#history Romantic
by : Saphal_tha
Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.
Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.
Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.
Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.
Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.
Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xavier
“Nasi sudah menjadi bubur.” Aku sudah terbiasa membereskan kekacauan yang dibuat adikku. Sial, mengingat beberapa pilihannya di masa lalu, aku harusnya bersyukur dia tidak bergabung dengan mafia.
Keadaannya memang buruk, tetapi selalu bisa saja lebih buruk.
Alex mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Aku tahu, tapi aku… sial. Aku tahu kamu tidak pernah ingin menikah. Ini masalah besar, Xavier, dan aku tahu kamu sedang berusaha mencari.........”
“Alex.” Namanya kupanggil sebagai peringatan. “Jangan sekarang.”
Edgard itu orang yang bisa menjaga rahasia, sedangkan Alex tidak. Aku tidak ingin ada orang yang tidak sengaja mendengar percakapan kami di pesta pertunanganku sendiri.
“Benar. Yah, aku cuma mau mengucapkan selamat....maksudku, minta maaf. Dan terima kasih.” Ekspresinya berubah menjadi canggung dan malu. “Aku tahu aku tidak sering mengatakan ini, tapi kamu adalah kakak yang baik. Kamu selalu begitu.”
Rasa sesak memenuhi dadaku sebelum aku membalas ucapannya dengan anggukan singkat. “Pergilah menikmati pestanya. Aku akan bertemu denganmu saat makan malam minggu depan.”
Aku ingin melihat bagaimana perkembangan di Carrie & Keith dan memastikan dia tetap menjauh dari Rosalia. Terlepas dari penyesalan yang ditunjukkannya, aku tidak cukup percaya padanya untuk membiarkan dia waktu yang lama tanpa pengawasan.
Setelah Alex pergi, aku berjalan menuju bar hanya untuk dihentikan oleh Jarvis, yang sibuk mengobrol dengan Vann sampai saat ini.
“Jumlah tamu yang datang sangat luar biasa,” katanya saat Vann memberiku tatapan yang sulit diartikan sebelum menyelinap pergi. “Sepertinya seluruh anggota Valhalla dari Pantai Timur hadir di sini.” Dia jeda sejenak, lalu melanjutkan, “Pengaruhmu di klub itu cukup besar, ya?”
Aku menatapnya dengan dingin, rasa sesak dari percakapanku dengan Alex tenggelam di bawah rasa jijik yang mendalam.
Buyutku adalah salah satu dari dua belas anggota pendiri klub tersebut. Jika aku merekomendasikan seseorang untuk diterima, mereka dijamin mendapat tempat, asalkan memenuhi kriteria kelayakan dasar.
“Tidak lebih atau kurang dari anggota lainnya,” kataku.
“Benar.” Senyum Jarvis hidup kembali seperti seekor hiu yang mencium bau darah di air. “Aku dengar akan ada posisi kosong di cabang Boston sebentar lagi. Ada masalah buruk soal kebangkrutan Peltzer.”
Ironis sekali dia terdengar begitu gembira tentang hal itu padahal dia sendiri akan berada di perahu yang sama dengan Peltzer sebentar lagi. Aku benar-benar tidak sabar menunggunya. Sampai saat itu tiba…
“Begitulah yang kudengar.” Aku memiringkan kepalaku. “Permohonanmu ditolak saat terakhir kali mendaftar, bukan? Mungkin kamu akan lebih beruntung kali ini.”
Wajah Jarvis menggelap sebelum rileks kembali ke dalam senyuman lainnya. “Aku yakin aku akan beruntung dengan dukunganmu. Kita ini sudah menjadi keluarga sekarang, dan keluarga saling membantu satu sama lain. Bukankah begitu?” Dia melemparkan tatapan penuh arti ke arah Alex.
Rasa murka mengatupkan rahangku erat-erat mendengar ancamannya yang jelas itu.
Anggota Legacy Valhalla diberi hak lima kali rekomendasi seumur hidup mereka. Aku sudah menggunakan dua—satu untuk Edgard, satu untuk Rafe. Aku lebih baik memotong kemaluanku sendiri daripada membuang rekomendasi ketiga untuk Jarvis.
