"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Rumah Pak Raka menjulang tinggi juga berukuran begitu besar.
Rumah tersebut memiliki lima lantai dan ada lift yang memudahkan untuk naik per lantainya namun Arnold menghela napasnya kasar saat menyadari kalau benar-benar peluangnya memang sangat kecil karena di depan lift bahkan di anak tangga terbawah ada masing-masing lima bodyguard yang berjaga.
Arnold memejamkan matanya sejenak untuk memikirkan rencana berikutnya.
Akankah ia akan menerobos penjagaan begitu ketat itu agar bisa menapaki lantai demi lantai untuk menemukan Arini?
Atau ia akan benar-benar melamar Jessica dan menyakiti Arini yang sudah menjadi istrinya?
Huft!
Arnold merasa jalannya buntu, Bagas benar kalau Pak Raka itu orang yang susah ditembus.
Arnold memijit pelipisnya, lalu berbalik badan tanpa benar-benar ke toilet untuk kembali ke ruang tamu.
"Sudah Kak?" tanya Jessica saat melihat muka suram Arnold.
Arnold menggelengkan kepalanya lemah.
"Bisa kita mulai acaranya, Pak?" Mom Celia terlihat tidak sabar.
"Tunggu sebentar." jawab Pak Raka seraya menatap tajam Arnold.
"Pa!" rengek Jessica menatap Papanya, "Kenapa enggak langsung dimulai aja sih?"
"Tunggu sebentar, Jess!" jawaban Pak Raka sama dan Mom Celia pun mencubit paha Dad Graham.
Dad Graham hanya menatap istrinya tenang seolah mengatakan kalau istrinya harus sabar menunggu.
"Memangnya Papa lagi nunggu siapa sih? Kenapa kita harus nunggu dan nunda niat baik Kak Arnold?" Jessica terus merengek seraya menggoyangkan lengan Papanya.
"Keluarga kita." jawab Pak Raka dan Jessica mengerutkan keningnya.
"Siapa Pa?" tanya Jessica lagi.
"Kakak kamu." jawab Pak Raka dan sukses membuat Jessica membulatkan mulutnya.
"Papa bilang apa sih?" Jessica menggoyangkan lagi lengan Papanya, "sejak kapan Jessica punya Kakak, Pa? Jessica kan anak tunggal Papa dan Mama."
"Sejak dulu. Tapi baru ketemu." jawab Pak Raka dan Arnold terasa susah menelan saliva karena ia sangat tau siapa yang dimaksud 'kakak Jessica'.
Kakak Jessica itu adalah istrinya. Dan Arnold akan melamar Jessica di depan Arini.
Sesuatu yang akan sangat merugikan untuk dirinya karena tidak mungkin Arini mau diajak pergi bersamanya kalau ia saja menduakan istri yang belum pernah disentuhnya itu.
"Papa!" teriak Jessica seraya menggelengkan kepala, "Papa jangan bercanda gini dong! Ini itu malam yang dinantikan Jess. Kenapa Papa enggak mau serius sih?" Jessica menangis tersedu-sedu.
"Papa serius, Jess. Percaya sama Papa."
"Kalau Papa serius, terus kita nunggu Kakak itu sampai kapan, Pa?"
"Tidak sampai lima menit, Kakak kamu pasti hadir di sini."
"Oke! Kali ini Jess nurut sama Papa."
"Anak baik." Pak Raka mengusap rambut Jessica.
"Pa! Rambut Jess rusak, dong." Jessica cemberut lalu memanggil sang hairdo untuk menata kembali rambutnya.
"Sini, Nak!" panggil Pak Raka saat melihat Arini sudah keluar dari lift.
Arini mengangguk sekilas, lalu melangkah dengan sisi kiri dan kanannya dijaga ketat oleh pengawal.
Mom Celia terasa susah menelan saliva saat melihat siapa Kakak Jessica dan Dad Graham pun tak kalah terkejutnya.
Berbeda dengan Arnold yang tersenyum saat melihat wajah ayu Arini, dan seketika berdiri lalu melangkah mendekati Arini yang juga tengah melangkah ke ruang tamu.
Di tengah-tengah jalan, Arini dan Arnold bertemu.
Arini menatap Arnold pun Arnold menatap Arini.
Mereka berdua memang pasangan suami istri, tapi belum ada sedikitpun perasaan cinta satu sama lain, dan hanya kehambaran yang menggambarkan pertemuan mereka.
"Arini." sapa Arnold dan Arini hanya tersenyum seraya mengangguk untuk menjawab sapaan suaminya.
"Apa kabar?" Arnold terus menatap Arini yang kini juga tengah menatapnya, bahkan Arini sama sekali tidak menunduk seperti kemarin-kemarin.
