"Kau istriku, Laura!"
Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.
"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.
Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.
Update setiap hari kecuali minggu.
Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Seminggu berlalu begitu cepat sejak kejadian aksi nekat bunuh diri Intan yang berhasil di gagalkan Sabiel dengan penyerahan dirinya sebagai seorang suami.
Hari-hari selama Intan berada di Indonesia sungguh menjadi siksaan yang berat bagi Sabiel. Sejak Sabiel mengutarakan kembali keinginannya untuk bercerai itu, Intan seperti benar-benar mengurung Sabiel untuk tetap bersama dengannya. Wanita itu mengikuti kemana Sabiel pergi, bahkan ketika Sabiel hendak pergi mengajar pun, Intan yang masih didera rasa terancam akan ditinggalkan Sabiel memaksa suaminya itu untuk mengajaknya ke kampus. Meskipun setiap kali Sabiel mengajar, Intan harus rela berdiam diri di dalam ruangan dosen.
Hal itu tentu saja sangat mengganggu bagi Sabiel. Dengan kehadiran Intan di sampingnya, dia tidak bisa leluasa mendekati Laura. Biasanya, setiap jam perkuliahan selesai Sabiel pasti akan keluar paling akhir dari kelas, dia akan menunggu Laura membereskan perlengkapan kuliahnya atau malah menemani Laura ketika Laura terlihat masih akan berlama-lama di dalam kelas sambil membuka laptopnya. Kini, kehadiran Intan mengubah kebiasaan berduaannya dengan Laura. Begitu perkuliahan selesai, Sabiel harus segera kembali ke ruang dosen menghampiri Intan dan segera kembali ke rumahnya bersama istrinya itu.
Satu-satunya cara agar ia tetap merasa dekat dengan Intan, adalah ketika ia membuka sesi tanya jawab dan melakukan beberapa diskusi singkat dengan gadis itu di dalam kelas. Itupun hanya dalam konten perkuliahan, tidak lebih.
Laura yang sudah biasa dengan kehadiran Sabiel di dekatnya, menyadari ada sesuatu yang tak biasa dari sikap Sabiel hingga ia pernah memaksakan diri untuk menghampiri Sabiel di akhir sesi perkuliahan. Dan dengan terpaksa, Sabiel memberitahu Laura akan kehadiran Intan yang menunggunya di ruang dosen. Laura terlihat memaklumi kondisi Sabiel. Dia tidak lagi bertanya ketika Sabiel segera keluar tergesa begitu selesai sesi mengajar.
Kini seminggu telah berlalu, Intan telah kembali ke Singapura setelah membuat Sabiel terpaksa berjanji berkali-kali untuk tidak mengeluarkan ucapan mengenai perceraian.
"Jika sekali lagi aku dengar kau ingin bercerai dariku, aku pastikan kau akan mendengar berita kematianmu di Singapura sebagai berita utama di Indonesia." ancam Intan beberapa saat sebelum ia terbang menuju Singapura.
Sabiel menggelengkan kepala ketika ucapan Intan itu terngiang di benaknya.
Saat ini ia sedang berada di kampus. Ia tampak serius berpikir di meja ruang dosen, tangannya terjalin menopang dagu dengan sorot mata yang tajam. Dia melihat laman blog terbaru laura yang berisi foto sebuah apel merah yang tergigit di satu sisinya dengan caption kata-kata romantis mengenai sebuah pertemuan.
"Saat aku datang nanti. Cukup dekap saja tubuh ini. Lupakan tanya mengapa. Karna aku sudah kehilangan kata. Jika dialog kita mengenai rasa." Sabiel bergumam dalam hati.
Sepertinya seminggu terakhir ini ketika dirinya sibuk dengan Intan. Laura dan lelaki itu terlihat semakin dekat. Hal itu Sabiel yakini karena melihat Laura dan Bimasakti saling berbalas komentar dengan nada seolah mereka sudah berteman sejak lama. Bimasakti bahkan mengatakan dalam komentarnya bahwa ia akan menemui Laura ketika urusannya sudah selesai.
Menemui Laura?
Sabiel mengepalkan tangannya di atas meja. Dia tidak terima jika mereka bertemu kembali.
Sepertinya saat ini Sabiel semakin dikejar oleh waktu, dia tidak ingin terlambat untuk mendapatkan Laura. Dia tidak bisa membiarkan Laura semakin dekat dan malah menjadi milik lelaki lain.
Tok tok tok.
Pintu ruangan Sabiel diketuk dari luar. Tak berapa lama pintu itu terbuka oleh seorang wanita berhijab yang kemudian masuk menghampiri Sabiel ketika ia melihat isyarat dari Sabiel untuk menghampirinya.
"Rapat persiapan besok untuk jelajah alam sebentar lagi dimulai, bapak diminta untuk segera ke ruang rapat." ucapnya sopan.
Sabiel mengangguk.
"Terima kasih, saya akan segera kesana." sahut Sabiel.
"Baik pak." ucap wanita berhijab yang sudah lama bekerja menjadi salah satu staff di gedung dekanat itu.
