Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. KETIKA CINTA MENJADI KEBENCIAN
Di ujung jalan setapak, Phat berdiri dengan wajah penuh amarah. Ia tidak datang sendirian. Beberapa lelaki bertubuh besar mengenakan jaket gelap berdiri di belakangnya, menyebar di sepanjang jalan seolah sengaja menutup kemungkinan mereka melarikan diri.
Sara membeku.
“Phat?”
Phat berjalan mendekat dengan langkah cepat. Matanya tertuju kepada Arka, seakan-akan Sara bahkan tidak berada di sana.
“Jadi, kau benar-benar berani melakukannya.”
Arka mengerutkan kening.
“Apa yang sedang kau bicarakan?”
“Jangan berpura-pura tidak tahu!”
Phat berhenti beberapa langkah di hadapan adiknya.
“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mendekati Sara!”
Arka terdiam sesaat, kemudian tertawa pendek tanpa sedikit pun kegembiraan.
“Sejak kapan kau merasa berhak menentukan siapa yang boleh kudekati?”
Wajah Phat semakin memerah.
“Sejak aku tahu orang sepertimu tidak pantas berada di sampingnya!”
Arka menatapnya tajam.
"Kau bahkan tidak tahu apa yang baru saja kami bicarakan.”
“Aku tahu cukup banyak!”
Phat memberi isyarat kepada dua orang anak buahnya.
Keduanya segera bergerak ke arah Sara.
“Jangan sentuh dia!” bentak Arka.
Namun, semuanya berlangsung terlalu cepat.
Salah seorang lelaki mencengkeram lengan Sara, sementara yang lain berdiri di belakangnya untuk mencegahnya bergerak mendekati Arka.
“Lepaskan aku!” Sara berusaha menarik lengannya. “Apa yang kalian lakukan?”
“Diam saja, Nona,” kata salah satu lelaki itu.
“Phat! Suruh mereka melepaskanku!”
Phat bahkan tidak menoleh kepadanya.
Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Arka.
“Sekarang kau akan mendengarkanku.”
Arka melangkah maju, tetapi salah seorang lelaki menghadangnya.
“Jangan ikut campur,” ujar Arka dingin.
Lelaki itu menyeringai.
“Maaf, Bos kami punya urusan denganmu.”
Arka memandang Phat.
“Kau membawa preman ke sini hanya untuk melarangku berbicara dengan Sara?”
“Jangan menyebut mereka preman!” bentak Phat. “Dan jangan berpura-pura bahwa ini hanya soal berbicara!”
Arka menegang.
“Apa maksudmu?”
Phat menunjuk Sara dengan tangan gemetar menahan amarah.
“Aku mendengar semuanya!”
Untuk pertama kalinya, Arka benar-benar kehilangan kata-kata.
Phat rupanya telah mendengar pengakuan perasaannya.
Namun, hal yang paling tidak ia pahami adalah alasan kakaknya begitu marah.
“Aku menyukai Sara,” kata Arka akhirnya. “Lalu apa masalahnya?”
Wajah Phat berubah seolah baru saja dihina.
“Apa masalahnya?”
Ia tertawa kasar.
“Kau masih berani bertanya kepadaku?”
“Ya! Karena aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau inginkan!”
Phat mengepalkan tangan.
“Kau selalu seperti itu, Arka. Kau selalu mengambil apa yang kuinginkan, kemudian bertingkah seolah-olah kau tidak melakukan kesalahan!”
Arka mengerutkan kening.
“Aku mengambil apa darimu?”
“SARA!”
Nama itu meledak dari mulut Phat.
Beberapa orang yang sedang berjalan di taman mulai menoleh. Salah seorang pengunjung bahkan buru-buru membawa anaknya menjauh dari keributan tersebut.
Sara menatap Phat dengan wajah pucat.
“Phat, apa yang kau bicarakan?”
Phat akhirnya menoleh kepadanya. Tatapannya berubah, tetapi bukan menjadi lebih lembut. Justru ada luka lama yang selama ini disembunyikannya.
“Sejak kecil, aku selalu menyukaimu, Sara.”
Keheningan menyelimuti mereka.
Sara membelalakkan mata.
“Apa?”
“Kau mendengarku.”
Arka menatap kakaknya tanpa berkedip.
Phat melanjutkan dengan suara bergetar.
“Kau mungkin tidak mengingatnya, tetapi aku masih ingat hari ketika kau jatuh di dekat rumahmu. Lututmu terluka, dan kau menangis begitu keras sampai orang-orang berlarian menghampirimu.”
Sara perlahan menunduk, berusaha mengingat kejadian masa kecil itu.
“Aku yang pertama menghampirimu,” lanjut Phat. “Aku menggendongmu pulang karena kau tidak bisa berjalan. Kau memeluk leherku dan berhenti menangis setelah aku berjanji akan membelikanmu permen.”
Phat tersenyum samar, tetapi senyum itu terasa menyedihkan.
“Sejak saat itu, aku selalu ingin menjadi orang yang kau cari ketika kau membutuhkan bantuan.”
