NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asap Darah dan Tembakan di Lorong Bawah Tanah

Gerimis halus mulai turun membasahi halaman luas istana Menteng.

Suasana di luar tampak tenang, tetapi di balik tembok-tembok marmer yang kokoh, ketegangan sudah mencapai titik didih.

Handoko memberi isyarat tangan kepada regu depannya.

Dua orang pengawal bayangan maju mendekati pintu samping bangunan utama.

Mereka membawa alat pendobrak hidrolik berukuran kecil yang tidak bersuara.

Pssh!

Pintu samping terbuka dalam sekali dorong.

Handoko melangkah masuk lebih dulu, diikuti oleh anak buahnya dengan posisi senjata siaga penuh.

Langkah kaki mereka terasa begitu senyap di atas karpet tebal istana.

Tidak ada suara selain desing pelan pendingin ruangan dan tetesan air hujan di luar kaca jendela.

Tiba-tiba...

Cling!

Sebuah pisau lempar berukuran kecil melesat cepat dari balik pilar marmer menuju ke arah kepala Handoko.

Refleks Handoko bekerja dalam sepersekian detik.

Ia memiringkan kepalanya ke samping, membuat pisau tajam itu hanya menggores tipis udara sebelum menancap dalam pada dinding kayu di belakangnya.

"Penyusup di sebelah kanan!" seru Handoko setengah berbisik sambil mengangkat senapannya.

Dorr! Dorr!

Dua tembakan peredam suara meletus beruntun.

Sesosok pria berjas hitam dengan topeng venesia terjatuh dari atas langit-langit aula.

Tubuhnya menghantam lantai marmer dengan suara gedebuk yang tertahan.

Darah segar langsung merembes keluar dari balik jaketnya.

"Periksa area!" perintah Handoko dingin.

Dua pengawal mendekati mayat tersebut dan mendapati lambang singa bersayap tersulam rapi di kerah jas pria itu.

"Ordo Singa Kelam, Tuan," lapor salah satu pengawal.

Handoko mengatupkan rahangnya rapat-rapat.

"Mereka memang sudah menunggu kita."

"Jangan beri ampun. Bergerak ke ruang kendali bawah tanah sekarang juga!"

Sementara itu, di bawah tanah istana, suasana jauh lebih gelap dan mencekam.

Ruang kendali utama yang biasanya terang benderang kini dipenuhi lampu darurat berwarna merah darah.

Di depan meja kerja utama Andra, pria bertopeng kelam pemimpin penyusup itu berdiri dengan santai.

Ia sedang mengamati layar monitor besar yang menunjukkan pergerakan pasukan Handoko dari kamera tersembunyi.

"Mereka datang lebih cepat dari perkiraan," ucap pria bertopeng itu dengan suara berat lewat alat komunikasi radionya.

Dari ujung radio, suara dingin seorang komandan senior merespons.

["Bagus. Pancing mereka masuk ke sektor labirin bawah tanah."]

["Pastikan tidak ada satupun dari mereka yang keluar hidup-hidup sebelum Tuan Muda Andra tiba di sini."]

Pria bertopeng itu tersenyum miring di balik topengnya.

Ia mengambil sebuah detonator kecil dari saku celananya.

Jempolnya siap menekan tombol merah di atas alat tersebut.

Di lorong luar ruang kendali, Handoko dan pasukannya mulai mendekati pintu masuk utama bawah tanah.

Pintu baja setebal sepuluh sentimeter itu tampak sedikit terbuka.

Ada secercah cahaya merah menyala dari celahnya.

"Hati-hati, ada jebakan," bisik Handoko memberi aba-aba agar pasukannya berhenti dan memasang tameng pelindung.

Namun sebelum mereka sempat mengambil posisi bertahan...

Bum!

Sebuah ledakan beruntun mengguncang lorong bawah tanah.

Asap tebal dan kobaran api seketika membumbung tinggi, menelan sebagian lorong rahasia tempat mereka berdiri.

Pertempuran sengit antara bayangan istana dan singa kelam resmi meledak dalam kobaran api.

Asap hitam mengepul tebal memenuhi lorong bawah tanah.

Bau mesiu dan kabel terbakar menusuk hidung.

Handoko terbatuk-batuk kecil.

Ia berusaha bangkit dari lantai yang bergetar.

Sebagian dinding marmer hancur berkeping-keping akibat ledakan tadi.

"Semua lapor!" seru Handoko lewat alat komunikasi di telinganya.

Suaranya terdengar tegas di tengah bisingnya telinga yang berdenging.

