NovelToon NovelToon
KOMA

KOMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:138k
Nilai: 5
Nama Author: machrita

Erin, gadis cantik yang terpaksa menikah dengan seorang pria dingin harus mengalami kecelakan hingga membuatnya Koma, akankah cinta dari sang suami bisa membantu Erin untuk kembali sadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon machrita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Licik Shelo.

Shemee mengusap usap matanya tiba-tiba bayangan itu menghilang, sementara Erin berusaha memanggil Shemee yang menjauh, roh Erin mendekati Shemee yang duduk di sebelah Erin yang terbaring.

"Shemee, kau bisa melihatku kan, Shemee katakan kau bisa melihatku." Kata Erin dengan berlinang air mata.

"Kak, cepat sadar aku tidak mau kehilangan dirimu." tangis Shemee.

"Shemee dengan apa aku bisa memberitahumu aku disini, ya Tuhan apa ini, kenapa aku begini." Sedih Erin. Renz masuk menemui Shemee.

"Ini kopi untukmu," Renz memberikan secangkir kopi untuk Shemee.

"Renz, apa tidak sebaiknya kakak ku di pindah perawatan dirumah saja, karna jika di rumah banyak yang mengawasi." Kata Shemee.

"Aku juga sependapat denganmu, nanti aku akan bicarakan dengan tim Dokter, " kata Renz.

"Renz, Shemee aku disini, aku disini," tangis Erin.

Suara Erin terdengar lagi di telinga Shemee, ia pun melirik kesana kemari mencari siapa yang berbicara.

"Suara itu seperti suara kak Erin, tapi dimana. Siapa dia." batin Shemee.

"Ada apa Shemee?" tanya Renz yang melihat perubahan raut wajah Shemee.

"Ti-tidak, oh ya Renz aku mau ke kamar mandi dulu," pamit Shemee.

Shemee masuk ke kamar mandi Erin pun mengikutinya.

"Shemee tadi kau melihatku, kau mendengarku kan,please Shemee katakan sesuatu." Pinta Erin.

Shemee memperjelas pendengarannya, ia memberanikan diri bicara pada suara yang di dengarnya.

"Sebenarnya kau siapa! Kenapa suaramu seperti kakak ku," kata Shemee.

"Shemee kau mendengarku, kau benar mendengarku. Syukurlah aku sangat bahagia Shemee." Senang Erin.

"Berhentilah bicara, aku tidak ingin kau menggangguku, pergilah," usir Shemee memberanikan diri.

Shemee bicara seperti itu karna ia tidak percaya jika itu suara Erin, ia mengira itu suara makhluk halus lain, sedari kecil Shemee sudah sering mendengar atau melihat namun sangat jarang, biasanya dalam kondisi yang menenentu saja ia bisa mengalami, itupun terakhir kali sewaktu Shemee berumur 7 tahun, namun sekarang ia mengalaminya lagi. Dan suara itu mirib Erin kakaknya.

"Shemee, kenapa kamu bicara begitu. Aku Erin kakak mu, tolong percaya padaku." Pinta Erin sedih.

"Kalau kau benar kakak ku tunjukkan wujud mu, aku akan percaya jika itu benar kakak ku," tantang Shemee.

"Bagaimna! Aku tidak tau," sedih Erin. Karna Erin tidak bisa meyakinkan adiknya, Shemee pun keluar Erin terus mengikutinya.

"She, tolong aku She," suara Erin terdengar putus asa.

Shemee terhenti, hanya Erin yang memanggilnya She, She adalah panggilan Shemee saat kecil, itu pula panggilan dari almarhumah ibu mereka, Shemee akhirnya menoleh ke belakang, ia melihat bayangan remang-remang yang menangis, Shemee mengusap usap matanya dan bayangan itu mulai terlihat jelas.

"Kakak!" kejut Shemee.

Erin bahkan Renz terkejut.

"Shemee kamu kenapa?" Tanya Renz.

"Ka-kakak!" tunjuk Shemee pada roh Erin di samping Renz.

Erin tersenyum bahagia, akhirnya Shemee melihatnya, tapi Shemee justru jatuh pingsan setelahnya.

"She." Panggil Erin.

Renz mengangkat Shemee ke sofa, mencoba membangunkannya, menciprat cipratkan air ke wajah Shemee, Erin duduk di sebelah Shemee. Shemee terbangun yang lebih dulu ia lihat adalah Erin yang terlihat sedih.