Sabiel tersenyum misterius tepat pada saat pintu kembali tertutup dari luar oleh staff tersebut. Dia tahu kapan waktunya harus mengatakan kebenaran mengenai perasaannya itu pada Laura.
🍁🍁🍁
"Tak perlu kau paksakan untuk datang jika memang tak bisa." ucap Laura pada Bimasakti diseberang sana.
Hubungan Laura dan Bimasakti semakin dekat dari hari ke hari. Mereka sering saling menghubungi satu sama lain dan berbagi cerita mengenai banyak hal.
Dari Bimasakti, Laura jadi tahu seburuk apa para kapitalis yang berdiri kokoh di bumi Indonesia, menghancurkan rakyat Indonesia dengan menjadikannya buruh-buruh murah. Dari Bimasakti pula, Laura kini tahu bahwa kondisi penjajahan zaman dulu masih terasa hingga saat ini. Hanya saja dengan metode yang modern. Lahan-lahan petani banyak yang dipaksa untuk dijual agar kemudian bisa dijadikan industri besar yang hanya membawa keuntungan bagi pemiliknya. Sedangkan petani, ironisnya mesti menyewa lahan hanya untuk kembali bercocok tanam.
Bimasakti menceritakan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh Laura. Laura senang, cerita-cerita Bimasakti bisa menambah wawasan bagi dirinya. Bahwa gemerlap dunia yang modern ternyata berbanding lurus dengan kebobrokkan yang tersembunyi di dalamnya.
Orang-orang mungkin tidak pernah terpikir, bahwa dibalik kemewahan sepatu terkenal ada keringat buruh yang dipaksa bekerja lembur setiap hari didalamnya.
Orang-orang juga tidak akan pernah peduli, bahwa sebutir nasi yang mereka makan setiap hari adalah hasil dari permainan curang tengkulak yang terus memberi harga murah pada hasil pertanian.
Oh Laura, dunia tak semanis yang nampak di matamu, Dia menyimpan kepahitan-kepahitan yang amat getir jika saja kau mau lebih jauh melihat ke bagian terdalam sebuah kehidupan.
"Ya. Aku harus segera ke Prabumulih Laura. Disana akan diadakan kongres buruh." ucap Bimasakti penuh sesal.
Rencananya, minggu ini ia dan Laura akan berjanji untuk bertemu. Bimasakti akan menemui Laura di Bandung setelah pengajuan berkas kasus buruh yang beberapa saat lalu sedang ditangani olehnya berhasil masuk ke kejaksaan, selesai.
Namun sayang, sepertinya takdir belum menghendaki mereka untuk bertemu. Karena beberapa saat lalu, Bimasakti mendapat undangan untuk datang ke Prabumulih bersama pimpinan buruh dan beberapa anggota lainnya. Disana akan diadakan kongres tahunan yang tidak bisa Bimasakti lewatkan.
"Ya sudah tak mengapa, lain kali kita bisa membuat janji bertemu lagi." suara Laura terdengar kecewa dengan kenyataan bahwa Bimasakti harus pergi tanpa sempat bertemu dengannya.
"Kau pasti kecewa. Maafkan aku.." ujar Bimasakti lirih.
"Sudahlah, kau malah membuatku bertambah kecewa." Laura mencoba menetralkan suaranya kembali. "Apa yang kau lakukan saat ini?" sambungnya.
"Aku sedang menyiapkan beberapa berkas yang akan aku bawa ke kongres." jawab Bimasakti.
"Disana kau akan tidur dimana?" tanya Laura
"Mungkin di penginapan, bersama anggota yang lain." jawab Bimasakti santai.
"Bersama anggota wanita juga?" tanya Laura penasaran.
Bimasakti menyeringai jahil ketika mendapat pertanyaan itu. Ada perasaan senang ketika mendengar pertanyaan Laura yang terkesan ingin mencari tahu detail mengenai ia di Prabumulih nanti. Laura terdengar seperti seorang wanita yang sedang mengawasi kekasihnya. Ada nada cemburu yang berselimbut dalam pertanyaannya.
"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Sabiel jahil. "Kau cemburu jika aku satu penginapan dengan wanita lain?" ucap Sabiel telak membuat Laura gelagapan di seberang sana.
"Aku? Cemburu?!" Laura gugup. "Kau terlalu percaya diri bung!" ucap Laura berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Diseberang sana terdengar Bimasakti tertawa puas mendengar ucapan Laura. Laura mendengus sebal karna Bimasakti berhasil membuatnya malu.
"Sudahlah, lebih baik kau segera bersiap-siap." ucap Laura kesal. "Aku harus kembali ke asrama."
"Hey, aku hanya bercanda Laura." ujar Bimasakti mengakhiri tawanya. "Di penginapan, anggota wanita dan lelaki di pisah. Tenang saja, disana tidak ada wanita yang menarik bagiku." Bimasakti menyeringai jahil. Tanpa ia ketahui, saat itu Laura tersenyum cerah mendengar ucapannya.
