DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: FIREWALL YANG TERLALU KUAT
Malam itu, apartemen Anto cuma diterangi cahaya tiga monitor yang menyala bersamaan, sisa kopi instan yang sudah dingin masih nangkring di meja sebelah keyboard, dan dia duduk di sana dengan ekspresi yang jauh lebih serius dari biasanya, sejak siang tadi dengar kabar David diskors di depan seluruh kantor.
"Oke, David emang gak bisa ngebuktiin diri pakai tinju di sana," gumamnya sendiri, jari-jarinya mulai bergerak di atas keyboard, "tapi gue bisa ngebuktiin pakai cara gue."
Dia mulai dengan langkah standar, masuk lewat jalur yang biasa dia pakai buat ngintip sistem-sistem kelas menengah, mencari jejak digital dari dokumen yang katanya membuktikan David menggelapkan satu miliar rupiah. Awalnya semua lancar, dia berhasil menembus lapisan keamanan dasar perusahaan, nemu log akses, nemu timestamp transaksi yang mencurigakan.
"Gampang amat ini," dia nyengir sendiri, makin pede, "tinggal dikit lagi gue bisa nemu arsip aslinya sebelum diutak-atik."
Tapi begitu dia coba menembus lebih dalam, ke arsip mentah sebelum dokumen itu dimodifikasi, sesuatu yang aneh mulai muncul di layar.
"Lah... ini kok firewallnya beda."
Monitor itu menampilkan kode-kode pertahanan yang jauh lebih rumit dari sistem keamanan standar perusahaan menengah, lapisan demi lapisan enkripsi yang bentuknya berubah-ubah setiap kali dia coba menembusnya, seperti dinding yang bergerak sendiri, menyesuaikan diri dengan setiap serangan yang Anto lancarkan.
"Ini bukan kerjaan staf IT kantor biasa. Staf IT kantor biasa mah paling banter pasang antivirus bajakan, password-nya aja masih pake nama anak sama tanggal lahir. Ini, ini levelnya beda."
Dia mencoba pendekatan lain, lebih halus, menyusupkan kode kecil untuk mengintip struktur sistem tanpa terdeteksi, semacam bayangan yang menyelinap di balik tembok tanpa menyentuh alarm. Tapi baru beberapa detik, sebelum dia sempat menyelesaikan satu baris perintah penuh,
layar itu berkedip merah.
INTRUSION DETECTED. TRACING SOURCE.
"ANJIR!"
Anto langsung panik, jarinya bergerak cepat menekan kombinasi tombol darurat buat memutus koneksi, mencoba menarik diri keluar sebelum sistem itu sempat mengejarnya lebih jauh. Tapi gerakannya kalah cepat. Sistem itu seperti sudah menunggu, sudah siap, dan begitu dia mencoba mundur, justru malah terasa seperti ditarik balik, dilempar keluar dengan paksa, persis seperti pintu yang dibanting keras dari arah berlawanan.
Sekilas, sepersekian detik sebelum koneksi benar-benar terputus total, dia melihat notifikasi kecil muncul di pojok layar, kecil tapi cukup jelas untuk membuat jantungnya berhenti sesaat.
IP TRACED. LOCATION LOGGED.
Anto duduk membeku di kursinya, dadanya naik turun cepat, tangannya masih gemetar menggantung di atas keyboard yang sekarang sudah tidak menampilkan apa-apa selain layar hitam dengan kursor berkedip pelan, seperti mengejek.
"Mereka tau lokasi gue," gumamnya pelan, suaranya bergetar, "anjir, anjir, anjir."
Dia berdiri, berjalan mondar-mandir kecil di ruangannya yang sempit, menyeka peluh dingin yang mulai membasahi dahinya, mencoba berpikir jernih di tengah detak jantung yang masih belum kembali normal.
"Oke, oke, tenang, Anto. Mereka cuma tau lokasi IP, bukan langsung tau alamat rumah lo. Tapi tetep aja, ini, ini sistem keamanan yang terlalu canggih buat sekadar nutupin dokumen palsu kakak tirinya David."
Dia kembali duduk, kali ini lebih hati-hati, membuka laptop kedua yang sengaja dia simpan khusus untuk keperluan darurat, mencoba melacak balik jenis enkripsi yang baru saja menjebaknya, membandingkan dengan basis data jenis-jenis firewall yang pernah dia temui sepanjang kariernya diam-diam sebagai peretas lepas.
Setelah hampir satu jam membandingkan pola, dia menemukan kecocokan yang membuat alisnya naik tinggi.
"Ini pola yang sama kayak sistem keamanan yang biasa dipakai buat ngamanin data perusahaan multinasional, atau," dia berhenti sebentar, menelan ludah, "atau organisasi yang emang punya dana gede buat soal-soal kayak gini. Ini bukan tingkatan yang bisa dibayar pakai gaji Deputy CEO doang, sekalipun ditambah bonus tahunan."
Dia menyandarkan badan ke kursi, mengusap wajahnya yang masih berpeluh dingin, pikirannya berputar mencari jawaban yang masuk akal.
"Reza, lo dapet duit buat bayar hacker level ini dari mana? Gaji lo emang gede, tapi buat nyewa orang kayak ini, butuh dana yang jauh lebih besar dari itu. Ini levelnya bukan freelancer murahan yang bisa diorder lewat grup Telegram."
Dia mengambil ponselnya, niat mau langsung menelepon David, tapi tangannya berhenti di tengah jalan, ragu, mempertimbangkan apakah ini saat yang tepat untuk menambah beban di pundak sahabatnya yang baru saja diskors dengan tuduhan berat.
Akhirnya dia menahan diri, memutuskan menunggu sampai pagi, sambil terus menatap layar laptopnya yang sekarang menampilkan beberapa kemungkinan nama perusahaan keamanan digital kelas atas yang biasa dipakai kalangan tertentu, kalangan yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dibanding sekadar persaingan keluarga rebutan warisan.
Pertanyaan itu menggantung berat di kepalanya, mengganggu, karena dia tahu betul, di dunia digital seperti ini, tidak banyak pihak yang punya akses ke jasa pengamanan setangguh apa yang baru saja melemparnya keluar paksa dari sistem tanpa ampun.
Dan kalau benar ada pihak lain yang mendanai atau menyediakan hacker itu untuk Reza, secara diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun di keluarga itu sendiri, pertanyaan yang lebih menakutkan justru bukan lagi soal siapa yang memalsukan dokumen.
Melainkan, siapa sebenarnya yang berdiri di belakang Reza, jauh lebih besar, jauh lebih terorganisir, dan jauh lebih berbahaya daripada sekadar seorang kakak tiri yang cemburu pada posisi warisan yang menurutnya seharusnya jadi miliknya sejak awal.
Di luar jendela apartemennya, langit Jakarta masih gelap, lampu-lampu kota berkedip jauh di kejauhan, dan Anto duduk sendirian di tengah keheningan itu, ditemani layar hitam yang masih berkedip pelan, membawa pertanyaan besar yang esok pagi harus dia sampaikan ke David, entah dengan cara apa supaya tidak membuat beban sahabatnya itu semakin berat dari yang sudah ada.
*(bersambung)*