NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:31.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita berhati besar

Udara pagi di halaman sebuah yayasan panti sosial di pinggiran kota itu terasa begitu sejuk, berbanding terbalik dengan beban berat yang biasa menggelayuti dada Dila.

Bangunan berlantai dua dengan cat putih yang mulai memudar itu tampak sederhana, namun dipenuhi oleh riuh rendah aktivitas penghuninya.

Hari ini, memenuhi saran dari Senja, Alfa benar-benar membawa Dila berkunjung ke tempat tersebut.

Tempat yang menampung ratusan penderita penyakit kronis dan mematikan, mulai dari penderita gagal ginjal akut maupun kronis yang harus menjalani cuci darah rutin, hingga penderita kanker stadium lanjut dari berbagai kalangan ekonomi.

Awalnya, Dila menunjukkan raut wajah enggan dan bingung sewaktu Alfa memarkirkan mobilnya di halaman panti. Namun, begitu kakinya melangkah melewati pintu depan, atmosfer tempat itu langsung menyedot seluruh perhatiannya.

Tidak ada aura kelam atau keputusasaan yang melingkupi tempat tersebut. Sebaliknya, yang dilihat Dila adalah ruang tengah yang terang dengan tawa anak-anak berkepala botak karena proses kemoterapi yang sedang bermain melukis bersama.

Di sudut lain, beberapa pasien dewasa yang menyanggul selang dialisis tampak mengobrol hangat, saling melempar lelucon up

tentang rasa mual yang mereka hadapi saban hari.

Dila membaur di antara mereka. Selama hampir dua jam, wanita itu duduk melingkar bersama para pasien wanita. Ia mendengarkan cerita seorang ibu muda penderita gagal ginjal kronis yang tetap tersenyum cerah meski harus mendonorkan sisa tenaganya untuk mengajari anak-anak panti membaca.

Dila juga disapa oleh seorang remaja penderita kanker tulang yang dengan bangga menunjukkan karya rajutannya, sama sekali tak memperlihatkan penderitaan dari rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.

Mata Dila berkaca-kaca. Rasa terharu dan malu berkecamuk hebat di dalam dadanya. Selama ini, ia merasa menjadi manusia paling menderita di dunia. Ia merasa hidupnya paling malang karena harus menelan puluhan obat dan menunggu donor ginjal di dalam kamar apartemen mewahnya yang dingin.

Namun di tempat ini, di antara orang-orang yang keterbatasan finansialnya jauh di bawahnya, Dila menyaksikan sebuah semangat bertahan hidup yang begitu membara, sebuah tekad keras bagai baja yang sama sekali tak mampu diruntuhkan oleh penyakit mematikan.

Perjalanan mereka berlanjut menyusuri koridor utama panti. Alfa melangkah pelan di samping Dila, membiarkan wanita itu meresapi setiap momen dengan tenang.

Hingga akhirnya, langkah Dila terhenti tepat di depan sebuah ruang aula kecil yang difungsikan sebagai galeri kegiatan dan donatur yayasan.

Dila terpaku. Matanya terkunci rapat pada sebuah foto berukuran cukup besar yang dibingkai rapi di dinding tengah ruangan.

Di dalam foto tersebut, tampak sosok Senja Kala Anjasmara. Wanita itu mengenakan pakaian kasual yang bersahaja, berdiri anggun di tengah-tengah belasan anak penderita kanker dan panti asuhan.

Di dalam foto itu, Senja tidak memancarkan aura dingin atau keagungan kaku sebagai putri tunggal Anjasmara Group. Senja tersenyum begitu tulus, memeluk hangat dua anak kecil di sampingnya dengan binar mata penuh kasih sayang.

Di bawah foto itu, terukir sebuah plat kuningan kecil bertuliskan,

Donatur Utama & Pelindung Yayasan Kasih Harapan.

Dila berdiri mematung. Matanya menatap lekat-lekat paras cantik Senja di dalam foto tersebut. Untuk pertama kalinya, Dila melihat wajah istri sah dari pria yang dicintainya. Wajah yang tidak hanya cantik secara fisik, tetapi memancarkan ketegasan, kecerdasan, dan kehangatan yang amat dalam.

