Setiap rumah tangga pasti memiliki yang namanya masalah begitu pun dengan rumah tangga Dian dan Andara.
Karena sebuah kejadian Dian harus menerima kenyataan, bahwa kemungkinannya kecil untuk dia bisa memiliki anak atau bisa hamil lagi! Bagai disambar petir di siang bolong, saat Dian mendengar kenyataan itu.
Tetapi wanita itu tidak kehilangan semangat hidupnya, dia percaya usaha dan doa pasti tidak akan mengkhianati hasil.
Tapi sayang, ujian rumah tangganya tidak sampai di situ, karena saat mertuanya meminta dia untuk mengizinkan suaminya menikah lagi, dia pun dengan terpaksa mengiyakan hal itu.
Sakit, kecewa dan hancur! Tentu saja Dian rasakan, tetapi Dian berusaha tegar menghadapi setiap keadaan sampai pada akhirnya ia lelah dan merelakan semuanya.
Kenapa? Karena dunianya menuntut dia untuk berdamai dengan keadaan, sementara keadaan membunuhnya secara perlahan. Dengan menangis di tengah malam dan tersenyum serta tertawa di pagi hari. Walaupun dia tahu semuanya tidak akan seindah dulu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang menyakitkan
Begitu selesai check up, Dian dan Melly memutuskan untuk pulang. Saat melewati lobby rumah sakit, Dian tidak sengaja melihat Andara berjalan kearah mereka sambil Merangkul Elana. Seketika itu Dian langsung refleks menarik tangan Melly menuju salah satu mading yang berada tidak jauh dari mereka, Dian berpura-pura melihat informasi yang tertera di sana dan Melly yang pandai membaca situasi, ikut melakukan apa yang di lakukan kakak iparnya. Sehingga Andara tidak menyadari kehadiran mereka berdua.
" Kak, kenapa? Harusnya kakak senang, ini kesempatan kakak untuk memberi tahu kabar bahagia ini buat mas Andara." Bisik Melly, di tanggapi dengan senyum sambil menggeleng kepala.
" Kakak tahu, Kakak juga ingin memberitahu mas Andara, tapi kakak belum siapa memberitahunya sekarang." Jawab Dian. " Bila waktunya tiba Kakak pasti akan memberi tahu dia! Tapi tidak di depan Elana juga. " Lanjutnya lagi, kemudian menarik tangan Melly untuk pergi dari situ, begitu Andara dan Elana melewati mereka.
" Kenapa begitu." Tanya Melly lagi. Begitu keduanya sampai di parkiran rumah sakit dan hendak masuk kedalam mobil mereka.
" Karena kakak tahu dan paham betul, sifat wanita yang sedang di kuasai api cemburu! Kalau kamu minta bukti, atas ucapan kakak barusan. Maka penculikan Hani adalah jawabannya." Tanpa di tanya pun Melly langsung paham, maksud dari kakak iparnya.
Dalam perjalanan pulang, keduanya hanya Diam dan larut dalam pikirannya. masing-masing. Membuat situasi di dalam mobil begitu hening.
" Kak, Maaf jika Melly lancang! Kakak dan mas Andara belum ceraikan?" Tanya Melly membuat Dian sedikit terkejut. Wanita itu senyum samar, sembari meminta Sopir yang mengantar mereka untuk parkir di taman yang di lewati mobil mereka.
" Pa, ini ada uang! Bapak bisa beli makan dan minum sambil menunggu kita di taman sebentar! Nanti setelah obrolan kita selesai, kita akan panggil bapak." Ucap Dian kepada, supir yang di utus Dion untuk mendampingi mereka berdua.
" Baik mbak." Jawab sang supir sembari menerima beberapa lembar uang seratus ribu yang diberikan oleh Dian. Dan begitu sang supir nya keluar dari mobil itu. Dian langsung mencari kehidupan rumah tangga nya kepada Melly, Membuat Melly menitihkan air matanya.
" Dulu kakak terlalu Naif dengan mengatakan pada diri kakak sendiri, pada dia dan pada orang lain! Bahkan semua akan baik-baik saja, kakak bisa menjalankannya dan ikhlas menerima semuanya. Tapi sayang semua itu bohong, kakak tidak pernah ikhlas menerima semua itu, kakak hanya terpaksa dan pada akhirnya terbiasa dengan rasa sakit itu, kakak juga capek harus pura-pura terus." Dian menatap Melly kemudian tersenyum." Apa kakak salah? jika kakak ingin sebuah ketenangan dan mengakhiri semua ini. Kakak pun tidak merasakan apapun lagi untuk Mas Andara, bahkan jantung kakak nggak berdecak lagi saat bertemu dia seperti dulu. Dan Sampai pada titik ini kakak baru sadar Ternyata mati rasa itu menyenangkan! Ya sangat menyenangkan, karena tidak memiliki perasaan apapun pada siapapun. Dan kedamaian hati yang sebenarnya dimulai ketika kakak memilih untuk mengakhiri semua ini agar dapat melindungi hati kakak sendiri dan mungkin kedepannya kakak tidak akan memberikan hati kakak kepada orang lain lagi untuk di sakiti."
