Bagaimana jadinya jika seorang perempuan yang berpenampilan tidak menarik bisa membuat seorang CEO tampan jatuh cinta? Yang awalnya membenci jadi cinta, seolah ada kekuatan magic yang membutakan matanya. Kemampuan gadis itu sungguh membuat sang pria terpedaya.
"Jadilah kekasihku! Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau." Itulah tawaran yang diberikan oleh Juno kepada Aruna Rhea. Gadis yang berpenampilan kampungan, tetapi berhasil membuat Juno mabuk kepayang.
Siapa sangka ada rahasia di balik penampilan Aruna, yang membuat Juno kesulitan mendapatkan cintanya.
#Sequel dari novel 'My Lovely Idiot Husband'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyembunyikan Sesuatu
...***...
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Aruna turun ke bawah menemui Juno yang sedang sarapan di meja makan. Ia memakai pakaian yang ia pakai semalam. Setelan kerja dengan rok span selutut berwarna hitam dipadukan dengan kemeja lengan panjang berwarna fanta. Pakaian sederhana yang sering Aruna pakai. Namun, ada yang berbeda dari penampilan Aruna. Surai panjangnya dibiarkan terurai begitu saja. Membuat kedua mata Juno terus mencuri pandang ke arah gadis itu.
"Duduk sini, Non!" Sarla menarik sebuah kursi kosong yang berhadapan dengan Juno. Lalu, mempersilakan Aruna untuk duduk di kursi tersebut. Ia mengambil sebuah piring kosong lalu mengisinya dengan nasi goreng buatannya. Lantas memberikannya kepada Aruna. "Dimakan dulu, ya, sarapannya! Nona butuh tenaga yang ekstra karena semalam habis pingsan," kata Sarla.
"Makasih, Bi." Aruna mengembangkan senyuman. Ia jadi ingat dengan almarhum ibunya yang selalu mengingatkannya tentang sarapan. Sudah sangat lama ia tidak pernah merasakan hal itu. Mungkin semenjak dirinya ditinggal pergi oleh sang ibu. Di rumahnya memang ada seorang perempuan yang harus ia panggil 'mama'. Seorang perempuan yang menggantikan posisi ibunya bahkan sebelum ibunya meninggal dunia. Dia yang tadinya tinggal bersama ibunya harus kembali tinggal bersama sang papa semenjak ibunya tiada.
Hingga setelah lulus SMA. Ia memaksa ayahnya untuk mengizinkan dirinya kuliah di luar negeri. Ia sudah muak tinggal dengan sang ibu tiri. Padahal ibu tirinya terkenal baik hati. Walaupun pada awalnya ayahnya menolak permintaan Aruna, tetapi Aruna berusaha keras dengan belajar bersungguh-sungguh, sehingga ia bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Singapura. Mau tidak mau sang papa harus mengijinkan Aruna kuliah di sana, karena itu demi masa depan Aruna.
"Jangan melamun aja, Non! Yuk, dimakan dulu sarapannya!" Ucapan Sarla membuat Aruna tersentak dari lamunannya. Juno yang melihat itu pun menatap Aruna dengan tatapan penuh tanya. Kedua alisnya tertaut dengan kening yang berkerut. Ada banyak pertanyaan yang tertampung dalam otaknya. Apa sebenarnya yang terjadi pada kehidupan Aruna. Ia semakin yakin, jika perempuan itu pernah mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan.
Aruna mengambil nasi dengan sendoknya, tetapi sebelum memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya, ia teringat sesuatu dan kembali bertanya kepada Sarla. "Oh, iya, Bi. Apa Bibi melihat ikat rambut aku? Atau Bibi punya ikat rambut lain? Aku mencari punyaku di kamar Juno nggak ada. Mungkin Bibi lihat?"
"Enggak, Non. Bibi enggak lihat ikat rambut Nona," jawab Sarla. Ekor matanya melirik ke arah Juno lalu menganggukkan kepalanya ketika melihat Juno mengedipkan mata. Setelah itu dia pamit undur diri ke arah dapur dengan alasan ingin melanjutkan pekerjaan.
Juno tersenyum sambil menatap kepergian Sarla. Ia merasa harus berterima kasih karena perempuan tua itu, karena sudah mau bekerja sama dengan dirinya. Karena sebenarnya, dialah yang sudah menyuruh Sarla untuk menyembunyikan ikat rambut Aruna. Pun harus berkata jika dirinya tidak mempunyai ikat rambut yang sama. Juno ingin melihat rambut panjang Aruna lebih lama.
"Kenapa harus diikat, sih? Kan, bagus rambut kamu diurai. Kasihan tahu rambut kamu digulung-gulung kayak gitu nanti dia nangis, loh." Juno ikut berkomentar dengan celotehan yang tidak masuk di akal. "Dan itu ...." Juno menunjuk wajah Aruna, "kacamatamu mending dilepas aja! Bukannya matamu nggak rabun," tambahnya lagi.