Melalui foto itu, Dila dibuat mengagumi sosok Senja tanpa mampu membendungnya. Dia memang pantas dikagumi banyak orang, dia adalah wanita yang begitu hebat, batin Dila dengan kepedihan yang amat halus namun jujur.

Dila membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Alfa yang berdiri tidak jauh di belakangnya seraya memperhatikan foto yang sama.

"Mas..." Panggil Dila pelan, suaranya memecah keheningan galeri.

Alfa mengalihkan pandangannya pada Dila yang berdiri beberapa langkah darinya.

"Iya?"

"Kenapa kamu mendadak mengajakku ke tempat ini?" Tanya Dila, matanya menatap Alfa dengan binar serba tahu. Ada senyum tipis yang penuh makna tersungging di bibirnya yang pucat.

"Ini bukan ide kamu, kan? Kamu bukan tipe pria yang berpikir untuk membawa seseorang ke tempat seperti ini di saat kondisi mentalnya drop."

Dila jeda sejenak, lalu menebak dengan yakin,

"Ini saran dari Senja, kan?"

Alfa tertegun sejenak. Pria itu tidak mencoba menghindar atau berbohong. Alfa mengangguk pelan, mengakui kebenarannya.

"Iya" Jawab Alfa jujur, suaranya terdengar lembut namun mantap.

"Senja yang menyarankannya padaku tadi malam."

Alfa melangkah mendekat, berdiri di sisi Dila seraya menatap foto istrinya di dinding.

"Tadi malam aku pulang dengan kondisi sangat lelah dan frustrasi setelah melihatmu menolak minum obat" Lanjut Alfa menjelaskan.

"Senja melihatku, lalu dia menyeduhkan teh dan mendengarkan keluh kesahku. Dia paham betul dengan kondisimu, Dila. Dia bilang, yang sakit darimu bukan cuma fisik, tapi juga psikismu yang lelah karena rangkaian pengobatan yang tak berujung."

Dila mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Alfa dengan napas tertahan.

"Senja menyarankan agar aku membawamu ke sini" Sambung Alfa.

"Dia ingin kamu melihat bahwa kamu tidak berjuang sendirian. Senja berharap, dengan melihat semangat orang-orang di tempat ini yang terus berjuang demi kesembuhan mereka meski dalam kondisi yang jauh lebih berat, semangatmu untuk bertahan hidup dan berjuang bisa tumbuh kembali dari dalam dirimu sendiri."

Keheningan kembali melingkupi mereka berdua. Dila menundukkan kepalanya dalam-dalam, meresapi setiap rentetan penjelasan Alfa. Dila mengulum senyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan rasa haru sekaligus kekalahan yang teramat elegan.

"Senja... dia wanita berhati besar" Puji Dila tulus, suaranya bergetar halus.

"Aku tidak menyangka dia akan memikirkan kondisi mental wanita lain... wanita yang ada di masa lalu suaminya."

Secara perlahan, Dila melirik sosok Alfa yang berdiri di sampingnya. Ia memperhatikan bagaimana tatanan wajah Alfa berubah menjadi lebih tenang dan teduh setiap kali pria itu menyebut nama Senja.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah kesadaran pahit menghantam Dila dengan begitu nyata.

"Aku tidak tahu sudah sedekat apa hubungan kamu dan Senja sekarang Mas, sampai-sampai kamu bahkan menceritakan tentang kondisiku padanya" Batin Dila dengan rasa sesak yang merayap di dadanya.

Dila memejamkan matanya sejenak, menahan gemuruh emosi yang menguras jiwanya.

"Meski hatiku sakit menyadari hal ini, tapi aku tidak berhak untuk marah. Bagaimanapun juga, dia adalah istrimu yang sah. Sebenarnya... dia yang jauh lebih berhak atas kamu daripada aku."