Satu per satu suara anak buahnya masuk menyahut.

Mereka dalam kondisi selamat.

Hanya ada beberapa luka gores kecil akibat serpihan beton.

"Kami aman, Tuan Handoko," jawab salah satu pengawal dari ujung barisan.

"Bagus. Jangan biarkan asap ini mengecoh kalian," perintah Handoko sambil mengisi ulang peluru senapannya.

"Mereka pasti mengira kita sudah hancur."

"Kita beri kejutan balik pada mereka."

Handoko memberi isyarat tangan.

Pasukannya bergerak maju dalam formasi tempur merayap.

Mereka menyusuri sisa-sisa kepulan asap putih yang perlahan menipis.

Tiba-tiba, bayangan orang bergerak di balik tirai asap.

Pusss! Pusss!

Tembakan peredam suara kembali menyalak dari ujung lorong.

Dua orang penyusup berjas hitam langsung tersungkur tanpa sempat bersuara.

"Musuh di depan! Hajar!" komando Handoko.

Baku tembak jarak dekat pecah seketika di dalam lorong sempit itu.

Peluru melesat membelah udara.

Benturan sepatu bot dengan lantai semen bergemuruh nyaring.

Pasukan bayangan bergerak dengan sangat disiplin.

Mereka memanfaatkan setiap sudut dinding sebagai tempat berlindung.

Dalam waktu kurang dari dua menit, area lorong depan kembali dikuasai sepenuhnya.

Empat orang anggota Ordo Singa Kelam tergeletak tak bernyawa dengan luka tembak fatal di dada.

Handoko melangkah melewati mayat-mayat tersebut tanpa ragu.

Ia berhenti tepat di depan pintu baja ruang kendali utama yang kini sudah rusak berat akibat ledakan.

Pria bertopeng venesia yang memimpin penyusup tadi tampak berdiri di balik reruntuhan meja kendali.

Ia memegang sebuah senjata laras panjang sambil menatap dingin ke arah Handoko.

"Kalian cukup gigih juga, pengawal setia," ucap pria bertopeng itu dengan suara serak mengejek.

"Tapi permainan kalian sudah habis."

Handoko menatap tajam pria di hadapannya.

Ia tidak membuang waktu untuk berdebat.

"Kalian salah memilih tempat untuk mati malam ini," balas Handoko dingin.

Jemari Handoko menarik pelatuk senapannya tanpa ragu.

Dan pertarungan puncak di dalam jantung istana pun resmi dimulai.

Suara letusan senjata berperedam kembali bergemuruh di dalam ruangan kendali yang porak-poranda.

Pusss! Pusss!

Peluru melesat membelah udara, menghantam pilar-pilar beton dan meninggalkan serpihan debu putih yang beterbangan.

Pria bertopeng venesia itu melompat gesit ke balik konsol komputer utama, menjadikannya perisai darurat dari hujan peluru yang dimuntahkan oleh Handoko dan pasukannya.

"Jangan biarkan dia lolos hidup-hidup!" bentak Handoko dengan suara penuh amarah.

Ia memberi gestur tangan kepada dua orang pengawal bayangan untuk bergerak melingkar dari sisi kiri dan kanan, mencoba mengapit posisi sang pemimpin penyusup.

Pria bertopeng itu mendengus sinis.

Meskipun dalam posisi terdesak, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

Sebaliknya, ia justru menarik sebuah granat asap berkecepatan tinggi dari balik sabuk taktisnya, mencabut pin pengamannya dengan gigih, lalu melemparkannya tepat ke tengah ruangan.

"Tunduk! Ada granat!" seru Handoko memperingatkan.

Bum!

Asap putih yang sangat pekat langsung meledak seketika, menutupi seluruh pandangan di dalam ruang kendali utama.

Bau sulfur dan bahan kimia langsung menusuk hidung, membuat mata terasa perih.

Di tengah kepulan asap tebal tersebut, suara langkah kaki berlari terdengar menuju ke arah pintu darurat rahasia di bagian belakang ruangan.

Handoko menebak arah suara itu.

Ia mengarahkan laras senapannya secara membabi buta ke arah bayangan yang terlihat samar-samar di balik kabut putih.

Dorr! Dorr!

Tembakan Handoko mengenai daun pintu besi, namun sang pria bertopeng berhasil menyelinap keluar sebelum pintu darurat itu otomatis mengunci kembali dari luar.

"Sial! Dia kabur ke jalur terowongan luar!" geram Handoko sambil mengibaskan asap di hadapannya dengan sebelah tangan.

