Mala, jatuh cinta pada pria amnesia yang ditolong ayahnya. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ketika ingatannya kembali, sang suami tidak pernah lagi pulang ke rumah Mala.
Penantian Mala berakhir dan dia memutuskan merantau ke kota. Dia bertemu dengan suaminya yang ternyata adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Bagaimana Mala akan bersikap dan kesalahpahaman apa yang membuat sang suami tidak pernah kembali?
Bagaimana si kecil Gala ketika tanpa sengaja bertemu sang ayah?
Dapatkah sang suami mendapatkan cinta Mala kembali, dan bersaing dengan pria-pria yang mengejar Mala?
Jawabannya ada disini, yuk baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil aku ayah
Di sela-sela kesibukan Dicko yang padat, dia berusaha membuat rencana hari liburnya untuk pergi ke desa nelayan untuk bertemu anaknya.
Impiannya bertemu Dicko kecil akan segera terlaksana. Dulu saat dia baru berusia 2 tahun, Dicko pernah melihat anaknya yang membuatnya salah paham karena dia memanggil Bara dengan sebutan ayah. Dan membuat Dicko berpisah dengan keluarga kecilnya.
Mungkin sudah terlambat bagi Dicko untuk memulai kembali apa yang pernah terjadi. Tapi Dicko ingin berjuang untuk mendapatkan kembali apa yang pernah dia miliki.
Malam ini Dicko gelisah dan tidak bisa tidur. Membayangkan seperti apa wajah anaknya. Apakah akan mirip dengannya atau mirip ibunya, Mala. Apa dia juga pinter ngomong dan tidak takut apapun seperti ibunya?
Hingga pagi menjelang, Dicko baru bisa memejamkan matanya. Saat matahari mulai menerangi kamarnya, Dicko terbangun dari mimpinya.
Dicko bergegas mandi dan berganti pakaian. Tak lupa sarapan sebelum melakukan perjalanan jauh. Dicko meminta pak Sapto untuk mengantarnya pergi ke kampung nelayan agar Dicko bisa bergantian mengemudi.
Perjalanan hampir memakan waktu 10 jam lamanya, barulah mereka sampai di gerbang desa. Dicko meminta pak Sapto untuk mengemudi dengan pelan. Dicko ingin mengingat kembali suasana di desa yang pernah dia tinggali dan memiliki cinta di sini.
Mobil Dicko berhenti di sebuah rumah sederhana dan khas rumah di kampung nelayan. Seorang ibu yang sudah cukup umur keluar dari dalam rumahnya ketika mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Dia ibunya Mala. Nenek dari anaknya. Dan juga merupakan ibu mertuanya walaupun kini sudah berstatus mantan.
Dicko keluar dari dalam mobilnya dan mendekati mantan mertuanya.
" Selamat sore ibu mertua..." sapa Dicko sopan.
Wanita dihadapannya hanya terdiam memandangi Dicko yang memanggilnya ibu mertua.
" Saya...Gama menantu ibu," kata Dicko lagi.
Ibu Sri kaget ketika mendengar laki-laki dihadapannya adalah Gama mantan menantunya. Terlihat kemarahan dimatanya yang sayu.
" Jadi kamu Gama, untuk apa lagi kamu kemari. Setelah meninggalkan Mala seorang diri menanggung rasa sakit dan penderitaan. Apalagi yang kamu inginkan dari kami. Kami tidak memiliki apa-apa yang bisa kamu ambil," kata ibu Sri kesal dan meluapkan kekesalannya selama ini.
" Ibu, Gama minta maaf, telah membuat Mala menderita. Ada beberapa hal yang membuat aku salah paham hingga tidak pernah kembali ke sisi Mala. Mari kita bicara, dan tolong dengarkan penjelasan ku ibu," kata Dicko memohon.
" Baik, masuklah," kata ibu Sri pelan.
Dicko tahu ibu Sri bukanlah wanita yang gampang marah. Kesalahan apapun jika bisa memberi penjelasan yang tepat, dia pasti akan bisa memaafkan. Inilah yang membuat Dicko yakin untuk menemui beliau.
Dicko masuk mengikuti ibu Sri yang segera mempersilahkan dia duduk. Lalu ibu Sri masuk sebentar dan keluar dengan membawa segelas teh manis.
" Terimakasih ibu," kata Dicko sambil mencicip tah manis buatan manta ibu mertuanya.
" Silahkan, katakan apa yang ingin kamu katakan. Ibu tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan penjelasan kamu lebih lama," kata Bu Sri.
