Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Victor Vance
"Kamu sudah bangun?"
Suara berat Bara memecah keheningan pagi yang basah. Pengawal setia itu berdiri siaga dekat pintu keluar gudang terbengkalai, meneropong lurus ke arah dermaga tua sambil mengempit senapan laras pendek di balik mantel panjangnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Di dalam van kargo yang pengap, Rara mengerjap perlahan. Kepalanya terasa berat sisa kantuk. Ia tertegun saat menyadari jaket tebal milik Arka tersampir rapi menutupi pundaknya, menjaga tubuhnya dari terpaan angin laut yang menusuk tulang. Tanpa suara, Rara melipat jaket itu lalu turun dari jok belakang, melangkah hati-hati agar tidak memancing bunyi derit lantai besi.
"Bagaimana situasi di luar, Bar?" tanya Rara berbisik, merapatkan jaket ke tubuhnya sembari melipat tangan di dada. "Ada tanda-tanda mereka nemuin tempat ini?"
Bara menurunkan teropongnya perlahan. "Aman. Tapi tidak untuk waktu lama. Pelacak musuh punya jangkauan luas." Jawabannya singkat, kaku, dan langsung pada intinya.
Sreeek.
Suara gesekan kain dari dalam kabin van menghentikan obrolan mereka. Arka bergerak memiringkan tubuhnya, membuka mata perlahan sambil mendesis tajam saat perban di perutnya tertarik. Pria itu menyeka keringat dingin di pelipisnya dengan sebelah tangan, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding seng yang berkarat.
"Berapa jam saya tidak sadarkan diri?" suara Arka parau, dingin, dan menusuk.
Rara melangkah mendekati pintu kargo, menatap pria itu dengan dagu terangkat. "Cukup lama buat bikin gue sport jantung, ngira lo beneran mati dan ninggalin gue sendirian di tengah kekacauan ini."
Arka menyeringai tipis, meski bibirnya sepucat kertas. "Khawatir kehilangan saya, Rara?"
"Idih, geer banget!" Rara mendelik sengit, pipinya mendadak panas. "Gue cuma nggak mau repot ngurus mayat buronan arogan kalau sampai lo kenapa-napa!"
"Tutur katamu selalu menyenangkan di pagi hari," cibir Arka datar, berusaha menegakkan duduknya meski rahangnya mengatup menahan nyeri.
Sebelum Rara sempat membalas, suara langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian gudang.
Brak!
"Bos! Gawat, Bos!"
Dino muncul dari balik tumpukan kontainer dengan napas terengah-engah dan baju yang makin compang-camping. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar memegang sebuah pemancar radio kecil berdarah statis.
Rara terlonjak kaget. "Kenapa lagi, Dino? Jangan bilang lu ketemu babi hutan di luar!"
"Bukan babi, Mbak Rara! Ini jauh lebih seram dari babi!" seru Dino panik, mengusap keringat di jidatnya dengan kasar. "Gue tadi nguping frekuensi radio darurat yang dipakai kelompok luar. Sinyal kita bocor!"
Arka langsung menajamkan tatapannya, auranya berubah membunuh seketika. "Bocor dari mana?"
"Bukan anak buah Naga Hitam biasa, Bos," lapor Dino dengan suara bergetar ketakutan, napasnya naik-turun tak beraturan. "Tapi kelompok bayaran elite. Dan... dan mereka punya akses kode militer."
Bara yang mendengar itu langsung melangkah mendekat, matanya menyipit tajam tanpa banyak bicara.
"Tepat," sambar suara berat dari arah pintu masuk gudang.
Bara refleks mengangkat senjatanya, bergerak melindungi sisi kiri van tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara itu, Arka langsung merogoh pinggangnya, meski gerakannya tertahan nyeri luka.
Dari balik bayangan pilar beton yang retak, seorang pria berjas rapi tanpa setitik debu sangat kontras dengan kotornya gudang tua itu melangkah masuk dikawal dua orang bertubuh besar bersenjata laras panjang.
"Lama tidak berjumpa, Arka," ucap pria itu dengan senyum sinis yang mengerikan. "Wah, kelihatannya posisimu sedang tidak menguntungkan."
Arka menatap pria itu dengan sorot mata setajam pisau belati. "Victor Vance."
Rara mengerjap bingung, menatap bergantian antara Arka dan pria bernama Victor itu. Jantungnya berdegup kencang melihat ketegangan instan di antara mereka.
"Victor?" bisik Rara pelan pada Bara di sampingnya. "Siapa lagi nih makhluk? Temen apa musuh?"
Bara melirik sekilas tanpa mengalihkan pandangannya dari musuh. "Mantan petinggi sindikat. Dalang di balik penyerangan ini." Singkat, padat, dan dingin.
Victor melangkah mendekat perlahan, menatap Arka yang terkulai di dalam van dengan tatapan merendahkan. "Sayang sekali, Arka. Imperium yang kau bangun bertahun-tahun harus runtuh hanya karena tikus kecil di dalam lingkaranmu sendiri. Dan sekarang" Victor mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Rara. "siapa gadis manis ini? Kekasih baru sang penguasa?"
Rara menelan ludah mentah-mentah. Bulu kuduknya meremang seketika saat tatapan penuh ancaman itu jatuh ke arahnya.
Arka mendesis dingin, tubuhnya memaksa berdiri meski cengkeraman tangannya pada pintu van bergetar hebat. "Jangan sentuh dia, Victor. Urusanmu ada dengan saya."
"Oh, tentu saja urusanku denganmu, kawan," seringai Victor makin lebar. Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengepung area van. "Tapi menjadikan gadis ini sebagai jaminan agar kau mau menyerahkan seluruh asetmu... kurasa itu cara negosiasi yang paling adil."
Rara spontan mundur selangkah, namun Dino buru-buru menarik lengan Rara ke belakang punggungnya dengan panik sambil meringis.
"Waduh, urusannya jadi panjang nih! Mbak Rara, mending kita tiarap aja, pura-pura jadi mayat!" teriak Dino histeris, panik setengah mati.
Arka menggeram tertahan, urat-urat di lehernya menonjol keluar. Ia tidak peduli lagi pada rasa sakit di perutnya; tatapannya kini memancarkan niat membunuh yang murni.
"Maju selangkah lagi ke arahnya, Victor," suara Arka bergemerincing dingin, penuh ancaman mutlak, "dan saya pastikan peluru ini menembus kepalamu sebelum kau sempat berkedip."