Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Bab 1: Bayangan di Balik Mahkota dan Bayang-Bayang Malam
Sinar matahari pagi menembus kaca jendela Akademi Sihir Kerajaan, menerangi debu-debu halus yang melayang acak di udara kelas. Di sudut paling belakang, tepat di samping jendela yang selalu dibiarkan sedikit terbuka, Wiliam Pendragon sedang berada dalam dunianya sendiri. Kepala pemuda itu terkapar di atas tumpukan buku tebal, wajahnya menghadap ke dinding, dan napasnya berembus teratur. Suara berdengung dari Profesor Balthazar yang sedang menjelaskan struktur Mana Circuit tingkat menengah sama sekali tidak mampu menembus selimut tidurnya yang lelap.
"Dunia ini terbagi menjadi tatanan yang sangat presisi," dengung suara Profesor Balthazar dari depan kelas, sembari mengetuk-ngetuk papan tulis sihir dengan tongkat kayunya. "Setiap formasi sihir membutuhkan stabilitas jiwa dan aliran mana yang konstan. Tanpa itu, sihir kalian hanyalah seperti air yang dituang ke atas pasir—lenyap tanpa bekas."
Tepat di samping Wiliam, seorang pemuda berambut cokelat acak-acakan bernama Leo sedang sibuk mengikir ujung sumpit kayu dengan pisau lipat kecil. Di sebelahnya lagi, Reno, pemuda bertubuh agak gempal dengan pipi yang selalu tampak mengunyah sesuatu, menyikut lengan Leo sembari berbisik.
"Lihat si Wiliam," bisik Reno dengan mulut penuh biskuit mentega. "Dia tertidur lagi di menit kelima pelajaran Balthazar. Rekor baru. Kemarin dia bertahan tujuh menit."
"Jangan remehkan dia, Reno," balas Leo tanpa mengalihkan pandangan dari sumpitnya. "Tidur di kelas Balthazar adalah seni tingkat tinggi. Salah sedikit, kau bisa kena petir kram otot buatan si tua itu. Tapi Wiliam? Dia punya aura acuh tak acuh yang membuat sihir melacak keberadaannya pun malas."
Leo kemudian menyelipkan sumpit kayu yang sudah dia bentuk menjadi pelontar kertas kecil di bawah mejanya. Dia membidik bagian belakang leher murid teladan kelas yang duduk di barisan depan—seorang pemuda bangsawan sombong yang sejak tadi mengangguk-angguk sok paham.
Puk!
Peluru kertas basah mendarat tepat di belakang telinga sang murid teladan. Pemuda itu terperanjat, melompat dari kursinya sembari memegang lehernya yang lengket, membuat seluruh kelas mendadak hening.
"Ada apa, Saudara Vance?" tanya Profesor Balthazar, menghentikan penjelasannya dengan alis terangkat.
"S-seseorang melempari saya dengan kertas basah, Profesor!" seru Vance dengan wajah memerah tahan marah.
Leo dengan cepat menyembunyikan alat pelontarnya ke dalam selipan sepatu, lalu memasang wajah paling polos yang bisa dibuat oleh seorang manusia. Reno mendadak sibuk mencatat dengan sangat tekun di buku tulisnya yang sebenarnya terbalik. Sedangkan Wiliam? Dia hanya berganti posisi tidur, mengarahkan wajahnya ke sisi lain tanpa membuka mata sedikit pun.
"Vance, jika kau tidak bisa menjaga fokusmu dari gangguan imajiner, kau boleh berdiri di luar," tegur Balthazar dingin. "Dan untuk kalian bertiga di belakang..." Mata tua profesor itu memutar, menatap Wiliam yang masih lelap. "Wiliam Pendragon."
Tidak ada respon.
"Wiliam!" bentak Balthazar lebih keras, memicu gelak tawa kecil dari murid-murid bangsawan lainnya.
Leo menyikut iga Wiliam dengan cukup keras. Wiliam mengerjap, membuka matanya pelan. Warna matanya tampak hitam biasa—sebuah ilusi tipis yang selalu dia jaga setiap detik dalam hidupnya untuk menyembunyikan warna merah menyala yang sebenarnya. Dia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah, lalu menatap profesor dengan pandangan kosong.
