Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Risiko Sebuah Aliansi
Cahaya lilin di ruang kerja Pangeran Kael Ashford menari-nari gelisah, melemparkan bayangan panjang yang meliuk di dinding batu dingin, menyerupai jemari kurus yang berusaha menggapai sesuatu dari kegelapan. Aria Evander duduk tegak di kursi kayu berukir, punggungnya lurus tanpa cela, sementara matanya yang tenang menatap sang Pangeran yang tengah tenggelam dalam tumpukan dokumen administrasi kekaisaran. Suasana ruangan itu terasa sesak, dipenuhi oleh aroma kertas tua, lilin lebah, dan ketegangan yang tertahan di balik udara.
“Kau terlalu berani, Lady Evander,” ucap Kael tanpa mengangkat pandangannya sedikit pun. Suaranya rendah, sebuah bariton yang bergetar pelan di ruangan sunyi itu, memberikan efek menekan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Aria menyesap teh melati yang sudah mulai mendingin. Sensasi hangat menyentuh lidahnya, namun pikirannya jauh lebih dingin. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya dengan presisi yang hati-hati, membiarkan bunyi denting porselen yang nyaring memecah keheningan.
“Keberanian adalah kemewahan yang tidak bisa saya beli dengan koin emas, Yang Mulia,” jawab Aria tenang. Ia menatap lurus ke arah Kael, sorot matanya tidak goyah meski tekanan aura naga di ruangan itu meningkat. “Saya hanya berusaha memastikan keluarga saya tidak berakhir sebagai catatan kaki yang terlupakan dalam sejarah panjang kekaisaran ini.”
Kael menghentikan gerakan tangannya. Ia meletakkan pena bulu yang dipegangnya, lalu mendongak. Netra sebiru es miliknya mengunci tatapan Aria, tajam dan menuntut kejujuran yang lebih dalam dari sekadar kata-kata diplomatik. “Evelyn tidak akan berhenti. Dia telah memutar balik narasi taman kaca itu menjadi fitnah yang menyudutkan reputasimu di kalangan bangsawan ibu kota. Mereka mulai berbisik, Aria. Mereka menganggapmu sebagai ancaman yang harus segera disingkirkan.”
“Biarkan dia dengan narasinya,” sahut Aria santai, seolah bahaya yang mengancam reputasinya hanyalah angin lalu. Ia menyandarkan punggungnya, tampak begitu percaya diri di tengah badai politik yang sedang berkecamuk. “Naskah miliknya terlalu kaku, terlalu terikat pada aturan lama. Dia lupa bahwa setiap cerita yang ditulis dengan tinta kebencian selalu memiliki celah. Celah yang cukup untuk dihapus, atau bahkan ditulis ulang.”
Lumi, roh kecil berbentuk peri yang sedari tadi bersembunyi di balik lipatan gaun Aria, muncul sejenak. Cahaya keemasan redup berpendar dari tubuhnya, menghangatkan jemari Aria. Sensasi itu familiar; 'Pena Takdir' di dalam jiwanya berdenyut, seirama dengan detak jantungnya sendiri, menunggu perintah untuk memanipulasi realitas.
Kael menyipitkan mata, mengamati udara kosong di dekat Aria dengan kewaspadaan seorang predator. Ia tidak bisa melihat Lumi, namun ia bisa merasakan riak energi magis yang tidak wajar di sana. “Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Aria? Kau bukan lagi putri Baron yang kukenal beberapa bulan lalu. Gadis itu penakut, namun kau... kau memiliki tatapan seseorang yang telah melihat akhir dunia.”
Aria tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. “Manusia berubah ketika mereka dipaksa menatap jurang kematian, Yang Mulia. Saya hanya sedang mencoba membangun jembatan agar saya dan keluarga saya tidak jatuh ke dalamnya. Apakah membangun pertahanan dianggap sebagai sebuah dosa?”
Sebelum Kael sempat membalas, pintu ruang kerja terbuka pelan. Duke Lucien Veritas melangkah masuk dengan keanggunan yang disengaja. Gerakannya halus, hampir seperti bayangan yang memiliki bentuk. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun aura yang ia bawa membuat udara di ruangan itu mendadak terasa lebih berat dan menekan.
“Membicarakan tentang jurang? Topik yang sangat menarik untuk malam yang sedingin ini,” ujar Lucien. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping Aria, memberikan jarak yang cukup intim namun tetap dalam batasan etika bangsawan. “Apakah aku melewatkan sesuatu yang penting?”
Kael mendengus, tangannya mengepal di atas meja. “Duke Veritas, kehadiranmu tidak diundang dalam diskusi privat ini.”
