NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 02 - Keputusan di Kamar VIP

"Bu Ratna, wajahmu pucat sekali."

Suara Bu Laras membuat Ratna tersadar. Ia sudah berdiri di depan ranjang pasien itu hampir satu menit tanpa bergerak.

Perempuan tua itu duduk bersandar di ranjang VIP, rambut putihnya disanggul rapi, kacamata bertengger di ujung hidung. Meski sedang dirawat karena jatuh di kamar mandi, matanya tetap tajam. Tidak banyak hal yang bisa disembunyikan dari Bu Laras.

Ratna memaksakan senyum.

"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin capek."

"Capek bisa membuat orang berkeringat. Tapi matamu itu mata orang habis ditusuk."

Ratna menunduk.

Kalimat sederhana itu menghantam pertahanan terakhirnya.

Ia ingin berkata tidak ada apa-apa. Ingin bekerja seperti biasa. Mengambil baskom, mengelap tangan Bu Laras, merapikan selimut, menyiapkan air hangat. Rutinitas selalu membuatnya bertahan.

Tapi kali ini tubuhnya tidak patuh.

Tangannya gemetar.

Bu Laras menepuk sisi ranjang.

"Duduk."

"Bu, saya kerja dulu. Nanti perawat masuk..."

"Ratna."

Nada itu tidak keras, tapi membuat Ratna berhenti.

Ia duduk di kursi kecil dekat ranjang. Begitu tubuhnya menyentuh kursi, air matanya jatuh. Bukan satu dua. Deras. Diam-diam. Seperti sesuatu yang sudah lama penuh akhirnya tumpah.

Bu Laras tidak langsung bertanya.

Ia mengambil tisu dari meja kecil, lalu menyodorkannya.

"Suamimu?"

Ratna mengangkat wajah. Bibirnya bergetar.

"Iya, Bu."

"Selingkuh?"

Ratna menggenggam tisu sampai kusut.

"Lebih dari itu."

Ia membuka ponsel. Tangannya sempat ragu. Ada rasa malu yang mendadak menyergap. Malu karena rumah tangganya hancur. Malu karena selama ini ia tidak tahu. Malu karena perempuan lain memakai barang mahal dari uang yang mungkin seharusnya dipakai untuk keluarganya.

Namun Bu Laras menatapnya tenang.

"Jangan malu karena dosa orang lain, Nak."

Ratna menelan tangis.

Ia memutar video itu.

Di layar kecil, Hendra memeluk Clara. Anak laki-laki itu memanggil mereka Papa dan Mama.

Wajah Bu Laras perlahan berubah dingin.

"Astaghfirullah."

Ratna mematikan video sebelum selesai. Ia tidak sanggup mendengar suara Clara lagi.

"Saya menikah dengan Hendra dua puluh delapan tahun, Bu. Kami bersama sejak remaja. Saya bantu dia dari nol. Saya pikir kami sedang sama-sama susah. Saya kerja di hotel, jaga pasien, supaya uang rumah cukup. Ternyata..."

Suaranya patah.

"Ternyata dia punya keluarga lain."

Bu Laras diam beberapa detik.

"Kamu mau apa?"

Ratna mengusap pipinya.

"Saya mau cerai."

Ucapan itu keluar lebih tenang dari yang ia kira.

Bu Laras menatapnya lama. "Kamu yakin?"

"Kalau cuma perempuan lain, mungkin orang akan menyuruh saya sabar. Kalau cuma dia bosan dengan saya, mungkin mereka akan bilang saya sudah tua dan harus terima. Tapi dia punya anak, Bu. Anak yang usianya mungkin sepuluh tahun. Berarti ini bukan baru kemarin."

Ratna tertawa kecil. Pahit.

"Selama ini saya menabung receh untuk bayar les cucu, sementara dia membesarkan anak lain."

Bu Laras menghela napas.

"Jangan bergerak sendiri."

"Maksud Ibu?"

"Laki-laki yang berani hidup dua wajah selama bertahun-tahun biasanya sudah menyiapkan banyak kebohongan. Kalau kamu pulang sekarang, marah-marah, dia akan balik menuduhmu. Dia bisa bilang kamu salah paham. Dia bisa bilang video itu tidak membuktikan apa-apa. Keluarganya akan menekanmu."

Ratna menggigit bibir.

Semua itu terdengar terlalu mungkin.

Mama Sulastri pasti akan berkata, "Laki-laki bisa khilaf. Istri baik jangan mempermalukan suami."

Raka mungkin akan berkata, "Ma, jangan drama. Papa capek kerja."

Maya mungkin hanya bertanya siapa yang menjemput Bima kalau Ratna pergi.

Ratna menunduk.

"Saya tidak punya siapa-siapa, Bu."

Bu Laras menepuk punggung tangannya.

"Mulai hari ini, kamu punya aku."

Ratna terkejut.

"Bu, jangan. Saya tidak mau merepotkan."

"Aku sudah tua, bukan bodoh. Anakku punya tim legal. Perusahaan kami punya auditor. Kalau suamimu memindahkan harta, itu bisa dicari."

Ratna menggeleng cepat.

"Saya hanya penjaga pasien, Bu. Saya tidak enak..."

"Ratna, kamu merawatku lebih baik daripada keluarga sendiri. Kamu tidak pernah mengambil kesempatan walau tahu aku banyak uang. Kamu sabar ketika aku rewel. Kamu bahkan mengingat obatku lebih baik dari perawat tetap. Kalau aku tidak membantumu saat kamu jatuh, untuk apa aku punya anak kaya?"

Ratna tidak tahu harus menjawab apa.

Bu Laras mengambil ponselnya dari meja, lalu menelepon seseorang.

