Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang tak di undang
Cahaya matahari siang merayap naik, menembus celah-celah tirai kamar utama dan menghangatkan hamparan seprai sutra. Celeste masih terlelap dalam posisi miring, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Lucian. Wajahnya menyisakan jejak kelelahan yang nyata setelah badai gairah panjang yang mereka lewati semalam. Bibirnya sedikit terbuka, bernapas teratur dalam dekapan sang suami.
Lucian perlahan membuka mata. Alih-alih langsung bergerak, iris kelam pria itu sepenuhnya terkunci pada wajah pulas istrinya. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis, sebuah pemandangan langka yang sarat kehangatan. Ia semakin menarik tubuh istrinya merapat ke tubuh telanjangnya, tangannya bergerak dengan penuh kelembutan di surai milik istrinya.
Tiba-tiba, getaran ponsel di atas nakas memecah keheningan.
Lucian tidak langsung menggapainya. Ia menunduk, mengecup sekilas sudut bibir Celeste dengan sangat lembut, lalu meraih ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari sang istri. Nama Nathan tertera di layar.
Ia mengangkat telepon itu tanpa menguarkan suara sedikit pun.
"Tuan, maaf mengganggu waktu Anda," suara Nathan terdengar berhati-hati di seberang sana. "Ibu kandung Nyonya Muda dan saudari kembarnya... Caelia, baru saja tiba di bawah. Mereka memaksa ingin mengunjungi Nyonya Muda."
Wajah Lucian seketika mengeras. Tanpa niat membalas, ia langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja. Pria itu menunduk, menatap lekat tubuh bagian atas Celeste yang terekspos di balik selimut. Di sepanjang leher jenjang, tulang selangka, hingga dada atas istrinya, terukir jelas puluhan bercak merah keunguan, jejak keposesifannya semalam.
Lucian mengecup pelan bahu telanjang Celeste penuh kasih sayang. Ia tahu persis istrinya butuh istirahat total setelah tenaga mereka terkuras habis.
Ia beranjak dari ranjang dengan gerakan senyap, mengenakan kaus hitam kasual dan celana bahan longgar, lalu melangkah keluar kamar tanpa berniat membangunkan sang istri.
.
.
Di lantai bawah, pintu utama mansion St. Claire terbuka lebar menyambut dua tamu yang tak diundang, Victoria Delacroix dan Caelia.
Hal pertama yang langsung menarik perhatian mereka begitu menginjakkan kaki di ruang tamu megah itu adalah seluruh permukaan kaca jendela yang telah dilapisi film khusus anti-hidrasi dan pelindung sinar UV yang tebal.
Victoria menghentikan langkahnya, menyipitkan mata menatap jendela-jendela tersebut dengan dahi berkerut. "Caelia, lihat kaca-kaca itu... dilapisi pengaman khusus matahari," bisik Victoria curiga. "Jangan-jangan... penyakit aneh Celeste soal alergi matahari itu sudah terekspos ke keluarga ini? Kalau benar begitu, anak sial itu pasti sudah mempermalukan nama keluarga kita!"
Caelia mendengus sinis, melipat tangan di dada sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling interior mansion yang luar biasa mewah. "Bisa jadi, Ma. Tapi kalau dipikir-pikir... aneh sekali. Lihat tempat ini, megah luar biasa. Jangan-jangan Celeste sebenarnya hidup sangat bahagia di sini."
Caelia segera menepis asumsinya sendiri sambil tertawa kecil. "Ah, nggak mungkin, Ma! Kita semua tahu Tuan Lucian St. Claire itu pria paling dingin dan kejam yang sangat membenci perempuan. Jangankan disentuh, didekati saja dia pasti jijik. Mana mungkin adik kembarku yang kaku dan tidak berguna itu bisa membuat Lucian jatuh hati?"
"Tentu saja tidak," sahut Victoria congkak. "Dia paling hanya dijadikan pajangan tidak berguna di sudut rumah."
Langkah kaki yang tenang namun berat dari arah tangga utama seketika membungkam percakapan mereka.
Lucian St. Claire menuruni anak tangga tanpa ekspresi. Kedua tangannya terbenam santai di dalam saku celana. Tidak ada kata sapaan, tidak ada kehangatan. Hanya kehadiran fisiknya saja sudah cukup untuk menekan udara di dalam ruangan itu hingga terasa berat dan menyengat.
