Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Dentuman Drum yang Membakar Panggung dan 'Penculikan' Sang Kapten
Malam puncak Pentas Seni (Pensi) SMA Dirgantara benar-benar berada di titik didih tertingginya.
Aula utama yang biasanya tenang kini berubah menjadi lautan manusia. Ribuan penonton berdesak-desakan, melompat, dan meneriakkan yel-yel di bawah kilatan lampu laser merah pekat dan biru terang yang menyapu udara secara liar.
Mesin kabut (smoke machine) terus menyemburkan asap tebal ke atas panggung, menambah efek dramatis nan megah yang mengimbangi dentuman sound system raksasa.
Di balik tirai sisi kiri panggung, Amira berdiri berdesakan dengan panitia lain. Napasnya sedikit terengah karena sedari tadi berlarian mengurus konsumsi cadangan, namun matanya tak lepas dari siluet panggung yang menggelap, menunggu penampilan pamungkas malam ini.
"Persiapan panggung clear! Kak Citra, MC udah bisa masuk buat panggil special line-up kita!" lapor salah satu kru tata panggung lewat handy-talky.
"Oke, copy. MC, silakan take over panggung!" balas Citra, sang stage manager, dengan suara lantang dan tegas dari posnya di ujung mixer suara.
Dua MC yang energik berlari ke tengah panggung, menyapa penonton dengan penuh semangat. "SMA Dirgantara!!! Kalian masih punya energi buat satu penampilan lagi?!"
Gemuruh teriakan penonton, yang didominasi suara melengking para siswi, nyaris membuat kaca-kaca aula bergetar.
"Tanpa basa-basi lagi... Ini dia penampilan kolaborasi spesial dari OSIS kita! Beri tepuk tangan yang paling meriah untuk... FINO DAN ALFIAN PRATAMA!!!"
Seiring dengan teriakan MC, seluruh lampu panggung mendadak menyala terang benderang.
Di tengah panggung, Fino berdiri membelakangi tiang mic. Cowok itu memegang gitar elektrik Fender Stratocaster hitam legam, sementara kalung tali hitam dengan bandul bintang emas miliknya terlihat jelas di kerah kemejanya yang sengaja dibiarkan terbuka dua kancing teratas.
Fino tersenyum hangat, melambaikan tangan yang langsung dibalas oleh jeritan histeris dari siswi satu sekolah.
Namun, histeria itu naik ke tingkat yang jauh lebih tidak masuk akal saat lampu spotlight putih menyorot tajam ke bagian belakang panggung—tepat di atas platform elevated untuk drum set.
Alfian duduk di sana dengan postur tegap yang luar biasa mengintimidasi. Sang kapten mengenakan kemeja serba hitam dengan lengan yang digulung paksa hingga siku, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang kokoh.
Di tangannya, sepasang stik drum berputar lincah melewati sela-sela jari panjangnya bak sebuah senjata mematikan. Wajahnya sedingin es, namun sorot mata elangnya menatap tajam ke depan, menebarkan aura dominasi mutlak yang membuat seluruh penonton mendadak sesak napas.
Satu, dua, tiga, empat!
Fino menghentakkan kakinya, memberikan aba-aba. Jari-jarinya langsung memetik senar gitar, menyajikan intro lagu rock-alternative yang bertempo cepat, kelam, namun sangat energik.
Bum! Ck-tsh! Bum! Bum! Ck-tsh!
Alfian langsung masuk, menghajar drum-nya dengan tenaga yang luar biasa beringas. Setiap pukulan pada snare, tendangan pada bass drum, dan hantaman pada cymbal terasa begitu presisi, seolah didentumkan langsung ke dada siapa saja yang mendengarkan.
Perpaduan antara melodi gitar Fino yang tajam dan ketukan drum Alfian yang mendominasi menciptakan harmoni yang luar biasa epik. Dua saudara kembar berwajah identik namun memiliki aura bak langit dan bumi itu sukses menyihir satu aula penuh.
Fino mendekatkan bibirnya ke mic. Suaranya yang biasanya lembut kini ditekan sedemikian rupa menjadi sedikit serak dan parau, sangat pas dengan genre lagu yang mereka bawakan.
“When the night is cold and the shadows fall...” bait pertama mengalun keras, membuat penonton langsung bernyanyi bersama sambil melompat kegirangan.
Namun di balik panggung, mata Amira tak bisa beralih dari sosok sang drummer.
Keringat mulai bercucuran membasahi pelipis, dahi, hingga merembes ke kemeja hitam Alfian. Rambutnya yang tertata rapi kini mulai berantakan akibat gerakan agresif kepalanya setiap kali ia melakukan drum fill yang cepat.