"Hanif, ke rumah sakit sekarang. Bawa orang legal dan satu orang audit. Tidak usah banyak tanya."

Suara di seberang tampak menjawab cepat.

Bu Laras melirik Ratna.

"Dan jangan berisik ke Arga dulu. Dia masih di Surabaya untuk rapat. Kalau dia tahu aku ikut urusan begini, dia pasti cerewet."

Ratna mendengar nama Arga. Ia tahu sedikit. Putra Bu Laras itu pemilik Wijaya Group, perusahaan besar yang punya gedung kantor di SCBD, hotel, properti, dan jaringan distribusi. Selama ini Bu Laras sering mengeluh karena anaknya terlalu sibuk dan belum menikah.

"Bu, sungguh tidak perlu sampai begitu."

"Perlu."

Bu Laras menutup telepon.

"Sekarang dengarkan aku baik-baik. Jangan pulang dengan wajah menangis. Jangan bicara soal video. Jangan menuduh dulu. Simpan semua bukti. Mulai malam ini, foto dokumen rumah, sertifikat, rekening, apa pun yang bisa kamu dapat. Kalau ada grup keluarga yang memerintahmu macam-macam, biarkan saja. Jawab seperlunya."

Ponsel Ratna berbunyi seolah dipanggil oleh ucapan itu.

Grup WhatsApp keluarga.

Raka: "Ma, nanti masak ayam kecap, ya. Aku capek banget."

Maya: "Ma, aku masih di salon. Tolong jemput Bima dari les sekalian ambil paket aku. Banyak banget, Ma."

Mama Sulastri: "Obat Mama habis. Jangan lupa beli. Kalau Mama kenapa-kenapa, kamu tanggung sendiri."

Hendra: "Kamu di mana? Dari tadi tidak angkat telepon."

Ratna menatap pesan-pesan itu.

Biasanya ia akan langsung panik. Membalas satu per satu. Menghitung uang di dompet. Berlari dari rumah sakit ke tempat les, lalu ke apotek, lalu pulang memasak.

Hari ini ia hanya membaca.

Bu Laras melihat layar itu dan tertawa pendek tanpa senyum.

"Hebat sekali mereka. Satu perempuan dijadikan tiang rumah, lalu semua orang pura-pura tidak tahu tiang itu bisa patah."

Ratna menarik napas.

Ia mengetik di grup.

"Malam ini saya ada urusan. Urus sendiri dulu."

Pesan terkirim.

Beberapa detik kemudian, grup itu meledak.

Raka menelepon.

Ratna menatap layar. Jarinya hampir menekan tombol terima.

Bu Laras memegang pergelangan tangannya.

"Tidak semua panggilan harus dijawab."

Ratna membiarkan telepon itu berhenti sendiri.

Lalu Hendra menelepon.

Nama suaminya muncul di layar. Mas Hendra.

Ratna memandangi nama itu lama.

Betapa anehnya. Nama yang selama puluhan tahun membuatnya merasa pulang, kini membuatnya ingin muntah.

Ia menolak panggilan itu.

Bu Laras tersenyum tipis.

"Bagus."

Ratna mengusap sisa air mata.

"Saya takut, Bu."

"Takut itu wajar."

"Saya sudah lima puluh. Tidak punya pekerjaan tetap. Tidak punya rumah atas nama sendiri. Kalau saya keluar, orang akan bilang saya bodoh. Mereka akan tanya untuk apa cerai di usia begini."

Bu Laras menatapnya tajam.

"Kalau kamu tetap tinggal, mereka akan terus hidup dari tubuhmu, waktumu, dan rasa bersalahmu. Umur lima puluh bukan alasan untuk dikubur hidup-hidup."

Ratna terdiam.

Di luar jendela, Jakarta mulai gelap. Lampu gedung menyala satu per satu. Kota tetap bergerak, tidak peduli ada seorang perempuan baru saja kehilangan rumah tangganya.

Namun di dalam kamar VIP itu, sesuatu dalam diri Ratna justru mulai berdiri.

Ponselnya berbunyi lagi.

Kali ini pesan dari Hendra.

"Jangan mulai cari masalah. Pulang sekarang."

Ratna membaca pesan itu.

Lalu ia mengetik pelan.

"Aku pulang nanti. Ada yang harus aku pikirkan."

Ia tidak menulis apa yang sebenarnya ingin ia katakan.

Bahwa ia sudah melihat semuanya.

Bahwa ia sudah merekam semuanya.

Bahwa mulai malam ini, Ratna bukan lagi istri yang bisa disuruh diam.

Ia menaruh ponsel di meja.

"Bu," ucapnya lirih.

"Ya?"

"Saya benar-benar mau cerai."

Bu Laras mengangguk.

"Kalau begitu, kita mulai dari bukti."

Ratna memandangi tangan Bu Laras yang keriput tapi hangat. Aneh sekali, pikirnya. Orang yang baru ia kenal beberapa bulan bisa bertanya apa yang ia inginkan, sementara keluarganya sendiri hanya bertanya apa yang harus ia kerjakan.

"Bu, kalau nanti saya goyah?"

Bu Laras menatapnya tanpa menghakimi.

"Telepon aku. Atau tulis di kertas besar: dia punya anak dengan perempuan lain. Tempel di pintu kalau perlu."

Ratna tertawa pelan di sela air mata.

"Ibu keras sekali."

"Untuk perempuan yang terlalu lama lembut, kadang memang perlu ada orang keras di sebelahnya."

Ratna mengangguk. Malam itu, ia belum merasa berani. Tapi setidaknya ia tahu keberanian bisa dipinjam sedikit, sampai ia punya miliknya sendiri.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!