Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.Aku ingin damai
Aroma cairan antiseptik rumah sakit perlahan tergantikan oleh wangi pengharum ruangan beraroma kayu cendana yang mahal dan dingin. Namun bagi Aruna, perbedaan bau itu tak mengubah apa pun. Udara di sekitarnya tetap terasa begitu mencekik, seberat batu besar yang menindih dadanya tanpa henti.
Mobil sedan mewah milik Kaivan yang dikendarai oleh supir pribadi baru saja berhenti sempurna di pelataran rumah megah berarsitektur modern itu. Pintu penumpang dibuka dari luar oleh Bi Asih dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas.
"Mari, Nona Aruna... pelan-pelan ya, Nak," bisik Bi Asih lembut seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Aruna turun.
Aruna tidak menjawab. Wajahnya yang pucat pasi bak kertas tanpa darah terpantul singkat pada kaca mobil yang gelap.
Bibirnya yang mengering tertutup rapat, sementara matanya menatap kosong ke arah pintu utama rumah yang berdiri kokoh dan angkuh. Tangannya yang terbungkus perban putih tebal mendekap erat di depan dada, seolah-olah perban itu adalah satu-satunya perisai rapuh yang tersisa untuk melindungi jiwanya yang sudah hancur berkeping-keping.
Secara fisik, dokter memang telah mengizinkannya pulang. Cairan infus telah selesai mengalir, tekanan darahnya sudah dinyatakan stabil, dan luka bakar di punggung tangannya telah dibersihkan serta diberi salep pemulih.
Namun, tidak ada satu pun dokter di dunia ini yang sanggup memeriksa luka yang membusuk jauh di dalam lubuk jiwanya.
Aruna tidak pernah benar-benar sembuh.
Melangkah masuk ke dalam rumah mewah ini terasa persis seperti melangkah kembali ke dalam sangkar besi tempat ia disiksa secara perlahan. Setiap sudut lorong, setiap ornamen kayu yang dingin, dan setiap pantulan cahaya lampu hias seakan berbisik mengutuk keberadaannya.
“Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu, Aruna?”
“Dasar anak tidak berguna! Cuma menambah beban pikiran orang tua!”
“Syukuri ada pria kaya yang mau menukarmu dengan uang tiga puluh miliar! Kalau bukan karena utang Ayah, kamu tidak akan pernah punya harga!”
Suara-suara beracun dari masa lalunya bergema bergantian di dalam kepalanya, memekakkan telinga meski ruangan di sekitarnya begitu hening.
Sejak kecil, Aruna tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dicintai tanpa syarat. Saat anak-anak lain dipeluk hangat ketika menangis, Aruna kecil justru dikurung di dalam kamar gelap karena dianggap mengganggu ketenangan ayahnya yang sedang stres memikirkan bisnis. Saat ia berusaha keras mendapatkan nilai terbaik di sekolah, ibunya—Rosmala—hanya melirik dingin tanpa pernah memberikan patah kata pujian.
Ia selalu menjadi bayang-bayang, anak yang diabaikan, ditinggalkan di sudut ruangan sampai ia sendiri lupa bagaimana rasanya diharapkan.
Dan ketika ia tumbuh dewasa, harapan rapuh bahwa keluarganya akan melindunginya hancur lebur. Ia tidak dicintai, melainkan dijual. Dijadikan barang jaminan bernilai puluhan miliar untuk menyelamatkan nama baik keluarga Rasyara yang keji.
Lalu, apa yang ia dapatkan setelah menikah?
Bukan perlindungan. Bukan pula tempat bernaung. Ia berpindah dari satu neraka ke neraka lain. Di rumah ini, pria yang menjadi suaminya—Kaivan Adikara memandangnya dengan jijik, menuduhnya penipu, membentaknya, menyiramkan rasa benci, hingga menguncinya dalam kegelapan tanpa makanan dan minuman.
Aruna berjalan lambat menaiki anak tangga satu demi satu dengan langkah yang gemetaran. Bi Asih berjalan di sampingnya dengan raut wajah penuh penyesalan, memegangi siku Aruna yang begitu kurus.
"Nona... Pak Kaivan tadi pesan, Nona harus langsung istirahat di kamar. Bibi sudah buatkan bubur halus dan sup hangat di dalam," kata Bi Asih lirih, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan.
Aruna hanya mengangguk pelan tanpa suara. Tatapannya lurus menatap lantai kayu.
