Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELUKAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Malam telah larut ketika Zenaya akhirnya tiba di mansion.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Ia sama sekali tidak menyangka pesta agency model yang wajib dihadirinya akan berlangsung selama itu.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya terus dipenuhi rasa bersalah. Sebagai seorang istri yang baru saja menikah, ia merasa tidak seharusnya pulang selarut ini, terlebih lagi meninggalkan suaminya sendirian di rumah.
Dengan langkah cepat, wanita cantik itu memasuki mansion. Ia bahkan hanya sempat menyapa singkat beberapa pelayan sebelum segera berjalan menuju kamar pribadinya.
Satu hal yang ada dalam pikirannya hanyalah ingin segera melihat Eros.
Tangannya perlahan membuka pintu kamar. Suasana di dalam begitu tenang dan sunyi. Cahaya lampu kamar yang redup membuat Zenaya dapat melihat sosok pria yang sangat ia rindukan tengah tertidur pulas di atas ranjang.
Senyum kecil terukir di wajahnya.
Setidaknya Eros sudah pulang dan beristirahat.
Zenaya melangkahkan kakinya perlahan, berusaha agar tidak membangunkan suaminya. Namun ketika ia semakin mendekat, senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Mata hazelnya seketika membulat ketika melihat wajah Eros yang tampak pucat.
"Eros..." gumamnya pelan.
Ia segera menyentuh dahi pria itu dan seketika merasa terkejut.
"Panas sekali... kau demam?" bisiknya panik.
Rasa bersalah langsung memenuhi hatinya.
Disaat suaminya sedang sakit, ia justru baru pulang di tengah malam karena sebuah acara.
Perasaan itu membuat Zenaya merasa dirinya belum menjadi istri yang baik untuk Eros
Tanpa membuang waktu, ia segera mengambil kompres hangat dan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan. Dengan penuh perhatian, Zenaya mulai merawat Eros.
Baru saat itu ia menyadari bahwa pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya. Rupanya Eros bahkan belum sempat mengganti pakaiannya sejak pulang.
"Eros... kenapa kau tidak memberitahuku kalau sedang tidak enak badan?" bisiknya lirih.
Namun pria itu hanya diam dengan mata yang terpejam. Tubuhnya terasa begitu lemah, kepalanya terasa berat, bahkan untuk sekadar
berbicara pun rasanya sulit.
Eros hanya mampu mengikuti setiap hal yang dilakukan Zenaya.
Perlahan, Zenaya membantu melepaskan kemeja kerja yang dikenakan suaminya. Ia mengusap tubuh Eros dengan handuk hangat untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya, kemudian menggantikan pakaian pria itu dengan baju yang lebih nyaman dan hangat.
Setiap gerakannya penuh kelembutan, seolah takut menyakiti pria yang sedang tidak berdaya di hadapannya.
Setelah selesai, Zenaya mengambil obat dan segelas air.
"Eros, bangun sebentar. Minum obat dulu," ucapnya lembut.
Mata Eros terbuka perlahan.
Pandangannya masih terlihat berat karena rasa pusing yang menyerang.
Namun ketika melihat Zenaya berada di sisinya, ia tidak menolak.
Dengan bantuan Zenaya, ia meminum obat tersebut hingga habis.
Setelah itu, Eros kembali merebahkan tubuhnya. Zenaya menarik selimut hingga menutupi tubuh suaminya dengan hati-hati.
Ia menatap wajah Eros yang terlihat lelah.
"Maafkan aku..." lirih Zenaya dengan suara penuh penyesalan.
Ia kemudian berniat pergi sebentar ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun baru saja ia berbalik, sebuah tangan kekar tiba-tiba menahan tangannya.
Zenaya terdiam.
Ia menoleh dan melihat Eros masih memejamkan mata, tetapi tangannya menggenggam tangan Zenaya dengan erat.
"Jangan tinggalkan aku..." ucap Eros dengan suara lemah.
Kalimat sederhana itu membuat hati Zenaya bergetar.
Senyumnya muncul perlahan, meski matanya mulai dipenuhi rasa haru. Ia kembali duduk di sisi ranjang dan mengusap lembut kening Eros.
"Aku di sini," bisiknya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Maafkan aku."
Seolah merasa tenang mendengar jawaban itu, Eros perlahan menarik tangan Zenaya hingga tubuh wanita itu mendekat ke arahnya.
Dalam keadaan lemah, ia memeluk Zenaya dengan erat.
Pelukan itu terasa hangat.
Meskipun tubuh Eros sedikit berkeringat karena demam, aroma maskulin khas pria itu tetap membuat Zenaya merasa nyaman.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa bersalah yang memenuhi hatinya sedikit mereda.
Zenaya membalas pelukan tersebut dengan lembut.
Tangannya mengusap punggung Eros perlahan, memastikan pria itu tetap merasa ditemani.
"Aku akan menjaga kamu..." bisiknya.
Tidak lama kemudian, rasa lelah setelah seharian beraktivitas mulai menghampiri Zenaya.
