NovelToon NovelToon
Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ibu ditca

Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.

Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.

Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.

Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Mahesa kembali meeting dengan Estu. Tapi sepertinya rekan bisnisnya tersebut kurang fokus sejak meeting di mulai.

"Oke...jadi semua sudah berjalan sesuai dengan rancangan terbaru. Pintu gerbang utama kluster akan tetap di sana, hanya pintu masuk kendaraan proyek saja yang di pindahkan."

Semua anggota rapat pun mengangguk tanda mengerti. Nyatanya protes dari salah seorang guru SLB yang tepat di depan pintu masuk proyek sudah mampu merubah rencana proyek.

Meeting pun selesai, tinggallah para petinggi yang ada di sana.

"Ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu ya?" tanya Mahesa ketika mereka sudah berdua di ruangan tersebut. Mahesa menyuruh Rino membelikan makan siang untuk mereka.

"Esther, dia sudah dewasa. Watak keras kepala nya seperti aku hahh!"

Estu membuang nafas nya cukup berat.

"Sorry...selama kita bekerja sama, aku tidak tahu sama sekali tentang putri mu. Yang aku tahu, kamu single. Hanya itu."

"Tidak ada yang menarik dalam hidup ku, jadi tidak ada yang perlu di ceritakan."

Senyuman tipis nampak terpaksa Estu tunjukkan.

Mahesa mengangguk pelan.

"Ingin menemui Esther? Dia mengajar di sekolah depan."

Estu menoleh ke arah Mahesa beberapa saat. Ada keraguan di sana.

"Tapi... seperti nya dia sangat membenciku. Aku memakluminya."

"Tidak ada salahnya memperbaiki hal yang sudah rusak. Meski mungkin tak utuh, setidaknya sudah berusaha kan?"

Obrolan itu terhenti saat Rino membawa makan siang untuk bosnya. Ia menyiapkan untuk Mahesa juga Estu sekaligus. Rino cukup heran, sekelas Estu tak menggunakan jasa asisten yang mendampinginya seperti Candra yang notabene anak kemarin sore.

Bahkan dari segi harta, mungkin Estu masih di atasnya Mahesa.

"Kamu ngga makan, No?" tanya Mahesa.

"Maaf bos, saya makan duluan di sana" jawab Rino dengan malu-malu. Mahesa hanya mengangguk pelan.

Ia dan Estu menikmati makan siangnya beberapa saat.

"No, coba habis ini kamu cek ke sekolah depan. Saya dan pak Estu ingin bertemu dengan Esther."

"Esther?"

"Iya, gadis yang kemarin protes ke sini."

"Oh ...iya bos, siap. Saya langsung ke sana sekarang."

Rino pun bergegas ke sekolah di mana Auri mengajar. Tak butuh waktu lama, sekolah itu hanya bersebrangan dengan proyeknya.

Rino menemui satpam dan di persilahkan ke ruang guru untuk bertemu dengan Esther.

"Selamat siang?" sapa Rino. Kebetulan di ruang guru hanya ada Awan dan kepala sekolah.

"Selamat siang, maaf ada yang bisa kamu bantu?" tanya Awan.

"Perkenalkan saya Rino. Tujuan saya kemari ingin bertemu dengan Nona Estheria, beliau ada?" tanya Rino.

Awan mengernyitkan alisnya. Ia tentu ingat nama lengkap gadis pujaannya. Tapi ia masih mengingat wajah Rino yang sepertinya pernah ia lihat.

"Esther siapa?" tanya kepala sekolah.

"Eum, Bu Auri pak", jawab Awan. Kepala sekolah itu hanya mengangguk pelan.

Rino menganggukkan kepala. Terus terang, ia memang tak tahu nama musuh dari sahabatnya itu.

"Oh.... ada kepentingan apa anda dengan Bu Auri? Kebetulan hari ini beliau tidak mengajar, sampai tiga hari ke depan."

"Hah? Tidak mengajar? Kenapa pak? Bu Auri sakit?"

"Selama tiga hari, Bu Auri tidak di perkenankan mengajar."

"Memang nya kenapa pak? Apa ada kaitannya dengan kejadian kemarin di proyek?"

Kepala sekolah mengangguk.

"Ya, sebagai bawahan. Beliau terlalu berani menentang dan membangkang dari perintah atasan."

Rino mencerna ucapan kepala sekolahnya.

"Apakah ada pihak yang mengintimidasi anda sampai anda menghentikan Bu Auri sementara?" tanya Rino memberanikan diri.

Awan tak buka suara, dia hanya memperhatikan dua orang itu yang saling tanya jawab.