Ekspresi Alfian benar-benar liar dan memabukkan. Cowok itu terlihat seolah sedang melampiaskan seluruh gejolak emosinya ke atas instrumen itu, tanpa peduli pada ribuan mata yang menatap memujanya.
Tepat saat lagu memasuki bagian bridge di mana Fino maju ke tepi panggung untuk memberikan solo gitarnya... Alfian tiba-tiba mengangkat pandangannya dari set drum-nya.
Di tengah sorot laser yang menyilaukan dan kepulan asap dry ice, mata elang Alfian bergerak menembus lautan manusia, melewati pilar besi, dan secara akurat mengunci keberadaan Amira yang sedang bersembunyi di balik tirai.
Napas Amira tercekat seketika.
Meski jarak mereka terbentang cukup jauh, tatapan itu terasa membakar langsung ke ulu hati Amira. Tanpa memutus kontak mata mereka, Alfian mempercepat tempo ketukan drumnya.
Tepat sebelum dentuman cymbal terkeras dibunyikan, Alfian menarik sebelah sudut bibirnya, memberikan sebuah senyum miring posesif yang hanya ditujukan mutlak untuk gadis itu.
Seolah cowok itu sedang berteriak dalam diam,
“Lo lihat ini, Amira? Panggung ini milik gue, tapi gue cuma milik lo.”
Amira merona hebat, refleks memundurkan tubuhnya dan menutup kedua pipinya yang terasa seperti direbus hidup-hidup. Jantungnya berdetak secepat ketukan drum di luar sana.
Brak-bum! Cish!!!
Lagu ditutup dengan pukulan crash cymbal serentak yang memekakkan telinga. Lampu panggung mendadak padam total, menyisakan kegelapan pekat selama dua detik sebelum akhirnya riuh tepuk tangan, sorakan memanggil nama, dan jeritan histeris penonton meledak nyaris meruntuhkan SMA Dirgantara malam itu.
...***...
Dua jam berlalu setelah euforia panggung utama.
Acara Pensi akhirnya resmi ditutup dengan sukses besar. Ratusan penonton mulai membubarkan diri meninggalkan area sekolah, sementara para panitia yang tersisa kini sibuk membereskan sisa-sisa properti, alat musik, dan sampah di area aula yang mulai lengang.
Amira sedang berjongkok di sudut panggung utama, membantu Citra melingkarkan puluhan meter kabel microphone dan kabel monitor yang kusut masai. Tangannya kotor oleh debu, dan rambutnya sudah diikat asal-asalan saking gerahnya.
"Makasih banyak ya, Mir. Sumpah, kalau nggak ada lo yang bantuin gue ngiket kabel ini, bisa subuh gue baru pulang," keluh Citra, sang stage manager, sambil mengelap keringat di dahinya.
Amira terkekeh pelan.
"Santai aja Kak Citra, kan kita panitia, harus bareng-bareng sampai akhir."
Baru saja Amira hendak berdiri untuk meletakkan gulungan kabel itu ke dalam kotak logistik, sebuah tangan yang hangat dan besar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dari arah belakang tanpa aba-aba.
"Eh? Astaga, Kak, ini kabel—"
Kalimat Amira terputus. Sosok yang menarik tangannya sama sekali bukan anggota panitia logistik, melainkan sang bintang panggung yang dua jam lalu sukses membuat satu sekolah kehilangan akal sehat.
Alfian.
Cowok itu sudah melepaskan kemeja hitam panitianya, menyisakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot bahu dan perutnya. Napasnya masih sedikit memburu, dan sisa-sisa keringat yang mengering di ujung rambutnya justru membuat aura maskulin cowok itu meningkat drastis.
"Penculikan dimulai," desis Alfian datar, menarik Amira untuk berdiri.
"Eh? Hah? Penculikan apaan? Alfian, bentar! Aku lagi bantuin Kak Citra!" protes Amira panik, berusaha menahan tarikan tangan cowok raksasa itu.
Namun tenaga Amira jelas bukan tandingan sang kapten. Alfian hanya menoleh sekilas ke arah Citra yang masih mematung menatap mereka berdua.
"Citra, sisa kabel urusan anak kelas sepuluh. Amira gue bawa balik," pamit Alfian tanpa menunggu persetujuan. Ia langsung menarik, atau lebih tepatnya menyeret, gadis mungil itu turun dari panggung.
"Eh, iya Yan! Silakan, bawa aja! Hati-hati!" balas Citra langsung salah tingkah melihat tatapan intimidasi Alfian, membiarkan juniornya itu dibawa pergi.
