NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba-tiba pingsan

Bellatrix tidak terburu-buru. Ia mengatur napasnya, memutar tangannya semakin lebar seiring dengan bertambahnya kekuatan yang ia salurkan. Pusaran air itu perlahan membesar, semakin tinggi, hingga akhirnya berdiri tegak setinggi lima meter di hadapannya berputar kencang namun stabil, tidak memercik sembarangan, tidak liar seperti dulu.

Wajah Bellatrix langsung berseri-seri, matanya berbinar cerah tak percaya. "Aku... aku berhasil! Tidak berantakan lagi!"

"Itu baru dasarnya," koreksi Thiago dingin, namun ada kilatan puas yang samar di matanya. "Sekarang ubah bentuknya. Air bisa menjadi lunak seperti kapas, tapi bisa juga keras seperti baja. Ambil sebagian air dari pusaran itu, ubah menjadi es, bentukkan menjadi tombak yang kuat."

Bellatrix menatap pusaran air itu. Ia memusatkan pikirannya, membayangkan air itu mendingin, mengeras, hingga berubah menjadi kristal es yang tajam. Perlahan, bagian tengah pusaran air itu berubah warna menjadi putih kebiruan, lalu memanjang membentuk ujung tombak yang runcing dan berkilau. Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan terarah, ia melemparkan tombak es itu ke arah batu besar di sisi lain danau.

Duar!

Tombak itu menancap kuat di permukaan batu, memecahkan bagian pinggirnya menjadi serpihan kecil, lalu meleleh perlahan menjadi air yang mengalir turun.

Bellatrix ternganga, menatap tangannya sendiri tak percaya. "Aku benar-benar bisa mengendalikannya sekarang."

Thiago melangkah mendekat, menatap sisa pusaran air yang perlahan menghilang, lalu menoleh ke arah gadis itu. Wajahnya masih datar, namun sorot matanya jauh lebih lembut daripada sebelumnya.

"Kau belajar lebih cepat dari perkiraanku," akunya pelan. "Hari ini kau memperbaiki kesalahan yang membuatmu gagal. Kau tidak lagi melawan aliran kekuatanmu sendiri."

Di kejauhan, Cedric tidak bisa menahan diri dan bertepuk tangan riang. "Hebat sekali! Tadi katanya dulu belum bisa pusaran besar, sekarang sudah sekuat itu!"

Bianca ikut bertepuk tangan pelan, matanya berbinar kagum. "Benar-benar luar biasa kemajuannya. Kak Bellatrix sangat tekun"

Alexander pun berdiri dan mengangguk bangga. "Ayah pasti akan sangat senang melihat ini. Sepertinya keputusan membiarkan Pangeran Thiago yang melanjutkan latihan ini adalah hal yang tepat"

Thiago melirik sekilas ke arah mereka bertiga, lalu kembali menatap Bellatrix. "Aku tidak akan membiarkanmu berhenti di jalan yang sulit, apalagi jika hal itu hanya karena kesalahan kecil yang belum kau ketahui."

Suasana di tepi danau masih terasa hangat dan penuh cahaya. Bellatrix berdiri tegak, napasnya sedikit terengah namun matanya berbinar cerah tak berkesudahan. Hatinya penuh kegembiraan karena akhirnya ia bisa mengendalikan pusaran air besar yang dulu selalu gagal ia bentuk, bahkan bisa mengubahnya menjadi tombak es yang kuat.

Ia tidak segera beristirahat. Ia menggerakkan tangannya perlahan, dan air di permukaan danau menyahut seketika. Ia membuat air itu melompat-lompat kecil seperti ikan yang bermain, lalu membentuknya menjadi manik-manik bening yang berputar di sekelilingnya.

Sesekali ia mengubahnya menjadi kabut tipis yang sejuk, lalu menyatukannya kembali menjadi pilar air yang tinggi namun lembut. Ia bermain-main dengan kekuatan itu seolah sedang mengenal teman baru yang hebat, wajahnya tersenyum lebar tanpa beban.

Di sebelahnya, Thiago berdiri diam memperhatikan. Wajahnya tetap datar, namun matanya tak lepas dari setiap gerakan air yang mengikuti arahan Bellatrix. Ia lega melihat gadis itu akhirnya bisa menguasai apa yang dulu menjadi hambatan besar.

"Sudah cukup," ucapnya pelan setelah beberapa saat. "Kau sudah menggunakan banyak energi. Minum dulu."

Thiago kemudian mengangkat tangannya perlahan. Uap air di telapak tangannya berputar halus, memadat perlahan hingga membentuk gelas bening dari es murni yang berisi air danau yang segar dan jernih. Ia berjalan satu langkah demi satu langkah ke arah Bellatrix, mengulurkan gelas itu.

"Ini minumlah," ucapnya lembut namun tetap singkat. "Jangan sampai tubuhmu lelah berlebihan."

Namun kalimat itu terhenti di udara.

Tepat saat Bellatrix hendak mengulurkan tangan untuk menerima gelas itu, senyum di bibirnya perlahan memudar, lalu lenyap tanpa sisa. Tangan yang tadi bergerak lincah kini terhenti di tengah jalan, kaku seolah sudah berubah menjadi batu. Tubuh kecilnya tegak lurus sempurna, tidak sedikit pun miring, tidak ada satu jari pun yang bergerak lagi. Matanya tertutup rapat, kelopak matanya diam tak berkedip. Ia berdiri di sana persis seperti patung indah yang baru saja selesai dipahat. Seolah tidak memiliki nyawa.

Keheningan yang begitu berat tiba-tiba menyelimuti tepi danau.

