Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
Sejak insiden rak buku di perpustakaan dua hari lalu, Naya tidak bisa memandang Arka dengan cara yang sama lagi. Punggung tegap cowok itu, napas hangatnya yang menerpa pelipis Naya, serta cara Arka mendekap belakang kepalanya seolah cewek itu adalah hal paling berharga di dunia—semua ingatan itu berputar terus-menerus di benak Naya seperti kaset rusak.
Namun, dunia nyata di SMA Garuda Bangsa dengan cepat menampar Naya kembali ke realita.
Jumat sore, persiapan Festival Seni Sekolah yang akan digelar dua minggu lagi memasuki tahap krusial. Koridor depan ruang OSIS dipenuhi poster, dekorasi, dan kesibukan para pengurus. Dan di pusat semua kesibukan itu, Arka berdiri bersama Melisa.
"Ka, untuk sponsor dari perusahaan minuman, dokumennya sudah aku rapikan semua. Kamu tinggal paraf di bagian akhir," kata Melisa dengan nada suara yang teratur dan lembut.
Gadis itu tampil sangat menawan sore ini. Rambut panjangnya ditata bergelombang rapi di ujungnya, dan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya membuat beberapa siswa yang lewat tak tahan untuk tidak menoleh.
"Terima kasih, Melisa. Kerja kamu selalu cepat," puji Arka singkat, menerima map dokumen itu lalu membubuhkan parafnya dengan pulpen hitam.
"Nanti malam kalau kamu belum selesai merevisi jadwal pengisi acara, kita bisa diskusikan lewat telepon atau video call," tambah Melisa, memiringkan kepalanya sedikit dengan tatapan penuh perhatian. "Kamu kelihatan agak lelah beberapa hari ini, Arka. Bahu kamu juga kemarin katanya sempat terbentur, kan? Jangan terlalu memaksakan diri."
Arka sempat menegang tipis mendengar sebutan bahu terbentur—ingatan tentang bagaimana ia menahan rak demi Naya mendadak melintas—namun ia cepat menguasai diri. "Saya baik-baik saja. Terima kasih perhatiannya."
Dari sudut lorong dekat tangga, Naya berdiri bersedekap dada sambil memegang segelas jus jeruk dingin. Saskia berdiri di sampingnya, sibuk mengunyah cilok.
Naya menatap interaksi di depan ruang OSIS itu dengan tatapan datar—atau setidaknya, ia berusaha keras membuatnya terlihat datar. Namun, di dalam dadanya, ada rasa panas yang samar tapi tajam, menyeruak pelan tiap kali melihat Melisa melangkah satu jengkal lebih dekat ke arah Arka, atau saat Melisa tersenyum sangat manis hingga matanya menyipit indah.
Bahu kamu kemarin katanya sempat terbentur, kan? Kalimat Melisa tadi terngiang di telinga Naya. Cih! Sok tahu banget! Yang nahan rak itu kan buat gue, kenapa dia yang sibuk perhatian?! batin Naya mengutuk sengit.
"Gila ya, Melisa tuh emang cewek idaman banget," celetuk Saskia tanpa dosa sambil mengunyah ciloknya. "Udah cantik, pinter, sekretaris OSIS, perhatian lagi sama Arka. Anak-anak cewek di kelas kita pada iri tahu nggak, ngeliat betapa lengketnya Melisa sama Arka selama persiapan festival ini."
Naya menyedot jus jeruknya kasar hingga menimbulkan suara sedotan yang keras. "Biasa aja. Lengket apanya? Orang cuma ngerjain tugas OSIS."
"Ya beda lah, Nay! Cara Melisa ngeliat Arka tuh penuh kehangatan. Terus Arka yang biasanya dingin kayak kulkas dua pintu juga kelihatan lumayan luluh kalau sama Melisa. Nggak pernah bentak-bentak atau ngasih hukuman," terang Saskia berapi-api.
Saskia kemudian memutar tubuhnya, menatap wajah Naya dari dekat dengan pandangan penuh selidik. "Eh... bentar. Kok muka lo ditekuk gitu sih, Nay? Pipi lo juga merona merah gitu."
Naya tersentak kecil, refleks memegangi pipinya yang memang terasa agak hangat. "M—merona apaan?! Ini gara-gara jus jeruknya terlalu asam tahu!"
"Masa sih?" Saskia tersenyum jahil, menyenggol lengan Naya dengan sikunya. "Lo... jangan-jangan cemburu ya ngeliat Arka sama Melisa?"