"Ya, Profesor?" jawab Wiliam dengan suara serak khas bangun tidur.
"Bisa kau jelaskan apa yang baru saja saya terangkan mengenai kestabilan formasi sihir tingkat tiga?" tanya Balthazar dengan tangan terlipat di dada, yakin bahwa pemuda Pendragon yang terkenal tak berbakat ini akan gagap.
Wiliam menguap pelan, merapikan keragam akademinya yang sedikit kusut. "Stabilitas formasi sihir tingkat tiga bergantung pada simetri sudut matriks dan kompresi mana di titik pusat. Jika sudutnya melenceng satu derajat saja, aliran mana akan mengalami hambatan internal dan memicu ledakan lokal. Tapi itu hanya teori dasar yang biasanya tidak berguna jika medan tempurnya tidak rata."
Suasana kelas mendadak hening. Balthazar terkedip beberapa kali, bibirnya terbuka sedikit, tak menyangka ucapan tepat sasaran itu keluar dari mulut seorang siswa yang tertidur sepanjang sesi.
"B-bagus. Tapi jangan mengandalkan hafalan semata, Pendragon! Dan tetap, tidur di kelas saya tidak dibenarkan. Duduk!" gertak Balthazar, berusaha menyelamatkan harga dirinya sebelum berbalik kembali ke papan tulis.
"Sialan, Wil," bisik Leo dengan mata membelalak heran. "Bagaimana bisa kau menjawab itu sambil tidur? Kau punya mata ketiga di dalam otakmu ya?"
"Aku hanya membaca judul bab di bukumu kemarin saat kau menggunakannya untuk menepuk lalat," jawab Wiliam datar, kembali menyenderkan plastron kepalanya ke atas meja.
"Kau benar-benar monster malas," timpal Reno sembari menyodorkan separuh biskuitnya yang tersisa. "Nih, makan. Supaya otakmu tidak meledak karena berpikir dua detik tadi."
"Simpan saja biskuitmu, Reno. Kau butuh karbohidrat itu untuk lari nanti," kata Wiliam pelan.
"Lari? Lari untuk apa?" tanya Reno bingung.
Belum sempat Wiliam menjawab, pintu kelas mendadak terbuka dari luar. Dua orang kakak laki-laki Wiliam—keduanya mengenakan seragam kelas atas dengan pin emas Pendragon di dada—berdiri di ambang pintu. Yang tertua, Julius, menatap sekeliling kelas dengan pandangan merendahkan hingga matanya tertuju pada Wiliam di sudut belakang.
"Profesor Balthazar, maaf mengganggu jam pelajaran Anda," kata Julius dengan suara lantang dan penuh wibawa buatan. "Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Ayah kepada adik bungsu kami yang terlupakan ini."
Balthazar mengangguk pelan, memberikan izin. Julius melangkah masuk, diikuti adiknya, Hector. Setiap langkah mereka diiringi tatapan kagum dari murid-murid lain. Bagi akademi, kedua kakak Wiliam adalah contoh jenius bangsawan yang diprediksi akan mencapai Level tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Julius berhenti di depan meja Wiliam, menatap adiknya yang bahkan tidak berniat berdiri.
"Wiliam," kata Julius dingin. "Ayah menyuruhmu pulang tepat waktu sore ini. Jangan memalu-malukan nama keluarga dengan keluyuran di distrik kumuh lagi. Ibu mungkin selalu membela ketidakbecakannmu, tapi kesabaran Ayah ada batasnya."
Hector tertawa kecil di belakang Julius. "Lagipula, untuk apa kau bertahan di akademi ini? Level kekuatanmu bahkan tidak bergeser sejak tahun lalu. Kalau aku jadi kau, aku akan bersembunyi di kamar dan tidak pernah menampakkan wajah lagi."
