NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafioso

Tawanan Hasrat Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Petualangan / Mafia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Carolini Rodrigues

Pada malam badai, hidup Beatrice runtuh dalam satu ketukan pintu.

Ayahnya, sang penjudi, terjerat utang enam juta euro kepada Matteo Vitale, mafioso paling ditakuti di Sisilia. Pria dingin yang matanya sebiru langit sebelum badai itu tak menginginkan uang. Ia menginginkan Beatrice.

Untuk menyelamatkan nyawa keluarganya, Beatrice menyerahkan dirinya sebagai "pelayan" di rumah besar Matteo, sebuah benteng penuh pengawal bersenjata. Hari-harinya diatur oleh perintah, tatapan yang menelanjangi, dan kemarahan yang bisa meledak kapan saja. Namun semakin ia melawan, semakin Matteo kehilangan kendali. Dan semakin Matteo mendekat, semakin Beatrice takut pada hal yang paling tidak ia duga: dirinya sendiri.

Di balik pintu-pintu terkunci, ada rahasia yang jika terbongkar bisa menghancurkan segalanya. Di luar tembok, musuh-musuh Matteo sudah mengincar kepala siapa pun yang ia cintai.

Seberapa jauh seorang pria sanggup memiliki? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan sebelum ia berhenti ingin pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolini Rodrigues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Malam sudah larut dan hujan turun deras. Kilat menyambar-nyambar, menerangi langit. Beatrice baru selesai membersihkan bar milik ayahnya, yang entah kenapa menghilang tanpa memberi kabar. Sahabatnya, Ellen, dan Erick, sepupu sekaligus suami Ellen, membantunya sampai semuanya beres.

"Fiuh. Papa ke mana, sih?" gumam Beatrice.

"Aku tidak tahu," jawab Erick. "Ayo cepat. Kuantar kau pulang dulu, baru aku dan Ellen pulang. Di luar itu rasanya dunia mau runtuh."

Mereka mengunci bar, lalu setengah berlari masuk ke mobil. Sepanjang jalan Beatrice tak bisa diam. Jarinya terus memainkan kalung peninggalan ibunya, yang diberikan padanya tepat di ulang tahun kelima belas. Di dalam liontinnya ada foto sang ibu, dan di sisi baliknya terukir tulisan kecil: "Aku akan selalu bersamamu, di mana pun kau berada."

Erick memperhatikannya lewat kaca spion. "Kenapa gelisah begitu? Kalau terus kauputar-putar, lehermu bisa copot bersama kalungnya."

"Ha-ha, lucu sekali." Beatrice mendengus. "Mungkin cuma capek. Mengurus orang-orang mabuk itu menguras tenaga."

"Sebentar lagi kau sudah jauh dari Sisilia," kata Ellen. "Kau bahkan akan lupa pada kami."

"Aku tidak akan mati, aku cuma pindah."

"Katanya orang Prancis itu dingin," kata Erick. "Kau pasti susah cari teman di sana."

"Itu baru kutahu setelah sampai. Lagi pula, aku ke Prancis untuk melukis. Pertemanan itu dibangun pelan-pelan."

"Terserah kau saja."

"Kita sampai," ujar Ellen.

Erick mengerutkan kening. "Tunggu. Kenapa ada mobil di depan rumahmu?"

"Entahlah. Jangan paranoid begitu. Mungkin teman Papa yang mengantarnya pulang setelah semalaman main judi."

"Yakin?"

"Tenang saja. Terima kasih tumpangannya, selamat malam!"

Ellen dan Erick membalas ucapan selamat malam, lalu pergi.

Beatrice mengambil kunci dari tasnya dan membuka pagar. Ia tahu ada yang tidak beres, tetapi tetap melangkah, membuka pintu rumah, dan melihat pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.

Ayahnya terikat, tubuhnya penuh luka. Di sofa duduk ibu tirinya, adik tirinya, dan mantan tunangannya, yang kini menjadi suami adiknya.

"Apa-apaan ini? Lepaskan mereka!"

Beatrice berusaha menghampiri ayahnya, tetapi seorang pria mencengkeramnya dan menahannya.

"Lepaskan aku! Ada apa ini?" Suaranya putus asa. Di depan matanya, pria lain kembali menghantam ayahnya. "Kumohon, jangan pukul dia lagi. Aku mohon!"

"Cukup." Suara berat itu menggema ke seluruh ruangan.

Seorang pria yang sejak tadi menatap keluar jendela berbalik. Pada saat yang sama, kilat membelah langit dan menyinari sosoknya, membuatnya tampak makin mengerikan.

Pria itu bagai dewa Yunani: tinggi, kekar, berkulit pucat, bermata biru seperti langit. Kehadirannya terasa dari jarak berkilo-kilometer. Ia beraroma kekuasaan dan ketampanan.