Victoria dan Caelia refleks menegak kaku. Aura dominan dan intimidatif yang menguar dari tubuh pria itu seketika membuat nyali kedua wanita itu menciut. Terlepas dari rumor marak di masyarakat tentang sosok Lucian yang dingin dan tanpa ampun, berdiri berhadapan langsung dengannya jauh lebih mencekam daripada yang pernah mereka bayangkan.
Lucian berjalan melewati mereka tanpa sedikit pun berpaling, lalu melabuhkan tubuhnya di single sofa. Ia menyilangkan kaki, menatap tajam dua perempuan di depannya dengan tatapan yang membekukan.
Victoria menelan ludah kaku, berusaha menegakkan punggung demi menjaga keanggunan yang tersisa. "Tuan St. Claire... kedatangan kami kemari ingin menemui putri kami, Celeste. Di mana dia?"
Lucian tetap bergeming dalam bisu.
Nathan yang sejak tadi mengamati dari jauh, segera melangkah mendekat dan berdiri tepat di belakang sofa tempat Lucian duduk.
"Nyonya Muda masih tertidur," jawab Nathan tegas mewakili sang tuan. "Beliau butuh istirahat."
Mendengar itu, raut wajah Victoria mendadak berubah. Rasa sungkannya terkikis oleh tabiat aslinya yang suka meremehkan. "Tertidur selarut ini padahal matahari sudah di tengah langit? Sungguh tidak sopan! Dasar anak pemalas! Suruh dia turun sekarang juga! Pergi dan bangunkan dia!"
Nathan menolak halus dengan gelengan pelan. "Maaf, Nyonya Delacroix. Saya tidak memiliki wewenang maupun keberanian untuk mengganggu istirahat Nyonya Muda."
Tatapan mata Lucian semakin menyipit tajam. Pria itu merogoh ponsel di sakunya, mengetik beberapa baris tulisan dengan tenang, lalu membalikkan layar ponselnya ke arah Victoria dan Caelia.
Di layar itu tertera kalimat tegas, 'Berani sekali kau memerintahkan orang-orangku untuk mengatur istriku di rumahku sendiri.'
Membaca tulisan itu, wajah Victoria dan Caelia langsung pucat pasi. Gestur Lucian hanya dengan satu gerakan tangan memamerkan layar dan tatapan mata yang penuh kilat ancaman membuat kedua wanita itu merasa begitu kecil dan tak berdaya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar menuruni tangga.
"Mei, tolong ambilkan tepung di... eh?"
Celeste, yang baru saja terbangun dan berniat pergi ke dapur untuk membuat kue kesukaan suaminya, mendadak menghentikan langkah di anak tangga terakhir. Matanya membelalak lebar kala melihat sosok ibu kandung dan saudari kembarnya berdiri di ruang tamu utama mansion.
Caelia, yang melihat penampilan Celeste, seketika disergap rasa iri yang membakar dada. Celeste tampak begitu menawan dengan gaun rumah berbahan sutra elegan yang membungkus tubuhnya pas badan, jauh dari bayangan perempuan kurus dan kusam yang dulu selalu mereka rendahkan.
Tatapan nya terkunci ke leher jenjang Celeste yang banyak tanda merah keunguan. "Mereka sudah melakukannya?"
"M-Mama? Caelia?" cicit Celeste, jemarinya meremas pegangan tangga.
Ingatan akan masa-masa kelam di mana ia selalu diabaikan. Namun untuk pertama kalinya dalam hidup, alih-alih gemetar ketakutan, ada keberanian asing yang merayap di dadanya. Ia sadar, ia tidak lagi sendirian. Tempat ini adalah rumahnya, dan pria yang duduk di sofa itu adalah pelindungnya.
Namun, ucapan yang meluncur dari bibir Victoria langsung menyayat udara di ruangan itu. Wanita paruh baya tersebut melangkah maju dengan wajah menyeringai penuh racun.
"Wah, wah... lihat anak ini," ucap Victoria tajam, menatap Celeste dari atas sampai bawah. "Mentang-mentang sudah dinikahi orang kaya, sekarang kamu jadi ratu pemalas yang bangun siang, hah? Jangan besar kepala dulu, Celeste. Kamu pikir suami dingin sepertinya benar-benar menginginkanmu? Dia paling hanya kasihan pada barang cacat sepertimu!"