Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangkitkan Petir Ungu Legendaris
Suasana di dalam bar sore itu mendadak sangat lengang. Tidak ada satu pun pelanggan yang berkunjung, menyisakan hawa bosan yang menggentayangi sudut-sudut ruangan. Robert tampak mengusap gelas kayu berulang kali tanpa semangat, sementara Ryu dan Ken bersandar malas di kursi penonton. Di sudut lain, Zass yang kini resmi bekerja sebagai salah satu pelayan bar sedang sibuk menata botol-botol minuman ke dalam kulkas pendingin.
Brak!
Suara gebrakan meja yang teramat keras mengejutkan semua orang. Zass yang sedang memegang botol hampir saja menjatuhkannya ke lantai. Semua mata seketika tertuju pada Okta yang berdiri dengan wajah berbinar penuh ide mendadak.
"Daripada kita semua bosan di sini, bagaimana kalau kita bantu Zass untuk mengeluarkan Petir Ungunya?" usul Okta penuh semangat.
Robert menaikkan alisnya sejenak, lalu mengangguk setuju. "Usul yang bagus. Kita tidak bisa membiarkan potensi besarnya tertidur terlalu lama."
Tanpa membuang waktu, seluruh anggota party langsung mengelilingi Zass di tengah ruangan bar yang kosong. Robert melangkah mendekat, menatap Zass dengan raut wajah serius.
"Zass, pegang liontin belah ketupat di lehermu itu rapat-rapat," titah Robert mantap. "Tutup matamu, lalu bayangkan percikan petir berwarna ungu menjalar di dalam aliran darahmu. Rasakan energinya, dan panggil dia keluar."
Zass menarik napas dalam-dalam, lalu menuruti perintah Robert. Jemari tangannya menggenggam erat liontin ungu peninggalan ayahnya. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh fokus dan ingatannya pada kenangan, kepedihan, serta tekad yang membara di dalam dadanya.
Perlahan demi perlahan, pendar ungu tipis mulai menyelimuti tubuh Zass. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat berat dan pekat. Tak lama kemudian, percikan arus listrik berwarna ungu pekat melesat keluar dari liontinnya, merambat ke seluruh lengan dan tubuh pemuda itu.
"Arghhh!"
Zass meraung kesakitan. Daya ledak energi Petir Ungu Legendaris itu terlampau dahsyat untuk ukuran tubuh yang baru pertama kali membangkitkannya. Rasa panas yang membakar dan tekanan energi yang masif membuat pembuluh darahnya terasa hendak pecah.
Blarrr! Gelegarrr!
Suara gemuruh petir ungu menggelegar hebat di dalam bar! Percikan arus listriknya yang liar menyambar meja, kursi, dan dinding batu hingga retak-retak. Atap gubuk batu itu bergetar hebat, hampir saja runtuh diterjang gelombang energi yang tak terkendali.
"Zass! Hentikan cengkeraman tanganmu dari liontin itu sekarang!" teriak Robert panik melihat tempatnya mulai hancur.
Dengan sisa tenaga yang ada, Zass segera melepaskan genggamannya pada liontin ungu tersebut. Arus listrik pekat yang membungkus tubuhnya seketika padam total. Zass ambruk, terduduk lemah di atas lantai marmer seraya terengah-engah, peluh membasahi seluruh tubuhnya.
Kayla yang memandangi beberapa dinding bar yang retak dan berlubang akibat cipratan petir tadi melipat tangannya di dada.
"Mending kita bantu Zass mengeluarkan petir itu di luar saja kali, ya?" ucap Kayla asal ucap dengan wajah tanpa dosa. "Kalau bar ini sampai hancur, kita harus patungan buat membetulkannya. Sedangkan uang kas kita kan tidak mencukupi."
Zass yang masih berusaha menata napasnya mendongak, menatap Kayla dan kru lainnya dengan raut wajah kebingungan. Setahu Zass dari cerita-cerita yang beredar, sebuah party petualang ber-Tier SSS seharusnya mengantongi penghasilan yang sangat melimpah dari misi-misi berbahaya. Terlebih lagi, mereka memiliki bar usaha sendiri yang cukup luas.
"Tunggu dulu..." bisik Zass terheran-heran. "Bagaimana bisa party Tier SSS seperti kalian kekurangan uang? Bukankah gaji petualang tingkat tinggi sangat besar?"
Ryu menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Zass seraya menepuk bahu pemuda itu dengan kekehan canggung.
"Ah, soal itu... begini, Zass," pangkas Ryu mencoba menjelaskan situasi sebenarnya. "Kerajaan Molten yang kita tinggali saat ini sebenarnya tergolong sebagai kerajaan yang miskin. Sumber daya emasnya sedikit dan pajaknya sangat rendah demi tidak menyusahkan rakyat. Jadi... ya, gaji resmi petualang dari istana di sini memang tidak seberapa."
Ken menyambung sambil terkekeh pelan. "Betul. Status kita memang Tier SSS di papan peringkat petualang, tapi isi kantong kita sebetulnya tidak beda jauh dengan petualang Tier C di kerajaan kaya seperti Imperial."
Mendengar penjelasan polos dari para seniornya, Zass hanya bisa memegang dahinya yang mendadak pusing. Pemuda 17 tahun itu baru menyadari bahwa selain harus berlatih keras menguasai Petir Ungu, ia juga harus berjuang hidup dalam tim petualang paling kuat namun sekaligus paling hemat di daratan ini.