Beatrice pernah melihatnya di majalah dan koran. Dia Matteo Vitale, mafioso paling ditakuti di seluruh Sisilia. Polisi pun tak berani berhadapan dengannya.

Saat itu Beatrice tahu, semua orang di ruangan ini bisa mati.

"Jadi kau membohongiku?" tanya Matteo.

Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, ayah Beatrice menjawab, "Saya tidak mengerti maksud Anda."

"Kau bilang kau hanya punya satu anak perempuan, Leonardo."

"Memang hanya satu. Dia duduk di sana bersama ibunya."

"Lalu siapa gadis cantik ini?" Matteo mengelus pipi Beatrice.

"Saya tidak tahu, Tuan."

"Kalau begitu, aku boleh berbuat sesukaku padanya?"

"Tuan, lepaskan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini."

"Kenapa kau peduli? Aku yakin aku bisa memperlakukannya dengan sangat baik." Tangan Matteo turun menyusuri tubuh Beatrice.

"Lepaskan dia," ulang Leonardo.

"Berani-beraninya kau mempermainkanku? Kaupikir aku sebodoh itu?"

Hanya dengan satu isyarat, seorang anak buahnya maju dan menghajar Leonardo lagi.

"Tolong, Tuan, jangan sakiti dia!" teriak Beatrice. "Aku putrinya. Dia hanya ingin melindungiku. Lepaskan dia, kumohon!"

"Jangan, Trice!" Leonardo mengerang. (Trice adalah nama panggilan Beatrice.)

"Seharusnya kubunuh kau dan seluruh keluargamu," kata Matteo.

Ia menjauh, memasukkan tangan ke saku, dan berjalan mengitari ruangan. Beberapa detik kemudian, matanya kembali tertuju pada Beatrice.

"Apa yang akan kaulakukan untuk menyelamatkan nyawa ayahmu?"

"Apa pun, Tuan. Asal jangan sakiti dia lagi."

"La mia bellezza," katanya. (Artinya: kecantikanku.) "Ayahmu ini berutang banyak uang padaku. Kurasa dia tidak sanggup membayar."

"Kalau Anda memberi kami sedikit waktu, aku yakin kami bisa mengumpulkannya..."

"Bagaimana caranya kau mengumpulkan enam juta euro? Katakan padaku. Aku jadi penasaran."

"Enam juta?"

Beatrice menatapnya tak percaya, lalu menoleh pada ayahnya.

"Papa, bilang ini tidak benar. Bilang ini cuma salah paham."

"Maafkan Papa, Nak." Leonardo menunduk. Air mata menggenang di matanya.

"Bagaimana Papa bisa membiarkan ini terjadi?"

"Aku juga tidak tahu. Waktu sadar, semuanya sudah terlambat, dan..." Ia terisak.

"Kita akan cari jalan keluar," kata Beatrice.

"Aku penasaran seperti apa jalan keluarnya," sindir Matteo.

"Beri aku beberapa hari saja!"

"Tidak. Kalau kau mau aku tidak membunuh seluruh keluargamu, bayar sekarang."

Dengan satu isyarat lagi, anak buahnya berdiri di belakang setiap anggota keluarga, dan moncong senjata menempel di kepala mereka. Ibu tiri dan adik tirinya menangis histeris. Yang paling menyedihkan adalah mantan tunangannya, yang sampai mengompol di celana.

"Jadi, bagaimana?" tanya Matteo.

"Anda tahu aku tidak punya uang sebanyak itu. Beri kami beberapa hari."

"Tidak. Tapi ada jalan lain."

Matteo menelanjangi Beatrice dengan tatapannya, dari kepala sampai kaki. Beatrice menelan ludah. Ia takut bertanya, tetapi tetap berdiri tegak.

"Jalan lain apa, Tuan?"

"Layani aku. Begitu ayahmu mendapat uangnya, kau kubebaskan."

"Melayani Tuan? Apa maksud Anda? Aku bukan pelacur."

"Kurasa kau bisa melayaniku dengan cara lain."

Matteo tidak berkedip. Beatrice merasa seluruh udara di ruangan itu terisap habis.

"Jangan, Trice. Biarkan mereka membunuhku," kata Leonardo.

"Begitu?" Matteo berucap datar.

Saat itu juga, seorang pria menempelkan pistol di dahi Leonardo.

"Jangan! Jangan, jangan! Aku mau, aku mau! Jangan tembak, kumohon, jangan sakiti dia!" Beatrice menjerit dengan air mata bercucuran.

"Itu yang ingin kudengar. Ambil waktu sebanyak yang kaubutuhkan, Leonardo."

Selesai berkata begitu, Matteo keluar. Salah satu anak buahnya memanggul Beatrice di bahu dan membawanya keluar.

"Putrikuuu! Tidaaak!" jerit Leonardo.

"Aku sayang Papa..." bisik Beatrice.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!