Tanpa sadar, ia tertidur dalam pelukan Eros.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, mereka tertidur bukan sebagai dua orang yang hanya berbagi kamar, melainkan sebagai pasangan yang mulai belajar saling membutuhkan.
Eros perlahan terbangun dari tidurnya.
Matanya masih terpejam, namun kesadarannya mulai kembali. Dalam keadaan setengah sadar, ia masih memeluk sesuatu yang ia kira hanyalah sebuah guling.
Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.
Bukan hanya kelembutan kain yang ia rasakan, melainkan kehangatan tubuh seseorang. Ada sentuhan kulit yang begitu lembut serta aroma wangi yang perlahan memenuhi indra penciumannya.
Eros mengerutkan keningnya, merasa asing dengan keadaan itu. Perlahan ia membuka matanya.
Sekejap kemudian, ia terdiam.
Di hadapannya, Zenaya tengah berada dalam pelukannya. Wanita itu tidur dengan begitu pulas, wajah cantiknya terlihat begitu tenang.
Bahkan tanpa sadar, Zenaya juga memeluk tubuhnya dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya.
Jantung Eros berdetak lebih cepat.
Untuk pertama kalinya, mereka tidur sedekat ini. Tidak ada jarak di antara mereka, tidak ada kecanggungan seperti biasanya.
Hanya ada kehangatan yang terasa begitu alami.
Pikiran Eros kembali mengingat kejadian malam sebelumnya.
Ingatannya masih samar, namun ia mengingat bagaimana Zenaya terus berada di sisinya. Wanita itu merawatnya sepanjang malam dengan penuh perhatian, memastikan dirinya baik-baik saja ketika tubuhnya sedang tidak sehat.
Tanpa sadar, sudut bibir Eros terangkat membentuk senyuman kecil.
Zenaya benar-benar mengkhawatirkannya.
Perlahan tangannya bergerak, menyentuh rambut panjang Zenaya yang berada di dekat wajahnya. Ia mengusapnya dengan lembut, merasakan betapa halus dan wanginya rambut wanita itu.
Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh dalam hatinya.
Perasaan nyaman yang selama ini tidak pernah ia sadari.
Eros tidak berniat melepaskan pelukan itu. Justru ia kembali memejamkan matanya, membiarkan dirinya menikmati kehangatan yang baru pertama kali ia rasakan dari Zenaya.
Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Udara pagi terasa begitu dingin, membuat Eros memilih untuk kembali tidur dalam pelukan istrinya.
......................
Pagi pun menjelang.
Sinar matahari mulai muncul dari arah timur, menyinari mansion yang masih terasa tenang. Sementara itu, Zenaya sudah sibuk berada di dapur.
Ia ingin membuatkan bubur ayam spesial untuk Eros yang masih dalam masa pemulihan. Beberapa pelayan membantunya, namun Zenaya tetap bersikeras untuk turun tangan sendiri.
Bagi Zenaya, melakukan sesuatu untuk suaminya bukanlah sebuah beban.
Justru ada kebahagiaan tersendiri ketika ia bisa merawat Eros.
Terlebih lagi, saat ia terbangun tadi, ia mendapati Eros masih memeluknya dengan begitu erat.
Momen sederhana itu membuat hatinya terasa hangat.
Setelah bubur selesai dibuat, Zenaya membawa sebuah nampan berisi bubur ayam dan segelas air hangat menuju kamar mereka. Langkahnya terasa ringan, ada senyum kecil yang menghiasi wajah cantiknya.
Namun saat tangannya hendak membuka pintu kamar, ia terdiam.
Eros ternyata sudah bangun.
Pria itu duduk bersandar di ranjang, menatap ke arahnya.
Tatapan mereka bertemu, dan seketika bayangan keintiman pagi tadi kembali terlintas di benak keduanya.
Pelukan hangat itu.
Kedekatan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Zenaya tersenyum kecil lalu berjalan mendekati Eros.
"Aku membuatkanmu bubur ayam. Setelah itu, minum obat lagi agar cepat sembuh," ujar Zenaya lembut sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja.
Eros menatap hidangan yang sudah disiapkan untuknya. Kemudian pandangannya beralih kepada Zenaya.
Ada rasa hangat yang sulit ia jelaskan ketika melihat perhatian wanita itu.
"Terima kasih. Maaf aku merepotkanmu," ucap Eros pelan.
Mendengar perkataan itu, Zenaya langsung mengernyitkan dahinya.
Baginya, ucapan Eros terdengar tidak tepat.
Dia bukan orang lain.
Dia adalah istrinya.
Dan merawat Eros adalah sesuatu yang ingin ia lakukan, bukan sesuatu yang dianggap sebagai beban.
"Aku adalah istrimu," ujar Zenaya dengan suara lembut, tetapi tegas. "Jadi jangan pernah bilang kalau kau merepotkanku."
Eros terdiam menatapnya.
Ada ketulusan dalam setiap kata Zenaya.
Untuk pertama kalinya, ia mulai melihat sisi lain dari wanita yang selama ini hanya ia anggap sebagai seseorang yang hadir karena sebuah pernikahan.
Zenaya bukan sekadar istrinya di atas kertas.
Dia adalah seseorang yang benar-benar peduli padanya.