Dicko mulai menceritakan dari awal dia kecelakaan dan koma hingga selama 2 tahun. Hingga kesalahpahaman yang membuat Dicko tak bisa kembali lagi bersama Mala dan perkataan Bara padanya yang membuat Dicko memutuskan hubungan dengan Mala dan membuat Mala memutuskan bercerai dengannya. Perceraian yang Dicko kira adalah perceraian antara Mala dan Bara, tapi ternyata itu perceraian dia dan Mala.
Andai saja Bara tidak menutupi bahwa Mala dan Gama masih suami istri, maka Dicko tidak akan menyerahkan Mala pada Bara karena menganggap Bara saat itu adalah suami Mala.
Ibu Sri mendengarkan cerita Dicko dengan kening berkerut. Ingin percaya tapi juga tidak ingin percaya. Mungkin semua cerita Gama benar, tapi tentang kelakuan Bara itu pasti tidak benar.
Walaupun Bara dan Mala tidak jadi menikah, tapi Bara sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan Bara juga yang membantu Mala selama ini tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan ketika Gala menginginkan sosok ayah, Bara yang tampil menjadi pengganti ayah baginya.
Dicko mengerti jika Bu Sri tidak bisa begitu saja percaya padanya. Tapi setidaknya, Dicko sudah mengeluarkan semua yang dia simpan dalam hatinya selama ini.
" Maaf, Gama. Bukan ibu tidak percaya, tapi jika tentang Bara, maaf, ibu lebih percaya dia daripada kamu," kata Bu Sri.
" Gama mengerti Bu, aku datang ke sini hanya ingin bertemu anakku. Apakah dia di rumah?" tanya Dicko.
" Kamu datang sebagai siapa? Gama atau Dicko?" tanya ibu Sri.
" Keduanya, karena sekarang keduanya tidak bisa dipisahkan," kata Dicko.
Saat itu, masuklah seorang anak laki-laki sambil berlari kearah ibu Sri.
" Nenek, itu mobil siapa nenek?" teriak anak itu.
Saat Dicko dan Gala saling berpandangan, mereka sama-sama terkejut.
" Gala..." kata Dicko.
" paman Dicko..." kata Gala sambil berlari menuju ke arah Dicko.
Sementara ibu Sri kaget melihat Gala dan Dicko, sudah saling mengenal.
" Kenapa paman bisa kemali?" tanya Gala lagi.
" Paman sedang mencari anak paman," kata Dicko.
" Sudah ketemu, kenapa tidak paman ajak kesini?" tanya Gala.
" Paman belum menemukan anak paman. Jika nanti sudah ketemu, pasti paman kenalkan padamu. Gala bisakah antar paman ke pesisir pantai?" tanya Dicko.
" Bisa. Tapi minta izin nenek," kata Gala sambil melihat kearah Bu Sri.
" Pergilah, kamu keluar dulu. Nenek ingin bicara sebentar dengan pamanmu," kata Bu Sri.
Gala berlari keluar dengan riang.
" Dicko, jangan pernah katakan bahwa kamu adalah ayah kandung Gala. Ibu ingin Mala sendiri yang bilang padanya," kata Bu Sri.
" Dicko mengerti. Permisi ibu mertua," kata Dicko lalu melangkah pergi.
Gala mengajak paman Dicko menuju tempat ibunya biasa termenung setiap sore, menikmati senja yang indah.
Dicko teringat masa lalunya dengan Mala. Disini mereka sering menghabiskan waktu, dan menikmati senja bersama. Cinta mereka juga tumbuh di sini.
Bayang-bayang masa lalu itu bermain di kepala Dicko. Dicko pun memeluk Gala dengan erat.
" Gala, bolehkah aku meminta sesuatu darimu? tanya Dicko sambil memegang kedua bahu Gala.
Gala hanya mengangguk pelan.
" Maukah kamu memanggilku ayah?" tanya Dicko.
" Ayah, tapi Gala sudah mempunyai ayah Bara."
" Aku bisa menjadi ayah keduamu. Bukankah menyenangkan mempunyai dua ayah? Aku bisa dengan bebas mengajakmu ke rumahku, kalau aku jadi ayahmu," kata Dicko.
Gala melihat kearah Dicko yang tampak sedih. Pasti karena dia belum menemukan anaknya.
" Baik paman, eh... ayah Dicko," ucap Gala membuat senyum bahagia Dicko merekah.
" Sekali lagi," pinta Dicko.
" Ayah Dicko," ucap Gala lagi.
Ternyata hanya satu kata itu sudah cukup membuat Dicko bahagia. Kedatangannya kembali ke kampung nelayan tidak sia-sia.
andra : Sakitnya mencintai sepupu ku,,
saat nya bu shella dan pak reno bahagia...
cepet halalin y pak reno... 😘
tiga kali apa ngga cape mala,,😁😁