Terhalang oleh sebuah masa lalu orang tuanya, Devan dan Alisa tidak bisa bersatu. Hubungan yang terjalin selama lima tahun harus kandas saat Sang Ayah menjodohkannya dengan Raisya, putri pertama Randu.
Tinggal satu rumah dengan Raisya adalah hal yang sangat mustahil bagi Devan, tapi ia tetap bertahan demi memenuhi permintaan bundanya. Meskipun Raisya adalah istrinya, faktanya Devan tak pernah menyentuhnya sedikit pun, bahkan mereka pisah kamar. hingga berputarnya mentari menyadarkan Devan jika kehadiran Raisya bagaikan Pelangi Senja.
Mampukah Devan menyembuhkan luka yang pernah ia torehkan untuk Raisya?
Ataukah Raisya memilih pergi, membiarkan Devan dan Alisa bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turki
Istanbul, Turki
Bukan lagi nama kota yang asing. Musim dingin sudah menjadi langganan di bulan pertama seperti ini. Jika dulu Devan langsung ke Izmir untuk menemui Alisa, tidak kali ini. Setelah tiba, Ia memilih untuk langsung ke apartemen, tempat tinggalnya selama kuliah di sana.
Seporsi Baklava dan minuman hangat yang ia pesan sudah tiba, Devan jarang sekali makan dengan makanan yang berat, apalagi saat ini pikirannya sedang kacau dan mengurangi selera makannya.
"Setelah ini bawakan kestane juga!" titahnya pada pelayan yang baru saja membalikkan punggungnya. Ia tak lupa dengan makanan sejenis kacang yang menjadi favoritnya untuk menemaninya saat santai.
"Baik, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?"
Devan diam sejenak, matanya menyusuri sudut ruangan kamar yang sudah lama ia tinggalkan.
"Apa setelah aku pergi ada seorang gadis yang ke sini?" tanya Devan dengan ramah.
Pelayan itu mengangguk. "Ada, Tuan. Beberapa kali ada gadis datang membersihkan apartemen milik Tuan, juga merapikan baju Tuan yang ada di lemari," ucap pelayan itu dengan jelas.
"Baiklah, sekarang kamu keluar, aku mau istirahat."
Pria yang berjenggot tebal ia itu langsung meninggalkan Devan setelah membungkuk ramah.
Devan membaringkan tubuhnya, menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Matanya yang berkaca menatap lekat langit-langit kamar yang pernah menjadi saksi bisu kebersamaannya dengan Alisa.
"Maafkan aku, Lis."
Devan tak sanggup meneruskan ucapannya, jantung dan hatinya bagaikan terhimpit batu hingga merasakan sesak yang begitu menyakitkan.
Sebenarnya bukan tak sempat untuk pergi ke tempat tinggal Alisa, tapi Devan memang masih belum sanggup untuk mengatakan semuanya. Dan putus dengan Alisa adalah hal yang paling mustahil baginya.
Devan kembali duduk di tepi ranjang dan menatap cincin yang tersemat di jari manisnya.
Selama ini aku sudah menyakiti Raisya, dan setelah pulang nanti, aku tidak mau melihat air matanya terbuang sia-sia hanya untukku.
Devan mengusir rasa ragunya, ia tetap akan mengambil keputusan. Dan seperti kata Raisya, ia akan mengikuti kata hatinya.
Semenjak tiba, Devan belum menghubungi Raisya, dan kali ini sepertinya waktu yang tepat untuk itu. Sekaligus meredakan hatinya yang terus bergemuruh hebat.
"Kira-kira Raisya lagi ngapain ya?" Ia sengaja melakukan panggilan video call supaya bisa melihat wajah cantik istrinya.
Devan menilik jam yang ada di nakas, ternyata jam 16.00 waktu setempat, itu artinya di Jakarta 20.00, dan ia yakin kalau Raisya sedang istirahat. Sebelum berangkat Devan pun sudah berpesan pada Raisya untuk tidak bekerja sebelum dirinya pulang.
Benar, Raisya yang dari tadi bercanda dengan Airin itu terkejut dan memakai jilbabnya asal setelah melihat nama yang berkelip di layar ponselnya.
"Apa aku harus keluar, Kak?" tanya Airin yang masih polos.
"Nggak usah, temani kakak di sini!" pinta Raisya, menarik tangan Airin yang hampir pergi. Berbicara empat mata dengan Devan masih membuatnya canggung. Apalagi malam hari, meskipun hanya lewat telepon, Raisya masih belum terbiasa.
"Assalamualaikum…" sapa Raisya lembut.
