NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Pagi hari penutupan turnamen, lapangan utama Arena Jiuyang dipenuhi kembali oleh ratusan orang. Tidak ada lagi ketegangan pertarungan, hanya suasana haru dan rasa puas setelah semua perjuangan selesai.

Di atas panggung kehormatan, tetua dari Sekte Pelangi Langit membacakan hasil akhir secara resmi. Nama-nama sekte yang naik peringkat disebutkan satu per satu, membuat setiap perwakilan merasa bangga jika nama sektenya tercatat, atau tertekan jika harus turun tingkat.

“Dan untuk peringkat keseluruhan peserta individu,” lanjut tetua itu dengan suara lantang, “tempat kedua jatuh kepada Su Qingxue dari Sekte Taixuan!”

Suasana bersorak. Banyak yang memuji ketangguhan murid wanita itu yang mampu bertahan hingga akhir meskipun perbedaan tingkat kekuatan yang cukup jauh melawan juara pertama.

Su Qingxue melangkah naik dengan sikap anggun dan tenang. Ketua panitia menyerahkan sebuah kotak perhiasan dari kayu cendana yang harumnya tercium hingga beberapa langkah jauh.

“Ini adalah hadiah resmi untuk peringkat kedua,” ujar tetua itu sambil membuka penutupnya. Di dalamnya terlihat tiga butir pil obat yang berwarna keemasan dengan garis-garis cahaya halus berputar di permukaannya. “Pil Pemurnian Inti. Khusus diciptakan untuk menstabilkan energi di puncak ranah Inti Emas, membersihkan kotoran energi yang tersisa, serta memperhalus aliran Qi sehingga saat saatnya tiba, proses penerobosan ke ranah Jiwa Lahir akan jauh lebih lancar dan aman.”

Su Qingxue menerima hadiah itu dengan rasa hormat. “Saya terima dengan baik, atas nama diri saya dan Sekte Taixuan.”

Perjalanan pulang berlangsung selama tiga hari penuh.

Berbeda dengan keberangkatan yang dihiasi rasa waspada dan perhitungan matang, perjalanan kali ini terasa seperti menarik napas panjang setelah berlari jauh. Bukan karena jalannya lebih aman atau bebas dari gangguan, melainkan karena tubuh dan pikiran yang telah melewati begitu banyak peristiwa dalam waktu singkat akhirnya mengizinkan dirinya untuk sekadar melangkah, tanpa harus terus-menerus mengawasi setiap bayangan yang lewat.

Di barisan belakang, Lin Chen berjalan sambil mendorong gerobak perbekalan yang kini terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat meninggalkan sekte. Sebagian barang sudah habis digunakan selama di Kota Jiuyang, dan sisanya hanya berisi kebutuhan sehari-hari serta barang bawaan masing-masing murid.

Srak... srak...

Suara gesekan roda di atas bebatuan jalan itu menjadi irama latar yang sangat akrab baginya, seolah mengiringi setiap langkah yang membawanya kembali ke tempat yang selama tujuh bulan terakhir menjadi rumahnya.

 

Hari pertama perjalanan berlalu dalam keheningan yang justru terasa nyaman.

Tidak ada yang memaksa untuk mengobrol sekadar menghilangkan rasa bosan. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, memproses apa yang telah mereka lihat dan rasakan selama di arena pertarungan. Fang Rui dan Zhou Bin berjalan berdampingan dengan jarak yang lebih dekat dari biasanya—bukan lagi seperti dua teman yang sekadar satu kelompok, melainkan dua orang yang telah melewati ujian berat bersama, sehingga tidak perlu banyak bicara untuk saling mengerti.

Luo Mei, yang biasanya sibuk mencatat segala hal dalam buku catatannya atau mengamati lingkungan dengan tatapan tajam, kali ini hanya berjalan santai sambil menatap pemandangan lembah dan pepohonan yang hijau di sepanjang jalan. Untuk pertama kalinya sejak keberangkatan, ia terlihat tidak memiliki agenda khusus, hanya menikmati suasana alam yang tenang.

