NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 survei venue

Pagi itu, Ibusya Flower Studio buka sedikit lebih singkat dari biasanya.

Sejak semalam, Sarah sudah mengumumkan melalui media sosial toko, bahwa pagi itu mereka akan melakukan survei venue untuk salah satu proyek dekorasi pernikahan.

Wulan keluar dari ruang penyimpanan sambil membawa kamera toko. "Kak, kameranya udah."

Sarah yang sedang mengecek referensi dekorasi di tablet langsung mengangguk. "Baterainya?"

"Penuh."

"Bagus." Sarah kembali memastikan map berisi sketsa dekorasi, daftar kebutuhan bunga, dan beberapa catatan penting.

Kalau semua sudah lengkap, ia berjalan menuju pintu depan toko.

Papan bertuliskan buka dibalik menjadi tutup sementara.

Di bawahnya terdapat tulisan kecil.

Sedang survei venue buka

Kembali pukul 13.00 wib.

"Oke."Sarah mengunci pintu toko."Berangkat yuk."

" ayoo"

Sekitar tiga puluh menit kemudian

Mobil Sarah memasuki halaman sebuah venue pernikahan yang cukup luas.

Bangunannya didominasi warna putih dengan sentuhan kaca di hampir setiap sisi.

Di bagian depan terdapat taman hijau yang terawat rapi, sementara di samping ballroom berjajar beberapa pohon yang membuat suasana terasa teduh.

Wulan menoleh ke segala arah.

" oemjii Bagus banget."

Sarah ikut melihat sekeliling. "Tempatnya memang enak. Makanya Nara sama Rafi langsung jatuh hati waktu pertama survei."

Baru saja mereka turun dari mobil, suara ceria langsung menyambut.

"Kak Sarah!"

Nara melambaikan tangan dari depan pintu ballroom Disampingnya, Rafi hanya tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Halo!" sapa Nara begitu mereka mendekat.

"Halo juga," balas Sarah sambil tersenyum. "Maaf ya, tadi sempat kena lampu merah."

"Nggak apa-apa kok. Kita juga baru sampai."

Nara kemudian menoleh ke arah Wulan. "Hai, Wulan."

"Halo, Kak "

"Gimana? Sehat?"

"Alhamdulillah."

Nara mengangguk puas."Bagus."

Rafi menatap Wulan sambil tersenyum ramah."Apa kabar?"

"Baik, Kak."

Beberapa menit mereka berbincang ringan, Sampai suara mesin mobil terdengar memasuki area parkir.

Nara langsung menoleh.

"Nah, akhirnya datang juga."

Sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter dari mereka, Tak lama kemudian, Saka keluar dari balik pintu pengemudi.

Ia mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung sampai siku, dipadukan celana panjang hitam yang sederhana namun tetap rapi.

Ia menghampiri mereka dengan langkah santai."Pagi semuanya"

"Pagi, Bang."

"Pagi, Kak."

lalu saka menoleh ke arah Wulan.

"Pagi."

"Pagi, Kak."

Hanya itu, Tak ada percakapan lain Namun berbeda dari biasanya, suasana di antara mereka sudah tidak terasa canggung.

"baik karna semuanya udah lengkap, kita langsung lihat area luar dulu ya." ujar sarah

"Siap."

Mereka mulai berjalan menuju taman venue, Sarah dan pihak pengelola venue berada paling depan sambil membahas alur acara.

Nara langsung sibuk bertanya ini-itu mengenai lokasi akad, Rafi sesekali menimpali.

Tanpa disadari, Wulan dan Saka berjalan berdampingan beberapa langkah di belakang mereka.

Suasana sempat hening, Wulan sesekali melihat taman di sekeliling sambil memperhatikan jenis bunga yang mungkin cocok digunakan nanti.

Sampai akhirnya Saka membuka percakapan lebih dulu."Di toko,"

Wulan menoleh."Iya, Kak?"

"kamu pulangnya sore terus?"

