Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Empat puluh menit kemudian mobil berhenti didepan sebuah rumah. Rumah bergaya cluster yang tidak terlalu besar
Aini terkejut karena melihat mobil suaminya terparkir didepan rumah. Entah sejak kapan suaminya itu pulang
Melihat mobil yang masuk ke halaman, membuat Andra mengernyit. Ia tidak pernah melihat mobil mewah seperti ini berada disekitar perumahan
Namun sedetik kemudian ia terkejut saat melihat sang istri yang keluar sambil menggendong putri mereka lalu seorang pria tampan keluar dari pintu sebelahnya
Andra menunggu di beranda rumah, Aini yang melihat raut kekesalan dari wajah suaminya hanya pasrah saja
Aini melangkah sambil menggendong Kasih, sementara pria yang bersamanya membawa stroller serta beberapa paperbag
"Dari mana aja kamu?" Tanya Andra pada istrinya
"Aku gak tau kalau mas Andra pulang hari ini"
"Jadi kalau mas gak pulang, kamu bisa puas jalan-jalan sama laki-laki lain?"
Yudha yang mendengar itu jelas saja kesal, namun ia diam saat melihat tatapan memohon dari Aini
Ia pandangi tubuh suami Aini ini. Dilihat dari segi manapun semuanya biasa saja, lalu kenapa ibunya begitu menghina Aini?
Dengan kecantikan wanita ini, dia bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik. Ya, seperti dirinya ini
"Maaf, tuan. Saya Yudha, saya temennya Aini" Yudha mengulurkan tangannya dan Andra menerimanya, namun tatapan permusuhan pria itu berikan
"Terima kasih karena sudah mengantarkan istri saya pulang" Bahkan Andra sampai menekan kata istri, seolah menunjukkan pada pria dihadapannya jika Aini itu adalah miliknya
"Kalau begitu saya permisi" Pamit Yudha, setidaknya hari ini dirinya sudah begitu puas bersama wanita pujaannya
"Aku bisa jelasin mas"
"Masuk!" Andra membawa paperbag tersebut kedalam rumah, ia tak tahu apa saja yang dibeli oleh istrinya ini
"Kamu belanja banyak banget, dapat uang dari mana kamu? Apa dari laki-laki itu?" Pertanyaan itu membuat hati Aini terluka
"Aku belanja keperluan Kasih, karena hari ini dia ulang tahun" Aini mengusap pipinya "Aku juga pake uang tabungan aku sendiri, aku bukan perempuan murah____ yang memanfaatkan laki-laki lain saat aku sudah bersuami"
Aini pergi setelah mengatakan itu, wanita cantik itu membawa sang putri karena sepertinya Kasih kelelahan
Setelah mandi dan berganti pakaian, bayi satu tahun itu terlelap. Aini keluar dari kamar setelah memastikan putrinya nyaman
Ia menoleh pada sang suami yang masih duduk di ruang tamu, melihat istrinya yang datang, Andra mendekat lalu memeluknya
"Maafin mas, ya dek" Aini menitihkan air matanya, sungguh rasanya sangat menyakitkan jika suami sendiri meragukan kita
"Aku juga minta maaf, mas. Aku keluar rumah tanpa bilang dulu sama kamu"
Ya, Aini juga menyadari kesalahannya. Sebagai seorang istri harusnya ia pamit terlebih dahulu pada suaminya, bukannya malah meninggalkan rumah
Andra marah saat melihat dirinya bersama laki-laki lain, semata-mata karena suaminya begitu mencintainya
"Lain kali jangan kayak gitu lagi! Mas juga gak suka kamu temenan sama temen kamu itu" Andra menunjukkan jika dirinya ini cemburu
"Iya, lagian aku sama mas Yudha ketemunya baru dua kali"
"Tetep aja, kamu gak boleh deket-deket sama dia!"
Aini tersenyum "Iya mas"
"Mas cuma cemburu, mas takut kalau kamu berpaling. Dia kan lebih kaya" Andra kembali membawa wanita itu dalam pelukannya
"Mas Andra gak perlu khawatir, buat aku mas Andra itu yang paling ganteng" Aini menatap suaminya
Baginya memang tidak ada lagi pria yang tampan, Andra hanya satu-satunya dan akan selalu begitu
"Kamu yakin?" Aini mengangguk lalu Andra mengecup bibir ranum nya
"Mau pelukan terus aja? Aku laper" Keluh Aini
"Mas juga laper, kita masak bareng aja gimana?" Andra menyarankan dan istrinya itu setuju
"Ayo ke dapur!"