Beberapa murid di barisan depan berbisik-bisik dan tertawa pelan. Ejekan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Wiliam. Namun, reaksi Wiliam selalu sama. Dia tidak mengepalkan tangan, tidak menatap benci, dan tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Wajahnya tetap datar, seolah-olah orang yang sedang dimaki-maki di depannya adalah orang lain.
"Aku mengerti, Kak. Aku akan pulang tepat waktu," jawab Wiliam singkat, mengangguk pelan tanpa beban.
Julius berdenting lidah, tampak kesal karena reaksinya yang seperti menghantam tembok busa. "Cepatlah sadar diri, Wiliam. Kau hanyalah noda di nama besar Pendragon."
Setelah kedua kakaknya pergi dengan langkah penuh keangkuhan, Leo meludah pelan ke lantai bawah mejanya. "Cih! Sok tampan sekali dua orang itu. Wil, kalau aku jadi kau, sudah kupasang jebakan kotoran kuda di pintu kamar mereka."
"Tidak perlu," sahut Wiliam santai. "Itu hanya membuang-buang waktu."
"Kau ini terlalu sabar atau memang tidak punya perasaan sih, Wil?" tanya Reno gemas. "Mereka itu menginjak-injak harga dirimu setiap hari!"
"Harga diri tidak ditentukan oleh ucapan orang lain, Reno," jawab Wiliam sembari menutup matanya kembali. "Lagipula, membalas mereka tidak akan membuat makan siangku jadi lebih enak."
Sore harinya, saat bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi, ketiganya melangkah keluar dari gedung akademi. Seperti biasa, Leo dan Reno tidak bisa berjalan lurus tanpa membuat kekacauan kecil. Saat melewati koridor utama yang dipenuhi papan pengumuman, kerumunan siswa terlihat sedang berkumpul rapat, mendiskusikan berita paling hangat yang mendominasi seluruh kerajaan dalam beberapa minggu terakhir.
Di papan pengumuman itu, terpampang gambar ilustrasi kasar dari seorang figur bertopeng hitam dengan dua tanduk meruncing dan jubah berkerah tinggi.
"Hantu Topeng bertindak lagi!" seru seorang siswa dengan mata berbinar. "Semalam, markas sindikat perdagangan manusia di distrik timur hancur total! Semua petinggi sindikat itu ditemukan tewas dengan tebasan bersih tanpa ada jejak darah di sekitar mereka!"
"Aku mendengar dari pamanku yang bekerja di ksatria kerajaan," timpal siswa lainnya, "Hantu Topeng itu menguasai sihir kegelapan dan Domain Expansion! Dia pasti seorang Archmage pelarian atau pahlawan tersembunyi!"
Leo mendorong bahunya menembus kerumunan, memicingkan mata menatap ilustrasi tersebut. "Wah, keren sekali gambarnya. Tapi menurutku tanduk di topengnya kurang panjang sedikit. Kalau aku jadi Hantu Topeng, aku akan menambahkan ornamen tengkorak di dadanya agar terlihat lebih menyeramkan."
Reno mengunyah apel yang dia curi dari kantin. "Menurutku dia itu sebenarnya pria tua yang bosan hidup dan ingin jadi pahlawan. Anak muda mana yang mau pakai jubah seberat itu di tengah malam?"
Wiliam yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka hanya berdiri menyandarkan punggungnya ke tiang batu. Dia mendengarkan teori-teori konyol teman-temannya dengan ulas senyum tipis yang tak terlihat. Jika mereka tahu bahwa "Hantu Topeng" yang mereka bicarakan sedang berdiri di sana dengan seragam akademi yang agak kusam dan mengantuk, mungkin dunia akan runtuh saat itu juga.
"Wil, bagaimana menurutmu?" tanya Leo berbalik, merangkul leher Wiliam dengan akrab. "Kau pikir Hantu Topeng itu manusia, atau iblis yang menyamar jadi pahlawan?"
"Dia hanya seseorang yang melakukan apa yang ingin dia lakukan," jawab Wiliam pelan, melepaskan rangkulan Leo dengan lembut. "Bukan pahlawan, bukan juga iblis."