"Hah?! Cemburu?!" jerit Naya tertahan, suaranya naik satu oktav hingga beberapa siswa di koridor sempat menoleh. Naya buru-buru memelankan suaranya, membelalakkan mata pada Saskia. "Lo kalau ngomong suka ngasal ya, Sas! Gue cemburu sama Arka?! Mending gue cemburu sama penjaga sekolah!"
"Lah, lagian reaksi lo berlebihan banget! Dari tadi mata lo nggak lepas dari mereka berdua, terus gelas jus lo diremas sampai hampir pecah gitu!" tunjuk Saskia pada gelas plastik di tangan Naya yang memang sudah penyok parah.
Naya buru-buru meluruskan bekas remasan di gelasnya, wajahnya makin merah padam karena malu. "G—gue cuma kesal aja! Si Ketua OSIS itu kan kemarin sok-sokan ceramah ke gue soal aturan dilarang pacaran atau dekat-dekat sama lawan jenis yang bisa bikin gosip! Tapi dia sendiri malah asyik berduaan sama Melisa di koridor! Dasar standar ganda!"
"Ooh... gitu..." sahut Saskia manggut-manggut dengan nada menggoda yang sama sekali tidak percaya pada alasan Naya. "Iya deh, percaya yang enggak cemburu~"
"Saskia!" amuk Naya pelan, menghentakkan kakinya kesal.
Sementara itu, di depan ruang OSIS, Arka sebenarnya menyadari keberadaan Naya sejak awal.
Meskipun matanya menatap dokumen di tangannya dan telinganya mendengarkan penjelasan Melisa, fokus Arka terbagi dua. Dari sudut matanya, ia melihat bagaimana Naya berdiri di dekat tangga, menyedot jus jeruknya dengan kasar, dan meremas gelas plastiknya hingga penyok saat melihat Melisa berdiri di sampingnya.
Arka menyembunyikan senyum tipis yang hampir saja lolos di bibirnya. Cewek itu... mukanya kalau lagi kesal kelihatan jelas sekali.
"Arka? Kamu dengerin aku, kan?" tanya Melisa, menyadarkan Arka dari lamunannya.
"Ah, iya. Soal spanduk utama di panggung, kan?" jawab Arka cepat, kembali memasang raut tenangnya.
"Iya. Jadi nanti malam aku kirim desain terbarunya ya," Melisa tersenyum lembut. "Oya, Arka... Sabtu ini kan kita nggak ada kegiatan sekolah. Kamu ada waktu nggak? Aku mau minta tolong dianterin cari bahan kain dekorasi ke pasar baru. Soalnya kalau sendiri aku bingung pilih bahan yang pas."
Arka menghentikan gerakan jemarinya di atas map. Ajakan Melisa terdengar sangat wajar untuk urusan kegiatan sekolah. Namun, di dalam otaknya, Arka langsung teringat jadwal rumah tangganya hari Sabtu bersama Naya—jadwal membersihkan rumah, belanja bulanan keluarga yang diminta Tante Elena, dan kesepakatan mereka untuk tidak berkeliaran sendirian dengan lawan jenis.
Arka melirik ke arah tangga lagi, namun Naya sudah tidak ada di sana. Cewek itu sudah berjalan menjauh bersama Saskia dengan hentakan kaki yang mengindikasikan bahwa emosinya sedang di puncak.
"Maaf, Melisa," kata Arka dengan nada suara yang sangat sopan namun tegas. "Hari Sabtu ini saya ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Untuk bahan kain dekorasi, kamu bisa minta tolong Dito atau anggota divisi perlengkapan yang lain untuk menemani."
Raut wajah Melisa sedikit berubah. Ada kilat kekecewaan yang muncul di matanya, walau dengan cepat ia menutupinya dengan senyuman anggun khasnya. "Ooh... gitu ya? Ya udah deh, nggak apa-apa. Nanti aku minta tolong Dito aja."
"Terima kasih atas pengertiannya," ujar Arka singkat, melangkah masuk ke dalam ruang OSIS.
Di dalam ruangan yang berpendingin udara itu, Arka menyandarkan tubuhnya di kursi kerja. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kolom percakapan rahasianya dengan Naya yang dipenuhi pesan-pesan singkat berisikan omelan cewek itu soal pekerjaan rumah.
Arka mengetik sebuah pesan pendek:
Nanti pulang sekolah, tunggu di tempat biasa. Jangan pulang duluan.
Ia menekan tombol kirim, lalu menatap layar ponselnya beberapa saat dengan helaan napas panjang. Arka tahu, cewek cerewet yang berstatus sebagai istrinya itu sedang ngambek parah. Dan entah sejak kapan, memastikan perasaan Naya tidak makin memburuk telah berubah menjadi prioritas utamanya melebihi urusan OSIS mana pun.