NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Topeng Rendra Terbuka

Rendra mengabaikan pertanyaan Bu Afifah. Seolah-olah keberadaan ibu mertuanya itu tidak cukup penting untuk ditanggapi, dia justru kembali menatap Tantya yang masih memegang dus berisi camilan yang baru saja selesai direkatkannya. Wajah laki-laki itu tampak tegang, sementara sorot matanya menyiratkan kemarahan yang sejak tadi berusaha ditahannya.

"Tya, jawab! Kenapa kamu ke sini tanpa izin, membawa mobil pula? Kamu tahu, kan, mobil itu akan dipakai untuk mengambil snack?” tanyanya dengan nada tinggi. Tak ada sedikit pun keramahan dalam suaranya. Yang terdengar justru seperti tuntutan seorang atasan kepada bawahannya, bukan seorang suami kepada istrinya sendiri.

Tantya terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum menjawab. Bukan karena takut menghadapi kemarahan suaminya, melainkan karena dia sudah terlalu lelah berdebat untuk persoalan yang menurutnya tidak masuk akal.

"Aku nggak mengangkat teleponnya karena sedang asyik packing ini. Ponselku ada di kamar, jadi aku nggak tahu kalau ada yang menelepon,” jawab Tantya, berusaha menjelaskan dengan tenang.

Dia kemudian mengangkat wajahnya, menatap Rendra tanpa gentar. "Terus, kalau masalah pamit dan mobil yang aku pakai, itu kan murni mobilku sendiri. Aku membelinya dengan uangku, bukan uangmu. Jadi, aku nggak perlu meminta izin kepada siapa pun untuk menggunakannya.”

Kalimat terakhir itu diucapkan Tantya dengan tegas. Dia tidak bermaksud mencari keributan, tetapi dia juga tidak ingin terus-menerus diperlakukan seolah-olah dirinya tidak memiliki hak atas sesuatu yang jelas-jelas merupakan miliknya sendiri.

Mendengar jawaban tersebut, wajah Rendra seketika berubah merah. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia sama sekali tidak menyangka Tantya akan menjawab dengan begitu berani, terlebih di hadapan Bu Afifah.

Bagi Rendra, jawaban istrinya itu terdengar seperti sebuah tantangan. Dia merasa harga dirinya sebagai seorang suami sedang diinjak-injak, padahal diri sendirinyalah yang sejak awal berbicara dengan nada penuh tuntutan.

"Jadi, sekarang kamu sudah berani membantah suamimu sendiri?” bentaknya. Suaranya semakin keras, membuat Bu Afifah yang berada di dekat mereka sontak melonjak.

Rendra melangkah mendekat, menatap Tantya dengan sorot mata tajam. "Apa susahnya sih memberi tahu kalau kamu mau pergi? Memangnya kamu nggak bisa menghargai suamimu sendiri? Jangan mentang-mentang mobil itu milikmu, lalu kamu merasa bisa berbuat sesuka hati!”

Tantya mengembuskan napas perlahan. Dia mulai menyadari bahwa apa pun penjelasan yang diberikannya, Rendra sepertinya tidak benar-benar ingin mendengarkan. Laki-laki itu hanya ingin dirinya mengalah, meminta maaf, dan mengakui kesalahan, bahkan ketika dia tidak melakukan sesuatu yang patut disalahkan.

Sementara itu, dus yang sejak tadi dipegang Tantya masih berada dalam genggamannya. Dia melirik pekerjaan yang belum sepenuhnya selesai, lalu kembali menatap suaminya.

Di tengah kesibukannya membantu Tara mengemas camilan untuk dijual, Tantya justru harus menghadapi kemarahan Rendra hanya karena menggunakan mobilnya sendiri. Ironisnya, laki-laki yang seharusnya menjadi tempatnya merasa aman itu malah membuatnya merasa seperti orang asing yang tidak memiliki hak untuk menentukan pilihannya sendiri.

Tantya yang semula masih duduk sambil memegang dus berisi camilan, perlahan meletakkan benda itu di sampingnya. Dia kemudian berdiri, menatap Rendra dengan sorot mata yang berbeda. Kali ini, bukan lagi tatapan seorang istri yang berusaha meredam pertengkaran, melainkan tatapan seseorang yang sudah terlalu lama dibuat kecewa.

