NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Viral!

"Kamu harus ikut reality show kencan."

Kalimat Lilian itu mengikuti Wenny sampai ke mimpinya.

Keesokan paginya, bahkan sebelum matahari benar-benar naik di balik gedung-gedung Jakarta, ponsel Wenny sudah bergetar tanpa henti di atas nakas. Bukan getaran sekali dua kali. Rasanya seperti mesin kecil di dalam casing ponselnya menolak diam.

Wenny membuka mata dengan kepala berat.

Semalam ia pulang lewat tengah malam, mandi dengan setengah sadar, lalu tidur masih dengan rambut lembap dan pikiran yang penuh wajah REYN. Seharusnya pagi ini ia istirahat. Seharusnya ia tidak membuka media sosial sebelum sarapan.

Tetapi siapa artis yang bisa tidur tenang ketika namanya menjadi nomor satu di Trending Topic?

Ia meraih ponsel.

`#WenReyn`

`#REYNMenangkapWenny`

`#RedCarpetRomance`

Tiga tagar itu berdempetan di daftar trending Indonesia. Video semalam sudah melewati tiga puluh juta penayangan. Ada versi lambat dengan musik romantis, ada pula akun yang terlalu rajin membuat utas perubahan ekspresi REYN dalam dua belas detik.

Wenny menekan salah satunya.

`Detik 00:03, REYN belum panik. Detik 00:04, dia sudah membuka tangan. Artinya dia memperhatikan Wenny bahkan sebelum Wenny jatuh.`

`Detik 00:07, lihat matanya. Itu bukan mata orang kaget. Itu mata orang nemu barang hilang.`

Wenny hampir tersedak air putih.

"Barang hilang apanya," gumamnya.

Ia menggulir komentar lain.

`Aku fans REYN sejak debut. Dia enggak pernah lihat perempuan kayak gitu.`

`Wenny cantik banget waktu panik. Lesung pipinya keluar, REYN langsung kalah.`

`Ini settingan? Kalau settingan, tolong lanjutkan.`

`Rosa tadi ada di belakang, enggak sih? Kok gerakannya mencurigakan?`

Jari Wenny berhenti.

Ada yang melihat.

Ia membuka video lain, kali ini dari sudut lebih jauh. Di layar kecil itu, gerakan Rosa memang hampir tidak tampak. Hanya bahu merah yang lewat terlalu dekat, lalu tubuh Wenny limbung. Tanpa konteks, orang bisa menyebutnya tabrakan biasa.

Tubuh Wenny tahu itu dorongan.

Pintu kamar diketuk.

"Masuk," kata Wenny.

Lilian muncul dengan rambut dicepol asal, blazer masih rapi, dan dua gelas kopi di tangan. Mata manajernya jelas kurang tidur.

"Kamu sudah lihat?"

"Kalau aku bilang belum, kamu percaya?"

"Tidak." Lilian menyerahkan kopi. "Minum. Kita berangkat tiga puluh menit lagi."

Wenny duduk tegak. "Ke mana?"

"Kantor."

"Aku belum sarapan."

"Aku pesan bubur beras dan telur rebus. Bebas gluten. Jangan ambil roti di pantry kantor, aku tidak mau kamu tiba-tiba gatal-gatal di tengah rapat."

Kalimat itu membuat Wenny sedikit tersenyum meski kepalanya pusing.

Alergi gluten bukan hal yang bisa ia abaikan. Sejak kecil, tubuhnya bereaksi buruk pada makanan berbahan gandum tertentu. Dulu, ketika ia masih Bintang Kecil, satu kesalahan kecil di meja makan bisa membuat jadwal syuting kacau. Sejak itu, Lilian selalu punya kebiasaan mengecek makanan Wenny lebih dulu, bahkan lebih galak daripada ibunya sendiri.

"Rapatnya soal reality show itu?" tanya Wenny.

Lilian menatapnya tanpa berkedip.

Senyum Wenny hilang. "Jadi semalam bukan ancaman kosong."

"Keputusan sudah turun dari atas."

"Karena video dua belas detik?"

"Karena video dua belas detik yang sudah jadi tiga puluh juta penonton, empat brand menghubungi tim komersial, dan dua media gosip menulis kamu diam-diam pacaran dengan REYN."

Wenny memijit pelipis. "Aku bahkan baru bicara dengannya kurang dari lima kalimat."

"Publik tidak peduli berapa kalimat. Mereka peduli bagaimana dia melihatmu."

Wenny menunduk pada kopi di tangannya.

Masalahnya, publik tidak sepenuhnya salah.

Tatapan REYN memang aneh. Hangat. Tenang. Terlalu personal untuk dua orang yang seharusnya tidak saling mengenal.

