Seorang mahasiswa baru yang bernama Alex mendapatkan panggilan jiwa untuk membela hak-hak rakyat yang dirampas oleh penguasa, perjuangan yang direalisasikan dengan turun ke jalanan menentang kebijakan yang tidak sesuai.
Hingga di suatu titik dia menemukan bunga revolusi bernama Diana yang menjadi pusaran semestanya. Ibarat kapal yang mengarungi samudra luas, dia menemukan pelabuhan untuk berlabuh dan menurunkan jangkar hatinya.
Alex yang terus berkembang hingga menjadi panglima perang di parlemen jalanan, dan selalu siap bertempur melawan ketidak adilan bagi rakyat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Syah Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekolah Anak Jalanan
Setelah sekian lama menunggu di kedai kopi Litera, akhirnya Beni datang dan bergabung dengan kawan-kawan lainnya. Diskusi mengenai sekolah anak jalanana akhirnya dapat dimulai.
Seluruh kawan-kawan PRT berhadir kecuali Diana, Diana tidak dapat berhadir dikarenakan ada urusan mendadak. Tidak hadirnya Diana membuat Alex seperti memiliki kekurangan dalam hatinya.
Perjuangan yang kini melibatkan rasa di hati terkadang sangat indah, akan tetapi saat separuh pemilik hatinya tidak hadir maka rasa tersebut seperti tidak lengkap. Namun bagi Alex perjuangan akan tetap berlanjut walaupun Diana saat ini tidak hadir.
Beni lalu membuka forum diskusi malam itu dengan selinting tembakau terbakar di tangannya.
“Jadi bagaimana kawa-kawan mengenai hasil pengumpulan donasi kita kali ini?” (Beni)
“Hasil donasi yang kita dapat kali ini cukup lumayan banyak bang, kami telah melakukan pendataan buku-buku tersebut yang totalnya 120 buku jika digabungkan dengan donasi yang Alex kumpulkan” (Berto)
“Benar bang, buku-buku yang telah terkumpul saya rasa cukup untuk saat ini” (Alex)
“Baguslah kalau buku-buku yang terkumpul cukup untuk mendirikan sekolah anak jalanan. Aku juga ada berita bagus untuk kita” (Beni)
“Berita bagus apa bang” (Danil)
“Aku tadi menemui salah seorang anggota dewan, lalu aku jelaskan mengenai sekolah anak jalanan pada dia. Tanggapan dari anggota dewan tersebut sangat bagus terhadap kita, dan dia memberikan sebuat tempat bekas bangunan pemerintah yang tidak terpakai untuk dijadikan sekolah” (Beni)
“Wah…, bagus itu bang. Daerah mana emang tempatnya?” (Alex)
“Tempatnya dekat kampus Nusantara, setelah aku periksa sangat layak untuk di jadikan sekolah” (Beni)
Terkadang pemerintah tak selalu buruk, terdapat juga beberapa anggota dewan yang masih memperhatikan rakyatnya. Hal tersebut tidak disia-siakan oleh kawan-kawan PRT, mereka lalu menyusun mengenai mekanisme menjalankan sekolah anak jalanan tersebut.
Memang tidak mudah untuk menjalankan sebuah sekolah yang tidak memiliki anggaran, namun anggaran bukan sebuah hal penting hingga dapat menghentikan langkah mereka untuk mendirikan pendidikan bagi kaum tertindas.
Kolektif kolegial merupakan jalan yang mereka sepakati untuk menjalankan sekolah anak jalanan, walau bagaimanapun sebuah pengorbanan harus dilakukan untuk mengubah arah masa depan bangsa.
“Jadi kapan kita bisa mulai untuk membuka sekolah anak jalanan?” (Beni)
“Saran saya bang secepatnya, karena dengan demikian anak-anak jalanan juga akan segera mendapatkan pendidikan yang selama ini tidak pernah mereka rasakan” (Alex)
“Setuju!!!” (Anggota PRT yang lain)
“Baiklah kalau begitu, 3 hari dari sekarang kita akan membuka sekolah anak jalanan” (Beni)
Alex, Beni, dan kawan-kawan PRT lainnya mulai mempersiapkan tempat untuk anak-anak jalanan agar mereka nyaman belajar. Mulai dari membersihkan ruangan, membuat meja, kursi, dan papan tulis dari kayu-kayu tak terpakai.
Mereka kompak bekerja sama untuk membuat gedung terbengkalai tersebut menjadi sebuah sekolah yang indah, dan nyaman bagi anak-anak belajar. Brosur pembukaan sekolah juga telah disebar kepada anak-anak jalanan. Alex berharap di hari pembukaanya akan banyak anak-anak yang datang.
Hari pembukaan sekolah untuk anak jalana akhirnya tiba, di hari itu terlihat begitu banyak anak-anak yang antusias datang, dan menantikan pembukaan sekolah. Pemotongan pita sebagai tanda simboli dilakukan oleh Beni bersama Alex, menandakan bahwa sekolah bagi anak-anak jalanan secara resmi dibuka.
