NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi di sawah

"Hati-hati turunnya, Mas," ucap Abi mengingatkan Akbar selagi memegangi bagian belakang badan motor agar tidak oleng.

Akbar dengan sigap melompati pijakan motor, merapikan topi caping kecilnya, lalu berdiri tegak di atas jalan setapak bermaterial batu kerikil. Setelah Akbar aman, barulah Abi menggendong Aqil turun dari bagian depan jok motor.

Begitu kaki mungilnya menyentuh tanah, mata bulat Aqil langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang sedang berdiri di tepi pematang sambil memegang cangkul. Tanpa menunggu sang ayah, si bungsu langsung berlari kecil menghampiri.

"Akung!" sapa Aqil.

Pak Darno, pria tua yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Abi dan anak-anaknya, langsung menghentikan aktivitasnya.

"Eh, cucu Akung yang paling ganteng datang!" sahut Pak Darno.

"Sama siapa ke sini, Le?"

"Sama Ayah dan Mas Akball!" jawab Aqil bangga, jarinya menunjuk-nunjuk Abi dan kakaknya yang sedang berjalan mendekat. "Aqil mau liat bulung!"

"Wah, mau lihat burung ya? Pintar sekali," puji Pak Darno sambil terkekeh pelan, mengelus puncak kepala Aqil.

Abi yang berjalan menyusul sambil menggandeng tangan Akbar menyunggingkan senyum hangat. "Pagi, Pak Darno. Maaf ya, Akung-nya langsung diserbu pagi-pagi begini."

"Hahaha, tidak apa-apa, Mas Abi. Justru makin ramai makin senang saya," balas Pak Darno.

"Mas Akbar kok diam saja? Gak mau salam sama Akung?"

Akbar yang tadinya malu-malu langsung maju satu langkah, mencium tangan Pak Darno dengan takzim.

"Pagi, Akung."

"Pinter nya."

Pak Darno menepuk-nepuk pundak Akbar pelan, lalu beralih menatap Abi. "Gimana, Mas Abi? Lahan sebelah timur tadi pagi sudah mulai dibajak sama Pak Trimo dan anak buahnya. Mau dicek sekarang?"

"Iya, Pak Darno," jawab Abi.

"Sekalian saya mau liat alur irigasi yang kemarin sempat tersumbat rumput liar."

Abi kemudian menunduk, menatap kedua Putra nya yang sedang asyik memperhatikan seekor capung hinggap di atas rumput pematang.

"Mas Akbar sama Adik duduk di gubuk dulu, ya. Ayah mau mengecek sawah sebentar sama Akung Darno," tutur Abi.

"Aqil mau ikut nancap padi, Yah!" rengek si bungsu cepat sambil menarik-narik ujung celana kain Abi.

"Ehh, jangannn..." potong Pak Darno terkekeh.

"Sawahnya baru dibajak, Le. Lumpur tanahnya dalam sekali, nanti kaki mungil Aqil bisa ambles sampai lutut, lho! Nanti nggak bisa jalan."

"Yah...."

"Akbar kan pakai sepatu bot kuning, Yah! Jadi nggak takut ambles!"

Abi terkekeh pelan melihat tingkah anak sulungnya. Ia mengacak rambut Akbar gemas. "Iya, Mas hebat. Tapi tetap saja belum boleh turun ke lumpur. Mas kan udah janji tadi di rumah mau jagain Aqil?"

"Iya deh! Akbar jagain Aqil di gubuk aja!"

"Nah, gitu dong. Anak pinter," puji Abi.

Abi lantas menuntun kedua putranya naik ke atas gubuk bambu yang teduh di bawah naungan pohon mangga. Dari atas gubuk ini, pemandangan seluruh hamparan sawah hijau milik Abi terlihat sangat jelas. Tempat ini aman karena terlindung dari terik matahari dan memiliki batas bambu yang cukup tinggi.

"Ingat ya, duduk di sini saja. Jangan turun ke pematang tanpa Ayah atau Akung," pesan Abi mewanti-wanti seraya meletakkan tas ransel kecil milik Aqil di atas balai bambu.

"Iya, Ayah!" sahut Akbar dan Aqil serempak.