Mobil menuju kantor bergerak lebih lambat dari biasanya karena macet pagi Jakarta. Sepanjang jalan, layar besar di Bundaran HI menayangkan iklan minuman yang dulu pernah dibintangi Wenny saat remaja. Wajahnya yang tersenyum di sana terasa seperti milik orang lain.

Dulu semua orang mengenalnya sebagai Bintang Kecil.

Anak perempuan lima tahun dengan rambut dikuncir dua, lesung pipi jelas, dan suara cempreng yang membuat ibu-ibu Indonesia ingin mencubit pipinya. Ia tumbuh di depan kamera, dari sinetron keluarga, film remaja, drama kolosal, sampai menjadi pemeran utama yang selalu dijual dengan kalimat aman: cantik, berbakat, bebas skandal.

Bebas skandal.

Wenny menertawakan kata itu dalam hati.

Satu karpet merah cukup untuk membakar tujuh belas tahun citra bersih.

Di ruang rapat kantor, tim publikasi sudah menunggu. Ada layar besar yang menampilkan grafik sentimen. Hijau mendominasi, artinya publik menyukai skandal itu. Justru itu yang membuat Wenny semakin tidak nyaman.

"Kita tidak akan membantah," kata kepala tim publikasi. "Membantah sekarang akan terlihat defensif. Publik sedang senang. Brand juga senang."

"Jadi aku harus membiarkan orang percaya aku pacaran dengan REYN?" tanya Wenny.

"Tidak. Kita arahkan narasinya."

Lilian duduk di sebelah Wenny, membuka map tipis. "Program `Skandal Cinta` sedang casting untuk musim ketiga. Mereka butuh nama besar. Kita butuh ruang untuk menjelaskan kejadian semalam tanpa terlihat panik."

"Reality show kencan bukan ruang menjelaskan. Itu ruang membuat masalah baru."

"Atau ruang membuat publik melihat kamu sebagai orang dewasa yang bisa menentukan hidupnya sendiri."

Wenny menoleh pada Lilian. Kalimat itu terdengar seperti jebakan yang dibungkus hadiah.

"Aku sudah tujuh belas tahun kerja," kata Wenny pelan. "Aku tidak takut kamera. Tapi acara kencan itu berbeda. Mereka akan memotong ekspresi, memperbesar diam, mengedit setiap napas jadi tanda cinta."

"Mereka bahkan tidak perlu mengedit banyak kalau kamu satu frame dengan REYN," sahut salah satu staf publikasi, lalu langsung diam ketika Lilian meliriknya.

Wenny menarik napas panjang. Jika ia menolak sekarang, narasi bisa berbalik menjadi ia menyembunyikan sesuatu. Jika ia menerima, ia masuk ke arena yang dipenuhi kamera, komentar, dan kemungkinan Rosa bergerak lagi.

"Rosa ikut?" tanyanya tiba-tiba.

Lilian membuka halaman berikutnya. "Masih dibicarakan."

Wenny tertawa pendek. "Tentu saja."

Kepala tim publikasi mencondongkan tubuh. "Wenny, ini bukan hukuman. Ini kesempatan. Kamu punya basis penggemar kuat, REYN punya fanbase yang sangat besar. Kalian berdua dalam satu acara bisa mengubah skandal jadi proyek paling ditunggu tahun ini."

"Aku tidak mau hidupku jadi proyek."

Ruangan hening.

Lilian menyentuh lengan Wenny, kali ini tidak sebagai manajer, melainkan sebagai orang yang sudah menemaninya sejak ia remaja.

"Aku tahu," katanya pelan. "Tapi keputusan kontrak tetap ada di perusahaan. Kita bisa menawar batasan, jadwal, makanan, pengamanan, bahkan hak menolak beberapa permainan. Tapi kita tidak bisa menolak keikutsertaanmu tanpa perang besar."

Wenny memejamkan mata sebentar.

Di balik kelopak matanya, ia kembali melihat mata REYN.

Pantulan wajahnya sendiri di sana.

Seperti ia bukan skandal. Seperti ia seseorang yang akhirnya ditemukan.

Ketika ia membuka mata, ia tahu ia sudah kalah.

"Baik," ucapnya. "Aku ikut."

Lilian menghela napas lega, tetapi tidak tersenyum.

"Ada satu hal lagi."

Wenny langsung curiga. "Apa?"

Lilian memutar map ke arahnya. Di halaman paling atas ada daftar peserta sementara `Skandal Cinta` musim ketiga.

Nama pertama membuat Wenny ingin tertawa pahit.

Nama kedua membuat jantungnya berhenti sebentar.

REYN.

Lilian berkata pelan, seolah takut dinding ruang rapat ikut mendengar, "Kamu dan REYN akan tampil di acara yang sama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!