Lucien terkekeh pelan. “Ah, tapi bukankah takdir selalu memiliki cara untuk mengundang mereka yang berkepentingan? Aku hanya merasa bahwa pembicaraan ini membutuhkan perspektif yang lebih luas.” Ia menoleh ke arah Aria, netranya yang gelap seolah mampu membaca setiap riak kegelisahan yang coba ditutupi gadis itu.
Aria merasakan punggungnya menegang. Ia tahu Duke ini bukanlah lawan bicara yang bisa dipandang sebelah mata. Lucien tahu dunia ini hanyalah sebuah naskah, dan kemungkinan besar, ia adalah satu-satunya orang di kekaisaran ini yang bisa memahami beban berat yang dipikul Aria di pundaknya. Ketakutan akan rahasianya terbongkar sempat melintas, namun ia segera menepisnya dengan logika yang dingin.
“Saya tidak butuh pihak ketiga untuk memutuskan langkah saya selanjutnya,” potong Aria tegas. Ia berdiri, memutus kontak mata yang terlalu lama dengan Lucien. Langkah kakinya mantap menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah pelataran istana.
Di sana, di bawah cahaya bulan yang pucat, ia bisa melihat patroli Kesatria Naga yang dipimpin oleh Leon Ardent. Sosok pria itu tampak sedang memberikan instruksi dengan tawa ringan, sebuah kontras yang tajam dengan intrik dingin dan penuh racun yang terjadi di dalam ruangan ini. Leon adalah simbol kejujuran di tengah dunia yang penuh topeng.
“Leon adalah jangkar yang baik,” gumam Aria pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada untuk dua pria yang masih terpaku menatapnya. Keberadaan Leon memberinya sedikit ruang untuk bernapas di tengah tekanan politik yang mencekik.
“Kau mempercayai kesatria itu?” tanya Lucien, suaranya kini terdengar lebih serius, kehilangan nada bercanda yang biasa ia gunakan. “Di dunia ini, kepercayaan adalah mata uang yang paling mudah didevaluasi.”
“Saya mempercayai ketulusan di saat semua orang di sini hanya menawarkan topeng,” jawab Aria tanpa menoleh. Ia menatap hamparan taman istana yang luas, merenungkan betapa rapuhnya kedamaian yang mereka miliki. “Dan jika Anda berdua ingin bersekutu dengan saya, ketahuilah satu hal. Saya tidak akan menjadi pion dalam permainan siapa pun. Baik itu Kaisar Magnus, Evelyn, atau bahkan kalian.”
Kael bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Aria hingga ia berdiri tepat di belakang gadis itu. Aura naga yang kuat menyelimuti mereka berdua, memberikan rasa aman sekaligus tekanan yang mendalam. “Jika kau bukan pion, maka kau harus menjadi pemain. Dan pemain membutuhkan perlindungan. Kau tidak bisa menghadapi Kaisar sendirian.”
“Saya tidak butuh perlindungan untuk bertahan hidup,” Aria berbalik dengan cepat. Ia menatap Kael dan Lucien bergantian, tatapannya menyiratkan kedewasaan yang melampaui usianya. “Saya butuh kebebasan untuk menulis akhir cerita saya sendiri. Jika kalian ingin membantu, bantu saya memastikan bahwa naskah ini tidak berakhir dengan tragedi bagi orang-orang yang saya sayangi.”
Tiba-tiba, sebuah ledakan mana yang dahsyat bergetar dari kejauhan, mengguncang fondasi istana. Langit di luar jendela mendadak berubah warna, semburat ungu gelap muncul di antara awan malam, pertanda bahwa sesuatu yang jahat—sesuatu yang kuno—mulai bergerak di perbatasan kekaisaran. Keheningan yang mencekam segera menggantikan sisa-sisa perdebatan mereka.
Aria menggenggam jemarinya erat hingga buku-bukunya memutih. Ia tahu bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak besar dalam alur takdir. Apakah ini ulah Kaisar Magnus yang mulai tidak sabar? Ataukah naskah dunia itu sendiri sedang mencoba melawan balik atas intervensinya yang terlalu jauh?
“Sepertinya waktu kita untuk berdebat sudah habis,” ujar Aria, suaranya tenang meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. “Kekacauan yang sesungguhnya baru saja dimulai.”
Kael dengan sigap mencabut pedang dari pinggangnya, bilah logamnya berkilat tertimpa cahaya lilin. Lucien memejamkan mata, memanggil kekuatan sihirnya yang tersembunyi, membiarkan energi gelap merambat di sekeliling tubuhnya. Aria pun memejamkan mata, memanggil Lumi dalam batinnya. Ini adalah saat di mana ia harus membuat pilihan fatal: apakah ia akan membiarkan alur ini terus berjalan menuju kehancuran, atau ia akan menuliskan akhir yang berdarah bagi siapa pun yang berani mengancam dunianya yang baru.