NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Kaya Raya
Popularitas:5.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Wanti Arifianto

Bagaimana jika cinta hadir dan berjalan tak seperti seharusnya?

Kisah ini bercerita tentang Tiara, gadis berusia sembioan belas tahun yang harus merelakan bangku kuliahnya, lalu bekerja. Kondisi sang ibunda yang terswrang stroke tidak memungkinkan gadis itu untuk melanjutkan cita-cita, meski ia adalah gadis dengan prestasi mumpuni.

Lelah memasukkan lamaran ke sana-kemari dan selalu bertemu dengan penolakan, akhirnya bergabung dalam yayasan penyalur tenaga kerja. Tempat yang memberinya banyak ilmu, lalu menjadikan Tiara seorang pekerja yang bertugas merawat lansia bernama Sundari. Nenek dari seorang pria bernama Prabu Adji Widjaya.

Saat bekerja itulah banyak yang terjadi pada Tiara. Termasuk rasa cinta pada sang majikan, juga hubungan yang tak seharusnya ia jalani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanti Arifianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Wanita Itu ....

Tiara mengerjap beberapa kali, saat merasa silau berusaha menembus mata. Ia masih ingin tidur dengan puas menikmati liburan, selain kepalanya yang sedikit terasa pusing. Namun, saat kesadarannya telah terkumpul, ia mengutus senyum simpul di bibir. Mengingat betapa syahdu dan indah semalam, saat Prabu memanjakan dan memujanya.

Demi menghindari bias mentari yang menyusup melalui dinding kaca, Tiara menggeliat, dan berbalik ke sisi lain. Tak lupa dinaikkannya selimut, untuk menghalau udara dari pendingin ruangan yang menusuk. Ia lantas memejam kembali, menikmati rasa nyaman yang melingkup hati.

Meski pagi ini ia terbangun seorang diri tanpa Prabu memeluk seperti biasa, tapi tetap saja Tiara merasa bahagia. Ia merasa menjadi wanita seutuhnya semalam, dengan berbagai kelembutan yang dilakukan Prabu padanya. Lelaki itu tak lagi menganggap ia pelayan, tapi kekasih dalam arti sebenarnya.

“Layanan kamar, Nyonya.”

Tiara terkesiap mendengar sapaan tepat di telinga. Sontak ia membuka mata, dan mendapati Prabu merunduk, lalu duduk ke tepi ranjang. Pria itu tersenyum dengan tatapan penuh kasih layaknya semalam.

“T—tuan?”

Mata Tiara membulat. Ia lantas beringsut perlahan, dan duduk bersandar di kepala ranjang. Tak lupa menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya yang masih tanpa busana.

Sementara itu, pagi ini Prabu sudah tampak rapi dengan kemeja salur dan celana berwarna cokelat tanah. Sepertinya ia telah siap akan ke kantor, hanya saja belum mengenakan jas untuk menyempurnakan tampilan seperti biasa.

“Kenapa Tuan ke sini? Bagaimana kalau ada yang melihat?” Tiara terdengar panik.

Bukannya menjawab, Prabu malah tersenyum. Ia bangkit dan menuju meja kecil di dekat jendela. Tampak oleh Tiara, ada sebuah teko keramik di sana, berikut beberapa cangkir kecil berwarna putih. Ada pula sebuah mangkuk yang entah berisi apa.

Pagi ini, Prabu sengaja bangun lebih awal demi menyiapkan kejutan manis bagi Tiara. Sejak semalam, entah mengapa ia ingin melakukan banyak hal demi membahagiakan gadis itu. Ia bahkan membaca beberapa artikel, untuk membuat wanita merasa bahagia dengan hal-hal kecil.

“Pagi ini aku belajar bagaimana cara membuat teh yang baik dan enak.” Prabu berucap, sembari menuang cairan dari dalam teko, ke sebuah cangkir kecil.

Tiara tersenyum. Perhatiannya terfokus pada pria yang membuatnya tersanjung sepagi ini. Meskipun ada kekhawatiran tentang orang yang akan melihat tingkah sang majikan, tak urung ia bahagia diperlakukan demikian.

“Ini teh bunga krisan, dan setahuku memiliki efek menenangkan.” Prabu kembali duduk di tepi ranjang, lalu menyerahkan cangkir pada Tiara setelah meniupnya beberapa kali.