Abi menyunggingkan senyum lega, lalu melangkah turun mengekor Pak Darno menyusuri pematang sawah. Namun, baru melangkah lima belas meter meninggalkan gubuk...

Pukk!

"Ayahhh! Mas Akball lembal sandal Aqil ke lumpull!" teriak suara cempreng Aqil melengking.

Abi mendadak menghentikan langkahnya. Pria muda itu memejamkan mata rapat-rapat, mengelus dadanya, lalu menghembuskan napas pasrah.

Baru ditinggal dua menit... batin Abi sambil memutar badan kembali ke arah gubuk.

"Mas Akbar! Kenapa sandal adiknya dilempar?" tegur Abi setengah berteriak seraya berjalan cepat kembali menuju gubuk.

"Bukan Akbar, Yah! Aqil duluan yang senggol sepatu Akbar sampai mau jatuh!" bela Akbar tidak mau kalah. Bocah empat tahun itu berdiri di pinggir gubuk sambil menunjuk-nunjuk adiknya.

"Tapi nggak usah dilembal jugaaaa!" jerit Aqil histeris. Si bungsu yang panik melihat sandal kesayangannya mengapung di atas lumpur basah langsung maju mendekati tepi gubuk, berniat mengambilnya sendiri.

"Ehh, Aqil, jangan turun!" pekik Abi yang melihat gerak-gerik berbahaya anak bungsunya.

Naas, niat Akbar sebenarnya baik. Ia ingin menahan baju adiknya agar tidak jatuh. Namun, dorongan niat baik itu justru berbuah kekacauan. Akbar yang terburu-buru meloncat maju malah menyenggol bahu Aqil dari belakang.

Sliip!

Kaki kecil Aqil terpeleset di atas bambu gubuk yang licin. Tubuh mungilnya limbung ke depan, dan secara refleks tangannya menggapai Kaos Akbar.

"Ayahhhh.....!"

Cemplung! Gedebuk!

Hanya dalam hitungan detik, kedua bocah itu sukses berguling jatuh bersamaan dari atas gubuk—langsung mendarat mulus di dalam petakan sawah yang baru saja dibajak dan penuh lumpur pekat.

Suasana sawah seketika hening selama dua detik.

Abi membeku di tempat, matanya melotot sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Pak Darno yang berjalan di belakang Abi bahkan sampai menghentikan langkahnya, menahan napas.

Di dalam petakan sawah, dua sosok kecil itu kini sudah berubah wujud. Topi caping Akbar terlepas dan mengapung bebas. Baju, celana, bahkan wajah mereka berdua kini nyaris tertutup penuh oleh adonan lumpur cokelat kehitaman. Hanya tersisa dua pasang mata yang berkedip-kedip kebingungan.

"A-Aqiill...?" gumam Akbar perlahan, mencoba memuntahkan sedikit lumpur yang sempat masuk ke pinggir mulutnya.

Aqil yang tadinya kaget setengah mati, perlahan melirik tubuhnya sendiri yang sudah belepotan hitam. Wajahnya yang penuh noda lumpur mulai mengkerut, bibirnya melengkung ke bawah, dan...

"AYAHHHHHHHHH! AQIL JADI MONSTELLL LUMPUUURR!" tangis Aqil akhirnya pecah, suaranya melengking keras menggelegar ke seluruh penjuru sawah.

Melihat adiknya menangis histeris, Akbar yang juga panik dan belepotan lumpur malah ikut-ikutan berkaca-kaca..

"Ngg-nggak... Aqil bukan monster... Hikz, ini cuma cokelat!" seru Akbar.

Abi yang tadinya sempat shock sampai tak bisa berkata-kata, langsung tersadar. Pria muda itu berlari kencang menerobos pematang, diikuti Pak Darno dari belakang.

"Aduh, Ya Allah, Gusti..." gumam Abi sambil buru-buru masuk ke dalam petakan sawah yang berlumpur.

Langkah kaki Abi melesak masuk ke dalam lumpur pekat selutut, tapi ia tak peduli. Dengan sigap, tangan kekarnya merengkuh tubuh mungil Aqil lebih dulu, memeluknya dan mengangkat si bungsu keluar dari adonan lumpur.

