Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Tempaan di Perut Bumi
Waktu terus berjalan tanpa pernah peduli pada tangis keputusasaan kasta budak di pelataran bawah Titan Prime. Tujuh tahun telah lewat sejak malam jahanam di mana punggung kecil Zephyr dihantam sampai retak oleh zirah besi pengawal menara atas. Kini, bocah kurus yang dulunya cuma kuli panggul kontainer rongsokan telah menginjak usia remaja empat belas tahun. Badannya tumbuh tegap secara mandiri, ditopang oleh susunan kekuatan otot tubuh yang mengeras alami tanpa sentuhan modifikasi mesin palsu milik orang-orang Solari.
Tempat pembuangan Zephyr telah bergeser lebih dalam, masuk ke pusat perut bumi stasiun, yaitu Pabrik Peleburan Inti Emas Sektor Tiga. Di dalam ruangan bawah tanah yang terasing dari pancaran cahaya tiga matahari kembar ini, tekanan udara terasa sejuta kali lebih menjepit dada. Udara di sekeliling tungku raksasa bergolak mendidih, dipenuhi oleh kepulan asap hitam pekat hasil pembakaran belerang dan uap emas cair yang terus-menerus menyengat saluran pernapasan. Gaya gravitasi tempat ini bekerja dua ratus kali lipat lebih ekstrem. Aturan itu sengaja dipasang oleh mandor faksi penguasa agar tidak ada satu pun nyawa budak yang memiliki tenaga sisa untuk melakukan pemberontakan sepanjang hidup mereka.
Tugas harian Zephyr remaja adalah mengaduk cairan emas raksasa seberat ratusan ton di dalam tangki baja, menggunakan sebilah sekop besi kuno tanpa bantuan zirah penahan beban. Setiap hari, tubuh kurusnya dipaksa menahan paparan radiasi panas membakar yang sanggup melelehkan batuan keras dalam sekejap mata. Kulit putih bersih miliknya kini penuh dengan guratan bekas luka bakar melepuh yang mengering menjadi kapalan kasar, meninggalkan jejak noda abu pembakaran yang melekat kaku di sepanjang baju karung goni compang-camping miliknya.
CRACK...
Suara persendian lengan Zephyr berderit kencang setiap kali sekop besinya menghantam gumpalan kerak emas cair yang membeku kaku di dasar tangki. Darah segar beberapa kali keluar dari sela-sela kuku jarinya yang pecah menahan tekanan berat dari cairan kental tersebut. Namun, di bawah pengawasan ketat para pengas siber, Zephyr menolak untuk mengeluarkan satu pun suara erangan lemah atau membiarkan tubuhnya jatuh bersujud di atas lantai pabrik yang kotor. Sepasang mata perak tajam miliknya tetap menatap kosong ke arah kobaran api tungku dengan sorot ketenangan murni seorang pendekar sejati.
Di tengah siksaan kerja paksa yang sangat kejam dan memilukan hati tersebut, kejeniusan di dalam sumsum tulang Zephyr justru semakin berkembang secara sunyi di tengah malam yang sepi. Ketika tubuhnya berada di ambang batas kelelahan total, getaran khusus di sepanjang aliran darahnya bekerja mengubah ketahanan fisiknya. Zephyr memanfaatkan hantaman radiasi panas tungku peleburan dan beratnya tekanan gravitasi Titan Prime murni sebagai tempat latihan alami untuk melipatgandakan kekuatan fisik ototnya tanpa batas.
Dari balik jeruji ventilasi besi pabrik yang rusak, pandangan mata Zephyr terus mencatat setiap detail gerakan dari arah tebasan pedang zirah emas milik para perwira tinggi klan Solari yang sedang melakukan patroli rutin di selasar atas dermaga. Di sinilah, ruangan penyiksaan bawah tanah secara tidak sengaja berubah menjadi sebuah panggung emas bagi Zephyr untuk mencuri seluruh rahasia ilmu bela diri tertinggi Kuadran Timur secara diam-diam, tanpa ada satu pun komandan pasukan yang menaruh rasa curiga terhadap gerakan sunyi nya.
