'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Nelson - Lisa
...~•Happy Reading•~...
Walau Nelson sudah naik angkot yang sama dengannya, Lisa tetap melihat ke arah dermaga fery. Dia hampir tertawa melihat salah satu wanita yang mengancamnya berlari turun tangga.
'Coba lihat kelakuan mereka. Ngalahin anak sekolah. Mereka pasti mau balik lagi dengan fery itu.' Lisa menarik kesimpulan saat melihat hanya satu orang yang berlari turun dan ketiga temannya menyemangati dari atas fery.
Dia jadi tahu, yang dikatakan ke tiga wanita itu tidak benar. Temannya bukan pacar Nelson, sebab Lisa melihat Nelson turun begitu saja tanpa berbicara atau berpamitan dengannya.
'Ternyata mereka sedang modus, mau pedekate Kak Nelson dengan temannya. Dasar ciwi-ciwi gak punya kerjaan. Mereka sendiri yang mau pedekate sama Kak Nelson, ngancam aku.' Lisa menarik kesimpulan melihat mereka akan kembali dengan fery yang sama tanpa mendekati Nelson.
Apa lagi dia melihat wanita yang dibilang pacar Nelson memutar wajah saat Nelson hendak turun. Lisa makin tersenyum, melihat ke tiga wanita dalam fery melihat Nelson naik angkutan umum yang sama dengannya. 'Silahkan nikmati kebohongan dan halu kalian.' Lisa membatin.
Kemudian Lisa ingin tertawa melihat mereka berteriak memanggil temannya yang sedang berlari sambil melambaikan tiket. 'Pasti ada jam kuliah, tapi nekad mau naik fery buat godain Kak Nelson.' Lisa berkata dalam hati melihat ketiga wanita yang panik dan khawatir di atas fery.
Lisa melihat ke arah Nelson. Dia ingin tahu, apa Nelson tahu yang terjadi di dermaga fery dan tempat penumpang fery. Tapi dia segera mengalihkan wajah, karena Nelson melihat ke arahnya. 'Oh, my goodness... Apa Kak Nelson ingat aku?' Lisa membatin dengan jantung berdebar kuat. 'Mengapa aku iseng melihatnya?' Lisa menyesal akan rasa ingin tahunya.
'Semoga tidak. Sekarang aku lagi malu dengan kelakuanku sendiri.' Lisa membatin dan berharap, Nelson tidak menyadari keberadaannya dalam angkot.
Dia terus memperhatikan yang dilakukan ke tiga wanita di fery dan satu wanita sedang berlari dari loket tiket. Dia ikut menahan nafas melihat wanita itu melompat naik fery yang hampir melepaskan tali. "Nyaris ketinggalan." Bisiknya di balik makser.
Tapi dia terkejut mendengar penumpang di dekatnya berkata. "Hampir saja." Ternyata penumpang di sebelahnya ikut melihat ke arah dermaga fery. Lisa jadi kasihan melihat Danna sedang menunduk sambil memegang dada.
"Mahasiswa tapi gak gunakan akalnya. Coba kalau jatuh ke laut, apa jadinya?" Seorang Ibu menimpali dengan nada gemas.
Lisa baru menyadari, penumpang lain juga melihat ke arah dermaga dan ikut tegang melihat apa yang dilakukan Danna.
"Ya, paling diajak berenang gaya ikan hiu. Lagian, apa gunanya cantik, kalau nyiksa diri dengan tindakan bodo?" Celetuk penumpang lain.
"Gak tunggu fery berikutnya saja." Celetuk penumpang lain yang duduk dalam angkot.
"Bagaimana mau tunggu fery lain. Tiga orang temannya sudah di atas." Jawab penumpang lain.
Lisa tersenyum lebar di balik masker, tapi tidak berani melihat ke arah Nelson yang duduk sejejer dengannya.
'Cinta bisa membuat orang hilang akal dan tidak tahu malu.' Lisa membatin ingat kelakuannya yang hampir sama dengan Alena untuk menarik perhatian Nelson.
'Kejadian itu mengingatkan untuk tetap waras dalam menyikapi cinta yang benar.' Lisa mengingatkan dirinya, agar tidak malu.
Lisa menggeleng. 'Itu namanya cinta penuh perjuangan, walau harus merasakan sensai nafas di ujung hidung. Lakukan...'
'Tapi itu, kan, cinta temannya yang jutek. Mengapa mereka begitu gila memperjuangkan cinta temannya? Apa dia seleb dan tiga orang yang mengancamku, fansnya?'