"Jawaban yang sangat membosankan seperti biasa!" seru Leo seraya tertawa keras. "Ayo, sebelum kau pulang ke rumah keluargamu yang kaku itu, kita beli roti bakar di dekat air mancur dulu. Aku yang bayar—pakai koin yang kucuri dari kantong Vance tadi."
"Kau benar-benar bajingan yang menghibur, Leo," gumam Reno seraya menyusul.
Mereka bertiga berjalan menyusuri jalanan kota kerajaan yang ramai. Gelak tawa Leo dan rewelnya Reno soal makanan mengisi udara sore itu. Bagi Wiliam, saat-saat seperti inilah yang paling berharga. Di antara kepalsuan kediaman Pendragon dan kegelapan malam yang harus dia tanggung, interaksi konyol bersama dua temannya adalah jangkar yang menahannya tetap menjadi manusia normal.
Malam tiba. Kota kerajaan yang megah bertransformasi menjadi lautan cahaya lilin dan lentera sihir. Di kediaman Pendragon, jamuan makan malam berlangsung seperti biasa—penuh dengan kepalsuan, pamer kekuatan antar bersaudara, dan tatapan dingin dari sang ayah. Wiliam menyelesaikan makan malamnya dengan cepat, mengucapkan kata-kata sopan sekadarnya kepada ibunya yang lembut namun tak berdaya, lalu berpamitan menuju kamarnya di lantai atas.
Begitu pintu kamar terkunci rapat, kehangatan dan kepasifan Wiliam menguap tanpa bekas.
Ruangan itu gelap. Wiliam berdiri di depan cermin besar. Dia memejamkan mata sejenak, melepas ilusi tipis yang menyelimuti matanya. Saat kelopak matanya terbuka kembali, iris matanya bercahaya merah menyala—dingin, tajam, dan memancarkan aura kegelapan yang pekat.
Dia tidak berjalan keluar melalui pintu. Langkah kakinya membawa tubuhnya menuju jendela kamar yang terbuka. Dalam sekedip mata, tubuhnya menyatu dengan bayangan di dinding, meluncur keluar tanpa suara, meninggalkan kediaman Pendragon tanpa memicu satu pun mantra pelindung tingkat tinggi yang terpasang di mansion tersebut.
Beberapa saat kemudian, Wiliam sudah berada di puncak menara tertinggi di pusat kota kerajaan. Angin malam yang dingin berembus kencang, membelai rambut hitamnya dan mengibaskan jubah yang kini melekat di tubuhnya. Dari ketinggian ini, seluruh kota tampak seperti peta kecil yang bergetar.
Dia duduk diam di tepi dinding batu menara, kedua kakinya menjuntai ke jurang kehampaan di bawahnya. Matanya yang merah menatap lurus ke arah gemerlap kota, memindai aliran-aliran kegelapan yang tak terlihat oleh mata manusia biasa—aliran niat jahat, transaksi haram, dan sihir terlarang yang merayap di bawah kemegahan ibu kota.
"Waktunya," gumam Wiliam pelan. Suaranya tidak lagi terdengar serak atau malas; suaranya kini dalam, dingin, dan penuh otoritas mutlak.
Dia meletakkan tangan kanannya ke wajah. Sebuah topeng berwarna hitam legam dengan dua tanduk melengkung yang mengancam terwujud dari udara kosong, menutupi seluruh parasnya. Kerah jubahnya memanjang ke atas, menyembunyikan leher dan sebagian wajahnya. Dalam sekejap, Wiliam Pendragon lenyap. Yang tersisa di puncak menara itu hanyalah Hantu Topeng.
Dia berdiri tegak di tepi menara, menatap lurus ke bawah, lalu tanpa ragu sedikit pun, melompat terjun bebas.
Ratusan meter ketinggian runtuh dalam hitungan detik. Angin malam meraung di telinganya saat tubuhnya meluncur deras menuju jalanan batu di bawah. Namun, saat tubuhnya tinggal beberapa inci dari permukaan tanah, kegelapan cair mulai merebak dari titik pendaratannya. Tanah batu itu bertransformasi menjadi lautan bayangan yang hitam pekat tanpa dasar.
Swoosh.