"Tidak!" jawab kepala sekolah singkat.

Rino pun undur diri. Ia segera melaporkannya langsung pada bosnya. Bisa saja ia telepon, tapi pada akhirnya dia harus menceritakan secara langsung bukan?

.

.

"Bagaimana No?"

"Maaf bos, Nona Auri di berhentikan sementara selama tiga hari karena katanya tidak mematuhi atasannya."

Estu dan Mahesa mengerutkan alisnya.

"Tidak mematuhi yang seperti apa?" tanya Estu.

"Soal protesnya kemarin pak Estu."

Estu mengusap wajahnya dengan kasar. Ada perasaan tak menentu di sudut hatinya.

"Serius banget sih, ada apa ini?" tiba-tiba saja Candra bergabung.

Rino dan dua pengusaha besar itu menatap Candra bersamaan.

Candra menaikkan salah satu alisnya. Seperti nya ia datang di waktu yang tidak tepat. Sampai tatapan ketiga orang itu membuatnya heran.

"Apaan sih?" tanya Candra.

Setelah ia mendudukkan bokongnya, papanya juga Rino tak memberi respon apa pun.

"Oh iya Pa. Tugas yang papa kasih sudah selesai, ya... mungkin ngga sampai seminggu semua selesai. Banner, umbul-umbul, papan reklame...."

"Di mana dapet nya, kok cepet?" tanya Rino pada akhirnya. Candra mendengus kesal pada sahabat sekaligus asistennya itu.

"Adalah di suatu tempat."

"Ya di mana?" tanya Rino masih kekeh.

"Di AM digital printing. Dan kayaknya Lo bakal syok kalo tahu siapa yang punya tuh lapak."

Estu dan Mahesa masih sibuk memikirkan Auri yang di nonaktifkan sementara gara-gara masalah kemarin. Jadi tak terlalu memperdulikan ocehan Candra.

"Syok? Siapa? Emang siapa yang kita kenal di sini?" cerca Rino.

"Ckkkk Lo mah! Yang punya tuh tempat, Auri! Musuh bebuyutan gue! Gila, gue sampe mohon-mohon minta tolong sama dia awalnya. Tapi keberuntungan berpihak sama gue. Mantan dia datang buat ambil pesanan undangan pernikahannya. Si Auri ini ragu, mau dateng apa ngga. Ya udah gue ajakin drama tuh gadis galak, gue pura-pura jadi cowoknya. Tapi imbalannya, dia harus terima job dari gue. Males gue nyari-nyari percetakan lagi. Kerja cerdas kan gue??? Hehehe" ,kata Candra panjang kali lebar.

Rino, Estu dan Mahesa sontak menatap pemuda tampan itu. Sedang yang di tatap kebingungan.

"Ada apa liatin gitu sih?'

"Papa dan om Estu punya tugas buat kamu."

Candra menunjuk wajah nya sendiri.

"Tugas? Aku lagi, Pa?" tanya Candra.

Mahesa mengangguk sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja.

"Bantu om ya, Ndra!"

"Bantu apa Om?" kening nya bertaut.

"Tolong kamu dekati Esther....eum...Auri" kata Estu.

Candra memundurkan kepalanya.

"Maksudnya?"

Estu menjelaskan apa yang harus Candra lakukan untuk mendekati Auri.

"Tapi om..."

"Please Ndra, kali ini saja...!" kata Estu memohon.

Candra di dera kebimbangan. Apa yang harus dia lakukan? Mendekati Auri karena permintaan Om Estu?

Padahal seharusnya mereka tahu kalau Candra dan Auri seperti tikus dan kucing!!!

❤️❤️❤️❤️

Makasih yang bersedia mampir ke tulisan Mak Othor 🙏🏻

Sebenarnya mak Othor mah pengen bgt rajin update kaya dulu2. Tapi apalah daya, Mak Othor skrg sibuk nyari duit buat anak2 sama ayahnya yang masih rutin pengobatan kanker.

Mohon doanya ya man teman reader's 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🫶🏻🫶🏻🫶🏻

1
Asriani Rini
Semsngat mak author semoga suaminya cepat sembuh
indy
Semangat kakak💪
Endang 💖
menarik,tp plisssss up tiap hari y thor
sakura
...
Asriani Rini
Aku kasih buga biar rajin up tiap hari
Asriani Rini
Lanju thor banyak banyakup nya biar kita enggak penasaran trrus 🙏🏻
Dhina Dindin
next yuk semangat ya Bun...selalu dinanti😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!