Di kejauhan, Kaisar Alaric, Permaisuri Seraphina, Duke Leonidas, dan Duchess Elara yang baru saja datang berjalan perlahan untuk melihat hasil latihan putri mereka, seketika berhenti melangkah. Wajah mereka yang tadinya tersenyum bangga perlahan berubah pucat pasi. Leonidas mengangkat kaki hendak berlari mendekat, namun ia terpaku di tempatnya, tak sanggup bergerak melihat pemandangan putrinya yang diam membatu tanpa alasan.

Perlahan, sangat perlahan, tubuh Bellatrix mulai miring ke samping. Tidak ada suara teriakan, tidak ada usaha sama sekali untuk menyeimbangkan diri atau menahan jatuh. Ia jatuh persis seperti patung yang kehilangan pijakan.

Sebelum bahunya sempat menyentuh rumput basah, Thiago sudah bergerak.

Dalam sekejap mata, ia sudah berada tepat di samping Bellatrix. Kedua lengannya melingkar erat namun hati-hati menopang punggung dan pinggang gadis itu, menahan tubuh kecil itu agar tidak jatuh ke tanah. Ia mendekapnya pelan-pelan ke dalam pelukannya, merasakan betapa kaku dan berat tubuh yang seharusnya lentur itu saat ini.

Wajah Thiago tetap datar. Tidak ada kerutan panik di dahinya, tidak ada teriakan yang keluar dari mulutnya. Namun siapa pun yang memperhatikannya lekat-lekat bisa melihat kebenaran yang ia sembunyikan rapat-rapat. Jari-jarinya mencengkeram kain gaun Bellatrix begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Dadanya naik turun dengan irama yang tidak beraturan, berusaha menahan napas yang tersengal. Dan di balik tatapan matanya yang tajam, tersembunyi kepanikan yang meluap-luap. Rasa takut dingin yang menjalar hingga ke tulang sumsum, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia hanya berusaha sekuat tenaga tampak tenang, agar tidak menambah ketakutan orang-orang di sekitarnya.

"Bellatrix..." panggilnya pelan, suaranya rendah dan sedikit bergetar halus. Tidak ada jawaban. Tubuh di pelukannya tetap diam.

Duke Leonidas dan Duchess Elara akhirnya berlari mendekat, diikuti Kaisar Alaric dan Permaisuri Seraphina yang berjalan cepat dengan wajah pucat dan cemas. Elara langsung berlutut di samping mereka, tangannya gemetar hebat saat menyentuh pipi putrinya yang terasa dingin.

"Anakku..." suaranya pecah pelan. "Kenapa dia diam seperti ini? Kenapa dia tidak bergerak?"

"Panggil tabib dari Menara Sihir," perintah Kaisar Alaric dengan suara rendah namun berat, matanya tak lepas dari wajah Bellatrix yang pucat. "Segera."

Tak lama kemudian, tabib kepala Menara Sihir datang dengan langkah tergesa-gesa namun tetap teratur. Ia segera berlutut di samping tubuh Bellatrix yang masih didekap Thiago, lalu mengangkat kedua tangannya yang memancarkan cahaya putih lembut. Ia memeriksa denyut nadi Bellatrix, lalu mengarahkan cahayanya ke seluruh tubuh gadis itu, mengikuti aliran energi di dalamnya satu per satu dengan sangat teliti dan hati-hati.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Menit terasa seperti berjam-jam bagi mereka yang menunggu dengan cemas.

Akhirnya tabib itu menurunkan tangannya perlahan, menatap mereka semua dengan wajah serius dan penuh kekhawatiran.

"Tidak ada luka fisik," ucapnya pelan dan hati-hati. "Tidak ada racun, dan tidak ada serangan dari luar. Namun di dalam tubuh Nona Bellatrix... terjadi sesuatu yang sangat aneh dan tak terduga. Kekuatan sihir airnya tiba-tiba melonjak naik begitu tinggi, begitu kuat seketika, lalu seketika itu juga berhenti mendadak, seolah membeku tanpa alasan yang jelas."

Ia berhenti sejenak, menatap wajah Bellatrix yang masih tertutup mata.

"Aliran sihirnya menjadi sangat tidak stabil. Tubuhnya belum siap menampung beban energi sebesar itu sekaligus terutama setelah ia menggunakannya dengan gembira tanpa mengatur batasnya sendiri. Akibatnya, kesadaran dan kekuatannya seolah menarik diri ke dalam perlindungan terdalam, membuat tubuhnya kaku seperti patung lalu jatuh lemas. Ia hanya butuh waktu sampai tubuhnya tenang kembali dan menyeimbangkan dirinya sendiri."

Suasana kembali hening sejenak.

Thiago masih memeluk Bellatrix erat, menunduk menatap wajah gadis itu. Tidak ada yang berbicara padanya, tidak ada yang menuduhnya. Namun di dalam hatinya, rasa bersalah merayap perlahan, menyelimutinya begitu berat hingga sesak. Ia tahu. Ia yang menyuruhnya mendorong batas kekuatannya. Ia yang terlalu terburu-buru melihat kemajuan, lupa mengingatkannya untuk berhenti sejenak. Ia yang mendorongnya terlalu jauh.

'Ini salahku' batinnya bergumam pelan dan getir. 'Aku yang gagal menjaganya tetap aman'

Ia tetap diam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya cengkeramannya di tubuh Bellatrix perlahan menjadi lebih lembut, seolah ia berjanji dalam hati. Ia tak peduli seberapa lama waktu yang dibutuhkan, ia tidak akan melepaskannya sampai gadis itu kembali membuka matanya.

1
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!