'Urat maluku belum putus, jadi tahan, sabar, tahan, sabarrr, dan berharap...' Lisa bercakap sendiri dengan hatinya.
Nelson yang sedang berusaha fokus sambil melihat ke depan, terganggu oleh celetukan penumpang yang mengelitik dan suara tawa sambil melihat ke arah dermaga.
Dia jadi penasaran dan ikutan melihat ke dermaga. 'Apa ada yang jatuh ke laut?' Nelson bertanya dalam hati. Dia heran karena tidak ada yang aneh, hanya fery menjauh ke tengah laut. Tapi penumpang dalam angkot masih senyam-senyum dengan celetukan yang tidak berhenti dan dia tidak mengerti. 'Apa yang membuat penumpang angkot ini seperti paguyuban dan saling kenal?'
Ketika dia memperhatikan penumpang satu persatu dalam angkot yang sedang bercakap dan bercanda, dia terdiam melihat pergelangan tangan seorang penumpang wanita yang duduk di sudut angkot.
Dia ingat pada gadis yang memberinya juice, sebab dia kenal gelang unik di tangannya saat minum juice di sampingnya. 'Benar, itu gelangnya.' Nelson meyakinkan diri, karena dia sempat melihat gelang tangannya yang unik dari anyaman potongan kayu etnik.
Nelson mengalihkan wajah ke depan saat menyadari gadis yang memberikan juice melon ada dalam angkot bersamanya. Dia bersikap seakan tidak mengetahui, agar suasana dalam angkot tidak tambah riuh dengan jumpa fans yang kikuk.
Namun Nelson tidak berhenti berpikir tentang gadis pemberi Juice. 'Jadi tadi dia naik fery bersamaku?' Nelson bertanya sambil berpikir. 'Berarti dia turun lebih dulu dariku.' Nelson melihat posisi duduk Lisa di pojok dalam angkot.
'Mengapa dia gak menyapaku di fery? Mungkin'kah dia merasa malu, karna aku menolak pemberiannya?' Nelson bercakap-cakap sendiri dengan hatinya tanpa melihat ke arah Lisa atau penumpang lain.
Setelah angkot berjalan beberapa waktu, Lisa jadi gelisah. Tidak lagi seperti sebelumnya yang tersenyum bahkan tertawa melihat kejadian di fery. 'Mengapa aku gak tanya Celly, Kak Nelson tinggal di mana?' Lisa menyesal, seiring angkot terus melaju dan Nelson belum turun.
Lisa makin panik merasakan ponselnya terus bergetar. Dia tidak menerima panggilan Mamanya, karena khawatir dimarahi dan menjemput, karena dia sudah terlambat pulang dari jam yang dia bilang.
Dia segera mengirim pesan saat Mamanya telah selesai telpon, agar Mamanya tahu dia tidak bisa terima telpon karena lagi di dalam angkot.
Beberapa waktu kemudian, angkot tiba di terminal kota. Nelson turun dan bersikap seakan tidak melihat Lisa. Tapi setelah jauh berjalan, dia menengok untuk melihat ke arah mana tujuan Lisa.
Saat melihat Lisa berganti angkot, Nelson jadi berdiri dan melihat ke arahnya. 'Jadi tadi dia sengaja tidak turun?' Nelson melihat angkot jurusan lain yang dinaiki Lisa. Seharusnya tidak perlu, karna angkot dari dermaga fery melewati wilayahnya.
'Ternyata dia tahu aku ada di angkot, dan tidak mau turun duluan. Padahal tadi kalau dia menyapa, dia bisa turun di tempat tujuannya, tanpa perlu ke terminal.' Nelson membatin. Dia merasa telah berlaku kurang baik dengan memaksa Lisa minum juice. Padahal dia gadis baik dan sopan, hanya mau berbicara dengannya.
Nelson ingat bagaimana Lisa hampir tidak bernafas saat menghabiskan juice. 'Semoga aku tidak membuatnya malu.' Nelson membatin sambil berjalan menuju angkot yang menuju rumahnya.
Hal yang sama juga dilakukan Lisa, melihat Nelson dari angkot yang dia naik. 'Aku akan sering ikut kegiatan di kampus Airbunyi bersama Celly.' Tekad Lisa.
'Siapa tahu, masih bisa melihat atau bertemu Kak Nelson.' Lisa membatin, penuh harap.
...~•••~...
...~•○♡○•~...