Wulan mengangguk kecil.

"Iya jam tutupnya sore."

"Kirain kemarin aja."

Wulan tertawa pelan. "Hehe... enggak, Kalau lagi banyak pesanan malah bisa lebih malam."

Saka mengangguk pelan."Berarti lumayan sibuk."

"Iya."

"Tapi aku udah biasa."

Beberapa detik mereka kembali berjalan dalam diam.

Lalu Saka kembali bertanya."Betah kerja di Ibusya?"

Wulan langsung mengangguk tanpa ragu."Betah banget."

"Cepet jawabnya."

Wulan terkekeh."Soalnya emang betah, Kak Sarahnya baik, Kerjanya juga seru apa lagi setiap hari lihat bunga yang beda-beda."

Saka tersenyum tipis."Kelihatan."

"Hah?"

"Kamu cerita soal toko sambil senyum."

Wulan refleks menyentuh pipinya sendiri."Masa?"

"Iya."

Wulan jadi ikut tertawa kecil."Nggak sadar."

"kan aku jadi nyaman siwi helpp meee" batin wulan sambil menatap saka.

Beberapa langkah mereka kembali diisi keheningan Kali ini justru Wulan yang memberanikan diri membuka percakapan"Kak..."

"yaa?"

"Boleh nanya sesuatu?"

Saka menoleh sebentar. "Boleh."

Wulan tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, "Kakak emang dari dulu pendiem, ya?"

Saka mengembuskan napas kecil, seolah sedang berpikir."Kayaknya."

Wulan terkekeh. " tuhkan Jawabannya singkat banget."

Sudut bibir Saka terangkat tipis. "Kan emang pendiem."

Wulan ikut tertawa pelan."Pantes."

"Pantes apa?"

" soalnya pas awal aku kira Kak Saka galak."

Saka menoleh lagi." Kalo Sekarang?"

Wulan tersenyum kecil sambil menggeleng."Enggak kok."

Percakapan itu kembali terhenti, Namun kali ini bukan karena canggung Melainkan karena keduanya sama-sama menikmati suasana pagi yang tenang.

Di depan, Nara yang tanpa sengaja menoleh ke belakang langsung menyenggol pelan lengan Rafi.

"yang"

"Hm?"

"Lihat deh." Rafi mengikuti arah pandangan Nara.

Dilihatnya Saka dan Wulan sedang berjalan berdampingan sambil mengobrol santai.

Rafi tersenyum kecil."Udah mulai banyak ngobrol."

"Iya kan?"Nara ikut menyeringai puas. "Progress."

Tanpa mereka sadari Jarak yang dulu terasa begitu jauh, perlahan mulai memendek dengan sendirinya.

Begitu memasuki ballroom, seorang staf venue langsung menyambut mereka. "Selamat pagi, Kak Sarah."

"Pagi."

Sarah tersenyum ramah lalu mulai memperkenalkan semuanya."Ini calon pengantinnya, Nara dan Rafi."

Staf itu mengangguk sambil menyalami keduanya.

"Selamat ya."

"Terima kasih."

Sarah kembali membuka tablet. "Oke, mungkin kita mulai dari area akad dulu."

Mereka berjalan menuju sisi ballroom yang akan dijadikan tempat akad.

Area itu cukup luas dengan latar belakang jendela kaca tinggi yang langsung menghadap taman.

Cahaya matahari masuk dengan lembut, membuat ruangan terlihat hangat.

Wulan mengangkat kameranya.

Klik.

Klik.

Klik.

Beberapa sudut langsung ia abadikan.

Sarah memperhatikan sekeliling sambil sesekali mencatat sesuatu.

"Kalau backdrop di sini masih cukup luas."

Nara ikut melihat ke arah depan.

"Aku maunya jangan terlalu penuh simple aja yang penting tetap elegan"

Rafi mengangguk setuju.

Sarah tersenyum."Berarti konsep awal kita masih cocok."