Anak-anak jalanan yang sangat antusias tersebut langsung menyerbu masuk ke dalam, mereka lalu membaca buku-buku yang tersedia. Beni lalu mengumumkan bahwa sekolah ini bebas bagi siapa saja yang ingin belajar, dan hal tersebut gratis.
Anak-anak yang mendengar pengumuman dari Beni tersebut langsung bersorak, dan bertepuk tangan dengan sangat keras. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang penuh dengan kebahagiaan.
Pendidikan yang harusnya dapat dirasakan secara gratis oleh siapa saja, tetapi bagi mereka baru sekarang ini mereka dapat merasakannya. Alex, Diana, dan kawan-kawan PRT lainnya ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan hingga air mata keluar begitu saja mengalir di pipi mereka semua.
Sekolah anak jalan beroperasi seperti jadwal sekolah pada umumnya, dengan sistem tenaga pengajar menyesuaikan dengan kawa-kawan mahasiswa yang sedang kosong jadwal kuliah, jadi kawan-kawan mahasiswa yang sedang kosong jadwal kuliah bisa langsung datang dan mengajar anak-anak.
Kini sekolah tersebut telah berjalan selama beberapa bulan. Banyak tanggapan positif yang diberikan masyarakat kepada Beni dan kawan-kawan mahasiswa lainnya, hingga sesekali masyarakat di sekitaran sekolah tersebut memberikan makanan, dan minuman kepada anak-anak.
Bahkan beberapa bulan terakhir biaya listrik dan biaya air untuk sekolah dibayarkan oleh kepala desa setempat, hal ini membuktikan bahwa rasa gotong royong serta rasa saling membantu antar sesama masih melekat kuat di masyarakat menengah ke bawah.
Hingga di suatu hari, ketika Diana sedang sendiri berada di sekolah untuk mengajar anak-anak, dia didatangi oleh sekelompok preman yang merasa bahwa sekolah tersebut membuat anak asuh mereka malas bekerja.
Adu argument dan perampasan anak-anak tidak dapat terhindarkan lagi saat itu, Diana yang seorang wanita tidak dapat mengimbangi kekuatan tiga orang lelaki bertubuh kekar dan berwajah sangar tersebut.
Hingga Diana berteriak sekencang-kencangnya untuk meminta bantuan dari warga sekitar, akan tetapi preman tersebut menyadari jika warga mengepung, maka mereka akan dibawa ke kantor polisi.
Salah seorang preman lalu mengambil sebuah balok kayu, lalu menghantamkannya di punggung Diana. Dengan seketika Diana terbaring tak berdaya akibat pukulan keras yang mengenainya hingga membuat dirinya pingsan.
Tak lama kemudian, Alex dan Beni datang ke sekolah untuk menggantikan Diana mengajar anak-anak, akan tetapi mereka sangat kaget ketika melihat sekolah begitu sepi. Tidak ada seorangpun yang terlihat dari luar.
“Bang, kenapa sekolah sepi begini ya?” (Alex)
“Aku juga tidak tau, mungkin Diana meliburkan anak-anak hari ini” (Beni)
“Saya rasa tidak mungkin Diana melakukan itu bang. Dia sangat suka menajar, dan lagi hari ini dia tidak ada perkuliahan” (Alex)
“Ya sudah, ayo kita periksa dulu” (Beni)
Alex dan Beni lalu memasuki sekolah, namun betapa kagetnya mereka ketika melihat ruang kelas yang berantakan seperti habis diacak-acak. Banyak kursi dan meja yang patah seperti disengaja. Akan tetapi anehnya tidak ada seorangpun di sana.
Alex yang khawatir terhadap Diana lalu mencarinya ke seluruh ruangan, akan tetapi semuanya nihil. Tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Diana, Alex yang sangat panik mengenai keberadaan Diana lalu berusaha menelponnya.
Sebuah nada dering milik handphone Diana berbunyi nyaring, bunyi tersebut berasal dari toilet. Alex dan Beni tanpa ragu langsung masuk ke toilet, akan tetapi betapa kagetnya mereka ketika melihat Diana yang terbaring di lantai dengan posisi tangan dan kaki terikat.
“Sebenarnya apa yang terjadi ini bang?” (Alex)
“Aku juga tidak tau, sekarang sebaiknya kita bawa Diana ke rumah sakit dahulu” (Beni)
Mereka lalu membawa Diana ke rumah sakit. Alex dengan penuh rasa sedih, marah, dan benci ketika melihat kekasih hatinya terkulai lemas tak berdaya hanya bisa berharap Diana baik-baik saja, namun di dalam hatinya dia bertekat akan membalas perbuatan yang Diana terima saat ini.
Gak suka bgt sama senior, staf kampus bahkan dosen yang suka mengintimidasi atau menggunakan kekuasaanya untuk mengintimidasi mahasiswa. Mahasiswa yang katanya akan menjadi "akademisi" dituntut untuk mengikuti pandangan² tertentu dari senior/orang² berkuasa di kampus. Dan ironisnya para mahasiswa akhirnya tunduk pada birokrasi yang ada, agar bisa lulus cepat dengan tidak mencari masalah dan tidak ingin di bully oleh senior secara langsung maupun tidak langsung oleh senior/tidak ingin terasing di kehidupan sosialnya di kampus.