“Aku tidak punya banyak wawasan tentang cabang Boston.” Itu hanya separuh kebohongan. Aku punya relasi di sana, tetapi setiap cabang bertindak cukup independen sesuai dengan budaya, politik, dan tradisi lokal. “Komite keanggotaan Valhalla sangat teliti dalam proses seleksi mereka. Jika seseorang memang layak untuk diterima, mereka pasti akan diterima.”
Warna merah menyapu pipi Jarvis mendengar sindiran halusku.
“Meskipun aku mendukung penuh untuk membantu keluarga…” Senyumku mengeras menjadi sebuah peringatan. “…Mereka harusnya tahu diri untuk tidak menekan terlalu keras. Hal itu tidak pernah berakhir baik bagi pihak-pihak yang terlibat.”
Jarvis punya cukup keberanian untuk memerasku, tetapi tidak punya cukup keberanian untuk berpura-pura bahwa dia memilikiku. Dia sedang menguji batas kesabaranku untuk melihat sejauh mana dia bisa membawa hal ini.
Sedikit yang dia tahu, dia sudah melampaui batas itu pada detik pertama dia melangkah ke kantorku dan menaruh foto-foto itu di mejakuh.
Sebelum dia sempat merespons, Annastasia kembali, pipinya terlihat jauh lebih merona dari sebelumnya. Aku bertanya-tanya berapa banyak gelas minum yang sudah dia habiskan bersama teman-temannya.
“Aku melewatkan apa?” tanyanya.
“Ayahmu dan aku baru saja membahas logistik pernikahan.” Mataku tidak lepas dari Jarvis. “Bukankah begitu?”
Rasa jengkel memenuhi mata Jarvis, tetapi dia tidak membantah ceritaku. “Benar.”
Mata Annastasia mengamati kami berdua bergantian. Dia pasti menangkap permusuhan yang tersirat itu karena dia dengan cepat mendorong ayahnya menuju kolumnis gaya hidup Mode Falle Vie sebelum menarikku ke samping.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kalian bicarakan, tapi kamu tidak seharusnya memprovokasi Dadyku,” katanya. “Itu seperti memprovokasi harimau yang terluka.”
Secercah rasa geli mendinginkan amarahku. “Aku tidak takut pada Dadymu, mia cara. Kalau dia tidak suka apa yang kukatakan, dia bisa menyelesaikannya langsung denganku.”
“Jangan panggil aku Mia cara, Itu menghina.”
Aku mengangkat sebelah alisku. “Kenapa begitu?”
“Kamu tidak bersungguh-sungguh mengucapkannya.”
“Orang-orang sering mengatakan hal-hal yang tidak mereka maksudkan sepanjang waktu.” Aku mengangguk ke arah seorang tamu berambut perak yang berdiri di dekat bar. “Sebagai contoh, percakapanmu yang sangat menarik dengan Bradley Dreyer tadi. Jangan bilang kamu benar-benar tertarik pada detail kecil tentang pemotongan pajak.”
“Bagaimana kamu bisa mendengar… lupakan. Itu tidak penting.” Annastasia menggelengkan kepalanya. “Dengar, aku tahu ini cuma urusan bisnis buatmu. Kamu juga tidak berada di urutan atas dalam daftar orang impian yang ingin kunikahi, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kita harus tinggal bersama. Kita setidaknya harus berusaha dan memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin.”
Apa-apaan ini?
Sensasi jengkel menjalar di sepanjang tulang belakangku. “Siapa, tepatnya, yang ada di daftar orang impian yang ingin kamu nikahi?”
“Serius?” Rasa jengkel juga ikut merembes ke dalam suaranya. “Cuma itu yang kamu tangkap dari apa yang baru saja kukatakan?”
“Seberapa panjang daftarnya?”
Tidak masalah bahwa aku dipaksa ke dalam pertunangan ini. Tunanganku tidak boleh memiliki daftar pria lain yang lebih ingin dia nikahi. Titik.
“Itu tidak penting.”
“Itu sangat penting, sialan.”
“Aku tidak.....” Kalimat Annastasia terpotong saat seorang tamu yang mabuk lewat dan tidak sengaja menyenggolnya.