Di sisi lain, Wei Peng melangkah dengan kedua tangannya bebas tergantung di sisi tubuhnya. Tatapannya tetap lurus ke depan, namun sesekali matanya melirik sekilas ke arah belakang tempat Lin Chen berada. Sesuatu telah berubah dalam pandangannya terhadap pemuda yang selama ini hanya dikenal sebagai pelayan biasa itu.

Sedangkan Chen Hao memilih posisi yang cukup unik. Ia tidak berjalan tepat di samping Lin Chen, tapi juga tidak terlalu jauh di depan atau di belakang. Ia selalu berada dalam jarak pandang yang jelas, seolah secara tidak sadar ingin tetap mengawasi, namun tanpa membuat kehadirannya terasa mengganggu.

Su Qingxue berjalan di posisi paling depan seperti kebiasaannya, menjadi penanda arah bagi seluruh rombongan. Namun, saat mereka sampai di sebuah tikungan jalan yang menyempit dan menuruni lembah kedua, langkahnya perlahan melambat—sangat halus, hampir tidak terlihat oleh orang biasa.

Perlahan tapi pasti, jarak antara dia dan Lin Chen yang mendorong gerobak menyempit, hingga keduanya berjalan berdampingan selama tujuh hingga delapan langkah. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap, tidak ada tatapan yang dipertukarkan secara langsung. Hanya kehadiran satu sama lain yang terasa cukup, sebelum jalan kembali melebar dan posisi mereka pun kembali seperti semula.

Sesuatu telah berubah di antara mereka, namun belum saatnya diucapkan dengan kata-kata.

 

Hari kedua perjalanan terasa lebih santai lagi. Saat matahari berada tepat di atas kepala, rombongan berhenti di tepi jalan yang teduh untuk beristirahat dan menyantap bekal makan siang. Angin yang bertiup dari arah pegunungan membawa udara segar yang menenangkan tubuh yang lelah melangkah.

Di tengah kerumunan, Chen Hao dengan sengaja memilih tempat duduk yang persis berada di samping Lin Chen. Bukan karena tidak ada tempat lain yang kosong, melainkan keputusan yang diambil secara sadar. Ia duduk bersila, meletakkan tasnya di sebelah kaki, lalu mulai membuka bungkusan makanan.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya terdengar suara sendok dan mangkuk yang beradu lembut. Sampai akhirnya Chen Hao meletakkan mangkuknya perlahan, lalu menatap lurus ke jalan yang masih terentang panjang di depan mereka.

“Di ngarai sempit itu, saat kita baru keluar dari Kota Jiuyang kemarin pagi...” suaranya terdengar pelan, tidak ditujukan ke siapa pun secara khusus, namun cukup jelas didengar oleh Lin Chen yang duduk di sampingnya. “Gagang gerobak itu hampir lepas dari genggamanmu. Kalau saja tidak cepat ditahan, isinya pasti berantakan ke tanah.”

Lin Chen terus menyendok supnya dengan tenang, seolah sedang mendengar hal yang sangat sepele.

“Refleks orang yang sedang panik memang sering kali bertindak di luar perhitungan,” jawabnya dengan nada biasa, tanpa ada nada terkejut atau gugup sedikit pun.

Chen Hao terdiam sebentar, seolah mencerna jawaban itu. Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat, meski senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Ya,” ucapnya singkat. “Refleks yang sangat tidak terduga untuk seseorang yang katanya hanya biasa mendorong gerobak.”

Setelah mengucapkan itu, ia kembali mengambil mangkuknya dan melanjutkan makannya seolah tidak ada percakapan sebelumnya.

Di belakang mereka, Wei Peng yang duduk agak menjauh namun tetap dalam jangkauan pendengaran mendengar setiap kata yang terucap. Ia tidak berkomentar apa pun, tidak mengajukan pertanyaan, tidak menatap tajam. Namun, satu kali saja, matanya melirik ke arah Lin Chen dengan pandangan yang tidak lagi mengandung rasa meremehkan seperti dulu—hanya rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh semakin kuat.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!