Tubuh Wiliam mendarat tanpa suara impact sedikit pun. Dia tenggelam dan terserap sepenuhnya ke dalam bayangan cair tersebut, bagaikan batu yang dijatuhkan ke dalam danau hitam, meninggalkan permukaan jalanan yang kembali padat dan keras seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Di dalam dimensi bayangan, Wiliam bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas fisik manusia. Dia menyusuri lorong-lorong bawah tanah kota hingga inderanya menangkap pergerakan sebuah kendaraan di distrik pinggiran.
Sebuah kereta kuda tanpa lambang bangsawan—dicat hitam legam dengan roda yang dilapisi kain tebal untuk meredam suara—bergerak terburu-buru menembus gerbang barat kota yang dibayar untuk tutup mata. Dua kuda hitam berotot menariknya dengan kecepatan tinggi, mengarah langsung ke dalam kegelapan Hutan Larangan yang jarang dijamah manusia.
Wiliam meluncur di dalam bayangan pohon-pohon besar, membuntutinya dari jarak aman. Pandangannya yang tajam menembus kayu tebal kereta tersebut. Di dalamnya, dia merasakan kebiasaan energi yang sangat tidak asing dan menjijikkan: Mana Iblis yang dipadukan dengan sihir darah.
Setelah perjalanan intens selama setengah jam menembus rapatnya pepohonan Hutan Larangan, kereta kuda itu berhenti di depan celah tebing batu yang tersembunyi di balik semak belukar raksasa. Celah itu adalah pintu masuk menuju sebuah gua alam yang sangat dalam.
Empat orang penjaga berzirah hitam tanpa logo berdiri siap di luar gua. Masing-masing mengikatkan pedang panjang di pinggang dan memegang tongkat sihir bernoda darah yang memancarkan aura merah temaram.
Kereta kuda itu ditinggalkan, sementara pengemudinya membawa beberapa kotak kayu tebal masuk ke dalam gua.
Wiliam melayang keluar dari bayangan pohon yang berdiri hanya beberapa meter di depan para penjaga. Dia berdiri tegak, jubah hitamnya melambai ditiup angin hutan yang dingin. Suara gesekan kainnya di sunyinya malam membuat keempat penjaga itu serta-merta membalikkan badan dengan senjata terangkat.
"Siapa di sana?!" bentak salah satu penjaga, mengarahkan tongkat sihirnya.
Namun, begitu cahaya redup lentera mereka menerangi figur yang berdiri di depan mereka—topeng bertanduk hitam, jubah berkerah tinggi, dan aura kehampaan yang mencekat leher—kata-kata penjaga itu tersangkut di tenggorokan.
"H... Hantu... Topeng..." bisik penjaga lainnya dengan suara bergetar hebat. Lututnya menegang, tangannya yang menggenggam gagang pedang mulai gemetaran tak terkendali.
Aura intimidasi yang dipancarkan Wiliam begitu pekat hingga udara di sekitar gua terasa membeku. Kepadatan mana Level 12 miliknya disembunyikan dengan sempurna, namun esensi dari Domain Expansion yang mengalir tipis di sekeliling tubuhnya sudah cukup untuk membuat jiwa manusia biasa menjerit ketakutan.
"Bagaimana... bagaimana bisa dia ada di sini?!" penjaga ketiga berteriak histeris, berusaha menutupi rasa takutnya yang meluap. "Bunuh dia! Jika Ritus ini gagal, Tuan akan menguliti kita semua!"
Meskipun tubuh mereka gemetaran hebat dan insting bertahan hidup berteriak agar mereka lari, para penjaga itu tetap mengayunkan senjata mereka. Dua penyihir menembakkan tombak-tombak darah beracun, sementara dua prajurit menerjang maju dengan pedang terangkat demi melindungi rahasia di dalam gua.
Wiliam tidak bergerak dari posisinya. Dia hanya menarik napas pelan melalui hidungnya, mengalirkan mana kegelapan ke dalam saluran darahnya, memicu teknik mandirinya.
Pernapasan Pedang Kegelapan.
Bentuk Ketiga: Tari Bayangan Semesta.