Wulan masih sibuk memotret beberapa sisi ruangan Tanpa sadar ia melangkah mundur untuk mengambil sudut yang lebih lebar.

"Hati-hati."Suara Saka membuatnya refleks berhenti.

Wulan menoleh, Baru saat itu ia sadar tumitnya hampir menginjak satu anak tangga kecil yang membatasi area panggung.

Untung saja ia sudah berhenti lebih dulu. "Hampir aja."

Wulan mengembuskan napas lega.

"Hehe... makasih, Kak."

Saka hanya mengangguk pelan.

" kamu Fokus motret jadi ngga liat dideket kamu."

Wulan tersenyum malu.

"Iya hehe"

Nara yang melihat dari kejauhan langsung menahan senyum.

Rafi pelan-pelan menyenggol lengannya."Jangan."

"Aku nggak ngapa-ngapain."

"Ekspresi muka kamu udah ketahuan."

Nara langsung terkekeh pelanSetelah area akad selesai diperiksa, mereka berpindah ke ballroom utama.

Sarah mulai menjelaskan beberapa kemungkinan penempatan dekorasi.

"Kalau meja tamu di sini..."

"Photobooth bisa kita geser sedikit ke sebelah sana."

Rafi memperhatikan denah yang ditunjukkan Sarah. "Kalau panggung hiburannya?"

"Di sisi kanan."

"Supaya jalur tamu nggak numpuk."

"Oke."

Sementara Sarah, Nara, dan Rafi masih berdiskusi, Wulan berjalan mengelilingi ballroom sambil mengambil beberapa foto tambahan.

Ia berhenti di dekat salah satu pilar besar. "Hmm..."

Kalau bagian ini dikasih rangkaian bunga gantung, Kayaknya bagus.

"Kepikiran apa?"

Wulan menoleh,Saka sudah berdiri di sampingnya.

" itu Aku lagi ngebayangin kalau pilar ini dikasih bunga."

Saka ikut memperhatikan.

"Lumayan Tapi jangan penuh, nanti nutup ruangan."

Wulan mengangguk.

"Iya yaa"

"Kalau tipis-tipis aja lebih enak." lnajut saka.

"Iya, terus dikasih lampu kecil."

Saka menoleh sebentar. "Kamu suka lampu?"

wulan tersenyum."Suka kalau malam kelihatannya lebih hangat.

saka mengangguk menyetujui wulan.

Entah kenapa, Ngobrol dengan Saka ternyata tidak sesulit yang dulu ia bayangkan.

Memang cowok itu tidak banyak bicara.

Tapi setiap kali berbicara, selalu ada tanggapan yang membuat percakapan terus berjalan.

Dari kejauhan, Sarah menoleh ke arah mereka. "Wulan."

"Iya, Kak?"

"Tolong fotoin area pintu masuk juga ya."

"Siap." Wulan kembali mengangkat kamera, Saka yang sejak tadi berdiri di sampingnya ikut berjalan pelan.

wulan yang menyadari saka ikut dengannya membatin " kenapa sih ngikut in mulu bikin aku tambah denial aja dehh"

"Sebelah sini lebih bagus." Wulan mengikuti arah yang ditunjuk Saka.

"Oh iya..."

"Kalau dari sini kelihatan semua."

"Iya."

Klik.

Klik.

Klik.

Wulan melihat hasil fotonya. "Bagus."

Saka ikut melirik sekilas ke layar kamera."Yang barusan paling bagus."

Wulan menoleh. "Yang ini?"

"Iya."

"Sudutnya pas."

Mendengar pujian sederhana itu, Wulan tanpa sadar tersenyum lebih lebar. "Berarti boleh masuk laporan nanti."

"Boleh."Jawab Saka singkat.

Namun kali ini, senyum tipisnya masih terlihat, Dan entah kenapa Itu sudah cukup membuat pagi Wulan terasa jauh lebih menyenangkan.