Dila menghela napas panjang, lalu kembali membuka matanya dan menatap Alfa dengan raut wajah yang kini jauh lebih mantap dari sebelumnya. Ketakutan dan keputusasaan yang menggelayutinya sejak kemarin perlahan-lahan menguap, berganti dengan rasa malu pada perjuangan Senja dan orang-orang di panti ini.

"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Al" Ujar Dila, kali ini dengan binar mata yang memancarkan daya hidup yang baru.

"Dan... sampaikan terima kasihku pada Senja. Mulai hari ini, aku janji tidak akan membolos minum obat lagi. Aku akan berjuang sampai akhir."

Alfa menatap Dila dengan rasa lega yang membuncah di dadanya. Senyum tipis mengembang di wajah tampannya saat melihat percikan semangat yang kembali menyala di mata wanita itu.

Di dalam hatinya, rasa kagum dan syukurnya pada sosok Senja kian mengakar begitu dalam. Senja tak hanya merawat kedamaian di antara mereka, tetapi juga berhasil menyembuhkan jiwa yang hampir patah tanpa perlu hadir secara langsung.

1
Ass Yfa
Senja kelewat baik..tapi dia juga punya hati sok kadang baper.namanya juga wanita
vania larasati
lanjut
Nuriwan Hasanah
kuat banget imannya si alfa padahal udah lengket lengket gitu
Agnezz
Dibalik Senja yg terlihat sempurna cantik dan pintar, ternyata ini kelemahan Senja, takut akan petir dan badai.
Cahaya
lanjuttty
Cahaya
dasarrrrr alpamart otak ny d pnuhin delon delon aja nblin heeeh heeeeh
Cahaya
lanjut
Agnezz
Alfa mempunyai semua yg diidamkan wanita, kehangatannya, sikap melindungi, tanggung jawab, kalo sudah cinta betul2 setia dan sulit berpaling. Sayang sekali hati Alfa sudah milik Dila. Alfa tidak bisa meninggalkan Dila begitu saja. Pernikahan ini atas desakan orang tua. Yang harus disalahkan ayah2 mereka, terlalu berambisi terlalu menuntut anaknya melakukan sesuatu yg mereka inginkan.
Agunk Setyawan
bukan bara tapi Alfa 🤣
Inara Khimar
senja, pergi please. lepas semua nya
mery harwati
Satu kata bwt Bara, BODOH !!
Kalo sudah tak ada baru terasa
Kehadiranmu sungguh berharga
Sungguh berat hidupku tanpa dia
🎶 🎶 💃 💃
mery harwati: Iya abis logika Alfa yang katanya jago bisnis nol besar, seharusnya cara berpikir Alfa dibalik, bila posisi Alfa menjadi Senja, akankah Alfa punya hati seluas & sedalam samudra pada Ssnja & kekasihnya? Secara nikah sah, coba itu Alfa suruh dipake logikanya, jangan ditinggal di masa lalu karena Alfa hidup untuk masa depan bukan masa lalu 🤨😠
total 2 replies
Hanima
pergi lah jauh2 tinggal kan semua nya 👍
Sastri Dalila
🥺🥺
Hanima
😍😍👍
Nar Sih
semoga aja nanti bila dila sehat lgi ngk berubah jht
Nar Sih
seperti nya kmu sdh mulai nyaman dgn senja ya alfa ,cuma hti mu msih bersama dila
Linda Gunawan
nunggu Alfa menyesal semenyesal menyesalnya. kapan?🤭
Linda Gunawan
hati Alfa sebenarnya udah mulai condong ke Senja. pada Senja, dia mendapatkan apa yg selama ini tidak dia dapatkan. Senja perhatian, Senja baik.
🌷Vnyjkb🌷
maka itu senja, Mulailah Cari keBahagiaanmu sendiri, krn Dg alpa itu bkn kebahagiaan tp menyiksa diri sendiri, cobalah jujur pd dirimu sendiri,
🌷Vnyjkb🌷
sbg teman, maka saat Teman itu pergi yaaaa relakannn,, tak tgguin alpa ginjal² akut d tinggal senja!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!