NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1.Baru menyadari.

Angin pagi menyapu dedaunan kering di halaman gubuk reyot itu, membawa aroma tanah lembap dan jerami kering. Di depan tungku kayu yang asapnya mengepul pelan, seorang gadis berdiri mematung, menatap sepotong ubi rebus yang berantakan di lantai tanah. Tangan kirinya memegang sendok kayu kasar, kakinya telanjang terasa dingin menyentuh lantai yang retak.

"Sudah dua tahun..." gumamnya pelan, napasnya memburu di udara pagi yang sejuk. "Sudah dua tahun aku di sini, dan aku masih belum terbiasa."

Namanya Li Hua. Atau setidaknya, itulah nama yang sama—nama yang dulu terukir di papan nama meja kerjanya di kamar penuh permadani sutra, nama yang dipanggil puluhan pelayan setiap pagi, nama yang disertai gelar "Nona Besar" di setiap pesta keluarga. Namun dunia itu lenyap dalam sekejap mata, tertutup bunyi dentuman logam yang memekakkan telinga dan cahaya terang yang menyilaukan saat mobil mewah yang ia tumpangi terguling jatuh ke jurang pada hari ulang tahunnya yang kedelapan belas.

Saat ia terbangun, bukan langit-langit tinggi berukir bunga yang dilihatnya, melainkan atap rumbia yang berlubang. Bukan selimut sutra yang membalut tubuhnya, melainkan kain tipis yang kasar. Dan yang paling mengejutkan—wajah yang ia lihat di pantulan air adalah wajahnya sendiri. Sama persis. Matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tegas... semuanya tak berubah. Hanya saja, kulitnya kini lebih gelap terbakar matahari, tangannya kasar dan penuh kapalan, dan pakaian yang ia kenakan hanyalah kain katun lusuh yang warnanya sudah pudar.

Ia tetap Li Hua. Wajahnya sama, namanya sama. Namun hidupnya kini terbalik sepenuhnya.

Li Hua menarik napas panjang, lalu berlutut membersihkan ubi yang jatuh itu. "Sudahlah, Li Hua. Mengeluh tak akan mengisi perut. Dulu kau makan tiga jenis hidangan setiap kali makan, sekarang satu ubi rebus saja sudah berkah. Syukuri saja."

Hari-hari pertamanya di Desa Han Xi sungguh menyiksa. Ia tak tahu memasak, tak tahu mencuci pakaian dengan tangan, tak tahu menyalakan api tungku tanpa kompor. Ia kelaparan, kedinginan, menangis sendirian di gubuk itu setiap malam. Namun perlahan-lahan, ia belajar. Ia belajar menumbuk padi, mengambil air dari sumur, menanam sayuran di halaman kecil. Dan yang paling mengejutkan—seiring berjalannya waktu, ia mulai merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan di rumah mewah orang tuanya: kebebasan.

Tak ada pelayan yang menata pakaiannya setiap pagi, tapi tak ada juga aturan tentang warna pakaian apa yang boleh dipakai. Tak ada yang menyiapkan sarapan di meja, tapi tak ada juga jadwal pelajaran musik dan tata krama yang menyesakkan. Ia bisa berlari di pinggir sawah tanpa dikawal siapa pun, duduk di bawah pohon rindang sepuasnya, tidur saat matahari terbenam tanpa diingatkan tentang pesta atau pertemuan keluarga.

Aneh, batinnya sambil mengunyah ubi yang agak gosong itu. Dulu aku merasa hidupku penuh kemewahan tapi kosong. Sekarang aku miskin, makan seadanya, pakaian berlubang... tapi aku merasa lebih hidup dari sebelumnya.

Namun kebahagiaan sederhana itu tak berlangsung lama.

Suara derap kuda memecah keheningan pagi, mendekat semakin keras hingga membuat tanah bergetar. Li Hua berhenti mengunyah, menoleh ke arah pintu gubuk yang terbuka. Kereta kuda besar berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan pintunya, menabrak dedaunan kering yang berserakan. Pintu kereta terbuka, dan seorang wanita paruh baya turun dengan anggun—berpakaian kain sutra bermotif awan, rambutnya tersanggul rapi dengan tusuk konde perak, wajahnya tegas namun cantik.

Li Hua menegang. Ia mengenali jenis pakaian itu—pakaian pelayan tingkat tinggi di kalangan bangsawan.