Devan menjawab diiringi dengan senyum kecil, bibirnya masih bergetar menahan dingin yang menyeruak menembus tulang, padahal ia sudah memakai baju tebal, tapi Devan masih merasa tak nyaman dengan dinginnya malam itu.
"Lagi ngapain?" tanya Devan basa-basi, padahal ia sudah lihat kalau Raisya sedang duduk di ranjang dengan tangan kosong.
"Lagi main sama Airin." Raisya menggeser ponselnya ke arah sang adik yang duduk di sampingnya.
"Halo, Kak." Airin melambaikan tangannya ke arah wajah Devan yang nampak pucat.
"Pasti sekarang kak Devan lagi kedinginan ya?" tebak Airin.
"Kok tahu?"
Devan meletakkan ponselnya di sandaran ranjang dan membenarkan posisinya sehingga nyaman.
"Ya iyalah, kan kita pernah ke sana pas bulan pertama."
Devan mengerutkan alisnya. "Tahun berapa?"
Raisya menarik ponselnya kembali, dan kini wajahnya yang terlihat dengan jelas.
"Waktu aku selesai koas, itu artinya tahun kemarin."
"Kok aku nggak tahu?" Devan memutar bola matanya, ia benar-benar tak ingat kedatangan Raisya ke sana. Yang ia ingat adalah Raisya kecil yang sangat cengeng.
"Waktu itu kakak ada di Izmir, dan katanya sibuk, jadi kita memang nggak bertemu."
Raut wajah Devan nampak berubah, Raisya yang merasa tak enak meraih buku novel yang ada di tangan Airin."
"Tapi sudahlah, jangan dibahas. Ada apa malam-malam kakak telepon aku?"
Raisya mengalihkan pembicaraan dan menundukkan kepalanya, pura-pura sibuk dengan buku yang ada di pangkuannya.
"Apa kakak sudah ketemu Alisa?" imbuhnya.
"Belum, besok pagi saja, malam ini aku ingin berduaan sama kamu."
Airin yang merasa menjadi pengganggu akhirnya memilih keluar dari kamar Raisya setelah mencium pipi kakaknya dan mengucapkan selamat malam.
Setelah Airin menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup rapat, Raisya pun ikut berbaring seperti Devan.
"Aku cuma mau bilang kalau aku sudah sampai."
"Aku tahu," jawab Raisya singkat.
"Dari mana? Aku kan belum kasih tahu," bantah Devan.
Raisya tersenyum tipis.
"Dari waktu, kakak sudah pergi dari kemarin, kalau nggak nyasar ya sampai, gitu saja kok repot," seru Raisya ketus.
Devan hanya menahan tawa saat melihat bibir Raisya yang manyun.
"Sekarang kamu tidur, sudah malam."
Raisya memutus sambungannya lalu menggenggam erat benda pipihnya.
"Jangan beri kenangan yang indah jika kakak mau meninggalkanku," gumam Raisya.
Tak seperti kemarin yang terus terhanyut dalam suasana sedih, kali ini ia lebih kuat untuk menghadapinya, apalagi mama Aya terus mendorongnya menjadi wanita yang tangguh dan itu membuat Raisya semakin tegar menghadapi masalahnya.
Baru saja Devan meletakkan ponselnya di nakas, benda pipih itu kembali berdering.
Devan tersenyum renyah dan meraihnya kembali, betapa kagetnya saat melihat nama yang tertera.
"Alisa."
Meskipun gugup, Devan tetap menggeser lencana warna hijau tanda menerima.
"Halo Lis, ada apa?" tanya Devan pelan, bahkan nyaris tak terdengar.
"O, jadi gitu ya, kamu sudah sampai, tapi nggak bilang-bilang."
Devan membulatkan matanya, setelah turun dari pesawat, ia langsung meluncur ke apartemen, tapi kenapa Alisa bisa tahu kedatangannya.
"Kamu tahu dari mana?"
"Nggak penting, kamu pikir bisa sembunyi dariku. Sekarang aku ada di luar."
Deg deg deg
Jantung Devan berpacu dengan cepat, jika dulu ia langsung berhamburan memeluk gadis yang berambut pendek tersebut, kini untuk bertemu saja enggan, pasti akan ada air mata yang tumpah saat ia mengatakan semuanya.
Ceklek
Tiba-tiba pintu kamar yang dari tadi tak dikunci itu terbuka lebar, seorang gadis cantik yang memakai jaket bulu berwarna coklat itu tersenyum renyah.
Devan menjatuhkan ponselnya hingga terbentur lantai saat Alisa berjalan mendekatinya.
"Kenapa kamu kaget gitu, Van?" tanya Alisa menyelidik, gadis itu berjongkok memungut ponsel Devan yang teronggok di lantai.
"Aku gak papa," ucap Devan gugup.
TAMAT