Aruna mengerutkan kening. "Jangan sok tahu, kamu! Dari mana kamu tahu kalau aku nggak rabun? Dari dulu aku sudah memakai kacamata ini, terus aku nggak suka dengan rambutku yang terurai. Aku lebih suka jika rambutku digelung saja. Mana ada rambut tangis. Memangnya dia punya mata," cicit Aruna sambil mencebikkan bibir.
"Itu terlihat kampungan. Udah nggak zaman tahu," sergah Juno lagi, mengomentari model rambut Aruna yang digelung seperti punuk unta. "Apa kamu lupa, dulu aku pernah ke rumahmu? Waktu itu kamu mengerjakan segala sesuatu tanpa kacamata, dan kamu tidak ragu sedikit pun mengerjakannya. Di situ aku yakin kalau kamu nggak rabun," tandas Juno lagi seolah membongkar kedok Aruna.
Aruna sedikit gelagapan, merasa bingung harus berkata apa tentang alibi Juno yang memang benar adanya. "Itu urusan aku. Kamu nggak usah ikut campur!" protes Aruna. Lantas menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Dia terlihat gugup.
Hening sejenak. Hanya ada suara denting piring yang berbenturan dengan sendok terdengar di ruangan itu. Sampai suara Aruna yang pertama terdengar membuka perbincangan di antara mereka. "Oh, iya, Jun. Semalam kamu bener-bener nggak melihat temen-temen aku? Aku datang ke kafe itu bersama mereka, tapi setelah aku ke kamar mandi dan nggak sadarkan diri. Tiba-tiba aku bangun udah ada di kamar kamu. Apa semalam nggak ada yang ribut-ribut mencari aku, atau mungkin kamu yang langsung membawa aku pulang sehingga mereka tidak tahu kalau aku sudah pulang duluan."
Juno bergeming. "Teman-teman? Apa mungkin yang dimaksud Aruna bukan Alfath? Berarti Aruna datang rame-rame ke kafe, dan aku sudah salah paham kepadanya. Ah, dasar gila!" batin Juno. Ia merutuki kekonyolannya yang cemburu buta pada sesuatu itu yang menjadi praduga dalam hatinya.
"Teman-temanmu yang mana?" tanya Juno dengan sikap lembut. Akhirnya akal sehatnya pun kembali dan dia tidak cemburu lagi.
"Teman-teman kantorku. Mungkin kamu kenal, karena kamu sering ke perusahaanku, 'kan?" jawab Aruna.
Juno berpikir sejenak. Berusaha mengingat kembali orang-orang yang sering ia temui di perusahaan Suryafood tempat Aruna bekerja. Lantas ia menggelengkan kepalanya, karena semalam ia tidak melihat wajah mereka.
"Aku enggak lihat teman-temanmu di sana. Waktu aku datang kamu sudah pingsan dan aku langsung membawamu pulang," jawab Juno.
Aruna menyuap makanannya perlahan sembari berpikir. Kenapa tidak ada satu pun di antara mereka yang menghubunginya dari semalam? Bahkan untuk sekadar menanyakan kabar Aruna yang tak kunjung kembali ketika dirinya pamit ke kamar mandi. "Ada apa dengan mereka?" batin Aruna.
"Aku boleh bertanya sesuatu?" Pertanyaan itu sukses membuat kesadaran Aruna kembali.
"Oh, iya. Kamu mau nanya apa?" tanya Aruna balik.
"Aku merasa jika kamu sengaja berpenampilan kampungan karena ingin menutupi sesuatu. Apa aku benar?"
"Uhuk!" Aruna jadi tersedak oleh makanannya karena mendengar pertanyaan Juno. Ia langsung menyahut segelas air untuk dia minum.
"Sikap kamu yang seperti ini malah membuatku semakin yakin kalau kamu benar-benar menyembunyikan sesuatu," tuding Juno. Kedua matanya memicing ke arah Aruna.
"Ehm ... kenapa kamu peduli tentang ini? Ini bukan urusan kamu. Mau aku berpenampilan seperti apa, yang penting tidak ada hubungannya dengan kamu." Aruna bersikap salah tingkah. Tidak mungkin dirinya menjelaskan kepada Juno jikalau apa yang dikatakan Juno benar semua. Pun tidak mungkin Aruna mengatakan jika ia sengaja berpenampilan jelek agar tidak ada lelaki yang tertarik kepadanya. Aruna juga membatasi kedekatannya dengan laki-laki, karena dia adalah tipe perempuan yang membenci pernikahan. Karena ada trauma yang mendalam dari pernikahan orang tuanya yang mengalami kegagalan.
...***...
semangat ya author 👍👍👍👍
ditunggu karya selanjutnya 💪💪💪💪
spil pemeran juno nya 😊😊
manusia kaya dena ini banyak di dunia nyata