Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.
***
Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?
Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?
originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Untaian Isi Hati
Toni meminta Rio untuk mengemudikan mobil dalam perjalanan kembali mereka ke Jakarta. Percakapannya bersama Wulan di Polsek mengganggu pikirannya. Dini hari itu, ia melihat sosok istrinya yang sedang bingung. Bukan wanita yang merupakan kekasih seseorang.
Sorot mata Wulan yang lelah dan harus meminta izin pada Rey sebelum berbicara dengannya, membuat Toni sedikit sakit hati. Wulan yang seluruh waktunya pernah dipersembahkan untuk Toni, kini harus meminta izin pada pria lain.
“Maafin aku,” ucap Toni memandang raut Wulan.
“Maaf? Kamu gak salah. Aku yang minta maaf. Rey harusnya gak kayak gitu.” Wulan melontarkan raut khawatir memandang sudut bibir Toni yang terluka.
Wulan hanya memandang Toni. Padahal, Toni ingin wanita itu menyentuh lukanya dan mencurahkan kekhawatiran saat itu. Tapi pandangan Wulan yang berkali-kali menoleh pada pintu polsek, membuat Toni sadar bahwa mantan istrinya itu mengkhawatirkan sesuatu.
“Kamu ke mana aja selama ini?” tanya Toni.
“Aku sibuk menghidupi diriku sendiri,” kata Wulan. “Aku gak mau kamu seneng karena liat aku menderita setelah perceraian kita,” sambung wanita itu lagi.
“Aku gak pernah mau kamu menderita,” sahut Toni. “Sekali pun dalam hidupku, aku gak pernah mengharapkan hal itu.”
Wulan hanya diam. Pandangannya kembali menatap pintu polsek.
“Lan … aku—masih sayang kamu.” Toni menatap wajah mantan istrinya.
“Terlambat. Terlambat kalo kamu ngomong itu sekarang. Aku dan Rey … sebentar lagi akan bertunangan. Semua udah disiapkan. Aku cuma minta doa dari kamu. Doain aku hidup bahagia.” Wulan menatap lekat raut Toni. Ia puas-puaskan memandang sosok pria yang pernah menjadi teman hidupnya itu.
“Kapan? Kapan kamu tunangan?” Toni sedikit panik saat mendengar hal yang baru dikatakan Wulan.
“Aku gak mau bilang kapan. Aku gak bakal undang kamu. Gak usah dipikirin,” ujar Wulan.
“Dia single? Sorry, maksudnya Rey itu single? Atau statusnya kayak aku?” Toni perlu memastikan siapa Rey. Apa pekerjaan laki-laki itu, dan seserius apa laki-laki itu dengan Wulan.
“Dia bukan duda. Masih single. Dia pernah bertunangan dan gagal. Gak sampai ke jenjang pernikahan,” jawab Wulan.
“Kenapa? Kamu harus tau sebabnya apa. Kenapa dia gak jadi tunangan?” desak Toni.
“Orang lebih penasaran dengan aku, Ton! Kenapa usia pernikahanku sangat singkat. Buatku, Rey mau nerima keadaan aku, itu udah luar biasa. Kamu tau apa, sih? Kamu kenapa sekarang? Kenapa mengkhawatirkan aku sekarang? Kemarin-kemarin kamu ke mana? Aku lebih butuh kamu kemarin ketimbang hari ini. Hari ini aku udah ada Rey …” ucap Wulan memandang lekat mantan suaminya.
“Lan … kamu nggak sayang aku lagi?” Pertanyaan bodoh yang akhirnya keluar dari mulut Toni.
“Udahlah, Ton … itu gak penting lagi sekarang. Aku ke dalam dulu, gak enak ke Rey.” Wulan kembali menoleh ke belakang.
“Dari tadi Rey terus …” sergah Toni.
“Jadi apa? Mami terus? Gak ada yang aku khawatirkan selain diriku sendiri sekarang. Adik-adikku udah punya keluarga masing-masing. Kamu nggak usah pikirin aku. Pikirin tentang kamu aja. Kebahagiaan kamu. Kamu juga harus bahagia,” kata Wulan kemudian melangkah mundur.
“Lan … ini aku.” Toni menahan lengan Wulan. Ia berharap Wulan kembali mengingat tentang mereka.
“Aku capek dan ngantuk, Ton …” sahut Wulan memandang Toni dengan wajah muram dan sorot mata iba.
“Maaf,” gumam Toni. Jarak mereka kini tak lebih dari 30 senti. Ia bisa melihat bulu mata Wulan yang ditebalkan dengan polesan maskara. Rambut panjangnya membentuk ikal di bagian bawah dan bandana merah cantik bertengger di atas kepalanya.
Wulan semakin cantik, pikir Toni. Dulu rasanya Wulan tak secantik ini. Tak sadar tangannya membelai pipi mantan istrinya. Wulan seketika mendongak. Tatapan mereka kembali bertaut.
“Aku masih sayang kamu … jangan pergi dengan Rey,” ucap Toni langsung.
“Maaf … aku gak bisa. Buatku, Rey lebih dari sekedar laki-laki yang akan jadi suamiku nanti.” Wulan memegang tangan Toni dan melepaskannya dari pipi. “Aku masuk dulu. Kamu juga istriahat,” kata Wulan.
Lamat-lamat terdengar suara Rio yang menyadarkan Toni.