Arka memandangnya dengan tidak percaya.
“Kau marah hanya karena aku menyukai Sara?”
“Bukan hanya itu!”
Phat berbalik kepadanya.
“Sejak kecil, semua orang selalu memujimu. Mereka mengatakan kau lebih tenang, lebih pintar, dan lebih mudah disukai. Bahkan ketika kita melakukan kesalahan yang sama, orang-orang selalu memberimu kesempatan untuk menjelaskan dirimu sendiri!”
“Itu tidak ada hubungannya dengan Sara!”
“Tentu saja ada!” bentak Phat. “Karena sekarang, bahkan perempuan yang kusukai pun memilih untuk berdiri di dekatmu!”
Arka menggeleng, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Aku tidak pernah tahu kau menyukainya.”
“Kau tidak pernah peduli untuk mengetahuinya!”
“Bagaimana aku bisa mengetahuinya kalau kau tidak pernah mengatakannya?”
Phat terdiam sesaat.
Kemudian ia mengangkat tinjunya dan menghantam wajah Arka.
BUK!
Kepala Arka terlempar ke samping. Ia mundur dua langkah, menyentuh sudut bibirnya yang mulai terasa perih.
Sara menjerit.
“ARKA!”
Arka mengusap darah tipis di bibirnya, kemudian menatap Phat dengan mata menggelap.
“Kau sudah gila?”
Phat menjawab dengan pukulan kedua.
Kali ini, Arka berhasil menangkisnya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Phat dan mendorongnya menjauh.
“Jangan sentuh aku lagi!”
“Kalau begitu, berhenti mendekati Sara!”
Arka melepaskan tangannya dengan kasar.
“Aku bukan anak kecil yang bisa kau atur sesuka hati!”
Phat menyerang lagi.
Arka menghindar, tetapi pukulan itu mengenai bahunya. Ia segera membalas dengan menghantam perut Phat, membuat kakaknya terhuyung mundur.
Salah seorang anak buah Phat bergerak hendak membantu, tetapi Phat mengangkat tangan untuk menghentikannya.
“Jangan ikut campur!”
Arka mengatur napas, menatap kakaknya dengan amarah yang selama ini selalu ia tahan.
“Kau datang ke sini, membawa orang-orang ini, menahan Sara, lalu memukulku hanya karena aku mengakui perasaanku?”
“KAU TIDAK MENGERTI APA-APA!”
Phat menerjangnya.
Keduanya jatuh ke sisi jalan setapak, saling mendorong dan melayangkan pukulan. Arka berhasil menahan satu serangan, tetapi Phat menghantam rahangnya hingga ia terjatuh ke bangku taman.
Arka bangkit kembali dan mencengkeram kerah baju kakaknya.
“Kalau kau memang menyukainya, kenapa kau tidak pernah mengatakannya kepadanya?”
Phat membalas dengan menghantam wajah Arka.
“Karena aku tahu kau akan merusak semuanya!”
Arka terhuyung, lalu menatapnya dengan kemarahan yang bercampur kebingungan.
“Aku tidak pernah berusaha merebut apa pun darimu!”
“Kau tidak pernah berusaha! Kau selalu mendapatkannya begitu saja!”
Phat mendorong Arka hingga punggungnya membentur batang pohon.
Sara meronta lebih keras.
“BERHENTI! KALIAN BERSAUDARA!”
Salah seorang lelaki yang menahannya mempererat cengkeramannya.
“Sudah kubilang diam!”
“Lepaskan aku!”
Sara menghentakkan kakinya, lalu menginjak kaki lelaki tersebut sekuat tenaga. Ketika cengkeramannya mengendur, Sara berhasil menarik lengannya dan berlari menuju kedua bersaudara itu.
Namun, seorang anak buah Phat segera menghadangnya.
“Jangan mendekat!”
“Minggir!”
Sara mencoba melewatinya, tetapi lelaki itu menahan bahunya.
Arka melihat kejadian tersebut dan langsung kehilangan kendali.
“JANGAN SENTUH SARA!”
Ia menghantam Phat hingga kakaknya terjatuh ke tanah.
Untuk sesaat, semua orang terdiam.
Arka berdiri dengan napas memburu. Darah mengalir tipis dari sudut bibirnya, sementara kuku-kuku jarinya memerah akibat perkelahian itu.
Ia menatap Phat yang masih terbaring, kemudian mengarahkan pandangannya kepada lelaki yang menahan Sara.
“Lepaskan dia. Sekarang.”
Kali ini, tidak ada seorang pun yang berani bergerak.
Phat perlahan bangkit sambil mengusap sudut bibirnya. Ia menatap Arka dengan kebencian yang belum pernah dilihat Arka sebelumnya.
“Jadi, begini caramu membuktikan bahwa kau menyukainya?”
Arka mengerutkan kening.
“Apa?”
“Kau bahkan tidak bisa melindunginya dari masalah yang kau bawa sendiri!”
Kalimat itu membuat Arka terdiam.
Phat berdiri tegak, merapikan bajunya yang kusut.