"Harusnya aku yang marah, ya, Mas!” serunya tegas.

Rendra tertegun sejenak mendengar perubahan nada suara istrinya. Tantya yang biasanya masih berusaha menjaga ucapannya, kini justru berbicara dengan penuh keberanian.

"Harusnya aku yang marah karena ternyata selama ini kamu sudah menipu keluargaku!” lanjut Tantya. Suaranya bergetar menahan emosi, tetapi dia berusaha tetap menguasai dirinya. “Uang lima puluh juta yang katanya kamu berikan untuk renovasi rumah Ibu, kamu apakan? Ternyata Ibu sama sekali nggak menerima uang itu!”

Bu Afifah yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung terdiam. Sementara itu, Tara yang sejak tadi berada di dekat tumpukan dus camilan, perlahan mengalihkan perhatiannya kepada Rendra. Keduanya tampak terkejut mendengar Tantya mengungkit persoalan uang tersebut secara langsung.

Tantya tidak berhenti sampai di situ. Setelah sekian lama memendam kekecewaan, dia merasa inilah saatnya mengungkapkan semua yang selama ini mengganjal di hatinya.

"Terus, uang lima juta setiap bulan yang selama ini aku kasihkan ke kamu untuk ditransfer ke keluargaku, kamu apakan juga?” Tantya menatap suaminya lekat-lekat. “Ternyata selama ini Ibu cuma menerima satu juta setiap bulan!”

Kalimat itu meluncur tajam, menghantam Rendra tepat di hadapan ibu mertuanya dan adik iparnya sendiri.

Sekejap, suasana menjadi sunyi. Rendra terdiam. Wajahnya yang semula merah karena marah kini menunjukkan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada kemarahan yang masih membara, tetapi terselip pula rasa malu ketika menyadari bahwa persoalan yang selama ini disembunyikannya akhirnya terbongkar.

Dia melirik Bu Afifah sekilas, kemudian mengalihkan pandangan kepada Tara. Kehadiran keduanya membuat Rendra semakin tidak nyaman. Dia tentu tidak ingin keburukannya diketahui oleh keluarga Tantya, terlebih karena selama ini dia berusaha menampilkan diri sebagai menantu yang bertanggung jawab.

Namun, Tantya tidak memberinya kesempatan untuk menghindar. Perempuan itu sudah terlalu lelah menghadapi sikap suaminya yang selalu merasa paling benar, sementara dirinya justru harus menanggung akibat dari kebohongan yang dilakukan laki-laki itu.

"Jawab, Mas!” desak Tantya. Dia melangkah sedikit mendekat, matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena kecewa. “Ke mana uang itu kamu alihkan? Lima puluh juta untuk renovasi rumah Ibu, lalu empat juta setiap bulan yang seharusnya menjadi hak keluargaku. Kamu pakai untuk apa?”

Rendra membuka mulut, tetapi tak satu pun kata keluar dari bibirnya.

Kali ini, dia benar-benar kehilangan jawaban di hadapan Tantya. Bukan karena istrinya tidak memberinya kesempatan menjelaskan, melainkan karena dia tahu bahwa kali ini, alasan apa pun yang keluar dari mulutnya tidak akan mudah menutupi kenyataan.

Bu Afifah menatap menantunya dengan raut wajah kecewa. Sementara Tara mengepalkan tangan, berusaha menahan diri agar tidak ikut campur sebelum mendengar penjelasan Rendra.

Adapun Tantya, dia tetap berdiri tegak di hadapan suaminya. Dia tidak lagi peduli apakah Rendra akan semakin marah atau merasa harga dirinya terluka. Sebab, jika selama ini Rendra merasa berhak menuntut penjelasan darinya, sekarang giliran Tantya yang menuntut kejujuran.

Dan kali ini, dia tidak akan membiarkan Rendra mengalihkan pembicaraan begitu aja.

1
Heny
What lagi asyik baca thor.. Lanjut
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!