Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.
Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?
Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.
Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?
"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Akan Melepaskanmu!
Raifan kembali ke rumah malam hari, menghembuskan napas kasar sebelum berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas. Suasana rumah sudah sepi, dia pulang terlalu larut malam ini. Raifan masuk ke dalam kamar setelah sejenak ragu saat ingin membuka pintu, sudah mendengar laporan dari Pak Gun tentang apa yang dilakukan Seruni.
Raifan melihat kondisi kamar sudah kembali rapi, mungkin pelayan dan Pak Gun sudah membersihkan semuanya. Raifan menoleh ke arah tempat tidur, dimana Seruni terlelap disana sambil memeluk sebuah guling. Raifan melangkah mendekatinya, menatap wajah teduhnya yang sedang tidur.
"Entah apa yang membuatmu begitu berani mengajukan cerai padaku?"
Raifan menghembuskan napas pelan ketika dia mengingat bagaimana Seruni yang memintanya untuk menceraikan dia. Dia berjalan ke arah pintu ruang ganti, menyimpan tas kerjanya di atas meja sebelum berlalu masuk ke dalam ruang ganti.
Di atas tempat tidur, Seruni membuka kelopak matanya saat mendengar pintu yang terbuka dan tertutup kembali. Menyadari jika Raifan sudah masuk ke dalam ruang ganti. Seruni menghela napas pelan, dia mendengar jelas ucapan Raifan tadi.
"Bagaimana bisa dia mempertanyakan semua itu? Sementara selama ini, dia hanya memperlakukan aku seperti burung dalam sangkar. Tidak seperti pernikahan pada umumnya"
Seruni menghela napas pelan, dia berbalik dan menatap langit-langit kamar. Memikirkan apa yang akan terus terjadi selama pernikahan ini? Dua tahun lamanya sama sekali tidak ada perubahan apapun. Pernikahan yang tetap hampa, dingin, dan tidak ada cinta.
"Kau bangun?"
Suara bariton itu membuat Seruni tertegun sejenak, dia menoleh dan melihat Raifan yang sudah selesai mandi dan memakai piyama tidur.
"Ya, aku mendengar suara pintu" jawab Seruni yang langsung membalikan tubuhnya, membelakangi Raifan.
Terasa tempat tidur yang bergoyang, Raifan naik ke atas tempat tidur. Berbaring di samping Seruni, tidak, dia belum berbaring, masih duduk bersandar di sampingnya.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu"
Seruni diam, tidak perlu menjawab atau bertanya apa tentang hal yang ingin dibicarakan oleh Raifan. Hanya cukup diam saja, dan Raifan juga tahu jika istrinya masih bangun dan mendengarkannya.
"Kenapa kau mengajukan perceraian padaku? Bukankah dalam kontrak sudah tertulis jelas, hanya aku yang boleh melakukan itu. Kau hanya pihak kedua yang harus menurut apa kataku!"
Sial, Seruni melupakan tentang kertas yang dia tanda tangani sebelum pernikahan. Kontrak perjanjian pernikahan, yang seharusnya tidak ada dalam sebuah sejarah pernikahan. Tapi, karena pernikahan mereka adalah pernikahan yang di inginkan dua keluarga, maka Raifan melakukan ini. Bodohnya, saat itu Seruni langsung setuju saja tanpa meminta syarat lain yang setidaknya bisa menguntungkan baginya jika terjadi seperti ini.
"Jadi, hanya kamu yang bisa mengajukan perceraian padaku, Mas? Baiklah, aku tahu sekarang apa yang harus aku lakukan"
Diam... Raifan menatap punggung Seruni dengan tatapan penuh curiga. Dari kalimatnya seperti Seruni sengaja akan melakukan hal yang membuat Raifan akan menceraikannya. Raifan sedikit membungkukkan tubuhnya, menempatkan bibirnya di dekat telinga Seruni.
"Ingat Runi, kau tidak akan bisa lepas dari sangkar pernikahanku!"
Seruni terdiam, tubuhnya meremang mendengar suara rendah namun penuh penekanan itu. Apalagi dengan di akhirnya gigitan kecil di daun telinganya.
Grepp... Dalam sekali tarikan, Raifan mengubah posisi Seruni jadi terlentang dan dia langsung mengukung tubuh kecil istrinya itu. Raifan mencium bibir istrinya dengan rakus, tangannya memegang tangan Seruni di atas kepalanya. Sementara tangan yang lain mulai masuk ke dalam baju piyama yang di pakai istrinya ini.