"Kak Erin," tangis Shemee.

"Shemee!" bingung Renz.

Shemee ingin memberitahu Renz tapi Erin memberinya isyarat untuk tidak mengatakannya, takutnya Renz tidak percaya dan mengatakan jika Shemee tidak waras.

"Maaf Renz aku hanya terbawa suasana kesedihan." Bohong Shemee.

"Ouhh." Gumam Renz.

Ponsel Renz berbunyi itu dari kantor.

"Ya Jo, ya disini ada Shemee, ada apa? oke aku segera kesana." Kata Renz lalu mematikan ponselnya.

"Ada apa?" Tanya Shemee.

"Ada berkas yang harus aku tanda tangani, kau baik-baik saja kan, apa kau bisa tetap disini menemani Erin, aku tidak lama, aku akan segera kembali," kata Renz.

"Ya kau pergi saja, aku akan jaga kak Erin," ucap Shemee.

"Terima kasih Shemee." Kata Renz.

Renz mendekati Erin lalu mengecup keningnya.

"Aku tidak lama sayang, aku akan segera kembali," ucap Renz.

Erin sedih karna Renz begitu menyayanginya, Shemee melihat kesedihan di wajah Erin. Roh Erin menatap lekat punggung suaminya yang menjauh.

"Kak Erin, aku masih tidak percaya aku bisa melihatmu utuh seperti ini, tapi kau bukan hantu kan?" Tanya Shemee.

"Aku masih hidup She, aku hanya koma, ini aku hanya saja roh ku belum bisa kembali ke tubuhku, entah apa yang terjadi." Sedih Erin.

"Kak aku sangat bahagia bisa berkomunikasi denganmu." ucap Shemee.

"Aku juga senang Shemee, tapi aku sedih karna tidak bisa memberitahu Renz tentang perasaanku padanya." Ucap Erin sedih.

"Kau tenang saja kak walaupun kamu tidak memberitahunya, dia cukup tau isi hatimu." Kata Shemee.

Sedang bercerita perawat datang untuk memeriksa Erin, perawat itu kebingungan karna melihat Shemee bicara sendri.

"Kau baik-baik saja nona!" tegur perawat.

"I-iya, duh maaf ya sus aku hanya sedang menghapal, dapat tugas dari kampus." Bohong Shemee. Erin tersenyum geli karna melihat adiknya harus berbohong.

Setelah perawat selesai, Shemee kembali cerita pada Erin seperti biasa sebelum Erin kecelakaan.

"Kak sebelum kau kecelakaan apa yang terjadi, kenapa kau tidak di rumah kau tau kan kemarin hari ultah suamimu." Bingung Shemee.

"Aku sampai lupa memberitahumu, kemarin aku mengambil pesananku di studio foto, saat pulang di jalan sebuah mobil hitam mengikutiku, mobil itu menyalip di samping mobilku, aku menghindar dan berusaha melaju tapi mobilku tidak terkontrol rem mobil ku pun blong, setelah itu aku tidak tau apa-apa lagi, sadar aku sudah seperti ini, aku berusaha memberitahu Renz tapi beginilah. Ternyata aku hanya seorang roh," sedih Erin.

"Kenpa mobil itu mengejarmu, apa kamu punya musuh?" Tanya Shemee.

"Aku tidak tau, aku merasa aku tidak punya musuh tapi aku tidak tau jika ada yang tidak menyukaiku karna menikah dengan Renz." Kata Erin.

"Kak apa mungkin ada mantan nya Renz yang tidak menyukaimu atau wanita yang dekat dengan Renz yang membencimu." Kata Shemee.

"Sepertinya tidak, tapi waktu konfernsi pers mantan pacar Renz saat kuliah datang, aku tidak yakin karna kata Renz justru mantannya itu yang meninggalkannya aku juga sempat mencari tau jika Anie itu memang tidak mencintai Renz." Terang Erin.

"Lalu siapa? apa motif nya kenapa dia mau mencelakaimu, ah aku tambah pusing kak." Terang Shemee.

*****

Di sekolah Sahira, Sahira sedang menunggu jemputan, ia bingung karna biasanya Erin yang menjemput. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan sekolahnya.

