Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Sinar matahari pagi musim dingin mencoba menerobos masuk melalui jendela kaca patri raksasa di kamar mandi utama Mansion Hendrick. Ruangan berlantai marmer hitam seluas apartemen mewah itu kini dipenuhi kepulan uap hangat yang membawa aroma sandalwood dan mawar merah.
Di tepi bak mandi sunken tub berbentuk bundar yang terbuat dari batu pualam murni, berdirilah sang penguasa dunia bawah tanah. Aldebaran Hendrick, pria yang namanya cukup untuk membuat para bos kartel gemetar, kini tengah menggulung lengan kemeja hitamnya hingga siku. Dengan wajah serius dan kening berkerut dalam—ekspresi yang biasanya ia gunakan saat merencanakan pembantaian—Aldebaran memasukkan tangannya ke dalam air berbusa, menakar suhu air agar presisi. Tidak boleh terlalu panas, tidak boleh kurang hangat. Harus sempurna untuk Ratunya.
"Al...?"
Suara parau khas orang bangun tidur terdengar dari ambang pintu.
Aldebaran menoleh, senyum tipis yang memabukkan seketika terukir di wajah tampannya. Di sana, Amanda berdiri dengan rambut panjang yang mencuat ke segala arah seperti singa kecil. Wanita itu mengenakan kemeja kebesaran milik Aldebaran yang melorot di salah satu bahunya, menggosok mata dengan sebelah tangan sambil memeluk bantal kecil. Bibirnya mengerucut sebal.
"Kau pembohong," rajuk Amanda, melangkah gontai menghampiri suaminya. "Tadi malam kau janji tidak akan beranjak dari kasur dan akan menyuapiku sarapan di tempat tidur. Saat aku bangun, kasurnya dingin. Kau menyebalkan."
Tawa rendah bergemuruh di dada Aldebaran. Ia segera mengelap tangannya dengan handuk kecil, melangkah mendekat, dan langsung merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Pria itu mengecup puncak kepala Amanda berkali-kali, menghirup aroma khas bangun tidur istrinya yang entah bagaimana menjadi candu paling mematikan baginya.
"Selamat pagi juga, Istriku yang pemarah," goda Aldebaran, suaranya berat dan serak. "Aku bangun lebih dulu untuk menyiapkan ini. Sesuai janjiku semalam, kita akan berendam air hangat, menghabiskan akhir pekan hanya berdua di dalam kamar ini, dan aku akan melayanimu bak seorang dewi."
Mata Amanda yang setengah terpejam kini terbuka, mengintip dari balik dada bidang suaminya untuk melihat bak mandi raksasa yang dipenuhi busa tebal dan kelopak mawar. Matanya berbinar. Rengekan kesalnya seketika menguap.
"Buka bajumu," perintah Aldebaran dengan nada posesif yang menggelitik telinga.
Tanpa bantahan, Amanda membiarkan Aldebaran meloloskan kemeja itu dari tubuhnya. Udara dingin kamar mandi sempat menyapu kulit telanjangnya, membuat Amanda meremang, namun detik berikutnya, tubuhnya telah diangkat perlahan oleh lengan sekeras baja itu.
Aldebaran melangkah masuk ke dalam tub, membawa Amanda bersamanya. Air hangat seketika membungkus kulit mereka, mengusir sisa-sisa hawa musim dingin. Sang mafia duduk menyandarkan punggung tegapnya pada tepi pualam, sementara Amanda langsung memosisikan diri bersandar nyaman di antara kedua kaki suaminya, menempelkan punggungnya pada dada telanjang Aldebaran.
Amanda mendesah panjang, memejamkan mata meresapi kehangatan air dan dekapan suaminya. "Ini surga," gumamnya pelan.
"Ini belum seberapa," balas Aldebaran. Tangan kasarnya yang dihiasi cincin tengkorak perlahan meraup air, membasuh bahu dan lengan Amanda dengan usapan yang luar biasa lembut. "Airnya pas?"
"Uhm... sedikit kurang panas," komentar Amanda seenaknya, memiringkan kepala. "Dan busanya kurang banyak, Al. Aku mau busanya sampai menutupi leher."
Aldebaran menghela napas, sebuah dengusan geli lolos dari hidungnya. "Sayang, kalau busanya kutambah lagi, kita berdua bisa tenggelam dan mati memakan sabun."
"Oh, jadi kau menolak?" Amanda memutar tubuhnya perlahan di dalam air, menatap suaminya dengan mata disipitkan penuh ancaman manja. Tangan mungilnya meraup segenggam busa, lalu menempelkannya dengan jahil tepat di ujung hidung mancung sang mafia yang mematikan itu. "Kalau begitu, kau boleh keluar dari bak mandiku. Silakan urus pelabuhan Rusiamu itu lagi."
Melihat hidung suaminya yang kini tertutup gumpalan busa putih, tawa renyah Amanda pecah. Suaranya menggema di dalam kamar mandi raksasa itu, terdengar sangat lepas, tanpa beban, dan penuh dengan kebahagiaan murni.
Aldebaran terdiam membeku. Ia menatap wajah istrinya yang sedang tertawa lepas. Hati sang Raja Kegelapan itu berdesir hebat, seperti disiram oleh air terjun yang menghidupkan kembali padang pasir yang mati. Tawa itu adalah melodi terindah yang pernah ia dengar. Segala kelelahan, tekanan dunia bawah tanah, dan sisa-sisa duka... semuanya sirna hanya dengan melihat binar mata wanita ini.
Aku adalah pria paling beruntung di dunia, batin Aldebaran.