"Sstt... sstt... udah, udah. Nggak apa-apa, Nak. Ini Ayah, bukan monster," bujuk Abi menenangkan Aqil yang masih menangis sesenggukan di dadanya, tak peduli kaos bersihnya kini ikut tertempel lumpur hitam dari tubuh sang anak.

Sementara itu, Pak Darno ikut mengarungi lumpur untuk memegang tubuh Akbar. "Sini, Mas Akbar sama Akung."

Abi menyusul naik ke gubuk, membawa Aqil yang masih memungut napas dengan tangisan yang perlahan mereda menjadi isakan kecil. Kedua anak laki-laki itu kini duduk berdampingan di atas gubuk dengan kondisi yang tragis sekaligus lucu. Hanya bagian gigi dan putih mata mereka yang terlihat bersih.

"Ada yang sakit? Ada yang luka nggak?" tanya Abi cemas, memeriksa tangan dan kaki kedua anaknya satu per satu.

Akbar menggeleng pelan, lalu menunjuk lututnya. "Nggak sakit, Yah... tapi licin."

"Aqil... Aqil gatel, Yah," adu si bungsu sambil cemberut, tangannya mulai bersiap menggaruk pipinya yang penuh adonan tanah basah.

"Eh, jangan digaruk pakai tangan belepotan begitu, tambah kotor nanti," tahan Abi menepis lembut tangan bungsunya.

Abi memegang dahinya sendiri, memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. Rencana mengecek alur irigasi dan pembajakan sawah pagi ini resmi gagal total.

1
yumi chan
jgn lm2 thor cpt lamaranya..njh hmil...ank kmbr cwek2 biar rme jdnya
Elly Maryani
modus bgt mas Abi...udah g betah JD duda ya mas😅😂😂.. up LG Thor... jgn lama2...
D_wiwied
iihhh pinter banget modusnya pak duda satu ini menggiring opini anak2 nya pdhl dia sendiri yang udah ada rasa ke Kayla tuh, tp aku setuju koq 😁😁
Fitri Yah
hiyaaa ... akhir nya anak2 pun setujuuu. gercep mas abi .... lamar bunda kayla nya hahhahha ... pleazee double up thor hehe 🙏
ig: denaa_127
komen pilih
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti
ig: denaa_127
setuju ngga mas Abi sama Kayla?
Elly Maryani
mas Abi diam" suka neng Kayla nih... gercep bgt... mau ngapain mas nanti lebaran haji kerumah neng Kayla?🤭😅😂
Fitri Yah
hahahaa .. iso ae ni mas abi 😄
Lisa
Cocok banget nih Abi & Kayla 👍👍😊
D_wiwied
wehehe mas Abi dah mulai berani ya,, godain Kayla terus tuh sampe merah merona wajahnya 😁😆
D_wiwied: masih malu2 tuh mereka
total 2 replies
D_wiwied
sudah tau pas-pas an aja masih kami kejar Din, ga ada harga diri banget sih, gatau diri jg ya kamu
D_wiwied
cieee mas duda senyum2 sendiri pasti keinget kejadian tadi di pematang sawah ya kaaan, awas ati2 lho mas bentar lg bakal muncul benih2 ikan eeh benih2 cinta 😆🤣🤣
D_wiwied
wehh ternyata mas duda bisa bercanda jg ya, malah godain kayla.. gek dibantuin mas jangan digodain terus 😆😂
D_wiwied
kakak Kayla panutan, mas Akbar aja bs nurut.. pertanyaannya kamu dah siap blm Kay seandainya jd ibu mereka 😆😁
Lisa
Abi ini Kayla jatuh malah digodain sih..
Fitri Yah
hahahhaa ...
Fitri Yah
good bi .... hempaskan wanita itu jauh2 👍👍
D_wiwied
jangan2 si mantan nih
D_wiwied
ya ampun kenapa ada bawang dimatakuuu 😭😭😭
Lisa
Mantan istrinya Abi ini seenaknya aj mau mengambil Akbar & Akil..jelas aj Abi g mengijinkan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!