Dalam pecahan detik, figur Wiliam memudar bagaikan ilusi asap. Tombak darah dan tebasan pedang musuh hanya menghantam udara kosong. Sebelum para penjaga itu sempat menyadari apa yang terjadi, Wiliam sudah berada di tengah-tengah mereka.
Sshkk! Sshkk!
Dua tebasan tanpa suara meluncur mendatar. Wiliam tidak memotong leher mereka; dia hanya mengayunkan gagang pedangnya yang dilapisi kegelapan pekat ke titik-titik saraf utama di leher dan dada keempat penjaga tersebut. Serangan itu tidak hanya menghancurkan pelindung mana mereka secara instan, tetapi juga membekukan saluran mana di tubuh mereka.
Keempat penjaga itu roboh bersamaan ke tanah batu, tergeletak kaku tanpa mampu menggerakkan satu jari pun, mata mereka membelalak menatap langit malam dalam keputusasaan yang mutlak. Seluruh proses itu berlangsung kurang dari tiga detik.
Wiliam bahkan tidak menoleh ke arah mereka. Dia melangkah dingin melewati tubuh-tubuh yang tergeletak itu, berjalan masuk menelusuri lorong gua yang gelap dan berbau amis.
Dinding-dinding gua batu itu makin ke dalam makin dipenuhi oleh ukiran-ukiran simbol kuno yang menyala merah kekuningan. Suara gema percakapan samar-samar mulai terdengar dari ruang utama gua di depan.
"...persiapan hampir selesai! Darah suci yang kita bawa dari ibu kota sudah dituangkan ke dalam empat sudut matriks!" seru sebuah suara serak yang dipenuhi fanatisme.
"Bagus!" balas suara lain yang terdengar lebih berat dan berwibawa. "Pangeran Iblis Malphas telah menerima tumbal dari dimensi sebelah. Begitu pintu gerbang ini terbuka sempurna, seluruh ibu kota kerajaan akan menjadi padang pembantaian! Bangsawan-bangsawan bodoh itu tidak akan pernah tahu apa yang menimpa mereka!"
Wiliam menghentikan langkahnya di balik bayangan pilar batu raksasa yang menopang langit-langit ruang gua utama. Di depannya membentang sebuah ruangan bundar yang sangat luas. Di pusat ruangan, terukir sebuah formasi sihir raksasa tingkat tinggi—sebuah Matriks Pemanggilan Antardimensi kompleks yang terdiri dari belasan lingkaran konsentris dan simbol-simbol iblis kuno.
Sekitar dua puluh orang berkerudung merah melingkari formasi tersebut, memegang belati berukir dan merancangkan mantra dalam bahasa terlarang. Di tengah formasi, lingkaran cahaya merah menyala pekat, memancarkan bau belerang dan hawa kematian yang menyengat.
Wiliam menatap formasi sihir itu dengan cermat. Matanya membedah setiap garis matriks dalam hitungan detik. Formasi Pemanggilan Tingkat Delapan, batinnya dingin. Mereka memanfaatkan simpul aliran mana tanah di hutan ini untuk menembus batas dimensi.
Tanpa membuang waktu lebih lama untuk mendengarkan omong kosong para pengikut sekte, Wiliam melangkah keluar dari balik pilar batu, menampakkan dirinya secara terbuka di tepi ruangan.
Langkah kakinya yang bergema di atas batu keras langsung menghentikan nyanyian mantra para anggota sekte. Pemimpin mereka—seorang pria paruh baya dengan pakaian ritual berkulit tipis—berbalik dengan wajah merah padam karena murka.
"Siapa yang berani mengganggu—"
Sshhhk!
Kata-katanya terputus selamanya.
Sebelum ada yang bisa melihat pergerakannya, Wiliam sudah mengeksekusi Bentuk Pertama: Tebasan Bayangan Hampa. Sebuah garis hitam tipis membelah udara secara mendatar dari jarak sepuluh meter. Kepala sang pemimpin sekte terpisah dari bahunya secara mulus sebelum darahnya sempat menyembur. Tubuh kaku itu roboh berdentang ke lantai batu.