"Hay! Kau Sahira kan." Kata Shelo.

"Iya, tante siapa?" Tanya Sahira.

"Kau tidak mengenalku, aku sahabat mami mu, Shelo. Kau pasti lupa." Kata Shelo lagi.

"Ouhh kau tante Shelo, mami sering cerita tante." Kata Sahira.

"Kamu menunggu siapa?" Tanya Shelo.

"Jemputanku, biasa mami yang menjemput tapi sekarang mami di rumah sakit, jadi papi mengirim supir, tapi sudah hampir 1 jam supir papi belum jemput." Kesal Sahira.

"Bagaimna jika tante antar pulang atau tante antar ke rumah sakit, tante mau menjenguk mami mu di rumah sakit," ajak Shelo.

"Beneran tante mau ke rumah sakit, aku sangat rindu dengan mami aku ikut tante ya," pinta Sahira.

"Ayo." Ajak Shelo.

Shelo dan Sahira pergi ke rumah sakit tak butuh waktu lama mereka pun sampai.

"Bibi Shemee." Panggil Sahira.

"Sahira kamu datang dengan siapa?" Tanya Shemee.

"dia dnganku"ucap shelo

Erin sangat senang karna Shelo mengantarkan Sahira, Erin sangat merindukan Sahira.

"Aku tadi melihat Sahira sedang menunggu jemputan kebtulan aku mau menjenguk Erin, jadi seklian aku membawanya," kata Shelo.

"Terimakasih Shelo, kak Erin pasti sangat senang Sahira menjenguknya." Kata Shemee.

Erin mendekati Sahira yang duduk di sebelah tubuhnya.

"Mami aku tadi dapat nilai 9. Mami pasti senang kan, besok aku akan berusaha mendapat nilai 10 untuk mami, biar mami bangga." Gadis kecil itu memperlihatkan bukunya menunjukkan kewajah Erin yang di mulut dan hidungnya dipasangi selang.

Bibir Erin tersenyum tapi matanya menangis, Shemee memperhatikan Erin yang sangat sedih dengan keadaannya sekarang.

"Kasihan kamu kak," gumam Shemee.

"Shemee, kamu mengatakan sesuatu?" tanya Shelo.

"Ahh tidak, aku hanya kasihan melihat Sahira, ia begitu sayang dengan kak Erin, semoga kak Erin segera pulih." Kata Shemee.

"Aku justru menginginkan Erin cepat menemui ajalnya," batin Shelo.

Di kantor Renz mendapat telphon dari supir yang menjemput Sahira jika Sahira tidak ada di sekolah, Renz kembali panik ia pun segera mencari Sahira dengan bantuan Jojo.

"Kemana lagi kamu Sahira, kenapa di saat begini kamu malah hilang," cemas Renz.

Jojo memberitahu Shemee jika Sahira hilang, mencoba meminta bantuan Shemee juga untuk mencari Sahira, tapi Shemee justru mengatakan jika Sahira di rumah sakit, Jojo pun memberitahu Renz jika Sahira di rumah sakit, Renz segera memutar arah menuju rumah sakit.

"Sahira!" Panggil Renz saat membuka pintu kamar Erin.

"Papi!" Seru Sahira.

"Kamu kenapa bisa di sini, kamu pergi sendiri kenapa tidak menunggu papi di rumah," omel Renz.

"Renz Renz, jangan memarahinya, aku yang salah, maaf aku yang membawa Sahira tadi." Kata Shelo.

"Shelo!" Kejut Renz.

"Iya Rebz, tadinya aku mau kesini tapi aku lihat Sahira di depab sekolah, sekalian aku ajak saja kesini tapi sepertinya aku membuat masalah ya Renz. Maaf kalau begitu," ucap Shelo belagak sedih.

"Tidak apa-apa Shelo, hanya saja lain kali kau beritahu dulu gurunya jadi kami tidak panik, terimakasih sudah mengajak Sahira kemari dia sangat merindukan Erin. Dari semalam dia mau kemari," kata Renz mengelus rambut Sahira.

"Aku minta maaf Renz, lain kali aku akan beritahu orang sekolah," kata Shelo.

"Renz jika seperti ini lebih baik kamu segera membritahu dokter agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, jika di rumah kan Sahira akan lebih leluasa menjaga dan menemani kak Erin," kata Shemee.