"Ih, Alfian! Pelan-pelan! Kakiku sakit tahu ditarik-tarik begini!" omel Amira sepanjang lorong aula yang sudah sepi, setengah berlari menyamai langkah panjang cowok itu.
Alfian tidak menjawab. Ia terus menarik tangan Amira melewati pintu keluar belakang gedung olahraga, menuju area parkir panitia yang hanya diterangi lampu jalan remang-remang.
Begitu sampai di samping motor sport hitam metalik kesayangannya, Alfian akhirnya melepaskan tangan Amira.
Amira mendengus kasar, memegangi pergelangan tangannya.
"Kebiasaan banget sih main seret-seret orang! Aku kan belum pamitan sama Rara dan Maya! Lagian ini tuh masih jam sebelas, harusnya kumpul evaluasi panitia dulu!" cerocos gadis itu bersidekap di depan dada.
Alfian membuka jok motornya dengan tenang, mengambil sebuah helm bogo berwarna cream, lalu tanpa permisi memakaikannya langsung ke kepala Amira.
Jari-jari panjang cowok itu bahkan dengan sangat telaten dan lembut mengunci tali pengaman helm tersebut di bawah dagu Amira.
"Evaluasi biarin si Rio yang mimpin. Tugas gue malam ini udah selesai," jawab Alfian mutlak, menatap lurus ke dalam manik mata kecokelatan Amira.
"Dan tugas lo sekarang cuma ikut gue."
Alfian langsung naik ke jok depan, menyalakan mesin motor ber-cc besar yang seketika menderu garang, memecah kesunyian area parkir malam itu. Ia menepuk pelan jok kosong di belakangnya.
"Naik."
"Nggak mau! Kamu nyebelin banget, ngambil keputusan selalu sepihak!" tolak Amira keras kepala, masih bertahan dengan pose bersidekapnya.
Alfian menghela napas pendek. Kesabaran sang kapten rupanya tidak disetel untuk negosiasi alot di tengah malam.
Dalam satu gerakan mulus dan tak terduga, Alfian mematikan standar motornya, menjejakkan kedua kakinya kuat-kuat di aspal, lalu menoleh ke belakang. Ia melingkarkan satu tangannya di punggung Amira, satu tangannya lagi di bawah lutut gadis itu, dan mengangkat tubuh mungil Amira dengan sangat mudah dari tanah—layaknya mengangkat sehelai bulu.
Bridal style.
"Kyaa! Alfian! Turunin nggak?! Gila ya kamu?!" jerit Amira panik setengah mati, refleks mengalungkan kedua lengannya ke leher tegap cowok itu agar tidak jatuh.
Bukannya menurunkan, Alfian justru memutar tubuhnya dan dengan santai mendaratkan bokong Amira tepat di atas jok belakang motor sport-nya yang tinggi.
Amira masih terengah kaget. "Kamu—"
"Udah dibilangin jangan nolak, Amira," potong Alfian tenang, sama sekali tidak merasa bersalah.
Cowok itu kemudian menarik kedua tangan mungil Amira dari lehernya, membawa tangan itu ke depan, dan memaksanya melingkar erat mengunci perut dan pinggangnya sendiri.
"Kita pergi sekarang," ancam Alfian dengan suara seraknya, setengah berbisik ke belakang.
"Kalau lo berani berontak atau ngelepas pelukan lo di jalan... gue janji bakal berhentiin motor ini, dan gue cium bibir lo di tengah jalan raya detik itu juga."
Glek.
Amira menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya seketika menegang kaku di balik punggung lebar cowok itu. Ancaman maut dari seorang Alfian Pratama bukanlah sekadar gertakan sambal, dan Amira sangat tahu itu!
Wajah Amira memerah padam dari ujung dahi hingga ke leher, tertutup separuh oleh helm yang ia kenakan. Dengan sisa-sisa kepasrahan, Amira akhirnya mendengus pelan, menenggelamkan wajahnya ke punggung bidang Alfian, dan mengeratkan pelukannya di pinggang cowok itu.
Alfian mengukir senyum kemenangan di balik helm full-face hitamnya.
Motor sport besar itu akhirnya melesat cepat, meninggalkan gerbang SMA Dirgantara yang mulai sepi.
Di bawah langit malam kota yang diterangi cahaya lampu jalanan oranye, sang kapten resmi menculik gadisnya pergi ke suatu tempat di mana tidak akan ada seorang pun—terutama Fino atau cowok mana pun—yang bisa mengganggu mereka berdua.