"Kejar, cepat! Jangan sampai jejaknya hilang!" perintah Handoko kepada sisa pasukannya.

Dua orang pengawal bayangan terdepan langsung mendobrak paksa pintu darurat tersebut dan melanjutkan pengejaran ke dalam lorong bawah tanah yang gelap.

Namun sebelum Handoko sempat melangkah maju menyusul anak buahnya, gawai khusus di saku jaketnya tiba-tiba bergetar keras.

Sebuah panggilan darurat dari pos pengamanan terluar istana masuk.

Handoko segera mengangkat sambungan tersebut dengan napas yang masih memburu.

"Lapor! Ada apa lagi?!" tanya Handoko cepat.

Suara seorang pengawal dari gerbang depan terdengar tersengal-sengal di ujung telepon.

["Tuan Handoko! Mobil SUV hitam lapis baja Tuan Muda Andra baru saja melewati gerbang utama!"]

["Beliau sudah tiba di istana!"]

Mata Handoko membelalak lebar.

Ia melirik sekilas ke arah kehancuran di dalam ruang kendali utama, lalu mengangguk tegas.

"Mengerti! Pastikan pengamanan di pelataran utama steril."

"Saya akan segera naik ke atas untuk menyambut kedatangan Tuan Muda."

Di halaman utama istana Menteng...

Gerimis malam masih turun perlahan, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Konvoi kendaraan elit yang membawa Andra dan Kirana berhenti tepat di depan teras utama istana.

Pintu mobil terbuka secara perlahan.

Andra melangkah keluar lebih dulu, mengenakan mantel hitam panjangnya dengan postur tubuh yang tegap dan wibawa yang begitu pekat.

Ia menoleh ke belakang, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Kirana turun dari kabin mobil.

Kirana menyambut uluran tangan suaminya.

Namun begitu ia berdiri di halaman istana, kening wanita itu berkerut dalam.

Ada suasana yang sangat berbeda dari biasanya.

Meskipun lampu-lampu taman menyala terang, para pengawal yang berjaga tampak jauh lebih banyak dan tegang dari biasanya.

Beberapa dari mereka terlihat membawa senjata laras panjang yang disembunyikan di balik jas formal.

"Mas..." bisik Kirana sambil mencengkeram ujung lengan mantel Andra.

"Kenapa rumah kita rasanya... berbeda malam ini? Kenapa banyak pengawal berjaga di luar?"

Andra merangkul pundak istrinya dengan lembut.

Wajahnya tetap tenang, menyembunyikan badai kemarahan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya akibat laporan awal Handoko di perjalanan tadi.

"Tidak ada apa-apa, sayang," jawab Andra dengan suara yang dibuat sehalus mungkin.

"Hanya ada sedikit perbaikan sistem keamanan rutin yang dikerjakan malam ini."

"Kamu tidak perlu memikirkannya."

"Sekarang, masuklah ke dalam kamar dan istirahatlah."

Sebelum Kirana sempat menjawab, Handoko muncul dari arah pintu samping bangunan utama.

Asisten kepercayaan itu berjalan cepat menghampiri Andra dengan postur tegap, lalu membungkuk hormat.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda, Nyonya Kirana," sapa Handoko dengan nada suara yang sangat terukur.

Andra menatap tajam ke arah Handoko.

Tatapan mata mereka saling mengunci, menyampaikan ribuan kata tanpa harus bersuara.

Andra tahu persis, kehadiran Handoko yang menyambutnya di luar dengan raut tegang, berarti kekacauan di dalam istana jauh lebih besar daripada sekadar pesan singkat bergambar amplop merah.

"Bagaimana situasinya di dalam, Handoko?" tanya Andra dingin dengan suara berat yang bernada mengintimidasi.

Handoko menarik napas sejenak sebelum menjawab.

"Situs utama sudah dibersihkan, Tuan. Tapi pimpinan mereka berhasil kabur lewat terowongan sektor barat."

Andra menyeringai tipis. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis yang sangat mengerikan.

Ia melepaskan rangkulannya perlahan dari Kirana, menyerahkan pengawasan istrinya kepada dua orang pengawal wanita kepercayaan.

"Kabur?" gumam Andra pelan.

"Di istana ini, tidak ada satu pun orang yang bisa masuk dan keluar tanpa izinku."

"Siapkan senjataku, Handoko."

"Malam ini, aku sendiri yang akan memburu tikus-tikus berkedok singa itu sampai ke sarang mereka yang paling gelap."

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!