Dia tersandung, dan tanganku secara refleks terulur sebelum dia menabrak meja champagne di dekatnya.
Kami berdua membeku, mata kami terkunci pada bagian tubuh kami yang bersentuhan.
Suara bising di sekeliling kami meredup menjadi deru yang samar, terkalahkan oleh debaran kencang detak jantungku dan desiran listrik mendadak di udara.
Bahkan saat memakai hak tinggi, tinggi Annastasia masih penuh enam inci lebih pendek dariku, dan aku bisa melihat kibasan bulu matanya ke bawah saat pandangannya tertuju pada jari-jariku yang melingkari pergelangan tangannya.
Pergelangan tangan itu begitu rapuh hingga aku bisa saja mematahkannya tanpa perlu berusaha.
Denyut nadinya mempercepat, menggoda diriku untuk memperpanjang peganganku sebelum aku kembali sadar dan melepaskan tangannya seolah-olah tangan itu adalah bara api yang panas.
Sihir itu pecah saat sentuhan terlepas, dan suara-suara dari sisa pesta mendobrak masuk melalui celah-celahnya hingga pecah menjadi tak berbekas.
Annastasia menarik diri dan mengusap pergelangan tangannya, pipinya memerah.
“Apa yang mencoba kukatakan sebelum kita keluar jalur adalah, kita harus berusaha untuk akur,” katanya dengan napas terengah-engah. “Saling mengenal satu sama lain. Mungkin pergi berkencan satu atau dua kali.”
Sebagian dari ketegangan sebelumnya mencair.
“Kamu sedang mengajakku berkencan, mia cara?” Sebuah senyuman menyentuh bibirku melihat tatapan tajamnya.
“Aku sudah bilang jangan memanggilku seperti itu.”
“Ya, mau bagaimana lagi, aku menyukai panggilan itu.” Aku akan memanggilnya mia cara setiap ada kesempatan.
Annastasia memejamkan matanya dan tampak seperti sedang berdoa memohon kesabaran sebelum membuka matanya lagi beberapa detik kemudian.
“Baiklah, mari kita kompromi. Kamu boleh memanggilku mia cara, sesekali saja, kalau kamu setuju untuk berdamai.”
“Aku tidak merasa kita sedang berperang,” kataku santai.
Aku mengusapkan ibu jari di bibir bawahku, memikirkan tawarannya. Awalnya, aku berencana mengabaikan Annastasia sampai aku mengakhiri pertunangan ini. Tak terlihat, tak terpikirkan.
Tetapi kilatan perlawanan kecilnya membuatku penasaran, begitu pula wawasan yang tanpa sengaja dia bagikan tentang keluarganya. Mungkin mengesampingkannya dan menjaganya tetap berjarak adalah strategi yang salah.
Jagalah temanmu tetap dekat, dan musuhmu lebih dekat lagi.
Aku membuat keputusan akhirku dalam hitungan detik. “Sepakat.” Aku mengulurkan tanganku.
Annastasia menatap uluran tangan itu dengan kilatan terkejut, lalu kewaspadaan, sebelum akhirnya menerimanya.
Napasnya terlepas dalam desahan kecil saat aku memegang tangannya lebih erat dan menariknya mendekat padaku.
“Harus menjaga penampilan di depan umum,” bisikku pelan.
Aku menganggukkan kepalaku ke arah kanan kami, di mana setidaknya ada selusin tamu yang sedang mencuri-curi pandang ke arah kami.
Kotak masuk emailku meledak setelah berita pertunanganku tersebar. Tidak ada yang percaya aku bertunangan sampai mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan aku bertaruh puluhan foto candit diriku dan Annastasia akan bertebaran di internet nanti malam, atau mungkin sudah dari sekarang.
Aku menyusurkan tanganku yang bebas ke punggungnya dan melingkarkannya di belakang lehernya sebelum menundukkan mulutku ke telinganya. “Selamat datang dalam gencatan senjata, mia cara.”
Hembusan napasku menyapu pipinya. Tubuhnya menegang, irama napasnya sendiri menjadi tidak teratur.
Aku tersenyum.
Ini akan menjadi hal yang menyenangkan.