia merasa lucu melihat Rendi yang begitu ketakutan.
“Beneran nih! Mau pulang? Gak mau ngobrol dulu, sama saya,” kata Arya.
“Lain kali aja deh, Bang.”
“Ya udah, sekarang kamu pulang. Mandi, terus bobo, ya!”
“I-i-iya Bang!”
Begitu bahunya di lepaskan oleh Arya, ABG itu segera bangkit dari duduknya dan segera pergi dari tempat itu.
Melihat Rendi yang sudah menjauh, maka pecahlah tawa Zivanya yang sudah sedari ia tahan.
“Bwahahahaha.. Kamu kejam banget ama, dia!”
BERSAMBUNG!
.
.
.