Tiara menerima cangkir itu dengan hati-hati, tak ingin selimutnya terlepas saat ia mengulurkan tangan. Untuk sesaat, ia memejam dan menghirup aroma yang mengepul dari permukaan teh. Ada kesegaran yang merasuk ke setiap bilik sukma, mengusir rasa pusing dan tak nyaman yang sempat mendera.

“Apa pagi ini kamu sudah merasa baikan?”

Usai menyesap beberapa teguk teh hangat, Tiara mengangguk. Teh itu benar-benar bisa mengembalikan mood-nya yang sempat kacau, di beberapa pagi belakangan. Rasa manis yang pas, disertai aroma wangi membuat mulutnya yang pengar menyecap nyaman.

“Tehnya benar-benar enak, Tuan. Terima kasih.” Tiara meneguk tehnya sekali lagi.

“Jadi, kamu sudah baikan?” Prabu menyentuh leher dan dahi wanitanya, seperti memastikan jika si Kesayangan baik-baik saja.

“Ya. Sepertinya pagi ini saya lebih baik, Tuan. Terima kasih.”

Prabu menatap tajam Tiara dengan sorot aneh. Matanya bahkan memicing, hal yang membuat Tiara tak enak hati. Bagaimanapun, ditatap sedemikian rupa oleh sang majikan membuatnya risih.

“Ada apa, Tuan?”

“Kapan kamu berhenti menyebutku dengan kata Tuan?”

“Ah ... itu.” Tiara mengalihkan pandang ke arah lain. “Saya akan menyapa seperti itu, dan tidak akan ada yang berubah, Tuan.”

“Alasannya?”

“Karena saya tidak ingin, kenyamanan ini membuat saya lupa diri. Banyak yang memperhatikan kita di rumah ini, dan menaruh curiga. Apa jadinya, kalau saya salah ucap, lalu kemudian mereka tahu jika kita benar-benar ada hubungan?”

“Kenapa memangnya? Apakah ada yang salah?”

“Bukan salah, Tuan. Tapi, kurang tepat. Saya tidak ingin, kehadiran saya di rumah ini justru membuat Tuan kehilangan martabat di depan semua pelayan.”

“Kamu benar-benar memikirkan semua itu, Tiara? Setelah semua yang terjadi di antara kita?”

“Bukankah seharusnya cinta itu saling menjaga? Maka itulah yang akan saya lakukan. Membuat Tuan tetap ada di tempat seharusnya, tanpa direndahkan orang lain.” Tiara menyerahkan cangkir pada Prabu.

“Baiklah. Tapi, apa kamu benar-benar ingin menjaga kehormatanku sampai akhir dengan bersembunyi begini?” tanya Prabu, dan Tiara mengangguk.

“Selama saya masih bisa, akan saya lakukan, Tuan.” Tiara menjawab mantap.

“Tapi, bukankah semalam kamu meneriakkan namaku?” Senyum jail terukir di bibir Prabu, saat berucap demikian.

Mendengar itu, sontak Tiara berpaling ke arah lain. Diremasnya selimut demi meredam rasa malu di dalam dada. Ia bahkan merasa wajahnya terasa panas sekarang. Benarkah semalam ia begitu lepas kendali, terhadap Prabu yang tak henti membuai?

“Oh, iya. Aku sudah meminta Nurma memesan katering untuk tiga hari ke depan. Setiap siang dan menjelang malam, mereka akan datang kemari. Jadi, kamu tidak perlu melakukan apa pun.” Prabu berucap sambil bangkit, menuju meja. Ditaruhnya cangkir di sana, lalu beralih mengambil mangkuk.

“Sudah tidak ada siapa-siapa di sini, kecuali security yang ada di gerbang. Semua orang sudah berlibur, dan pulang ke kampung masing-masing tadi pagi.”

“Jadi, hanya tinggal saya saja di sini?”

“Ada Eyang, dan dua suster yang semalam. Kalau kamu mau ke kamar Eyang, silakan. Tapi, sama dengan yang lain, kamu pun bebas dari perkerjaan sampai tiga hari ke depan. Gunakan waktu sesukamu.“ Prabu kembali mendekat, kini dengan mangkuk di tangan.