“Ton! Ton! Ya ampun … lo denger gak sih kita ngomong dari tadi?” tanya Rio memandang Toni yang baru saja mengembalikan pikirannya ke dalam mobil.
“Ngomong apa, sih?” tanya Toni terkekeh memandang Rio.
“Mikirin apa? Wulan ya? Lo belum ngomong ke kita soal percakapan bareng Wulan di Polsek. Inget Sob, kalo ada yang mau diomongin, kita siap untuk mendengar.” Rio menonjok pelan lengan Toni yang terkekeh.
“Siap untuk dengerin, tapi belum tentu siap untuk menanggulangi.” Langit terkekeh di belakang.
“Wulan sebentar lagi bakal meresmikan pertunangannya dengan laki-laki itu. Gue gak bisa lanjut,” kata Toni menatap jalanan di depan mereka.
“Hah? Berarti belom tunangan? Masih akan?” tanya Langit.
“Iya, masih akan. Tapi katanya sebentar lagi. Kemarin-kemarin gue santai aja tiap denger lo semua ketemu Wulan di sana-sini bareng temennya. Tau keadaan dia baik-baik aja dan bahagia, gue udah cukup lega. Gue selalu ngerasa, Wulan dan gue kayak nunggu sesuatu. Wulan nunggu gue, dan gue nunggu Wulan. Kacau bener hidup gue, guys ….” Toni tertawa sumbang menoleh pada Langit di belakang.
“Ton …” gumam Langit memijat-mijat bahu Toni dari belakang.
“Kayaknya Wulan udah bener-bener selesai ama gue,” kata Toni akhirnya. “Gue gak yakin bisa bawa Wulan balik lagi. Gua bener-bener looser. Gue emang pecundang. Hidup gue kacau. Sejak Wulan ninggalin gue, hidup gue kacau. Gue keluar ketemu lo-lo semua, pacaran dengan wanita yang gak pernah gue anggap serius dan pulang ke rumah dengan wajah happy untuk Mami gue. That’s all. Kasian ya gue …” kata Toni.
“Ck, lo gak boleh gitu. Bener kata Dean. Kalo lo mau ngejar Wulan, jangan nanggung. Lo harus konsisten, lepaskan semua hubungan dengan wanita TTM lo. Jangan ladeni mantan pacar.” Rio ikut memijat bahu Toni.
Langit memajukan letak duduknya dan mengisi ruang tengah tempat di mana Rio dan Toni berada. Tangannya sejak tadi tak berhenti memijat bahu Toni yang sepertinya bisa menangis setiap saat. Playboy kata orang. Tapi bagi mereka, Toni hanya kesepian.
“Pak! Saya berhenti di simpang depan!” ujar Musdalifah tiba-tiba dari jok belakang.
“Buset! Masih ada sekretaris lo di belakang. Gue sampe lupa karena dia diem aja dari tadi.” Rio terkejut dan menatap spion. Ia melihat Musdalifah yang menjulurkan kepalanya ke jok tengah. “Berenti di simpang depan?” tanya Rio lagi.
“Iya, Mas Rio …” jawab Musdalifah dengan lembut.
Rio menepikan kendaraannya di depan sebuah halte. “Gak di kantor aja berentinya?” tanya Langit pada Musdalifah. Ia bergeser untuk memberi ruang pada sekretaris Toni yang segera melompat turun.
“Kejauhan kalo dari kantor, Mas … saya kurang tidur. Pengen cepet nyampe rumah. Kemarin saya sibuk banget,” sindir Musdalifah pada tiga orang laki-laki yang sedang menatapnya dari dalam mobil.
“Oh, oke …” sahut Langit.
“Pak, itu di laci dasbor ada tisu.” Musdalifah menunjuk dasbor di depan atasannya.
“Tisu untuk ap—” Rio langsung terdiam. Ia sudah mengerti. Musdalifah pasti sudah mendengar semua sesi curahan hati Toni yang sangat menyedihkan.
“Iya—iya, makasi.” Toni mengangguk dengan wajah berterima kasih.
Rio dan Langit saling berpandangan. Toni tak terlihat tersinggung sama sekali. Padahal, perkataan sekretarisnya itu terlihat seperti sindiran.
“Besok kamu hubungi kantor Pak Dean soal perizinan cabang kita yang baru. Kalau disambungkan dengan sekretarisnya, bilang minta ke Pak Dean langsung, biar tarifnya pakai tarif sodara.” Toni berkata dari setengah jendela yang terbuka.
“Pak Dean yang mana ya?” tanya Musdalifah dengan wajah bingung.
“Pak Dean temen kita yang satunya. Kita, kan biasa berempat. Yang tadi pulang dengan istrinya. Baru beberapa jam masa udah gak inget,” kata Toni.
“Oh yang itu namanya Pak Dean …” sahut Musdalifah mengangguk-angguk.
“Ya udah, hati-hati kamu.” Toni menutup kaca jendela mobil dan Rio langsung melaju. Meninggalkan Musdalifah yang mendekati seorang pengemudi ojek di dekat halte.
“Tuh, kan. See? Musdalifah aja gak gitu inget ama Dean. Geer banget si Dean ditaksir ama sekretaris gue,” ujar Toni terkekeh-kekeh.
Rio dan Langit bertukar pandang melalui kaca spion tengah. Mereka berdua sama bingungnya. Entah siapa yang aneh. Toni atau sekretarisnya.
To Be Continued
aaaampuuun dah dean..
hahahahahahahahaha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