Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi putriku
Dring! Dring!
Ponsel Elea sedari tadi terus berdering, sementara sang pemilik sibuk melayani pembeli.
Dring! Dring!
Ponsel itu terus berdering, hinga salah satu pembeli Elea menegurnya.
"Bu, El. Ponsel Ibu sedari tadi bunyi terus."
Elea menghentikan aktivitasnya, ia membersihkan tangannya.
"Bu, saya angkat telepon dulu, ya."
"Iya, Bu. Kami juga nggak buru-buru kok."
Elea tersenyum tipis, lalu mengambil ponselnya.
Nama kepela sekolah Lyn tertera di layar.
"Ada apa ini?" gumamnya. Ia kemudian menghubungi kembali kepala sekolah.
"Halo, Pak," ucapnya saat sambungan terhubung.
"..."
Mata Elea melebar.
"Apa!?"
"..."
"Baik, Pak. Saya akan segera ke sana."
Tut! Panggilan terputus.
"Kenapa, Bu El. Tegang amat muka, Ibu," ucap salah satu pembeli Elea menyadari perubahan Elea.
"Nggak apa-apa, Bu," balasnya dengan tenang. "Ibu mau beli apa lagi? Saya akan menutup kedai."
"Cepat amat Bu, kue Ibu masih lumayan banyak lo."
"Saya ada keperluan mendadak, Bu."
Untung saja para pembeli Elea mengerti, mereka meninggalkan kedai Elea tanpa banyak tanya.
Elea segera menutup kedainya, wajahnya terlihat tegang. Entah informasi apa yang Pak kepala sekolah sampaikan membuatnya panik.
—•—
{Ruangan kepala sekolah Eldoria International School}
Di dalam ruangan, suasana begitu mencengkam.
Kedua orang tua Clarisa, telah hadir. Akibat pertengkaran Lyn dan Clarisa, kepala sekolah memanggil orang tua kedua siswi itu.
"Kapan orang tua dia datang?" ucap Citra Narendra—Ibu Clarisa, menatap tajam ke arah Lyn. Di sampingnya, Clarisa duduk dengan wajah di perban akibat cakaran Lyn.
"Ibu Lyn sudah dalam perjalanan kemari, Nyonya," sahut Pak Ardi—sang kepala sekolah.
Citra mendengus, tatapannya begitu tajam kepada Lyn.
Sementara Lyn hanya menampilkan wajah datar.
"Daddy, pokoknya dia harus dapat balasan setimpal!" ucap Clara pada Ayahnya.
Cakra menatap putrinya, mengangguk singkat.
Tok! Tok!
Krek! Pintu terbuka perlahan.
Elea masuk ke dalam ruangan, lalu mengangguk sopan.
Pak Ardi segera menghampirinya. "Kenapa lama sekali?" ucapnya sambil menatap kedua orang tua Clarisa.
"Maaf," balas Elea.
Citra menatap Elea dari atas sampai bawah, lalu berdecih pelan.
"Bagaimana cara kamu membesarkan putrimu, hah?!"
"Lihat putriku, wajahnya penuh cakaran akibat ulah putrimu yang monster ini," geram Citra.
Elea menatap Clarisa, wajahnya memerah dan penuh cakaran.
Clarisa membalasnya dengan sinis.
"Ibu..." Lyn menatap ibunya. "Dia yang mulai lebih dulu," ucapnya sambil menunjuk Clara. "Dia yang sering menggangguku. Kesabaranku sudah habis, jadi aku balas dia."
"Lyn. Diamlah," ucap Elea.
"Ibu... dia yang menjebakku ke ruang olahraga, lalu memukulku di sana."
"Lyn!"
Lyn mengusap wajahnya dengan kasar. "Ibu nggak percaya sama aku?"
"Lyn!" tegur Pak Ardi tegas, isyarat agar gadis itu diam.
"Maafkan anak saya, Nyonya," ucap Elea sambil menunduk.
Mata Lyn melebar, ia tidak menyangka dengan ucapan Ibunya.
"Bu!"
"Maaf?" Citra berdecih. "Maafmu tidak akan mengembalikan wajah putriku!"
"Kalian harus tahu, perawatan wajah putriku lebih mahal dibanding harga diri kalian!"
"Jaga bicara Anda, Nyonya," ucap Lyn tak terima dengan ucapan Citra.
Elea segera menggenggam tangan putrinya, lalu menggeleng kepala pelan.
"Beraninya kamu melawan, dasar anak kurang ajar!" kesal Citra.