"Mas beneran lupa kalau hari ini Kasih ulang tahun"
Sebenarnya Aini merasa kecewa, bagaimana bisa seorang ayah melupakan ulang tahun putrinya sendiri
Namun ia berusaha untuk mengerti kesibukan Andra sebagai seorang suami. Menjaga jabatan itu tidaklah mudah dan Andra harus mempertahankan nya
"Aku ngerti" Keduanya tengah menikmati nasi goreng buatan mereka
"Besok mas libur, kita jalan-jalan aja! Sekalian rayain ulang tahun Kasih" Ujar Andra
"Tapi aku udah ngerayain ulang tahun Kasih tadi" Bukankah ini sama saja dengan buang-buang uang?
"Tapi kan aku belum, lagian tadi kamu ngerayainnya sama laki-laki itu"
Andra kesal setengah mati, hari ini Istri dan putrinya malah bahagia bersama laki-laki lain
"Kalau emang mas punya uang, ya gak apa-apa" Ujar Aini pada akhirnya
"Yaudah, besok kita jalan-jalan"
Keesokkan harinya, Andra benar-benar mengajak istri serta putrinya jalan-jalan ke Mall
Sebenarnya Aini tidak ingin lagi karena kemarin ia puas mengelilingi mall ini. Tapi rasanya tidak baik jika menolak niat baik suaminya
Andra ingin memiliki waktu bersama putrinya, terlebih ini adalah ulang tahun pertama putri mereka
"Kita cari cafe dulu!" Andra ingin memotong kue bersama putri kesayangannya ini dulu
Saat tengah menyusun lilin kecil diatas kuenya, ponsel milik Andra berdering, ia lebih dulu melihat nama si penelepon lalu mematikannya
Hari ini adalah milik keluarga kecilnya. Dalam Minggu ini, Andra lebih sering bersama Sarah karena wanita itu tengah mengandung
Namun hari ini ia sangat ingin bersama Aini dan Kasih, terlebih putrinya berulang tahun. Walaupun Andra tidak bisa memberikan pesta ulang tahun yang meriah
"Mau belanja?" Tanya Andra, saat ini keluarga kecil itu telah meninggalkan cafe
"Gak usah mas, kemarin aku beli udah banyak banget baju sam mainan untuk Kasih"
"Tapi mas belum kasih dia hadiah" Andra tidak ingin putrinya mendapat hadiah dari laki-laki lain, walaupun ini kesalahannya juga karena melupakan hari istimewa anak sendiri
"Ya udah deh" Keduanya melangkah dengan Andra yang mendorong stroller
"Mas Andra"
Andra membeku ditempatnya, bagiamana bisa Sarah ada disini? Bagaimana jika Aini tahu tentang rahasia mereka
"Dia siapa mas?" Tanya Aini karena merasa wanita ini terlalu akrab
"Dia.." Andra menatap Sarah, seolah memohon agar wanita itu pergi "Dia karyawan mas dikantor"
Sarah terlihat tidak terima saat dirinya disebut sebagai karyawan, rasa ingin diakui itu ada, bagaimanapun dirinya juga istri Andra dan tengah hamil
"Karyawan tapi panggilnya mas?" Ini sedikit janggal bagi Aini, panggilan itu seperti bukan panggilan seorang karyawan pada atasannya
"Maaf mbak, tapi pak Andra memang bilangnya kalau diluar kantor sebaiknya jangan panggil bapak, jadi kebiasaan deh" Sarah tersenyum
"Ohh, maaf yaa mbak" Aini jadi tidak enak karena terlalu curiga "Ayo mas!"
Sarah mengepal saat melihat Aini melingkarkan tangannya di lengan Andra. Rasanya ia ingin menarik istri pertama itu
"Kami duluan yaa mbak" Pamit Aini, keluarga kecil itu berlalu meninggalkan Sarah yang diliputi kecemburuan
"Kamu bahagia sekali sama istrimu itu kan, mas? Tidak akan aku biarkan" Sarah berlalu, lebih baik ia belanja untuk menenangkan hati yang kesal ini
"Karyawan mas itu hamil?" Aini bertanya karena melihat perut Sarah yang buncit
"Iya" Andra berharap Aini tidak membahas tentang Sarah, jantungnya ini masih berdetak sangat cepat
"Suaminya kemana?"
"Mas gak tau dek, itu juga bukan urusan kita" Bagaimana mengatakan pada Aini jika mereka memiliki suami yang sama
"Aku cuma kasian aja, dia lagi hamil tapi masih kerja"
Andra tersenyum lalu mengusap rambut panjang istrinya "Kamu memang baik hati, tapi itu bukan urusan kita. Sebaiknya kita beli mainan untuk Kasih"
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.