Dua kali menikah dengan pria dari keluarga yang sama, freya sasmita tak menyangka cinta dan takdirnya akan menikah dua kali. yang lebih membuatnya tak percaya adalah pernikahanya yang biasa disebut turun ranjang.
ya, istilah untuk pernikahan yang dilakukan dengan menikahi kakak/adik dari pasangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri_uncu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia langka
Pagi hari freya bangun dengan segar tanpa ada ganguan asistennya dan pekerjaan kantor. Sengaja freya beritahukan pada mila untuk tidak menghubunginya saat libur
"harum banget wangi apa ini mi?" freya melihat mertuanya sudah duduk di teras samping rumah dengan dua cangkir teh dimeja
"eh sudah bangun, duduklah ini wangi bunga kopi sayang. Wangi sekali bukan?" ria sengaja membawa menantunya agar bisa melihat keindahan desanya yang sejak kecil hingga sekarang masih tetap terjaga turun temurun
"aku baru tahu ada namanya bunga kopi, jadi itu pohon kopi hitam yang biasa ada di caffe?" freya penasaran dan berlari mendekati pohon yang menyebarkan aroma sangat wangi itu
"bunganya mirip melati, wanginya juga!" freya mengambil satu bunga dari tangkainya
"jangan diambil nanti tidak berbuah kopinya" tiba-tiba suara tak asing itu muncul. freya sudah ditahap tak bisa lagi berpura-pura sopan pada kakak iparnya
entah apa salahnya sampai selalu salah dimata iparnya itu
"manusia langka ini lagi!" freya mendengus kesal, wajahnya sudah tak bisa dikondisikan lagi untuk sekedar senyum atau menyapa
"ada apa nak?" ria penasaran karena freya berhenti berbicara
"engga mi, ada mahluk aneh !" freya membuang bunga yang dipetiknya dan kembali ke teras duduk bersama mertuanya
"ka, kamu udah pulang?" ria juga melihat arka sudah kembali, setelah ngeteh bersama pagi tadi arka memutuskan untuk melihat pekerja diperkebunan yang katanya mau panen duren juga beberapa buah laiinya
"yang mau panen sakit katanya mi, jadi arka minta besok saja panennya masih aman hanya beda satu hari" arka juga ikut duduk di teras namun mengarah ke perkebunan
"kamu liat mahluk aneh apa freya tadi, biar diperiksa sama arka" ria takut hewan berbahaya yang freya lihat tadi
"itu mi......."
"hm, itu mi"
Freya membungkam mulut arka
"itu kenapa? Kenapa arka ditutup mulutnya" ria kebingungan
"ah maaf kakak ipar, saya reflek! Tadi cuma lihat durian jatuh mi aku pikir hewan mengerikan dan berbahaya. Iya kan kakak ipar" freya sedang mengarang alasan yang paling masuk akal
"durian? Bukannya kebun durian disebelah sana. Arka coba kamu periksa takut ada masalah" ria khawatir. rumahnya memang tidak dekat jalan raya karena kanan dan kirinya adalah kebun buah-buahan yang sangar luas
freya melirik arka dan menatap tajam agar membantunya menenangkan ibunya.