"Nyonya, putri Anda itu kejam! Dia rela melakukan apa saja demi keinginannya sendiri," teriak Lyn.
"Lyn!" tegur sang ibu.
"Jaga ucapanmu gembel!" kesal Clarisa, lalu ia menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Mom, Dad, aku nggak seperti itu. Dia memang seperti itu karena iri padaku, aku mempunyai keluarga yang lengkap, sedangkan dia hanya dibesarkan oleh seorang Ibu saja."
Mata Lyn melebar. "Jaga omongan lo sialan!"
"DIAM!"
Suara Cakra menggema di ruangan.
Tanpa berpikir panjang, Elea langsung berlutut di hadapan keluarga Narendra.
"Maafkan putriku..."
"Aku gagal mendidiknya..."
Lyn mengusap wajahnya dengan kasar, air matanya perlahan menetes.
"Dengan segala hormat, aku memohon... agar kalian memaafkan Lyn."
"Ibu... Ibu nggak perlu berlutut seperti itu."
Ucapan Lyn tak didengarkan oleh Elea.
"Lyn akan terima hukumannya," lanjut Elea.
Cakra menatap Elea, lalu ia menatap Pak Ardi.
"Ardi..."
"Iya, Tuan," jawabnya sambil menunduk hormat.
"Lakukan sesuai aturan sekolah," ucap Cakra dengan dingin.
"Siap, Tuan!"
—•—
"Lyn..."
Lyn tak menggubris ibunya, ia terus melangkah tanpa menoleh.
"Lyn, kamu ingin makan siang dimana, Nak?" ucap Elea berusaha menenangkan putrinya.
"Lyn..."
Lyn menghentikan langkah, lalu berbalik badan.
"Bu, kenapa Ibu nggak percaya sama aku?"
"Clarisa yang salah Bu!"
"Aku sudah tidak tahan dengan semua perlakuannya kepadaku..."
"Bisa-bisanya Ibu menjatuhkan harga diri sendiri..." teriak Lyn.
Elea terdiam.
"Kenapa Ibu nggak bisa jawab, hah!?"
"Kenapa Ibu rela berlutut pada mereka hah? Apa mereka orang berkuasa, jadi bisa seenaknya seperti itu pada kita?"
"Lyn bukan begitu Nak, Ibu hanya tidak ingin..."
Lyn mengangkat tangan, tak ingin ibunya melanjutkan ucapan.
"Sudah! Aku nggak mau mendengarkan ucapan Ibu!"
"Aku kecewa sama Ibu..."
Napas Lyn tersengal-sengal. "Malam ini, aku mau nginap di rumah temanku. Jangan cari aku!"
Setelah mengatakan itu, Lyn meninggalkan ibunya.
"Lyn..."
Lyn tak menoleh, ia terus melangkah. Kekecewaan masih membekas di hatinya, membayangkan ibunya berlutut di hadapan orang tua Clarisa.
Elea menghela napas pelan.
"Maafkan Ibu, Nak..." lirihnya.
—•—
"Pak Ardi."
Suara itu terdengar dingin, membuat Pak Ardi menghampiri Cakra.
"Iya, Tuan," jawabnya sambil membungkuk hormat, suaranya sedikit gemetar.
"Jika kejadian ini terjadi lagi pada putriku... sekolah ini akan hancur," ucap Cakra tanpa mengangkat suara, namun setiap kata terasa seperti ancaman.
Pak Ardi meneguk ludahnya dengan kasar, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Siap, Tuan. Saya pastikan ini yang terakhir."
Cakra memasukkan tangannya ke saku celana, tatapannya lalu beralih menatap Elea yang berdiri sendirian di lapangan, jauh dari yang lain.
"Apa pekerjaan dia?"
Pak Ardi mengikuti pandangan Cakra.
"Dia hanya seorang penjual kue, Tuan."
Cakra tak berkomentar apa pun, ada sesuatu dalam sorot matanya.
"Daddy, ayo kita pulang. Clarisa harus dapat perawatan khusus," ucap Citra menghampiri suaminya.
Cakra mengangguk singkat, lalu berbalik tanpa berkata-kata lagi.
Para bodyguard bergegas membukakan pintu mobil untuk keluarga terpandang itu.
"Urus surat pindah dia," ucap Asisten Cakra, kepada Pak Ardi, sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
"Siap, Tuan," jawab Ardi cepat.
Satu per satu, puluhan mobil mewah meninggalkan halaman sekolah.