“Dengarkan aku baik-baik. Kau boleh membenci Ayah. Kau boleh menyelidiki rahasia keluarga kita. Kau bahkan boleh menghancurkan semua yang telah dibangun keluarga kita.”
Ia melangkah mendekati Arka, lalu berbisik tajam.
“Tapi jangan pernah berpikir kau bisa mengambil Sara dariku.”
Arka menatap kakaknya lama sekali.
Lalu, dengan suara rendah, ia menjawab, “Sara bukan barang milikmu, Phat.”
Wajah Phat menegang.
“Dia berhak memilih siapa yang ingin berada di sampingnya. Kau tidak bisa memaksanya menyukaimu hanya karena kau pernah menggendongnya ketika kecil.”
Untuk sesaat, mata Phat tampak kehilangan arah.
Namun, kemarahan segera kembali menguasai wajahnya.
Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur, lalu menatap Arka untuk terakhir kalinya.
“Suatu hari nanti, kau akan menyesali perkataanmu.”
Setelah itu, Phat berbalik dan berjalan meninggalkan taman bersama orang-orangnya.
Sara segera menghampiri Arka.
“Arka!”
Ia memegang kedua lengan Arka, memeriksa wajahnya dengan cemas.
“Kau terluka! Kenapa kau tidak menghindar saja?”
Arka menatapnya dengan napas masih tersengal.
“Kalau aku menghindar, dia mungkin akan menyuruh anak buahnya menyentuhmu lagi.”
Sara terdiam.
Ia menatap darah di sudut bibir Arka, kemudian perlahan mengangkat tangannya untuk mengusapnya dengan saputangan.
Arka membeku ketika jari-jari Sara menyentuh wajahnya.
“Lain kali,” bisik Sara, “jangan membuatku takut seperti ini.”
Arka menatap mata Sara yang berkaca-kaca.
“Aku minta maaf.”
Sara menggeleng.
“Bukan itu yang ingin kudengar.”
Arka terdiam beberapa detik, lalu menundukkan kepala sedikit agar Sara bisa mengusap luka di bibirnya dengan lebih mudah.
“Aku akan berusaha tidak membuatmu takut lagi.”
Sara tersenyum samar, meskipun air mata masih menggenang di matanya.
“Dasar keras kepala.”
Arka hampir tersenyum, tetapi rasa sakit di bibirnya membuatnya mengurungkan niat.
Kemudian, ia kembali mengingat kejadian beberapa menit sebelumnya.
Pengakuannya kepada Sara terputus sebelum ia sempat menjawab.
Kini, setelah melihat bagaimana Phat bereaksi, Arka merasa semuanya menjadi jauh lebih rumit.
Ia menatap Sara dengan ragu.
“Tentang apa yang kukatakan tadi…”
Sara menghentikan gerakan tangannya.
Arka menarik napas panjang.
“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Setelah kejadian ini, aku mengerti kalau kau mungkin membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya.”
Sara menatapnya lama.
Lalu, ia menggenggam tangan Arka.
“Arka, aku memang membutuhkan waktu.”
Arka mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang muncul di dadanya.
Namun, Sara belum selesai berbicara.
“Tapi bukan berarti aku ingin kau berhenti berada di dekatku.”
Arka mengangkat wajah.
Sara tersenyum kecil, pipinya memerah.
“Dan aku juga tidak ingin kau memutuskan sendiri bahwa kau tidak pantas berdiri di sampingku. Biarkan aku yang menentukan siapa yang ingin kupilih.”
Untuk pertama kalinya sore itu, Arka tidak mampu menemukan jawaban.
Ia hanya menatap Sara, merasakan genggaman tangan perempuan itu yang hangat.
Di kejauhan, Phat berhenti sejenak di dekat mobilnya.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat Arka dan Sara masih berpegangan tangan.
Rahangnya mengeras.
Selama bertahun-tahun, ia menyimpan perasaan kepada Sara tanpa pernah berani mengungkapkannya. Ia selalu meyakinkan dirinya bahwa suatu hari nanti, ketika waktunya tepat, Sara akan melihatnya dengan cara yang berbeda.
Namun, kini Arka telah melakukan sesuatu yang tidak pernah berani ia lakukan.
Arka telah mengatakannya secara langsung.
Dan yang lebih menyakitkan, Sara tidak segera menolak.
Phat mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih.
“Kalau kau pikir semuanya akan berakhir seperti ini, kau salah, Arka,” gumamnya.
Ia masuk ke mobil dan membanting pintu.
Di balik kaca, tatapannya masih tertuju pada dua sosok di taman itu.
Kebencian yang selama ini tumbuh dalam diam akhirnya menemukan sasaran yang jelas.
Bukan hanya karena persaingan di dalam keluarganya sendiri.
Bukan hanya karena rahasia yang disembunyikan ayah mereka.
Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Phat merasa bahwa Arka telah mengambil sesuatu yang benar-benar ia inginkan.
Dan kali ini, ia tidak berniat membiarkan adiknya menang begitu saja.