"Kau benar aku akan segera memberitahu dokter," kata Renz berlalu pergi. Shelo segera mengikuti Renz.

Shemee duduk di sofa bersama Erin, Shemee berbisik pada Erin agar Sahira yang tengah menggambar tidak mendengar.

"Kak kenapa ya aku sedikit tidak menyukai Shelo, dia seperti sok akrab dengan kalian," bisik Shemee.

"Wajar she, dia temanku dia sangat baik dia adalah teman yang mengerti keadaanku, kemarin saja dia langsung ke kemari saat tau aku masuk rumah sakit," kata Erin.

"Ouh, ya semoga saja dia tidak punya maksud lain," cemas Shemee.

di ruang dokter

Renz meminta dokter untuk mengijinkannya membawa Erin pulang, awalnya dokter tidak memberi ijin.

"Dok ini demi Erin, kasihan dia. Dia pasti juga mau pulang dan ingin berkumpul dengan kami di rumah," kata Renz.

"Tapi siapa yang akan menjaga di sana, kalau di sini ada perawat yang setiap saat selalu memeriksa nona Erin dan mengganti selang infus, melaporkan setiap perkembangan yang nona Erin alami," kata Dokter.

"Apa tidak ada perawat yang bisa di bawa pulang, aku akan membayar lebih," pinta Renz.

"Maaf tuan, tapi perawat disini tidak bisa bekerja di luar rumah sakit, mungkin anda bisa mencari perawat dari rumah sakit lain." Kata Dokter.

"Biar saya yang merawatnya dok, saya memang seorang guru tapi dulu saya pernah sekolah keperawatan hanya saja biaya yang begitu besar saya pun berhenti dan menjadi guru taman kanak-kanak sampai saat ini." Kata Shelo.

"Tapi Shelo!"

"Renz tidak apa-apa, tanpa di gaji pun aku siap. Aku hanya prihatin dengan sahabatku aku ingin dekat dengannya dan membantunya agar Erin cepat sadar, please Renz." Mohon Shelo.

"Baiklah Shelo, dok apa bisa seperti itu?" Tanya Renz.

"Bisa, aku hanya minta bukti jika dia pernah sekolah keperawatan dan saat aku yakin dia mampu kau bisa membawa nona Erin pulang." Kata Dokter.

"Terimaksih dok, Shelo apa kamu bisa membawa bukti itun aku sangat percaya padamu kalau kau bisa merawat istriku." Kata Renz.

"Tentu! Aku akan segera mengambilnya." Kata Shelo penuh percaya diri.

Shelo keluar dan berjalan santai pergi.

"Apapun akan aku lakukan agar bisa masuk di rumahmu Renz, masuk ke kehidupan kalian walaupun harus memalsukan dokumen-dokumen bagiku itu sangat mudah," kata Shelo dengan wajah dan senyum jahatnya.

#Bersambung...

1
Ruzita Ismail
Luar biasa
Ely Jung
lucu dehh 🤣🤣
Ely Jung
waduh..... siapakah dia ?? 😱
Nenk Kwr
lanjut thor, bikin erin balikan sama reinz
Nenk Kwr
cintanya reinz cuma buat erin. dan reinz menikah sama marcella karna dijebak. coba reinz dulu selidikin kehidupan marcella sebelum menikahinnya.
Sumiasih
lanjut ditunggu Thor
. semangat Up, ya
Rohmatul Maulida
lanjut di tunggu
Hospot KhimOchi
akhir y,seru bgt lanjut Thor😍
Maria Dwi
kasihan bayi itu tidak berdosa... dia tak minta dilahirkan,,, please thor... jangan disiksa😭😭😭😭
Santai Dyah
lnjut thor
Laila Amilia
knp ya g ada terusan,y lagi
Nun Inayah
kayak di film aja
Ikka Retno
next kak,,
rbkmad
thor kok blm up ya???
Yanti Yulianti
nextt lagi othorr semngatt❤💪💪💪
Dewi_fatmawati
sadarnya reinz itu waktu erin mau kembali sama dia.. kalo erin gak mau ya sudah begitu terusss sampe tua..
Muh Ezlam
lanjut
Laila Amilia
ayo buat renz sadar kalo Kania g salah
rbkmad
di tunggu ya thor up nya
Bunga Syakila
upnya sedikit thor semangat 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!