Hening sejenak mencengkeram ruangan gua tersebut, sebelum salah satu pengikut sekte menjatuhkan belatinya ke lantai dan berteriak histeris dengan suara melengking penuh teror.
"H-HANTU TOPENG! DIA HANTU TOPENG!"
Kepanikan massal meletus secara instan. Para anggota sekte yang beberapa detik lalu memancarkan aura fanatisme mematikan kini berubah menjadi kawanan domba yang ketakutan. Beberapa di antara mereka mencoba melempar sihir api dan es secara liar, sementara yang lain berbalik mencoba lari menuju jalan keluar lain.
Namun, bagi Wiliam, mereka semua hanyalah target kaku.
Pernapasan Pedang Kegelapan.
Bentuk Kelima: Teror Kehampaan.
Wiliam menghembuskan napas pekat. Kabut kegelapan yang tebal memancar cepat dari tubuhnya, menutupi seluruh ruang gua dalam hitungan detik. Cahaya lentera dan pendar merah dari formasi sihir mendadak redup dan padam. Suara jeritan, langkah kaki, bahkan gema gema udara terserap sepenuhnya oleh kabut tersebut.
Di dalam kegelapan mutlak tanpa suara itu, Wiliam bergerak bagaikan pemotong rumput di padang ilalang. Setiap ayunan pedangnya presisi, efisien, dan tanpa keraguan. Tidak ada penderitaan yang dipanjangkan; setiap tebasan menyasar titik vital, membungkam nyawa para pengikut sekte sebelum mereka sempat menyadari arah datangnya serangan.
Satu per satu, hawa kehidupan di dalam gua itu padam.
Kurang dari satu menit kemudian, kabut kegelapan perlahan menyusut kembali, terserap masuk ke dalam jubah Wiliam.
Lantai gua kini dipenuhi tubuh-tubuh anggota sekte yang tergeletak kaku. Hanya tersisa satu orang—seorang penyihir sekte yang bertugas menjaga bagian belakang formasi. Dia terduduk lemas di tanah, merayap mundur dengan wajah pucat pasi dan celana yang sudah basah oleh air seninya sendiri saat melihat sosok bertopeng hitam itu melangkah mendekatinya tanpa setetes darah pun mengotori pakaiannya.
Wiliam berhenti tepat di depan pria yang gemetaran itu. Dia menunduk, menatapnya dari balik topeng bertanduk dengan mata merahnya yang berkilat di balik kegelapan.
"Siapa yang memberi kalian instruksi dan sumber daya untuk membangun matriks pemanggilan ini?" tanya Wiliam. Suaranya bergema dingin di dalam gua yang kini sunyi.
Pria sekte itu gemetaran hebat, dadanya naik turun dengan napas memburu. Namun, alih-alih menjawab karena takut mati, senyum gila dan fanatik perlahan terukir di wajahnya yang berdarah. Dia meludah ke arah sepatu Wiliam—meskipun ludah itu terhalang oleh perisai bayangan tipis sebelum menyentuh kainnya.
"Khaha...hahaha!" pria itu tertawa histeris, giginya yang bernoda darah tampak mengerikan. "Kau pikir kau menang, Hantu Topeng?! Kau terlambat! Kau sudah sangat terlambat!"
Wiliam memiringkan kepalanya sedikit, pandangannya tetap datar.
"Lihat ke bawah kakimu, Iblis Bertopeng!" seru pria sekte itu seraya menunjuk ke tanah di sekeliling mereka dengan jari gemetar. "Darah! Darah para saudaraku yang kau bantai dengan sangat mudah... mengalir tepat ke dalam saluran matriks!"
Wiliam menurunkan pandangannya. Benar saja. Cairan darah dari puluhan anggota sekte yang baru saja dia eksekusi tidak tergenang di lantai batu. Darah itu ditarik oleh daya hisap sihir kuno, mengalir cepat menyusuri parit-parit ukiran simbol di lantai, mengisi seluruh garis matriks pemanggilan dengan warna merah menyala yang kian memikat dan mengerikan.
