Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Resign
"Aku yang akan mencarikan kerja untukmu, Luna! Tenang saja, aku bertanggung jawab untuk itu! Kita sesama perempuan memang harus memperjuangkan hidup kita, aku pasti membantu orang yang sudah membantuku, tenang saja!" Perkataan Dita menampar keras pada Edric.
Pria itu merasa jika dirinya sudah menjadi laki-laki yang jahat, karena sebenarnya keluarga Edric lah yang menyebabkan Dita melakukan semua ini. Tidak ada cara lain baginya, selain menerima usulan Dita yang terlihat konyol.
"Terima kasih, Nyonya Dita." Luna membungkukkan badannya. "Kalau begitu, apa sekarang saya sudah boleh pergi?" tanya Luna.
Edric tersenyum miring mendengar Luna berterimakasih. 'Sebenarnya dia itu lugu atau bodoh?' umpat Edric dalam hati.
"Iya, tapi kau harus memindahkan barang-barangmu malam ini, dan pamit untuk resign sekarang juga! Untuk cuti kuliah, bisa dilakukan ketika kandunganmu membesar, itu biar Edric yang urus." Dita menjawab sembari menyesap teh hijau dengan aroma mint favoritnya.
"Baiklah," balas Luna yang menjadi ragu karena harus pindah sekarang juga.
"Edric kamu antar dia, ya, sayang! Aku ada urusan malam ini, mungkin tidak akan pulang!" pamit Dita pada Edric.
"Kau akan tidur di mana?" Edric mencekal tangan Dita yang hendak pergi.
"Aku tidur di kantor, kok! Jangan khawatir!" jawab Dita sambil mengusap pipi Edric.
"Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Edric seakan tak rela, akhir-akhir ini ia banyak mencurigai istrinya.
"Kenapa kamu jadi khawatir seperti ini? Sudahlah, jauhkan pikiran burukmu tentangku!" Dita melepas tangannya dari genggaman Edric. "Aku sedang ada proyek bisnis, semua karyawan juga banyak yang menginap malam ini. Kau tidak perlu khawatir!" Dita pun melangkah pergi dari private room tersebut, menyisakan Luna dan Edric berdua saja.
"Ya sudah, ayo! Kita juga pergi!" Edric pun berjalan mendahului Luna.
Sesampainya di depan rumah Luna yang sangat sepi, Luna pun langsung mengambil kunci yang ada di balik meteran listrik. Ibu dan bapaknya sedang di rumah sakit, sementara Luna anak tunggal yang juga sering tidur menemani ibunya di rumah sakit, sehingga tidak ada siapapun yang menunggu di rumah Luna.
Gadis itu masuk ke rumahnya yang sederhana, dia mulai menyalakan lampu teras dan ruang tamu. Sementara Edric masih menunggu di mobilnya.
Tak lama kemudian, Luna muncul kembali ke luar rumah sambil menenteng sebuah tas jinjing yang tidak terlalu besar. Tidak lupa ia menutup kembali pintu rumahnya dan menguncinya, kemudian kunci itu ia simpan lagi di tempatnya semula.
Edric membuka kaca jendela mobilnya setelah melihat Luna keluar daru rumah sambil menjinjing tas.
Luna membuka pintu mobil dan segera masuk.
"Bawaan kamu cuma segitu?" tanya Edric.
"Iya, Pak! Sebagian ada di rumah sakit. Kan saya sudah agak lama di sana, jadi buku-buku pada numpuk di kamar bapak."
Edric menggelengkan kepalanya. "Jangan sampai rumah kamu pindah ke rumah sakit!"
"Ya, nggak bakal, Pak!" Luna tersenyum, dia merasa agak aneh melihat Edric mengeluarkan perkataannya yang terdengar seperti sedang bercanda.
Luna dan Edric segera beranjak dari tempat tersebut, beruntung hari sudah malam, sehingga tidak ada tetangga yang mengamati mereka.
Luna bolak-balik melihat ke arah jam tangannya. "Pak, bisa mampir ke kafe tempat saya kerja, nggak?"
"Ada apa?"
"Ini sudah jam sepuluh, saya tadi cuma izin telat datang kerja. Tapi malah saya benar-benar tidak datang." Luna memasang raut muka bersalah.
"Lebih baik kau langsung ajukan pengunduran diri saja hari ini, aku antar kamu ke sana!"
Mata Luna membelalak, ia belum mempersiapkan apa-apa. "Aku harus resign hari ini juga, Pak?"