Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Arsip yang Hilang
Sebulan setelah Bu Sari mengingat darah di lengan Bu Rini, Nadia mengirim surat resmi kepada Klinik Anugerah.
Surat itu tidak menuduh siapa pun. Isinya meminta agar semua rekam medis, daftar jaga, catatan obat, formulir persalinan, dan dokumen identifikasi bayi pada malam 18 sampai 19 Januari 2006 dipertahankan dalam keadaan asli. Tanda terima disimpan di Kantor Hukum Nadia Santoso & Rekan.
Pak Hadi membalas bahwa Nara dan Raka dapat melihat salinan dokumen yang berkaitan dengan perawatan Nara setelah identitas dan kewenangan diperiksa.
Pada pagi yang ditentukan, Nadia mendampingi mereka ke klinik.
Raka datang sebagai suami pasien, bukan petugas. Sebelum berangkat, ia sudah melaporkan kepada atasannya bahwa perkara tersebut menyangkut istri, anak, dan kerabatnya. Jika kelak ada laporan resmi, ia hanya akan menyerahkan materi yang dimiliki dan tidak ikut memeriksa saksi atau mengakses data kepolisian.
“Kamu yakin perlu melapor sekarang?” tanya Nara.
“Supaya batasnya tercatat sebelum ada orang yang menuduh aku memakai jabatan.”
Pak Hadi menerima mereka di ruang administrasi. Sebuah map salinan diletakkan di meja, bersama daftar halaman yang boleh diterima pasien.
Nadia memeriksa nomor halaman lebih dulu. “Di daftar ini ada lembar pemantauan persalinan, tetapi di map salinan tidak ada.”
Pak Hadi membuka arsip pembanding. “Mungkin terselip.”
“Mohon jangan memindahkan dokumen sebelum dicatat,” kata Nadia.
Ia meminta Pak Hadi menulis keadaan map saat dibuka, termasuk urutan halaman dan siapa yang mengambilnya dari ruang penyimpanan. Pak Hadi tampak tidak nyaman, tetapi menuruti permintaan itu.
Lembar pemantauan akhirnya ditemukan di bagian belakang. Kertasnya lebih putih daripada halaman lain, dan lubang penjilidnya tidak sejajar.
Nara melihat nama pada bagian atas. “Ini tanggalnya benar, tapi tanda tangannya bukan yang kuingat.”
Nadia tidak memakai ingatan Nara sebagai kesimpulan. Ia membandingkan nomor cetak, jenis tinta, dan tanda koreksi pada salinan. Halaman sebelum dan sesudahnya memiliki cap lama yang sedikit kabur. Lembar tersebut memakai cap yang lebih tajam.
“Apakah klinik mengganti formulir setelah Januari?” tanyanya.
Pak Hadi mengusap kening. “Kami memperbarui stok awal tahun.”
“Kapan tepatnya?”
“Saya harus memeriksa pembelian.”
Nadia meminta jawaban itu dicatat sebagai hal yang belum dipastikan. Ia juga meminta salinan daftar akses arsip, jika tersedia, dan kebijakan pergantian halaman yang rusak.
Pak Hadi menunjukkan buku keluar-masuk arsip. Beberapa tanggal terisi lengkap, tetapi pada minggu setelah persalinan Nara terdapat dua baris tanpa nama peminjam. Hanya ada tanda centang dan jam pengembalian.
“Siapa yang biasanya memberi tanda centang?” tanya Nadia.
“Petugas administrasi.”
“Siapa yang berjaga saat itu?”
Pak Hadi membuka daftar pegawai, lalu berhenti. Nama petugas pada salah satu hari tidak ditulis.
Nadia meminta salinan halaman buku tersebut. Pak Hadi menyetujuinya setelah menutup bagian yang berkaitan dengan pasien lain. Proses itu memakan waktu, tetapi Nadia tidak membiarkan kebutuhan Nara menjadi alasan membuka data orang yang tidak terlibat.
Mereka juga memeriksa daftar jaga. Nama Vania tercantum pada malam persalinan, sedangkan Bu Rini dicatat sebagai bidan yang bertanggung jawab. Tidak ada keterangan pemadaman listrik atau perpindahan bayi. Kolom kejadian khusus kosong.
“Kalau listrik padam, apakah harus dicatat?” tanya Raka.
Pak Hadi menjawab, “Seharusnya gangguan yang memengaruhi pelayanan masuk laporan insiden.”
“Di mana laporan malam itu?”
“Kami belum menemukannya.”
Nadia menuliskan kata belum ditemukan, bukan tidak pernah ada. Perbedaan kecil itu menjaga catatan mereka tetap jujur.