"Baik." Arini menoleh pada Ayah biologisnya, lalu kembali menatap Arnold, "selamat ya."
"Selamat? Buat apa?" Arnold menatap Arini yang terus tersenyum.
"Selamat atas lamarannya sama Jessica." ujar Arini seraya melangkah melewati Arnold, lalu duduk di sofa tunggal yang tersedia di sisi Ayah biologisnya.
Arnold terpaku, laki-laki bermuka bengis itu seketika mengepalkan tangannya kencang hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.
Arini mengetahui jika ia akan melamar Jessica dan menduakan dirinya, lantas kenapa istri yang belum pernah disentuhnya itu tidak marah?
"Arnold! Ngapain kamu berdiri disitu?" Mom Celia memanggil Arnold yang berdiri kaku dan terus membelakangi mereka.
Arnold berbalik badan, hanya menatap Momnya lalu menghela napas kasar dan kini duduk di sofa yang tadi sempat didudukinya.
Sofa itu terhalang sofa yang diduduki orang tuanya yang malah berada di sebelah Arini.
Dan Arnold harus cukup tau diri.
"Baiklah. Bisa kita mulai acaranya sekarang." Pak Raka mengawali pembicaraan saat Arnold sudah duduk kembali.
"Tidak ada acara apapun. Arnold tidak bisa melamar Jessica." ujar Arnold cepat, dan seketika Mom Celia melotot bahkan Jessica langsung berdiri dan menghampiri Arnold dengan muka sedihnya.
"Kak Arnold!" Jessica duduk di atas sandaran sofa yang diduduki Arnold. "Kak Arnold sedang bercanda kan?"
"Tidak." tegas Arnold seraya menatap Arini.
Namun Arini memalingkan muka, lebih memilih menatap Ayah biologisnya yang juga menatapnya.
"Kak!" Jessica menangis tersedu-sedu. "Jess salah apa sama Kak Arnold?"
"Tidak ada." jelas Arnold dan Mom Celia pun ikutan berdiri menghampiri putra bungsunya.
"Kamu jangan mempermalukan Mom, Arnold." Mom Celia membela Jessica walaupun Arini juga diperkenalkan Pak Raka sebagai putrinya.
"Itu kenapa kemarin Arnold melarang Mom." kekeh Arnold.
"Jadi, Kak Arnold memang sengaja mau mempermainkan Jess?" Jessica berdiri lalu mundur disertai tangisannya yang mendayu-dayu.
"Aku tidak bermaksud begitu." jelas Arnold seraya melirik Jessica sekilas dan kembali menatap Arini.
"Lalu maksud Kak Arnold apa? Kenapa Kak Arnold kemarin terkesan serius kalau pada akhirnya Kakak tidak serius?" desak Jessica
"Dia memanfaatkan kamu supaya bisa masuk ke rumah ini, Jess." bukan Arnold yang menjawab, tapi Papanya.
"Maksud Papa?" Jessica menatap Papanya.
"Kamu masih tidak mengerti." Pak Raka menggelengkan kepalanya. "Arnold mau melamar kamu dengan syarat harus di rumah Papa di Kemang karena dia tidak benar-benar mau melamar kamu, Jess. Dia hanya ingin masuk ke rumah ini dan bisa mengajak Arini pergi." jelasnya dan Jessica menggelengkan-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kak Arnold jahat! Kenapa Kak Arnold tega sama Jess? Jess sangat mencintai Kak Arnold tau!" Jessica berlari pergi lalu masuk ke lift menuju kamarnya.
"Maafkan saya, Pak Raka." Arnold menatap Pak Raka lalu menoleh pada Arini, "Maafkan saya kalau saya terkesan mempermainkan putri Anda."
"Kamu tidak hanya terkesan, tapi memang mempermainkan putri-putriku, Arnold." bantah Pak Raka seraya menatap tajam menantunya.
"Maafkan Saya." Arnold menatap Pak Raka dengan tatapan memohon, "Izinkan saya mengajak Arini ke mansion saya. Karena Arini istri saya."
"Keputusan ada di tangan Arini." Pak Raka menatap putrinya yang sedari tadi terus menatapnya, jawaban dari Arini tempo hari lalu lah yang mengubah pikirannya.
Putrinya begitu lapang dada saat ia mengatakan Arnold akan melamar Jessica, dan ia pun harus belajar seperti itu agar putrinya mau dekat dengannya.
Mendengar jawaban Pak Raka yang sudah tidak sekaku kemarin, Arnold pun menoleh menatap istrinya yang sedari tadi semenjak duduk kembali tidak mau menatapnya.
"Arini." panggil Arnold dan Arini pun menoleh, "Ikut ke mansion kita ya sama aku?"
Bersambung..