Wanita itu melangkah mendekat, menatap gubuk itu sekilas dengan tatapan tak suka, lalu menatap Li Hua yang berdiri di ambang pintu.

"Kau Li Hua?" suaranya lantang, berwibawa, tak seperti warga desa mana pun.

Li Hua mengerutkan kening, memeluk tubuhnya yang hanya berpakaian sederhana. "Aku. Siapa kamu?ada urusan apa mencari ku?."

Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. "Namaku Bibi Niang. Aku diperintahkan Tuan Besar Keluarga Zhang untuk menjemputmu pulang. Kau adalah Nona Kedua Keluarga Zhang, dan saatnya kau kembali ke kediaman utama di ibu kota."

Li Hua ternganga. "Nona Kedua... Keluarga Zhang?" Ia menggeleng cepat. "Kau salah orang. Aku hanya gadis desa yang hidup sendirian di sini. Aku tak punya keluarga bangsawan mana pun."

Bibi Niang menghela napas, seakan sudah menduga jawaban itu. "Tidak ada kesalahan. Kami dulu menitipkan dirimu di rumah bibi Wang yang sekarang sudah meninggal,dan saatnya sekarang nona muda kembali."

"Aku tidak mau!" Li Hua mundur selangkah, menegakkan punggungnya. "Aku nyaman di sini. Aku tak kenal siapa Tuan Zhang itu, dan aku tak ingin ikut denganmu!"

Senyum Bibi Niang menghilang. Wajahnya kembali dingin dan kaku. "Nona Kecil, jangan mempersulit keadaan. Ini perintah Tuan Besar. Kamu harus pulang."

"Aku bilang tidak mau!" Li Hua berbalik hendak masuk ke dalam gubuk dan mengunci pintunya.

Namun Bibi Niang memberi isyarat dengan tangan. Dua orang pengawal yang duduk di depan kereta segera turun dan melangkah mendekat.

"Jika kau tidak mau ikut dengan baik-baik..." Bibi Niang memberi isyarat ke arah gubuk itu. "Kami akan membakar tempat ini. Dengan begitu, tak ada lagi alasan bagimu untuk tetap tinggal."

Li Hua berhenti melangkah, menoleh dengan mata terbelalak tak percaya. "Kau... kau tidak mungkin berbuat begitu!"

"Cobalah lihat," Bibi Niang mengangguk pada salah satu pengawal yang memegang obor menyala. "Apakah aku bercanda?"

Api kecil sudah menyala di ujung kayu itu, siap dihantarkan ke dinding gubuk dari bambu kering itu. Li Hua menatap gubuk kecilnya—tempat yang ia bangun kembali dengan tangannya sendiri, tempat yang melindunginya selama dua tahun ini. Hatinya perih. Ia tahu, wanita di depannya tak main-main.

"Baiklah..." suara Li Hua bergetar. "Aku ikut."

Namun saat ia melangkah mendekat, kedua pengawal itu tiba-tiba mencengkeram lengannya kuat-kuat. Tali rami melilit pergelangan tangan dan kakinya dengan kencang hingga terasa sakit.

"Hei! Apa yang kalian lakukan?!" Li Hua memberontak, menarik tangannya sekuat tenaga namun ikatan itu terlalu kuat. "Kau bilang aku ikut saja sudah cukup! Lepaskan aku! Ini penculikan!"

"Maaf, Nona," Bibi Niang naik ke kereta diikuti Li Hua yang didorong masuk secara paksa. "Tuan Besar berpesan agar kami memastikan kau benar-benar tiba di rumah. Kami tidak boleh mengambil risiko kau kabur di tengah jalan."

Pintu kereta tertutup rapat, memisahkan Li Hua dari dunia yang ia kenal. Kereta bergerak pelan, lalu semakin cepat meninggalkan Desa Han Xi, meninggalkan gubuk kecilnya, meninggalkan kebebasan yang baru saja ia nikmati. Li Hua duduk di sudut kereta, tubuhnya terikat, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan ketakutan.

"Kalian tidak akan bisa memaksaku selamanya..." gumamnya pelan, menatap tirai kain tebal yang menutup jendela. "Aku akan kabur. Begitu ada kesempatan, aku pasti kabur."

Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Kereta berguncang pelan, melewati jalan tanah yang berdebu, lalu perlahan beralih ke jalan batu yang halus. Dari celah kecil di tirai, Li Hua melihat pemandangan berubah—dari sawah yang membentang luas menjadi deretan rumah-rumah batu yang rapi, lalu bangunan yang semakin tinggi dan megah.