Di matanya, pesan Kaivan bukanlah bentuk perhatian, melainkan perintah seorang majikan kepada barang tunggaraannya agar tidak mati membusuk sebelum urusan bisnisnya selesai.
Begitu sampai di depan pintu kamar di ujung koridor lantai dua, langkah Aruna terhenti sejenak. Pintu kayu tebal itu tampak begitu menakutkan. Di sanalah, dua hari lalu, suara dentum kunci yang berputar memenjarakannya dalam dingin dan ketakutan yang luar biasa.
Dengan jemari tangan kirinya yang tak terluka, Aruna mendorong pintu itu perlahan.
Kamar itu sudah dibersihkan secara sempurna. Tidak ada lagi pecahan cangkir kopi yang berserakan, tidak ada lagi noda hitam di atas karpet, dan gorden tebal telah dibuka lebar menampilkan pemandangan langit sore Jakarta yang mendung dan kelabu. Namun, udara di dalam kamar ini tetap terasa beracun bagi Aruna.
"Bibi tinggalkan ya, Nona... Kalau butuh apa-apa, panggil Bibi di bawah," ucap Bi Asih ragu-ragu, lalu perlahan menutup pintu kamar dari luar.
KLAK.
Suara pintu yang terkatup rapi membuat Aruna tersentak kecil.
Kini, ia sendirian lagi.
Aruna berjalan kaku mendekati tempat tidur berukuran besar di tengah ruangan. Ia tidak mendudukinya. Gadis itu justru menggeser tubuhnya menyusur dinding, lalu perlahan menurunkan badannya hingga terduduk kaku di atas lantai marmer yang dingin di samping tempat tidur—posisi yang sama persis saat Kaivan menguncinya dan meninggalkannya pingsan.
Aruna memeluk kedua lututnya yang gemetaran, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan.
Dada ringkihnya mulai naik turun. Satu isolasi suara napas yang parau dan patah-patah keluar dari tenggorokannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya mati-matian akhirnya pecah, menetes lebat membasahi kain celananya.
"Kenapa..." bisik Aruna lirih, suaranya pecah terhalang tenggorokan yang perih. "Kenapa aku harus dilahirkan kalau cuma untuk dibuang...?"
Rasa sakit yang menghujam dadanya begitu dahsyat, jauh lebih menyiksa daripada perihnya luka bakar di punggung tangannya. Ia merasa sepenuhnya hampa, kosong, dan tidak bernilai. Seolah-olah seluruh keberadaannya di dunia ini adalah sebuah kesalahan besar yang tidak pernah diinginkan oleh siapa pun.
Keluarganya membuangnya. Teman-teman kafenya—Bagas, Rian, Maya—pasti kini memandangnya sebagai wanita murahan yang menjual diri pada pengusaha kaya raya setelah berita itu viral. Dan Kaivan... pria itu hanya menganggapnya sebagai hama yang terpaksa ditampung di rumah ini.
Tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang benar-benar menerimanya. Tidak ada satu pun pelukan yang benar-benar tulus menggenggam jemarinya.
Aruna mendongakkan kepalanya pelan, menatap lurus ke arah meja rias besar di sudut kamar. Di atas meja kayu itu, terdapat sebuah vas bunga kaca tebal yang berisi beberapa tangkai bunga mawar putih yang mulai layu.
Tatapan mata Aruna yang basah mematung pada vas kaca tersebut.
Kalau aku tidak ada lagi di dunia ini... apakah akan ada yang kehilangan? tanya Aruna pada dirinya sendiri di dalam hati.
Jawabannya langsung hadir dengan sangat jelas dan kejam: Tidak ada.
Ayah dan ibunya mungkin hanya akan meratapi hilangnya jaminan utang mereka. Kaivan mungkin justru akan merasa lega karena beban yang menyusahkan jadwal kerjanya telah lenyap. Dunia akan tetap berputar seolah-olah seorang gadis bernama Aruna Rasyara tidak pernah menginjakkan kaki di bumi.
Lebih baik mati...
Pemikiran kelam itu menyusup masuk ke dalam sanubarinya seperti racun yang sangat manis. Bayangan tentang kedamaian yang abadi—sebuah tempat di mana tidak ada lagi bentakan, tidak ada penolakan, tidak ada perbandingan kejam, dan tidak ada rasa sakit yang melilit dadanya—terasa begitu menggiurkan.
Rasanya... akan sangat tenang kalau aku berhenti bernapas.
Aruna merangkak pelan di atas lantai marmer yang dingin. Gerakannya lambat dan pasrah, bagai sesosok mayat hidup yang digerakkan oleh keputusasaan mendalam. Jemarinya yang gemetaran terulur meraih vas kaca di atas meja rias.