"Mashh...mpptt"
Seruni ingin berontak, tapi sial tenaga Raifan terlalu kuat. Dia hanya kembali diam, pasrah menyerahkan diri pada suami yang tidak mencintainya ini. Ketika bibir Raifan mulai turun ke leher dan dadanya, Seruni juga tidak bisa menghindari suara-suara lembut dari bibirnya. Semuanya terjadi begitu saja, naluri tubuhnya tidak bisa di bohongi.
Raifan menatap istrinya dengan lekat, tatapan yang dingin dan tajam. Membuat Seruni tidak pernah bisa berkutik lagi. "Apapun yang terjadi, kau tetap menjadi istriku. Karena hanya kau yang di setujui orang tuaku!"
"Ah..." Seruni hampir menjerit jika bibirnya tidak di bungkam oleh tangan besar suaminya. Terlalu mendadak dan terburu-buru Raifan melakukannya, sampai membuatnya tersentak. Raifan mendekatkan wajahnya ke telinga Seruni, berbisik pelan. "Selama aku tidak berniat menceraikanmu, maka kau tidak akan pernah bisa lepas dariku"
Tes... Air mata Seruni mengalir dari sudut matanya. Jatuh mengenai bantal, dadanya terasa sesak saat mendengar Raifan terus mendesaknya untuk tetap bertahan dalam sangkar pernikahan ini. Sementara Seruni sudah hampir menyerah untuk bisa mendapatkan hati suaminya.
"Tapi, Mawar sudah kembali dan Mas Rai ingin bersama dengannya lagi? Aku hanya memberikan peluang untuk kalian bisa hidup bersama setelah hubungan kalian kandas karena perjodohan ini"
Brak... Tangan Raifan memegang dipan tempat tidur dengan kencang, terlalu kencang sampai seperti gebrakan. Membuat Seruni yang masih berada di bawah kendalinya, terkejut dengan itu. Wajah Raifan sekarang berada dekat sekali dengan wajahnya, keringatnya bercucuran dan jatuh ke atas pipi Seruni.
"Sekali lagi berani bicara tentang ini, kau tidak akan lolos dariku!"
Seruni menatap mata memerah Raifan dengan sedikit takut, namun dia mencoba untuk tetap berani menatapnya. Terkadang Seruni merasa bingung dengan sikap Raifan ini. Seruni tidak bisa menebaknya.
"Diam, dan nikmati saja. Tidak perlu membicarakan hal tidak berguna lagi!"
Akhirnya malam ini tetap dilewati tanpa bisa Seruni menolak setiap sentuhan yang suaminya berikan. Dia juga tidak berani membahas apapun lagi, apalagi tentang Kayla.
Sekarang aku tahu, dia mungkin tidak suka aku membicarakan perempuan yang dia cintai.
Seruni menoleh, menatap pria yang tertidur di sampingnya setelah mereka selesai melakukan kegiatan malam ini yang cukup melelahkan. Sisa keringat masih berada di tubuh keduanya. Seruni mengusap pelan dahi suaminya yang masih berkeringat.
Bodohnya aku karena jatuh cinta padamu. Bolehkah ini disebut penyesalan? Ketika Seruni menyesali telah mencintai pria yang sekarang menjadi suaminya. Namun, pernikahan yang terjadi tidak seperti harapannya.
Suara dering ponsel memecah keheningan dan membuyarkan lamunan Seruni. Dia menoleh saat sadar itu adalah ponsel milik Raifan yang berdering. Pria itu juga langsung bangun, meraih ponselnya di atas nakas.
"Hallo" Raifan terdiam, mendengarkan seseorang yang berbicara di seberang telepon. "Ya, aku kesana sekarang"
Dia langsung turun dari tempat tidur dan berlalu ke ruang ganti. Beberapa menit kemudian, sudah berganti pakaian dan memakai jaket. Seruni hanya menatapnya sambil duduk bersandar di tempat tidur, menarik selimut sampai ke dada untuk menutupi tubuhnya yang masih polos tanpa busana.
Raifan terlihat sangat buru-buru, ketika langkah kakinya sudah hampir sampai di pintu, dia berhenti sejenak. Tetap membelakangi Seruni yang berada di tempat tidur. "Tidak perlu menungguku, tidur saja. Aku mungkin akan kembali besok pagi" ucapnya yang langsung berlalu pergi keluar kamar.
Seruni hanya diam dengan tatapan kosong, entah harus bagaimana lagi dia menjalani pernikahan yang seperti ini.
Bersambung