Mereka berdua masih belum terikat hubungan sampai saat itu, namun sikap keduanya seolah menunjukkan ketertarikan satu sama lain yang tidak mereka tutup-tutupi. Bimasakti tak menampik bahwa kehadiran Laura, membuatnya nyaman dan seolah selalu merasa bersemangat setiap waktu.
Jelas dia menyadari perasaan lebih dari sekedar suka itu hadir di hatinya sejak pertemuan mereka pertama, atau justru jauh sebelum mereka bertemu, Bimasakti memang sudah memiliki ketertarikan pada Laura. Itulah alasannya mengapa ia ingin sekali bertemu dengan gadis itu setiap kali ia membaca tulisan dalam blog pribadi Laura.
"Baiklah, aku rasa sudah cukup kita berbicara. Aku harus kembali menyiapkan semua keperluanku untuk disana." Bimasakti hendak mengakhiri panggilannya dengan Laura.
"Ok. Aku juga akan kembali ke asrama."
"Laura, aku pasti akan merindukanmu." ucap Bimasakti terus terang.
"Ya. Aku pun begitu." ucap Laura tersipu malu. "Kosongkan jadwalmu setelah kongres itu, atau kau akan melihat aku murka, Bimasakti!" Laura mengancam Bimasakti. Lelaki diseberang sana terkekeh mendengar ancaman penuh tuntutan dari Laura.
"Kita lihat saja nanti! bye Laura" Bimasakti dengan pongahnya membuat Laura kesal dengan ucapannya, lebih kesal lagi ketika Laura mendengar tanda panggilan sudah dimatikan sepihak oleh lelaki itu.
"Aaaarrrkkhh! dasar kau menyebalkan!" umpat Laura kesal sambil menghentakkan kakinya untuk segera melangkah kembali menuju asramanya.
🍁🍁🍁
Setelah makan malam, Laura dan Gisel pergi menuju supermarket terdekat dengan kampus mereka. Besok, Laura bersama teman seangkatannya akan memulai kegiatan jelajah alam selama tiga hari dua malam di Lembang. Saat ini dengan ditemani Gisel,
Laura hendak membeli beberapa barang untuk ia bawa.
"Bagaimana kabar dosen yang mendekatimu itu, Laura?" tanya Gisel melirik Laura yang berjalan bersisian dengannya.
"Siapa?" tanya Laura heran.
"Ishh.. Sabiel." ujar Gisel gemas.
"Gisel, dia tidak sedang mendekatiku. Hentikan pikiranmu itu." Laura jengah dengan pikiran Gisel yang selalu saja mengatakan bahwa Sabiel mendekatinya.
"Kau tidak peka Laura, jelas-jelas dia memiliki perasaan khusus kepadamu." ucap Gisel santai. "Aku yakin, beberapa saat lagi dia pasti mengungkapkan perasaannya padamu." sambungnya.
"Kau gila. Dia sudah beristri, mana mungkin memiliki perasaan lain kepada wanita selain istrinya." Laura menggelengkan kepala tak percaya dengan ucapan Gisel.
"Laura, kau pikir lelaki beristri tidak akan mungkin memiliki perasaan pada wanita lain?!" tanya Gisel mendelik. "Jangan berbohong, kau lebih tahu mengenai hal itu bukan?!" Gisel tersenyum ketika melihat raut wajah Laura tampak memikirkan ucapan Gisel.
Meskipun Laura mengakui ucapan Gisel ada benarnya, namun tetap saja ia tidak ingin percaya bahwa Sabiel memiliki perasaan padanya. Laura tidak akan mungkin senang mendengar Sabiel mengungkapkan perasaannya di saat Laura mengetahui bahwa ada wanita yang lebih pantas untuk mendapatkan perasaan Sabiel, yaitu Intan. Istri dosen muda itu sendiri.
Ditengah suasana ramai jalanan, Laura mencoba berpikir ulang atas semua sikap Sabiel selama ini kepadanya. Kedekatan mereka, obrolan mereka saat bersama. Sampai pada saat benaknya mengingat kembali beberapa moment dimana Sabiel terasa sangat tertutup padanya ketika Laura menanyakan kehidupan rumah tangganya dengan Intan.
"Sepertinya aku memang harus menjaga jarak dengan dosen itu." Laura menyimpulkan keputusan yang harus ia lakukan, setelah berpikir cukup lama.
Gisel tersenyum mendengarnya. Dia menggenggam tangan Laura erat, sambil menatap Laura memberi dukungan untuk keputusan baik yang Laura ambil.
"Mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?!" ucapnya riang, sambil menarik Laura untuk masuk ke dalam supermarket yang sudah ada dihadapan mereka.
🍁🍁🍁
...Terima kasih sudah membaca kisah ini. ...
...Semoga tetap menarik dan suka ya, para kesayangan... 😍😍...
...Sebentar lagi bab konflik akan dimulai, doakan Author biar lancar otaknya bikin adegan konflik 😉😉...
...Jangan lupa sirami cerita ini dengan Like, Koment dan Vote kalian, Oke?! ...
...Salam sayang semuanya.. 😘😘...