“Telepon aku kalau terjadi sesuatu dengan Eyang.” Prabu mengangsurkan mangkuk pada Tiara.

Gadis itu menerima mangkuk yang ternyata berisi bubur ayam. Aroma gurih seketika menguar, saat makanan itu sampai ke tangannya. Ada telur rebus, juga toping ayam suwir. Tak lupa beberapa butir telur puyuh menghiasi mangkuk tersebut.

“Bu Nurma membuatnya sebelum pergi, karena semalam aku memintanya.” Kalimat Prabu menjawab tanya Tiara yang takjub dengan makanannya.

“Tuan ....” Suara Tiara terdengar ragu.

“Hm?”

“Apa boleh saya pulang juga? Saya kangen sama Ibu, dan ingin melihat keadaannya,” ungkapnya hati-hati.

“Pulang?” Prabu mengulangi, dan Tiara mengangguk segan. Takut jika tak mendapat izin dari sang majikan. Bagaimanapun, ia tahu jika majikannya ini sangat mudah mengalami perubahan emosi.

“Tapi, kalau Tuan tidak mengizinkan, tidak apa-apa. Saya bisa tetap di sini.” Dengan cepat Tiara meralat kalimat sebelumnya.

Prabu tersenyum. “Mau kuantar? Bukankah aku harus bertemu ibumu?”

Tiara menggeleng. “Tidak perlu, Tuan. Saya bisa sendiri.”

Prabu mengecup Tiara sekali, dan mengusap pipi wanitanya. “Tapi, makan dulu. Pastikan kamu benar-benar sehat, kalau mau melakukan perjalanan jauh.”

Tiara tersenyum. Tampak jika ia sangat bahagia. Tak lupa gadis itu berterima kasih, lalu menyuap bubur ke mulut. Namun, tiba-tiba raut wajahnya berubah, dan dahinya berkerut.

“Kenapa? Apa tidak enak?”

Tiara membekap mulut, lalu menyodorkan mangkuk bubur kepada Prabu. Terlihat jika ia berusaha menelan makanan itu dengan susah payah, sampai matanya berkaca-kaca Tentu saja, reaksi Tiara membuat Prabu sedikit cemas.

“Kenapa? Apa ada yang aneh? Setahuku bubur buatan Bu Nurma selalu enak?”

“Ah, apakah hanya saya yang merasa bahwa ayam di bubur itu terasa aneh?” Tiara masih membekap mulutnya. Sementara, ekspresi jijik terlukis di wajahnya.

Mendengar itu, Prabu menyuapkan sesendok bubur, dan menikmatinya. Mencari jika benar ada rasa aneh dari makanan itu. Akan tetapi, ia tidak merasakan apa pun, dan makanan lembut buatan Nurma ini tetaplah yang terbaik dan amat lezat.

“Tidak ada yang salah. Ayamnya juga wangi.” Prabu bahkan mengendus mangkuk, demi menguatkan pendapat.

Namun, Tiara justru menggeleng. Ia bahkan mendorong agar Prabu menjauh. “Bau, Tuan! Buburnya bau!”

Usai berkata demikian, Tiara berusaha bangkit, dan melilit tubuh dengan selimut tebal. Ia lantas tertatih, menuju kamar mandi secepat mungkin. Perutnya bergejolak, siap memuntahkan isi di dalamnya.

Sementara itu, Prabu menatap punggung Tiara, dan mengerutkan keningnya. Ia bahkan menyendok bubur sampai tiga kali, dan tak menemukan keanehan apa pun. Namun, diletakkannya bubur ke meja, saat mendengar Tiara muntah beberapa kali.

“Gadis aneh!” gerutunya, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi.

**

Leana mengempaskan foto-foto yang baru diterimanya ke meja. Wanita itu lantas memijat pelipis, lalu bangkit setelah menggebrak meja. Ditatapnya dengan sinis foto Prabu bersama seorang gadis, yang membuat hatinya panas.

“Jadi, dia main api dariku hanya demi pelayan itu?” geramnya dengan tatapan nyalang. “Berani-beraninya kamu menolak lalu membandingkanku dengan seorang pelayan, Prabu!”

Leana berteriak penuh amarah, lalu mengempaskan apa saja yang ada di mejanya. Menimbulkan bunyi berisik, juga sesuatu yang pecah membentur lantai.