Tanpa mempedulikan busa di hidungnya, Aldebaran tiba-tiba menerjang maju. Tangannya mencengkeram pinggang Amanda di dalam air, menarik wanita itu hingga menabrak dadanya, dan langsung meraup bibir yang sedang tertawa itu ke dalam ciuman yang dalam, rakus, dan menuntut.
Amanda terkesiap, tawanya tenggelam. Namun sedetik kemudian, ia mengalungkan kedua lengannya di leher tegap suaminya, membalas ciuman itu dengan gairah yang sama besarnya. Busa-busa berterbangan di udara saat tubuh mereka bergesekan di bawah permukaan air hangat, menciptakan bunyi kecipak air yang memecah kesunyian.
Saat Aldebaran akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, keduanya terengah. Dada mereka naik-turun bersentuhan. Mata kelam Aldebaran menatap lurus ke dalam mata Amanda dengan intensitas yang seolah mampu membakar jiwa.
"Kau tahu, Nona Millen," bisik Aldebaran dengan suara bariton yang serak karena gairah, ibu jarinya mengusap sisa air di bibir bawah istrinya. "Ribuan pria di luar sana rela memberikan nyawa mereka hanya untuk tidak melihatku marah. Dan kau... kau justru menempelkan busa murahan ke hidungku dan mengusirku dari bak mandiku sendiri."
Amanda tersenyum pongah, menyisir rambut basah Aldebaran ke belakang dengan jari-jarinya. "Aku bukan ribuan pria di luar sana. Aku istrimu. Dan di ruangan ini, aku yang berkuasa. Benar, kan?"
"Mutlak," kekeh Aldebaran, menyerah tanpa perlawanan. "Di luar pintu itu, aku adalah Tuan Besar Hendrick. Tapi di dalam sini, aku hanyalah budakmu, Ratu. Kau bisa menyuruhku melakukan apa saja."
"Kalau begitu, cuci rambutku," perintah Amanda manja, memutar tubuhnya kembali bersandar pada dada suaminya. "Pijat kepalaku yang benar. Kalau tidak enak, gajimu sebagai budak akan kupotong."
"Sesuai perintah Yang Mulia," jawab Aldebaran patuh.
Ia meraih botol sampo beraroma vanila dari rak marmer, menuangkannya ke telapak tangan yang kasar dan penuh bekas luka pertempuran itu, lalu mulai memijat kulit kepala Amanda dengan gerakan yang sangat berhati-hati. Jari-jari kokohnya menekan titik-titik lelah di kepala Amanda, membuai istrinya hingga wanita itu mengeluarkan desahan nikmat yang sangat pelan.
"Mhh... kau lumayan juga menjadi tukang keramas, Al," gumam Amanda dengan mata terpejam, menikmati setiap sentuhan suaminya yang membuat tubuhnya serasa meleleh.
"Aku bisa menjadi apa saja untukmu," balas Aldebaran. Ia mengecup puncak kepala Amanda yang berbusa, sama sekali tidak peduli bibirnya terkena sabun. Tangannya menyusuri leher jenjang istrinya, menelusuri tanda lahir kemerahan di balik telinga kiri Amanda—tanda yang dulu menjadi petunjuk awal perburuan gilanya.
"Al?"
"Hm?"
"Terima kasih," bisik Amanda pelan. Suara manjanya perlahan berubah menjadi nada yang sangat tulus dan dalam. "Terima kasih karena tidak pernah menyerah saat aku hancur. Terima kasih karena menepati janjimu untuk membuatku hidup kembali. Aku tahu... aku sangat merepotkan, banyak menuntut, dan menyebalkan akhir-akhir ini."
Tangan Aldebaran berhenti sejenak. Ia merengkuh tubuh basah itu semakin erat, menempelkan pipinya di sisi kepala Amanda.
"Kau tidak pernah merepotkan, Amanda," jawab Aldebaran dengan suara rendah yang menggetarkan dada. "Melihatmu manja, melihatmu marah, melihatmu menuntut perhatianku... itu adalah bukti bahwa kau percaya padaku. Kau membiarkan sisi terlemahmu dijaga olehku. Dan itu adalah sebuah kehormatan terbesar bagiku. Aku tidak menginginkan wanita yang sempurna. Aku hanya menginginkanmu, selamanya."
Amanda membuka mata, air mata haru yang hangat menetes bercampur dengan air bak mandi. Ia mendongak, menemukan wajah suaminya dari bawah, dan mendaratkan ciuman ringan di rahang tegas pria itu.
"Aku mencintaimu, Monster," bisik Amanda, sebuah senyum menggoda kembali terbit di bibirnya.
Mata Aldebaran menggelap. Hasrat yang sejak tadi ia tekan kini meledak diiringi seringai nakal yang berbahaya.
"Karena kau baru saja menyatakan cinta, kurasa acara berendam santai kita sudah selesai, Sayang," geram Aldebaran dengan nada posesif. Tanpa aba-aba, pria itu berdiri, mengangkat tubuh basah Amanda keluar dari air seolah wanita itu seringan bulu, membuat air tumpah berhamburan membasahi lantai marmer hitam.
"Al! Kita belum selesai berendam!" pekik Amanda, tertawa kaget sambil mengalungkan kakinya di pinggang sang suami.
"Airnya sudah mulai dingin," kilah Aldebaran arogan, menatap bibir istrinya dengan lapar. Ia melangkah lebar membawa Amanda menuju ranjang raksasa mereka yang hangat. "Dan aku tahu cara yang jauh lebih baik untuk membuat tubuhmu berkeringat, Ratu-ku."
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