PRANG!
Vas kaca itu jatuh menghantam lantai marmer, pecah berkeping-keping menjadi puluhan serpihan tajam yang berkilau di bawah temaram cahaya sore. Air bunga dan kelopak mawar yang layu berserakan di sekitar lutut Aruna.
Aruna tidak terkejut oleh suara pecahan yang nyaring itu. Ia bahkan tidak berkedip. Tangannya yang terbungkus perban terulur tanpa ragu, memilih satu pecahan kaca yang paling tajam dari atas lantai.
Ujung kaca yang runcing itu terasa begitu dingin di permukaan kulit pergelangan tangan kirinya.
Aruna memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya mengalir makin deras, menyapu pipinya yang pucat. Tidak ada rasa takut di dalam hatinya saat ini. Yang ada hanyalah kerinduan yang amat sangat akan rasa dingin dan sunyi yang tidak akan pernah bisa dilukai oleh siapa pun lagi.
"Ibu... Ayah... Pak Kaivan..." bisik Aruna pasrah dalam keputusasaan yang paling gelap. "Terima kasih... karena sudah membuat saya paham... kalau saya memang tidak pernah pantas untuk hidup..."
Jemari Aruna mencengkeram erat pecahan kaca itu, bersiap menekan ujungnya yang tajam menembus kulitnya yang halus.
Sementara itu, di lantai bawah, suara pintu utama yang terbuka keras mengejutkan Bi Asih yang sedang berada di dapur.
Kaivan melangkah masuk ke dalam rumah. Pria itu baru saja menyelesaikan rentetan rapat marathon di kantornya. Wajahnya tampak sangat lelah, dengan bayangan hitam melingkar di bawah matanya. Meski di depan Sekretaris Dimas ia bersikap dingin dan tidak peduli, kenyataannya pikiran Kaivan sama sekali tidak bisa lepas dari Aruna sejak gadis itu diperbolehkan pulang dari rumah sakit siang tadi.
"Bi Asih," panggil Kaivan kaku, melepas kancing teratas kemejanya seraya berjalan menuju tangga.
"Bagaimana dia? Apakah dia memakan obatnya?"
Bi Asih yang baru keluar dari dapur menunduk sopan. "Nona Aruna baru saja sampai sekitar setengah jam yang lalu, Pak.
Beliau langsung naik ke kamar. Saya sudah siapkan makanan, tapi Nona Aruna kelihatan sangat diam dan—"
PRANG!
Suara barang pecah yang amat nyaring bergemuruh dari koridor lantai dua, tepat dari arah kamar Aruna.
Langkah Kaivan mendadak berhenti di tengah tangga. Jantungnya berdegup kencang secara insting. Wajahnya yang kaku berubah pasi dalam hitungan detik.
"Suara apa itu, Bi?!" bentak Kaivan, rasa panik mendadak menyeruak hebat di dalam dadanya tanpa bisa dibendung.
"S-saya tidak tahu, Pak! Itu dari kamar Nona Aruna!" jawab Bi Asih panik.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kaivan membalikkan badannya dan melompati anak tangga dua sekaligus. Perasaan tidak enak yang sangat dahsyat menghantam dadanya dengan keras. Bayangan raut wajah Aruna yang hampa, ketakutan, dan tanpa harapan saat di rumah sakit mendadak berputar cepat di dalam kepalanya.
"Aruna!" teriak Kaivan, merobek kesunyian lorong lantai dua.
Pria itu sampai di depan pintu kamar Aruna yang tertutup rapat. Ia tidak mengetuk. Dengan kepanikan liar yang membakar seluruh logikanya, Kaivan memutar gagang pintu dan mendobraknya hingga terhempas kencang.
BRAK!
"Aruna!"
Pemandangan di dalam kamar seketika membuat darah Kaivan membeku di dalam pembuluh darahnya.
Aruna duduk meringkuk di antara pecahan kaca dan air bunga yang berserakan di lantai. Tangan kirinya memegang pecahan kaca tajam yang sudah menempel tepat di atas nadi pergelangan tangannya, siap untuk digoreskan kencang. Wajah gadis itu tertunduk, basah oleh air mata, dengan sorot mata yang sepenuhnya mati dan tanpa kehidupan.
"ARUNA! JANGAN!" jerit Kaivan dengan suara bariton yang pecah oleh kepanikan murni.
_Bersambung