Leana berjalan ke sana kemari dengan gusar. Beberapa kali ia mengumpat, dan menginjak foto yang kebetulan ada di bawah kakinya, sampai kertas itu berlubang oleh tajamnya hak sepatu yang ia kenakan.

“Argh! Apa kehilangan satu perempuan tidak cukup membuatmu melihatku? Apa aku harus menyingkirkan mereka semua, supaya kamu jadi milikku? Awas kamu, Prabu!”

Usai berkata demikian, Leana menyambar tas di meja, lalu meninggalkan ruang kerjanya dengan langkah kasar. Derap hak sepatu yang ia gunakan terdengar nyaring saat beradu dengan lantai marmer mengilap.

“Bersihkan ruanganku dari sampah apa pun!” Ia memberi titah pada sekretarisnya, lalu menuju lobi kantor. Tak lupa melakukan panggilan, agar seseorang menyiapkan mobil sebelum ia sampai di luar.

Leana mengemudi dengan perasaan kacau, dan emosi memuncak. Beberapa kali ia memukul setir, sambil mengeluarkan kalimat kasar dan ancaman untuk sebuah nama, Prabu.

Sedan mewah yang dikendarai Leana terus melesat, dan menuju pinggiran kota Jakarta. Lepas dari jalanan sibuk dan macet, kendaraan mengkilap itu berbelok ke sebuah perumahan sederhana nan asri. Beberapa menit kemudian, Leana menepikan mobil ke sebuah rumah bercat abu-abu, yang letaknya paling sudut dan berdampingan dengan dua rumah kosong.

Ada seorang berpakaian serba hitam di depan gerbang, yang langsung membuka pintu pagar saat mengenali siapa yang tiba. Laki-laki berbadan besar itu bahkan mengangguk hormat, saat sedan bermerek luar negeri itu melintas.

Leana turun dari mobil dengan langkah anggun, tak lupa mengenakan kacamata hitam untuk menghias wajahnya. Ia masuk begitu saja, dan mendapati sesosok wanita kurus menyambut dengan wajah ketakutan.

“Bagaimana kabarmu hari ini, Lusi?” sapanya pelan, tapi terdengar penuh penekanan. Mengancam, dan mengerikan dalam waktu bersamaan.

Menyadari siapa yang datang, wanita kurus dalam balutan daster lusuh itu mundur beberapa langkah dan mendekap dadanya. Ia menggeleng pelan, seperti melakukan penolakan, juga permohonan.

**

Bersambung ....

Gimana, Dear? Panjang kan? Jangan lupa vote dan komen yang banyak, ya! 💜

1
lee jaehee
thor mana kisah selanjutnya
Chris Antono
Luar biasa
Rita susilawati
hmmm.tiara Tiara🤦🤦🤦🤦🤦
Rita susilawati
hmmm.tiara Tiara🤦🤦🤦🤦🤦
Norfadilah
Bahagianya. Saya sukaaaa. .🤣🤣😍😍
Norfadilah
Kasihan juga...😥😥
Norfadilah
Kasihan Tiara diculik...😥😥
Norfadilah
Waduuh...kasihan Tiara...😥
Norfadilah
Kok sedih yaaa....😥😥
Norfadilah
Waduh bang....🤣🤣
Norfadilah
Eyang setujuuu.. 😃
Norfadilah
Modus ya Bang.. 🤣🤣
Norfadilah
hiihii ini kan juga novel...🤣🤣🤣
Wanti Arifianto
meskipun banyak sebel-sebelnya, tapi enak banget dibaca🥳
Fatim Azzahra
main nyosor j..... hrsnya tkt lh punya bos main sosr gt. blm lg... kastnya jsuh bngt. hrsnya jngn mudh jatuh cintatiaranya.
siti rohmah
tiara ne g0*l0k
putri sri andila
iya. kok tiara kayak murahan gitu ya? prabu cuma kaya doang, tapi sukaain perempuan dan suka kekerasan. ga banget buat jadi kriteria calon pendam ping.
Hafizah Gun
jangan jangan Tiara hamil
Maya Sari Niken
authornya suka warn merah jambu kayaknya
selalu serba merah jambu
Meri Delvia
baguss banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!