"itu suara arka jalan tadi mi, orang kota mana paham kehidupan desa seperti ini" arka berkata sinis pada freya yang selalu saja membuat masalah saat bertemu
"oh, iya maafkan arka ya freya. Dia terbiasa hidup ditengah hutan jadi bahasanya sedikit keras" ria melirik arka
"mi!" arka tak terima, dia tak merasa bersalah pada adik ipar manjanya itu
"udahlah mi, kakak ipar ngga salah. Mi ada sarapan apa?" freya mengubah topik pembicaraan agar suasana tak menjadi canggung
"beruntungnya mami punya menantu baik hati dan lembut" ria mengusap kepala freya dengan lembut
Ria punya satu anak perempuan tapi jarang bertemu setelah menikah. Dan datangnya freya sebagai obat untuk mengobati rindu pada anak perempuan yang bisa diajak kemana-mana bersama
"mami tanyakan sama emak dulu ya, tunggu disini!" ria beranjak dari tempat duduknya perutnya juga mulai merasa lapar dan ingin lihat hidangan apa yang disiapkan art nya
"kamu ngga diajarin sopan santun ya" arka mulai lagi dengan wajah tampan dan sangarnya
"kenapa lagi wahai kakak ipar ku!" freya mulai muak rasanya udara sejuk menjadi sangat berpolusi saat ini
"mami ke dapur kamu diam saja, apa kamu terbiasa seperti ini di rumah" arka meninggalkan freya yang ingin menjawab ucapannya
"hei! Astaga" freya berteriak lalu memelankan lagi suaranya dan mengatur nafasnya
"ya ampun mana ada wanita mau menikah dengan pria langka macam kau itu, hah!" freya benar-benar ingin menjambak dan mencakar wajah sok baik tampan itu
"emang tampan sih!" freya memukul kepalanya sendiri, bisa-bisanya memuji manusia paling dibencinya
"untung suamiku penyabar, baik dan lembut. Beruntungnya aku" freya juga beranjak dan menyusul ke dapur karena dipanggil oleh ria
Ria melihat menu sarapan sudah siap jadi memanggil freya untuk sarapan bersama
"iya mi" freya duduk disamping ria dan mengambil piring lalu melihat menu makanan yang ada. Freya terdiam dan berfikir untuk mengambil menu yang mana
"non ngga suka ya?" emak melihat freya sibuk melihat saja tanpa mengambil makanan
"biarkan saja mak, jangan dimanjakan terus" arka semakin tak suka dengan wanita yang banyak mau
Freya langsung terdiam dan semakin tak bersemangat
"non maaf cuma ada wortel sama apel aja buahnya" mba membawakan jus untuk freya yang terbiasa sarapan roti gandum atau buah untuk menjaga berat badannya
"makasih mba, saya udah kenyang" freya sudah tak mood untuk makan dan ingin segera pulang ke rumah
Kakak iparnya sungguh tak menyukainya dan freya tak tahu apa alasannya
"sayang maaf ya mami ngga tau kalau kamu ngga bisa makan berat begini" ria lagi-lagi tak meminta makanan khusus untuk freya yang sejak kecil memang tak biasa sarapan berat
"engga apa-apa mi, kayaknya dari kemarin aku kebanyakan makan jadi harus diet lagi" freya meminta maaf dan beranjak dari meja makan
freya keluar melalui pintu dapur dan melihat ada beberapa pohon buah jeruk yang sedang berbuah. Freya langsung mendekat dan mengambil satu buah asal saja yang terlihat sudah menguning
"hm, manis sekali kenapa tidak dari tadi saja aku kesini" freya tersenyum senang, makan buah langsung dari pohonnya rasanya sangat segar dan manis
"itu... Itu pisangnya sudah matang juga" freya melihat pohon pisang yang buahnya sudah menguning juga
"wah kalau disini dietku bisa nol biaya,, jadi tabunganku semakin menggendut" freya membayangkan hal yang menyenangkan sampai suara datang merusak moodnya
"kamu suka buah-buahan? Ayo ikut!" arka mengajak freya mengikutinya untuk panen buah yang pastinya jarang ada dikota
"ogah! Pergi aja lo sendiri!" freya justru ingin kembali ke rumah karena pasti menyenangkan di rumah tanpa kakak iparnya
"ada buah manggis, duku juga banyak nanas yang matang hari ini" arka seperti membujuk freya agar mau ikut dengan menyebutkan buah yang pastinya banyak orang suka
"buah apa itu? " freya hanya kenal dengan nanas yang biasa dia beli dalam bentuk kalengan
"kelapa muda juga ada!" lagi dan lagi arka menawarkan pada freya
"kenapa tiba-tiba baik, pasti ada niat jahatmu padaku kan kakak ipar!" tentu saja freya tak akan ikut
"terserah kau saja, buah segar lebih enak dimakan dibawah pohonnya" arka berjalan dan meninggalkan adik iparnya