"Jadi kakak sudah yakin untuk meninggalkan mas Andara? Kakak kan sedang Hamil." Tanya Melly.
" Kamu dulu aja bisa ninggalin Dion padahal tau lagi Hamil, kenapa kakak tidak bisa."
" Masalahnya keadaan kita berbeda kak, Saat itu aku bukan lagi istrinya Dion dan Dia sudah punya istri yang lagi hamil, sementara status kakak kan masih istri mas Andara. " Sahut Melly." Saran aku sih kakak bertahan dulu sampai anak kakak lahir. Kalau bisa kakak jangan menghindari dia atau mengabaikan telpon. Kalau kakak tidak bisa melakukan semua itu untuk diri kakak, lakukan semua itu untuk anak kakak. Jika sampai anak kakak lahir kakak masih merasakan sakit karenanya dan masih tetap ingin berpisah kakak. Mungkin itu yang terbaik untuk kakak, mas Andara dan calon anak kakak nanti."Lanjutnya sambil menggenggam tangan Dian. Dan wanita itu hanya mengangguk.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah obrolan panjang mereka hari itu, Dian merasa lebih sedikit lega, seolah ada sedikit beban yang terangkat dari pundaknya.
Dan sejak hari itu Dian selalu menyambut baik Andara, entah itu saat di telpon atau saat Andara mengunjunginya di butik untuk pertama kalinya setelah hampir tiga bulan tidak bertemu.
" Aku pikir kamu tidak mau lagi bertemu aku." Ucap Andara, Lelaki itu kini tengah duduk berhadapan dengan Dian di ruang kerja Dian. Sementara Dian hanya tersenyum, walaupun tersirat sedikit paksaan dari senyumnya itu. " Sebahagia itu kah kamu jauh dari Aku?" Tanya Andara.
" Ya, seperti yang mas lihat." Jawab Dian seadanya . "Jika mas berpikir aku akan menangisi mas terus menerus dan mengabaikan diri aku sendiri, berarti mas salah. Dan asal mas tahu keputusan aku untuk berpisah dari mas itu masih sama. Kalau mas tanya kenapa aku ingin bertemu mas, aku juga punya jawaban untuk pertanyaan itu tapi tidak sekarang. " Ucap Dian lagi, dengan tetap melipat kedua tangannya di atas meja dan bertumpu pada kedua tangannya sehingga Andara tidak dapat melihat perutnya yang mulai membesar.
" Bukan seperti Di, aku justru senang kalau kamu baik-baik saja dan aku harap kamu berubah pikiran! Karena jujur, aku masih sangat mencintai kamu Di. dan apapun alasannya sehingga kamu mau menemui aku lagi, aku sangat bersyukur akan hal itu." Sahut Andara. Tidak membuat seorang Dian luluh lagi, wanita itu justru semakin acuh dengan menaikkan kedua bahunya. Jika bukan karena masukan dari Melly dan mempertimbangkan anak dalam perutnya, Dian juga tidak ingin berhadapan lagi dengan Andara. Bukan karena Dia takut jatuh cinta lagi kepada lelaki itu. Tetapi Dian merasa terlalu lelah untuk berpura-pura di depan lelaki itu.
Semenjak pertemuan hari itu, Andara terus saja menemui Dian di butik dan mengajaknya untuk pulang, tetapi Dian menolaknya dengan halus, tetapi Andara tidak menyerah untuk membujuk Dian.
Dan perlahan-lahan hati Dian mulai melunak lagi untuk Andara, tetapi lelaki itu justru kembali menyakitinya. Dian ingat betul kata-katanya kepada Andara bahwa dia akan kembali pulang jika Andara menghadiri acara tujuh bulanan Dia dan Melly. Walaupun dalam undangan yang dia berikan kepada Andara cuma tercantum nama Melly dan Dion. Setidaknya sebagai kakak ipar harusnya Andara menghadiri acara itu. Tetapi sayangnya Andara tidak menghadirinya dengan Alasan harus menemani Elana di rumah, karena di kehamilan ketiga wanita itu, kandungannya begitu lemah sehingga dia harus istirahat total. Sementara Dian tahu betul berapa jumlah pembantu yang bekerja di rumah itu.
Dan hal paling menyakitkan lagi untuknya dan keluarganya. Ketika tamu undangan serta kerabat mereka bertanya. Suami kamu dimana? Menantunya mana?. Baik Dian maupun orang tuanya tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung. ...
...Happy reading... 💔💔...
sekarang nikmati saja penyesalanmu...itu gk sebanding dg penderitaan Diana selama ini