“Kami tidak menuduh halaman ini palsu,” ujarnya. “Kami mencatat bahwa bentuknya berbeda dan meminta asalnya dijelaskan.”
Pak Hadi memanggil petugas penyimpanan. Setelah hampir satu jam, mereka mengetahui bahwa map pernah dipindahkan saat ruang arsip mengalami kebocoran atap. Tidak ada daftar rinci halaman mana yang diganti karena rusak.
Harapan Nara untuk menemukan satu dokumen yang menyelesaikan semuanya mulai runtuh.
“Saya ingin bicara dengan Vania,” katanya.
Pak Hadi menunduk pada daftar pegawai. “Vania sudah mengundurkan diri.”
“Kapan?”
“Dua minggu setelah persalinan.”
“Alamat terakhir?”
“Data pegawai tidak bisa saya berikan tanpa dasar.”
Nadia mengangguk. “Jangan berikan kepada kami. Simpan datanya dan, bila dibenarkan prosedur, teruskan surat dari kantor saya kepadanya. Dia bebas menjawab atau tidak.”
Pak Hadi setuju menerima surat tertutup. Namun ketika petugas mencoba nomor telepon lama Vania dari kantor, nomor tersebut sudah tidak aktif.
Nadia menyerahkan dua amplop tertutup. Satu ditujukan kepada Vania melalui alamat terakhir yang tersimpan di klinik. Satu lagi meminta Bu Rini mempertahankan dokumen pribadi terkait tugas malam itu dan menghubungi kantor hukum bila bersedia memberikan keterangan. Pak Hadi hanya diminta meneruskan, bukan membuka.
“Apakah Bu Rini masih bekerja di sini?” tanya Nara.
“Jadwalnya sudah berkurang. Dia sedang mengambil cuti.”
“Sejak kapan?”
Pak Hadi menolak menjawab tanpa memeriksa berkas kepegawaian. Nadia menerima batas itu dan meminta tanggapan tertulis. Mereka tidak akan mengejar Bu Rini di lorong atau menuduhnya di depan pasien.
Raka tidak menawarkan melacak nomor itu. Ia memotret hanya dokumen yang diizinkan dan membiarkan Nadia mencatat setiap penyerahan. Salinan dimasukkan ke amplop bernomor, ditandatangani penerimaannya oleh Nadia, lalu dibawa ke kantor hukum.
Di sana, Nadia membuat daftar kekurangan: lembar yang berbeda, tidak adanya catatan pergantian, waktu pengunduran diri Vania, dan belum ditemukannya catatan rinci pemindahan bayi saat listrik padam.
“Ini menunjukkan masalah pengelolaan arsip,” katanya. “Belum membuktikan siapa mengubah apa.”
“Kalau halaman aslinya sudah dihancurkan?” tanya Nara.
“Kita cari sumber lain. Foto, catatan pribadi, saksi, pembelian formulir, atau salinan yang mungkin pernah dibuat. Tapi jangan mengisi ruang kosong dengan dugaan.”
Raka menyerahkan catatan hubungan keluarganya kepada Nadia. “Semua komunikasi resmi lewat kantor Anda. Saya tidak akan menghubungi mantan pegawai sebagai polisi.”
Nara melihat suaminya. Keputusan untuk mundur dari penyelidikan bukan kelemahan. Justru itulah yang membuat setiap hasil kelak lebih sulit diserang.
Menjelang sore, seorang kurir datang membawa amplop tanpa nama pengirim. Alamat kantor Nadia ditulis dengan mesin ketik. Tidak ada tanda dari mana surat itu berasal.
Nadia memotret bagian luar sebelum membukanya dengan sarung tangan. Di dalam hanya ada selembar kertas.
Ia mencatat waktu penerimaan, nama kurir, dan kondisi perekat. Kurir hanya memiliki nomor pengiriman, bukan identitas pengirim. Amplop serta kertas dimasukkan terpisah ke pelindung dokumen setelah difoto.
“Jangan pulang lewat rute biasa hari ini,” kata Nadia. “Bukan karena surat ini membuktikan ancaman akan dilakukan, tetapi karena alamat rumah kalian disebut.”
Raka menghubungi atasannya untuk mencatat adanya surat ancaman yang berkaitan dengan keluarganya. Ia meminta petugas lain menerima laporan jika Nara memutuskan membuatnya. Nara menyetujui pencatatan awal, sementara dokumen asli tetap ditangani melalui tanda terima.
Tulisan singkat itu membuat Nara merasa kembali berdiri di lorong klinik yang gelap.
Jangan cari saya. Bu Rini tahu kalian tinggal di mana.