Moza Remon seorang gadis cantik yang harus menderita setelah kepergian kedua orang tuanya..
Suatu malam dia di usir oleh Pamannya dalam cuaca hujan deras menyusuri jalanan jalanan dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya..
Namun tiba tiba dia bertemu dengan seorang laki laki tampan di saat bersamaan tubuhnya terasa lemah dan jatuh pingsan.
Bagaimana kelanjutan hidup Moza setelah bertemu dengannya, apa dia akan kembali menderita atau bahkan menjadi bahagia.. ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Encha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak boleh jauh jauh
Kini Leon dan Moza sudah berada di dalam kamarnya dengan Moza yang bersender pada bahu Leon.
" Belum ngantuk " Ucap Leon dan Moza menggelengkan kepalanya
" Mana ada aku ngantuk, aku aja baru bangun tadi " Ucap Moza membuat Leon gemas dan menarik bahu Moza untuk menatapnya.
Pandangan mereka saling tatap, hingga Wajah Leon semakin dekat..
Moza memejamkan matanya saat bibirnya merasakan sesuatu di sana.
Leon menciumnya lembut hingga Moza merasakan ciumannya semakin dalam.
Leon melepaskan ciumannya dan menatap Moza lekat
" Sayang,, " Ucap Leon dan Moza mengangguk mengerti dengan ucapan Leon
Leon menoleh ke arah pintu, dia lupa jika belum menguncinya dia pun segera berjalan turun dan menguncinya.
Moza terus menatapnya hingga Leon kembali dan mulai menciuminya.
Tidak hanya bibir, kini Leon pun mulai menciumi leher dan meninggalkan bekas di sana.
" Kamu tahan ya, ini sedikit sakit " Ucap Leon
" Aw,, " rintih Moza saat merasakan nyeri yang begitu sakit, air matanya menetes dari matanya membuat Leon merasa tidak tega untuk melanjutkannya.
" Sayang aku minta maaf " Ucap Leon dan Moza langsung menggeleng.
" Tapi sayang,, "
" Aku gak papa, kamu lanjutkan ya "
Leon menatap wajah istrinya dia kembali mencium bibir Moza lembut membuat Moza merasakan lebih tenang dan Leon bisa kembali melanjutkannya.
Hari sudah hampir pagi, baik Leon atau Moza baru tertidur setelah melakukan olah raga ranjang.
Moza terlelap dalam dekapan Leon hingga suara ketukan pintu kamar tidak sama sekali mereka dengar padahal ini sudah siang.
Bik Siti kembali berjalan turun setelah tidak di buka pintu kamar mereka, ,
" Ibu dari mana " Ucap Mira yang kebetulan membersihkan lantai atas
" Ibu habis dari kamar Tuan Leon, tapi sepertinya mereka belum bangun,, kamu bersih bersihnya pelan pelan ya takut ganggu mereka yang masih tidur "
Mira menatap pintu kamar Leon yang memang belum terbuka, dia merasa kesal dan dengan sengaja membersihkannya dengan suara keras.
Di dalam kamar Leon mengerjabkan matanya mendengar suara berisik dari luar dia menatap Moza yang masih terlelap.
Siapa sih ribut di luar. Gumam Leon mengambil kaos dan celananya di lantai dan memakainya dia berniat untuk keluar.
Ceklek,,
Pintu kamar terbuka dan matanya menatap Mira lah yang sedang mengepel di depan kamarnya.
Mira terpana menatap Leon yang sangat sangat tampan walau wajahnya masih mengantuk dan baru bangun tidur,,
" Bisa lebih pelan, Istri saya masih tidur " Ucap Leon kembali menutup pintunya.
Mira menghentakan kakinya kesal,,,
Istri,, istri.. Istri.. Biarin aja dia bangun udah siang juga malas banget. Gerutu Mira
Leon kembali berbaring di samping Moza dan kembali memeluknya namun Moza membuka matanya..
" Apa aku menganggu kamu sayang " Ucap Leon dan Moza menggeleng dengan semakin masuk dalam dekapan Leon.
" Ini sudah siang, tapi aku masih ngantuk"
" Tidurlah,, " Ucap Leon mengusap rambut Moza dan mengecupnya membuat Moza kembali ke alam mimpinya.
*****
Hari sudah sangat siang bahkan Leon pun ikut kembali tertidur dengan masih memeluk Moza.
Moza membuka matanya dan tersenyum menatap wajah suaminya.
Dia kembali teringat malam tadi dimana semua sudah dia serahkan kepada Leon suaminya.
" Kenapa senyum senyum hem " Ucap Leon dengan suara beratnya
Leon sebenarnya sudah bangun namun dia sengaja pura pura tidur.
" Jadi kamu pura pura tidur " Ucap Moza dan Leon terkekeh.
" Sayang,, Kita lanjut lagi olah raga semalam " Goda Leon membuat Moza menggelengkan kepalanya.
" No Sayang,, Ini masih sangat nyeri " Ucap Moza menggemaskan membuat Leon sangat ingin melanjutkan kembali kegiatan semalam namun dia pun tidak mau egois melihat Moza yang masih sakit.
Cup,,
Leon mengecup bibir Moza,,
" Morning kiss Sayang, Kita mandi bareng " Ucap Leon dan Moza membulatkan matanya
" Engga ah,, nanti kamu macem macem Lagi di sana "
" Janji gak sayang,, " Ucap Leon dan Moza mengangguk.
Leon membopong tubuh Moza masuk kamar mandi dan menurunkannya di dalam Bathtup dengan air hangat yang memang sudah di siapakannya.
Seperti janji Leon jika mereka hanya akan mandi, Leon kembali memboponh tubuh Moza kembali ke kamar dan menurunkannya di kursi meja rias.
Leon mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Moza.
Moza tersenyum melihat sikap Leon yang begitu manis kepadanya, dia pun memutar tububnya dan memeluk Leon.
Kini Moza sudah memakai pakaian santainya rasanya begitu lapar,,
" Sayang, gimana kalau kita makan diluar kamu mau "
" Em,, baiklah aku mau "
Leon mengangguk dan mengambil kunci mobilnya, dan mereka bergandengan keluar kamar.
" Tuan,, Nyonya,, Apa kalian mau makan " Ucap Bik Siti
" Tidak usah Bik,, Saya dan Istri saya akan keluar "
" Baik Tuan "
Moza tersenyum dan mereka kembali berjalan keluar.
" Ya Ampun cantik dan sopan bener istri Tuan, pantas saja Tuan begitu menyayanginya .. " Ucap Bik Siti terus menatap mereka
" Baisa aja, cantikan juga Mira "
Bik Siti menoleh dengan jawaban Mira,,
" Beda atuh Neng, Siapa Kamu siapa Nyonya Moza " Ucap Bik Siti berjalan menuju dapur.
Mang Ujang yang sedang memotong ramput melihat Leon dan Moza yang keluar dia pun langsung menghampirinya karena sedari datang mereka memang belum ketemu.
" Tuan Leon,, Nyonya " Sapa Mang Ujang
" Mang Ujang,, Apa kabar"
" Baik Tuan,, Ini pasti Istri Tuan meni gelis pisan "
" Terima kasih Mang " Ucap Moza tersenyum
" Mang, Saya keluar dulu ya mau ajak istri saya berkeliling "
" Silahkan Tuan, Nyonya hati hati "
Leon mengangguk dan membuka pintu mobilnya,
Setelah Moza duduk, Leon memutar dan duduk di kursi kemudi.
Mobil mereka melaju keluar halaman Vila sementara Mira kesal melihat mereka yang selalu romantis.