BZZZZZZT... WHIIIIIR!
Suara derit pintu lift komando atas mendadak terdengar keras, memotong seluruh bising suara mesin pabrik dengan cepat. Melangkah turun dari dalam kapsul melayang, Elena berjalan menerobos kabut asap hitam bersama rombongan para tetua Sektor Emas Timur. Remaja perempuan yang kini menginjak usia empat belas tahun itu tampak bertambah luar biasa cantik, dibalut jubah sutra emas mewah bersulam hiasan bintang perak yang memancarkan pendaran cahaya terang. Namun sayang, sepasang mata biru jernihnya yang sedingin es masih menyimpan kepribadian yang sangat sombong, angkuh, egois, dan memandang rendah seluruh keberadaan makhluk kasta pelayan bawah.
Elena datang ke dalam pabrik peleburan murni hanya untuk melakukan pemeriksaan pasokan emas kerajaan bersama ayahnya minggu depan. Ketika sepasang mata birunya menangkap sosok kotor Zephyr yang sedang memikul pipa baja panas berselimutkan abu hitam di sepanjang jalur ban berjalan, ekspresi wajah cantiknya seketika mengencang kaku penuh rasa muak yang luar biasa tajam.
"Kenapa makhluk cacat penuh noda karat lumpur itu masih dibiarkan bernapas mengotori udara pabrikku, Mandor?!" desis Elena. Nada suaranya yang merdu terdengar sangat tajam bagai sebilah belati es yang memutus keheningan ruangan.
Ia melipat kipas perak bertahtakan berlian miliknya dengan ketukan yang keras tepat di depan pelindung dada sang kepala pengawas. Ia sengaja menarik gaun sutra emas mewahnya setinggi mata kaki, murni agar kain suci bangsawannya tidak bersentuhan dengan serpihan abu dari baju Zephyr. "Bau busuk belerang dan cairan keringat tubuh manusianya yang kotor mengotori udaraku! Enyahkan benalu cacat itu ke dalam lubang pembuangan limbah sekarang juga, sebelum aku menyuruh pasukan pengawal menghancurkan tulang-tulangnya yang tidak berguna itu seutuhnya!"
Zephyr tidak membalas makian bising, penolakan kejam, atau cemoohan kasar dari wanita yang di masa depan ditakdirkan resmi menjadi istri perjodohan paksanya tersebut dengan teriakan marah atau pandangan mata penuh dendam yang murahan. Ia tetap diam membeku di posisinya, membiarkan jubah karung goninya dikotori oleh debu lumpur hitam musuh, setenang kematian yang menolak tunduk pada keangkuhan para penguasa klan yang serakah. Fokus pikirannya perlahan-lahan ditarik masuk ke dalam lubuk batinnya yang paling sunyi.
Tangan kanannya yang kasar penuh kapalan justru bergerak semakin mantap, halus, dan tenang menggenggam erat hulu sebilah pecahan lempengan besi tua berkarat sepanjang satu meter yang ia sembunyikan di balik lipatan pinggang celananya—sebuah senjata kuno tak berhias yang ia gunakan sebagai pedang rahasianya seumur hidup. Di bawah pengaruh denyut jantungnya yang aneh sejak lahir, Zephyr bersumpah di dalam batin tidak akan pernah membiarkan kehormatan tubuhnya patah oleh ancaman zirah mesin palsu mana pun di semesta. Ia bersiap menempa kekuatan otot lengannya di setiap sepertiga malam yang sepi, demi membangkitkan kekuatan tersembunyi yang kelak minggu depan akan menghancurkan seluruh wajah keangkuhan para tetua dan Elena di atas panggung pertempuran terbuka.