Darah manusia adalah katalis tertinggi untuk sihir dimensi iblis.
"Ritus ini butuh tumbal darah manusia yang cukup!" jerit pria itu penuh kemenangan gila. "Kau tidak menggagalkan ritual ini... KAU MALAH MENYELESAIKANNYA UNTUK KAMI! PANGERAN IBLIS AKAN DATANG DAN MEMBUMIHANGUSKAN—"
Brak!
Tanpa membiarkannya menyelesaikan kalimatnya, Wiliam mencengkeram leher pria itu, memutar tubuhnya, lalu melemparkannya seperti karung sampah ke dinding gua hingga batu tebing retak dan pria itu pingsan seketika.
Wiliam berbalik, menatap lurus ke arah pusat formasi sihir.
Ukiran-ukiran simbol di lantai kini bergetar hebat. Pendar cahaya merah yang tadinya redup mendadak meledak menjadi pilar cahaya darah yang membumbung tinggi, menembus langit-langit gua tanpa meruntuhkan strukturnya. Gelombang tekanan mana yang sangat berat dan busuk membual keluar dari pusat pilar tersebut, membuat udara di dalam gua terasa begitu padat hingga sulit untuk dihirup.
Crack! Crack!
Ruang-waktu di tengah pilar cahaya itu retak bagaikan kaca yang dipukul palu berat. Dari balik retakan dimensi yang hitam hampa, sebuah tangan berdaging pucat dengan kuku-kuku hitam tajam keluar, mencengkeram tepi retakan realitas dan merobeknya lebih lebar.
Sebuah sosok perlahan melangkah keluar dari pendar cahaya darah tersebut.
Sosok itu memiliki tinggi hampir dua meter, bertubuh tegap dengan proporsi yang sangat sempurna. Dia mengenakan jas bangsawan bergaya klasik berwarna hitam dengan sulaman benang emas yang sangat rumit. Namun, ciri paling mencolok darinya adalah sepasang tanduk melengkung berwarna merah darah yang tumbuh dari balik rambut peraknya yang tersisir rapi, serta sepasang mata emas beriris vertikal bagaikan mata reptil.
Aura yang memancar dari tubuhnya bukan lagi mana biasa. Itu adalah Mana Iblis Murni tingkat tinggi—sebuah keberadaan yang dengan mudah disetarakan dengan penyihir Level 15 atau lebih.
Seorang Bangsawan Iblis.
Bangsawan Iblis itu memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, menghirup udara dunia manusia yang penuh dengan bau darah segar di dalam gua tersebut. Ulas senyum elegan namun penuh penghinaan terukir di wajahnya yang tampan dan dingin.
"Ah... bau dunia fana yang begitu menyegarkan," kata sang Bangsawan Iblis dengan suara yang halus bagaikan beludru, namun mengandung getaran sihir yang mampu merusak mental manusia biasa. "Sudah berapa ratus tahun sejak ras kami menginjakkan kaki di tanah ini?"
Mata emasnya yang tajam perlahan terbuka, memindai sekeliling ruang gua yang dipenuhi mayat para pengikut sektenya. Pandangannya tidak tertahan sedikit pun pada mayat-mayat itu, seolah-olah mereka tak lebih dari serangga yang mati setelah menjalankan fungsinya.
Hingga akhirnya, pandangan sang Bangsawan Iblis mendarat tepat pada sosok tunggal yang berdiri tenang beberapa meter di depannya.
Seorang manusia berpenampilan aneh—mengenakan topeng bertanduk hitam, jubah berkerah tinggi, dan memegang pedang yang diselimuti kabut kegelapan cair.
Bangsawan Iblis itu memiringkan kepalanya, menatap Wiliam dengan pandangan tertarik sekaligus meremehkan, seolah baru saja menemukan seekor mainan unik di tengah padang bangkai.
"Oh?" gumam sang Bangsawan Iblis seraya terkekeh pelan. "Apakah kau yang menyiapkan semua darah segar ini untuk menyambut kedatanganku, Manusia? Atau kau hanyalah seekor cacing yang kebetulan bertahan hidup?"