Hingga akhirnya, gerbang kota Ye Lu tampak di kejauhan. Dinding kota yang tinggi menjulang dibangun dari batu putih kokoh, dihiasi ukiran naga dan bunga yang megah. Di atas gerbang utama, tulisan besar tertulis jelas: Kota Ye Lu — Pusat Negeri. Li Hua menatapnya dengan dada sesak. Ia pernah membaca tentang kota ini di buku sejarah yang ia baca diam-diam di perpustakaan rumah orang tuanya. Kota yang makmur, kaya raya, dan dikuasai sepenuhnya oleh Keluarga Zhang.

Namun bukan kekayaan itu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Di dalam novel yang dulu ia baca berulang kali, Kota Ye Lu ini... kota yang akan hancur lebur dalam api dan darah. Kota yang akan dihancurkan oleh Raja Iblis dari Negeri Seberang. Dan Keluarga Zhang... seluruh anggotanya akan dibantai tanpa ampun, dihancurkan sampai tak ada satu pun keturunan yang tersisa.

Tidak mungkin... batin Li Hua gemetar hebat. Aku hanya membaca buku itu untuk hiburan. Itu hanya cerita fiksi. Tidak mungkin...

Kereta melambat, lalu berhenti sepenuhnya. Suara pintu terbuka terdengar, dan cahaya matahari siang masuk menyilaukan matanya.

"Kita sudah tiba, Nona," suara Bibi Niang terdengar dingin. Ia melangkah masuk dan memotong tali yang mengikat tangan dan kaki Li Hua. "Turunlah."

Li Hua menggerakkan jari-jarinya yang kaku, merasakan perih saat aliran darah kembali mengalir. Ia turun perlahan dari kereta, dan napasnya tertahan.

Di hadapannya berdiri sebuah kediaman yang begitu megah hingga membuatnya merasa kecil dan tak berarti. Pintu utama setinggi pohon, dihiasi ukiran naga emas, halaman depannya luasnya tak terkira, dipenuhi pohon-pohon hias berbentuk indah dan kolam ikan yang jernih. Beberapa pelayan berdiri berbaris di sisi lorong, menunduk hormat saat mereka lewat.

"Ikutlah," perintah Bibi Niang berjalan di depannya tanpa menoleh. "Tuan Besar dan Nyonya sudah menunggu di Aula Utama."

Li Hua melangkah di belakangnya, mata tak berhenti menatap sekeliling. Namun bukan kemegahan itu yang membuat hatinya berdebar kencang. Ia merasakannya—sepasang mata tajam yang mengawasinya dari arah beranda samping. Tatapan itu dingin, tajam, seakan menembus kulitnya hingga ke tulang. Ia berhenti melangkah, menoleh perlahan ke arah itu.

Di sana, di balik tiang batu besar, berdiri sesosok pemuda berpakaian jubah kelabu kusam. Tangan dan kakinya terbelenggu rantai besi yang berat. Wajahnya tampan namun pucat pasi, matanya hitam pekat dan tajam, menatap lurus tepat ke arahnya. Li Hua tertegun. Ia mengenali wajah itu—wajah yang digambarkan dalam buku itu sebagai tawanan perang dari Negeri Tang Liang, yang ditahan di kediaman Keluarga Zhang sebagai tanda kemenangan.

Li Yun.

Pangeran yang kelak akan bangkit menjadi Raja Iblis, yang akan membakar kota ini menjadi debu demi balas dendam.

"Nona?" tegur Bibi Niang berhenti di depan, suaranya tegas. "Mengapa berhenti? Tuan Besar menunggu."

Li Hua tersentak, mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Jantungnya berpacu kencang seakan hendak meledak. Ia tidak bermimpi. Ia tidak berkhayal. Ia benar-benar berada di dalam cerita itu. Dan ia adalah bagian dari Keluarga Zhang—keluarga yang dihancurkan habis-habisan oleh pria yang tadi menatapnya.

"Maaf..." jawabnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Aku ikut."

Langkah kakinya terasa berat namun ia terus melangkah. Di belakangnya, sepasang mata hitam itu masih mengawasi punggungnya—tenang, tajam, dan tak terbaca.

Sebenarnya untuk apa aku dibawa masuk dalam konflik ini? Batin Li hua menangis.​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!