"tuh kan senyum lagi bikin aku tambah deg-deg an dehh syebel " batin wulan dramatis

Setelah semua area venue selesai diperiksa, suasana ballroom mulai sedikit lebih tenang.

Sarah masih merapikan beberapa catatan di tablet, memastikan semua hasil survei sudah sesuai dengan kebutuhan dekorasi yang akan mereka buat nanti.

Wulan berdiri di dekat meja kecil sambil memasukkan kameranya ke dalam tas.

Beberapa foto terakhir sudah ia cek ulang, memastikan tidak ada sudut penting yang terlewat.

Di sisi lain ruangan, Saka masih berdiri santai sambil melihat sekeliling ballroom yang perlahan mulai kosong dari aktivitas.

Tidak ada percakapan ramai seperti sebelumnya, Hanya sisa-sisa diskusi yang masih tertinggal di udara.

Wulan menutup tas kameranya, lalu mengangkat pandangannya sedikit.

Tanpa sadar, matanya bertemu dengan Saka yang sedang melihat ke arah yang sama.

Beberapa detik keduanya diam.

Lalu Saka berjalan pelan mendekat. "Nanti..."

Wulan menoleh. "Iya, Kak?"

Saka menunjuk sedikit ke arah kamera di tangan Wulan."Hasil foto pintu masuk, kirim kesaya juga."

Wulan mengangguk kecil. "Oh, iya. Siap, Kak."

Saka mengangguk pelan. "Yang tadi sudut taman juga bagus."

Wulan tersenyum kecil. "Iya, aku juga suka yang itu."

Hening sebentar Tapi kali ini tidak terasa canggung sama sekali, Justru terasa ringan.

Seperti dua orang yang sudah mulai terbiasa berada dalam satu ruang yang sama.

Wulan merapikan kembali tali tas kameranya. "Kalau nanti ada revisi konsep, kabarin aja, yaa Kak."

Saka mengangguk."Iya."

Beberapa detik kemudian, ia menambahkan pelan."Kamu tadi kerja bagus."

Wulan langsung terdiam sebentar, Lalu refleks tersenyum. "Terima kasih, Kak."

Saka mengangguk ringan. "Nggak nyangka kamu teliti juga."

Wulan langsung tertawa kecil. "Eh, itu pujian atau sindiran?"

Saka menoleh sekilas, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Pujian."

Wulan masih tersenyum sambil menggeleng pelan. "Kalau gitu aku terima."

Saka mengalihkan pandangan nya melihat sekitar ballroom sambil tersenyum entah kenapa ia tersenyum melihat wulan.

Suasana kembali hening sebentar, tapi bukan hening yang membuat tidak nyaman Lebih seperti, jeda yang tenang.

Wulan tanpa sadar ikut memperhatikan ballroom yang kini sudah tidak seramai tadi.

Entah kenapa, suasana pagi itu terasa berbeda dari biasanya.

Lebih ringan, Lebih hangat,

Dan anehnya, lebih sulit dilupakan.

Sarah kemudian memanggil dari arah pintu. "Wulan, kita siap pulang."

Wulan langsung menoleh. "Iya, Kak."

Ia kembali merapikan tasnya Sebelum benar-benar melangkah pergi, Wulan sempat menoleh sekali lagi.

Saka masih berdiri di tempatnya Dan saat itu, Saka juga sedang melihat ke arahnya.

Tidak ada kata tambahan, Hanya anggukan kecil dari Saka.

Wulan membalas dengan senyum tipis, lalu berbalik pergi.

Langkahnya mengikuti Sarah menuju mobil, Namun bahkan setelah pintu mobil tertutup…

Pikiran Wulan masih tertinggal di ballroom tadi.

“ tuh orang kok beda yah maksud gue kaya, kenapa ngikut gue mulu, biasanya juga ya sekedar aja gitu, apa jangan-jangan? ahh tapii masa sihh? tapi kalo iya punn...”

Dan tanpa ia sadari, sudut bibirnya kembali terangkat perlahan tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!